Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Mengajak Makan Siang


__ADS_3

Happy reading....


Haris menoleh ke arah Darius, kemudian dia menghempaskan tangan pria itu dengan kasar yang berada di lengannya.


"Aku buru-buru," jawab Haris dengan datar.


Namun lagi-lagi Darius menghentikan langkah pria itu, membuat Haris seketika memutar bola matanya dengan malas. Sejujurnya ia masih sangat kesal dan marah kepada sang kakak, dan ingin sekali pria itu menghajarnya lagi.


Namun Harris tidak ingin itu terjadi, sebab hanya akan buang-buang waktu dan juga tenaga saja.


"Ada apa?"


"Aku tahu kau marah denganku, tapi--"


"Sudah tahu, kenapa masih bertanya?" Haris memotong ucapan Darius.


"Dengarkan dulu penjelasanku!" pinta Darius.


"Hahaha ... kau meminta aku untuk mendengarkan penjelasanmu? Memangnya apa yang ingin kau jelaskan? Semuanya sudah sangat jelas. Video itu, chat itu, bahkan pengakuan kalian. Apa itu masih belum jelas? Kau ingin menjelaskan seperti apapun, kenyataan itu tetap akan menyakitkan. Kalau kau memang mencintai Fitri, bersatulah dengannya! Kau tenang saja. Aku akan mengurus perceraianku dengan Fitri, dan kalian bisa hidup bersama. Oh ya ... satu lagi. Malam ini Fitri bisa tidur denganmu untuk selamanya! Karena aku sudah tidak mau lagi seranjang dengan wanita busuk seperti itu!"


"Hentikan ucapanmu, Haris! Fitri tidak seperti itu!" bentak Darius yang tidak terima jika Fitri dijelekkan.


Mendengar itu Haris malah terkekeh. "Ckckck! Kau ingin aku tidak mengatakan dia wanita busuk, pelakor, jalaang? Kau ini benar-benar munafik ya. Bagaimana mungkin bisa aku tidak mengatakan itu? Sedangkan kenyataannya memang seperti itu. Kalau memang dia wanita baik-baik, tidak mungkin memanfaatkan seseorang hanya untuk kesenangannya sendiri, dan dia tidak mungkin merebut kakak iparnya sendiri," jelas Haris dengan nada menekan.


Setelah itu dia pun pergi dari sana tanpa menghiraukan ucapan Darius yang sedang tadi memanggil dirinya. Bagi Haris tidak perlu ada lagi yang dijelaskan olehnya, karena semuanya sudah sangat jelas.


sementara Darius yang akan mengejar Harris ditahan oleh om Samuel, pria itu menatapnya dengan dingin. Bahkan sudah tidak ada lagi tatapan hangat dari kedua orang tuanya.


"Jangan pernah ganggu Haris! Biarkan dia tenang. Apa kau masih belum puas untuk menyakiti hati adikmu? Seharusnya kau sadar, jika perlakuan kalian berdua sudah menyakiti hati banyak orang. Kau ingin membuat adikmu sehancur apa lagi, hah! Kau ingin menjelaskan apa? Seharusnya sekarang kau senang, karena kalian bisa bersatu, seperti apa impian kalian, menyatukan cinta. Tapi tetap kalian sudah membuat hati kami terluka, dan itu tidak mudah untuk dimaafkan," ujar Om Samuel kemudian dia pergi dari sana.


"Mah! Pah! Maafkan Darius. Darius tahu sudah membuat kalian kecewa, tapi--"


"Cukup! Kau sudah tahu membuat kami kecewa, dan kami tidak ingin berbicara apapun lagi. Terserah kau mau melakukan apa di rumah ini bersama dengan wanita itu. Kami tidak peduli!" Potong Om Samuel.


Kemudian Tante Dina menyusul suaminya meninggalkan Darius tanpa sepatah kata pun, membuat pria itu berteriak dengan frustasi. Sebab melihat ketidakpedulian dari kedua orang tuanya.


Bahkan mereka tidak menanyakan keadaan Fitri sama sekali.


.

__ADS_1


.


Di Butik.


"Oh iya, hari ini kan gaun itu akan segera diberikan. Kalau gitu aku yang akan berangkat ya," ucap Lulu.


"Tidak usah. Biar aku saja. Aku ingin ada kegiatan," jawab Amanda.


Ya, siang ini mereka mengantarkan sebuah gaun pernikahan untuk acara seseorang, di mana gaun itu dipesan beberapa bulan yang lalu.


Amanda berjalan menaiki mobil dan gaun itu dimasukkan ke dalam mobilnya, setelah itu dia melaju meninggalkan butik menuju kantor di mana barang tersebut akan dikirimkan.


Setelah menempuh perjalanan 45 menit, Amanda pun sampai di sebuah kantor yang mewah dan megah. Dia berjalan ke arah resepsionis, dan berkata untuk mengantarkan gaun pengantin.


Resepsionis tersebut pun mengatakan jika Amanda harus naik ke lantai atas, akhirnya wanita itu pun masuk ke dalam lift.


Sesampainya di sana, dia bertemu dengan seorang wanita. "Ibu sudah ditunggu di ruangan tuan muda."


"Terima kasih," jawab Amanda. Kemudian dia masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu, dan terlihat seorang pria tengah duduk membelakanginya.


"Maaf Tuan, ini gaun pengantin yang anda pesan," ucap Amanda.


"Lemparkan saja gaun pengantin itu! Kalau bisa kau bakar. Untuk uangnya sudah aku transfer," jawab pria itu dengan dingin.


Di mana pria itu beberapa bulan datang bersama dengan kekasihnya untuk memesan sebuah gaun pengantin, tapi setelah gaun itu jadi pria tersebut malah meminta untuk membuang dan membakarnya. Benar-benar membuat Amanda merasa keheranan.


"Untuk apa adanya sebuah gaun pengantin, jika mempelai wanitanya saja berselingkuh dengan pria lain? Untuk apa adanya gaun pengantin, jika cinta hanya bertepuk sebelah tangan dan dia mengkhianati cinta yang begitu tulus. Buang saja dan bakar! Aku sangat membenci gaun itu!" jawab pria tersebut dengan dingin.


Amanda yang mendengar itu pun terdiam, dia tahu rasanya diselingkuhi dan dikhianati oleh orang yang kita sayangi seperti apa. Oantas saja pria itu menginginkan untuk Amanda membakar dan membuangnya.


"Baik Tuan, kalau begitu saya akan membawa gaun ini kembali dan uangnya akan saya kembalikan."


"Tidak. Aku memintamu untuk membakarnya. jangan kau jual lagi! Dan untuk biayanya sudah ku transfer ya. Anggap saja itu bayaranku untuk membakar gaun itu, paham!"


Mendengar hal tersebut Amanda pun akhirnya mengiyakan, dia tidak mungkin menolak setelah itu dia pun pamit.


Namun ditahan oleh pria tersebut. "Tunggu dulu!"


Amanda kemudian berbalik, dan pria itu sedang berjalan ke arahnya. Terlihat raut wajah kesedihan yang begitu dalam dari kedua sorot mata pria tampan tersebut.

__ADS_1


"Temani saya makan siang dulu! Ini sudah siang, tidak enak. Lagi pula kamu sudah jauh-jauh ke sini."


"Tidak apa-apa Tuan. Saya makan siang di butik saja," Jawab Amanda menolak secara halus.


"Ini adalah permintaan saya, anggap saja permintaan maaf karena sudah gagal untuk memesan gaunmu."


Amanda sebenarnya tidak mau, tapi melihat dari tatapan pria itu akhirnya Amanda pun menyetujuinya. Mereka berjalan ke arah parkiran lalu masuk ke dalam mobil pria tersebut, sementara mobil Amanda akan diantarkan oleh asistennya menuju butik.


Setelah mereka berjalan meninggalkan kantor, mobil berhenti di tepi jalan yang ada di pinggir jembatan, membuat Amanda seketika menatap pria itu dengan bingung.


"Buang gaun itu ke sana!" pinta pria tersebut.


Amanda akhirnya mengerti, kemudian dia keluar mengambil gaun tersebut yang ada di jok belakang. Lalu melemparnya ke sungai, kemudian dia pun masuk kembali ke dalam mobil. Setelah itu melaju meninggalkan tempat tersebut untuk menuju restoran.


Tidak ada pembicaraan di antara keduanya, mereka sama-sama terdiam, kalut dengan pikirannya masing-masing.


"Sakit bukan saat kita dikhianati oleh cinta kita sendiri. Orang yang selama ini kita percaya, orang yang selama ini kita cintai dengan tulus, namun mereka malah menghianati dan juga menodai cinta kita," ujar pria itu membuka pembicaraan.


Amanda hanya diam saja mendengarkan, sebab Ia juga tahu rasanya seperti apa dikhianati oleh orang tersayang.


"Cinta itu memang menyakitkan. Bodohnya kita malah percaya. Bahkan saat sudah mengetahui jika mereka telah berselingkuh. Terkadang aku berpikir, tidak ada cinta yang tulus di dunia ini."


Mendengar itu Amanda menoleh ke arah samping. "Ya ... rasanya memang sakit Tuan, saat melihat dan mengetahui orang yang kita sayang berkhianat. Tapi cinta suci itu memang ada, tinggal bagaimana kita saja untuk mencarinya."


Setelah sampai di restoran keduanya pun masuk duduk di salah satu meja dan memesan makanan.


Amanda tidak banyak bicara, dia sibuk untuk membalas chat dari Lulu. Jujur wanita itu tidak nyaman karena dia makan siang bersama seorang pria yang tak dikenalnya.


"Aku turut berduka cita untuk rasa sakit yang kau alami. Kita sama-sama diselingkuhi oleh pasangan kita sendiri," ujar pria itu membuat Amanda seketika menoleh ke arahnya.


"Maksud Tuan?" Tanya Amanda dengan bingung.


"Saat acara 4 bulanan itu, aku ada di sana melihat semuanya. Jujur sebagai seorang lelaki aku tidak habis pikir, kenapa mereka melakukan itu? Namun kau tentu juga tahu rasanya seperti apa bukan? Karena aku juga ada di posisimu. Dunia ini sempit sekali ya! Kita dipertemukan dengan rasa yang sama, yaitu dikhianati oleh pasangan sendiri."


Amanda yang mendengar itu pun melongo, matanya membulat saat mengetahui jika pria yang berada di hadapannya ternyata ada juga di acara 4 bulanan dan saat bom itu meledak.


"Dunia memang sempit ya, Tuan," kekeh Amanda.


Tak lama makanan datang, kemudian mereka pun langsung menyantap makan siangnya. Namun saat keduanya tengah menikmati makan siang itu, tiba-tiba ada seseorang yang membuat Amanda dan juga pria tersebut menghentikan makan siangnya.

__ADS_1


"Oh_ jadi ini alasanmu membongkar semuanya. Ternyata kau sudah mempunyai pria lain," ucap seseorang.


BERSAMBUNG....


__ADS_2