
Setelah semua siap, Amanda, Ethan dan juga mama Inggit langsung menuju luar kota, di mana mereka akan menuju puncak untuk camping bersama dengan temannya Mama Inggit.
Tetapi sebelum mereka menuju ke luar kota, ketiganya pergi ke kontrakannya Gisel untuk menjemput wanita itu yang sudah dikabari oleh Amanda.
Selama dalam perjalanan banyak obrolan yang mereka bahas apalagi tentang kehamilan, karena Amanda juga sudah tidak sabar ingin segera mengandung anak Ethan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh mereka pun sampai di tempat tujuan, dan ternyata temannya Mama Inggit sudah berada di sana.
"Sepertinya teman Mama sudah nyampe duluan ya," ujar Amanda pada Mama Inggit.
"Iya sayang, ya udah yuk kita turun!" ajaknya.
Gisel membantu Ethan untuk menurunkan koper, dan saat mereka menghampiri temannya Mama Inggit ternyata mereka semua sudah membangun dua tenda.
"Wah ... sudah ada tenda saja," ujar Mama Inggit saat mereka sedang duduk di hamparan rumput.
"Iya, yang satu tenda aku sama suami dan yang satu tenda anak aku sama temannya. Ksbetulan dia ke sini bawa teman, katanya sepi kalau hanya sendirian," jelas teman Mama Inggit yang bernama Aulia.
"Sekarang mana Putra kamu?" tanya Mama Inggit sambil menengok ke arah tenda yang terbuka.
"Tadi lagi berjalan-jalan lihat lihat tempat di sini, apalagi ada hamparan kebun teh kan? Ya udah kalian diriin tenda dulu! Aku sama suami lagi masak air buat bikin kopi, lagi pula ini udah mau maghrib ... nanti kita shalat jamaah di sini bareng-bareng."
Mama Inggit mengangguk, kemudian dia mendirikan tenda akan tetapi dilarang oleh Ethan. "Sudah Mah, biar aku saja. Mama, Amanda sama Gisel biar duduk saja, ini kan kerjaannya cowok."
"Om bantu ya," ujar Om Yadi suami dari Tante Aulia.
Ethan mengangguk, sementara para wanita menyiapkan makanan dan di sana Mama Inggit membawa ikan karena bagi dia jika camping tidak bakar-bakar itu tidak afdol.
Hari semakin petang, matahari juga mulai tenggelam, sementara anaknya tante Aulia masih belum kembali.
"Lia, anak kamu ke mana? Kenapa masih belum kembali ini sudah mau maghrib loh? Apa dia tersesat?" tanya Mama Inggit dengan wajah yang cemas.
"Mungkin sebentar lagi, tidak mungkin tersesat, tidak jauh kok dari sini ... perkebunan teh kan ada di sana!" tunjuk tante Aulia pada hamparan kebun teh di mana menampilkan matahari yang mulai tenggelam.
"Ya sudah, kalau gitu biar aku sama Gisel yang nyiapin buat shalat ya Tante, Mamah," ujar Amanda.
__ADS_1
Lalu Gisel pun membantu bosnya untuk menyiapkan tikar lipat yang dibawa, kemudian tak lupa juga sajadah serta mukena, dan terdengar sayup-sayup suara adzan karena masjid dari sana cukup jauh.
"Ya ampun Mah! Anak kita ke mana sih ini udah Magrib loh ... ksnapa belum pulang juga?" ucap Om Yadi dengan tatapan gelisah.
"Nah ... itu dia!" tunjuk tante Aulia pada dua orang pria yang sedang berjalan ke arah mereka.
Gisel dan juga Amanda tidak menengok karena mereka sedang khusyuk membaca dzikir sebelum menunaikan shalat Magrib.
"Ya ampun! Kalian ini dari mana aja? Udah cepetan bersihin badannya! Cuci kaki, cuci tangan tuh di kali yang ada di samping! Kemudian ambil wudhu kita mau shalat magrib," ujar Om Yadi.
"Iya Pah," jawab Leo anak dari Om Yadi dan juga tante Aulia.
Setelah dia dan juga temannya mengambil wudhu mereka pun menunaikan shalat Maghrib berjamaah, dan setelah itu mama Inggit serta tante Aulia menyiapkan untuk makan malam, apalagi dengan ikan bakar yang tadi belum dibumbui.
"Wah ... ikan bakar! Aku mau dong Mah!" seru Leo dengan mata berbinar.
"Sebaiknya kamu lumuri daging ayam itu juga dengan bumbu biar mama dan juga tante Inggit yang memanggangnya!"
Leo langsung mengangguk, kemudian dia menyenggol bahu temannya. "Ayo lo bantu gue juga!"
Gisel keluar dari tenda karena dia ingin membantu Mama Inggit dan juga tante Aulia, lalu dia pun berjalan ke arah dua wanita itu. "Tante, biar Gisel ban--" ucapan Gisel tiba-tiba saja terhenti saat tatapannya mengarah kepada pria yang berada di samping tante Aulia. 'Angga!' batinnya dengan raut wajah yang begitu kaget. 'Kenapa dia ada di sini?'
"Gisel! Dia juga di sini?' batin Angga yang tak kalah kaget juga saat melihat Gisel.
Keduanya sama-sama terpaku, membuat semua orang yang ada di sana menatap ke arah Gisel dan juga Angga bergantian, karena mereka merasa heran sebab dua orang itu diam terpaku dengan tatapan lurus.
"Eeekhm!" Ethan berdehem untuk menetralkan keadaan. "Ternyata kalian ini saling kenal ya?" ujarnya.
Gisel yang tersadar pun segera menggelengkan kepalanya, "tidak kok, Tuan. Saya tidak mengenalnya," elak Gisel.
Akan tetapi Ethan tidak percaya, "ah ... masa sih? Tapi dari tatapan kalian, sepertinya mengenal satu sama lain? Sudahlah ... kalau memang mengenal tidak usah malu-malu, iya nggak sayang?" Ethan merangkul pundak Amanda.
"Apaan sih Mas? Malu tahu diliatin orang. Udah ah aku mau bantu Mama sama tante Aulia aja. Kamu sama Om Yadi sebaiknya nyari kayu bakar gih!"
Ethan merengut, tapi dia tidak bisa menolak. Akhirnya keduanya pergi untuk mencari kayu bakar, sementara Amanda membantu mamanya dan juga tante Aulia membakar ayam serta ikan.
__ADS_1
Banyak pembicaraan yang mereka bahas, tetapi Gisel hanya diam saja karena dia merasa canggung dengan keberadaan Angga di sana.
'Kenapa sih harus ada Angga di sini, jadi suasananya kan canggung.' batin Gisel sambil membolak-balik ayam yang sedang ia bakar. 'Padahal aku sudah mau melupakannya, tapi kenapa dia masih ada di dalam hidupku, masih terus muncul seperti jelangkung.'
Gisel tidak sadar jika ayam yang sedang dia panggang belum dibalik, hingga tercium bau gosong.
"Gisel ... itu ayamnya gosong!" teriak Amanda.
Wanita itu tersentak kaget, "astaga! Maaf Mba saya tidak sengaja." Segera dia pun membalik ayamnya. "Aduh ... jadi gosong deh. Maaf ya Mbak, Tante." Gisel merasa tak enak.
"Tidak apa-apa, itu tidak terlalu gosong kok masih bisa dimakan," jawab Tante Aulia, "kamu lagi banyak pikiran ya sampai melamun gitu?"
"Nggak apa-apa kok Tante."
Sementara Angga hanya diam sambil memperhatikan tingkah Gisel. 'Apa dia tidak nyaman dengan kehadiranku di sini? Tapi sepertinya aku memang harus bicara dengan Gisel.'
"Tante, Mbak Amanda, saya mau pamit dulu ya mau ke kali yang ada di sana!" tunjuk Gisel ke arah bawah.
"Mau ngapain? Ini udah malam loh?" tanya Amanda dengan heran.
"Mau buang air kecil, sekalian ngambil air buat dimasak nanti."
"Mau ku antar nggak?" tawar Amanda, namun segera ditolak oleh Gisel. Dia tidak ingin merepotkan wanita itu, lagi pula jarak antara kali dan camping mereka sangat dekat.
"Tidak usah. Saya bawa senter saja." Kemudian Gisel pun turun ke kali sambil membawa ember kecil.
Setelah kepergian wanita itu Angga merasa cemas, apalagi di sana sudah malam dan dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan wanita tersebut.
"Gue permisi dulu ya," bisik Angga pada Leo.
"Lu mau ke mana?" tanya Leo dengan penasaran.
"Gue mau nyari sinyal, lupa kalau belum ngabarin mama," alibi Angga. Padahal dia ingin menemui Gisel.
Leo mengangguk tapi dia merasa heran saat melihat kepergian Angga yang menuju bawah. "Katanya cari sinyal, bukannya kalau sinyal itu adanya di dataran tinggi ya? Kok dia malah nyari ke bawah? Sejak kapan sinyal ada di dataran bawah?" bingung Leo sambil menggaruk belakang lehernya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....