Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Kecelakaan


__ADS_3

Happy reading.....


Mobil menabrak tubuh Amanda dengan sangat keras, membuat wanita itu terhampas dan darah pun mulai bercucuran.


Sementara pelaku dari penabrakan tersebut melarikan diri setelah melihat keadaan Amanda akan tetapi terlihat senyuman sinis di bibir pengendara mobil itu.


"Ada kecelakaan!" teriak salah satu warga yang berada di sana.


Gisel yang sedang mengerjakan tugasnya tiba-tiba merasa terkejut saat seorang karyawan masuk ke dalam ruangannya dengan tergesa-gesa.


"Ya ampun Citra! Kamu tuh kalau masuk pelan-pelan, ketuk pintu dulu. Main nyelonong aja!" Gisel menggelengkan kepalanya.


"Maaf Mbak, tapi itu di depan Mbak ... Mbak Amanda .... Mbak Amanda ..." jawab Citra dengan wajah yang panik.


Melihat kepanikan Citra, Gisel pun seketika menjadi gelisah. "Ada apa dengan mbak Amanda? Bukankah tadi Mbak Amanda mau nyari taksi?"


"Iya Mbak, itu ... Mbak Amanda kecelakaan di depan, ketabrak mobil!" seru Citra dengan nafas terengah.


"APA! Ketabrak!" kaget Gisel, kemudian dia langsung menghempaskan buku yang ada di tangannya dan langsung berlari keluar dari butik. Ternyata benar, di sana banyak orang yang sedang menolong tubuh Amanda dan membawanya ke rumah sakit.


Tangan Gisel gemetar saat melihat darah yang begitu banyak di sana, dia takut terjadi apa-apa dengan Amanda. Kemudian dengan cepat Gisel kembali berlari ke dalam butik dan mengambil ponselnya.


"Aku tidak punya lagi nomor suaminya Mbak Amanda. Aduh ... gimana ini?" panik Gisel dengan jantung yang sudah berdebar keras.


"Kalian ada yang tahu nggak nomor suaminya Mbak Amanda?" tanya Gisel kepada beberapa karyawan yang ada di sana.


"Nggak tahu Mbak, kami nggak pernah menyimpan nomornya."


Saat Gisel dilanda kebingungan, dia ingat jika mempunyai nomor Lulu, kemudian Gisel langsung menghubungi wanita itu.


"Halo selamat sore mbak Lulu. Mbak, tolong kasih tahu sama suaminya Mbak Amanda kalau mbak Amanda saat ini masuk rumah sakit!" ucap Gisel dengan panik


"Apa! Rumah Sakit? Amanda kenapa?" tanya Lulu di seberang telepon sana tak kalah paniknya.


"Mbak mana kecelakaan, Mbak. Nanti alamatnya aku kirim ya. Tolong kasih tahu Mbak, cepat!" pinta Gisel kembali.

__ADS_1


"Oke ... Oke. Aku akan kasih tahu sekalian aku juga mau ke sana."


Setelah itu telepon pun terputus. Gisel menyuruh karyawannya untuk menutup butik, sementara dia berjalan menaiki motornya untuk menuju rumah sakit akan tetapi tangan Gisel gemetar.


Dia masih mengingat darah yang bercucuran tadi di tubuh Amanda, dan sepertinya wanita itu tidak bisa memakai motornya. Akhirnya dia pun menaiki taksi.


.


.


Lulu yang sedang berada di kamar segera menelpon Ethan, akan tetapi pria itu tidak aktif nomornya.


"Benar-benar kampret nih orang ya. Istrinya kecelakaan, dia malah nomornya nggak aktif? Ke mana sih!" teriak Lulu dengan kesal.


Lulu segera menghubungi suaminya dan tak lama telepon pun tersambung. Halo assalamualaikum, sayang."


"Waalaikumsalam ... kamu kenapa sih? Kok kayak panik gitu?" tanya Rizal di seberang telepon.


"Sayang, kamu harus memberitahu Ethan kalau saat ini Amanda sedang berada di rumah sakit, dia kecelakaan!" Lulu berbicara seperti kereta yang sudah tidak ada relnya.


"Apa! Kecelakaan?"


"Oke oke, aku ke sana sekarang ya. Kamu mau ke rumah sakit?"


"Iya aku mau ke rumah sakit. Aku diantar sopir ya. Ya udah aku tutup dulu ya, assalamualaikum."


Belum juga Rizal menjawab, teleponnya sudah diputus oleh Lulu. Pria itu pun hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah sang istri yang begitu sangat panik saat mendengar Amanda kecelakaan.


.


..


Di rumah orang tua Amanda.


Tante Anjani sejak tadi merasa gelisah, jantungnya terus saja berdebar seperti ada sesuatu yang terjadi, namun wanita itu enggan untuk menerka-nerka.

__ADS_1


"Mah, kenapa sih dari tadi kok kelihatannya kayak nggak tenang gitu? Ada apa?" tanya om Umar sambil meminum kopinya.


"Aduh Pah ... aku juga nggak tahu nih, perasaanku kok mendadak nggak enak sama Amanda ya?" jawab Tante Anjani dengan raut wajah yang cemas.


"Kamu itu terlalu banyak pikiran. Orang Amanda baik-baik aja. Udah nggak usah terlalu dipikirin, kita berdoa aja supaya putri kita selalu dalam lindunganNya." Om Umar mencoba menenangkan kegelisahan sang istri.


"Iya Pah, semoga."


Tiba-tiba saja ponsel tante Anjani berdering dan ternyata itu panggilan dari Lulu. "Iya halo assalamualaikum, Lu," ucap tante Anjani saat telepon tersambung.


"Waalaikumsalam ... tante ... tante ... Amanda ... Amanda, tante ..." Terdengar suara Lulu sangat panik di seberang telepon.


"Amanda? Kenapa dengan Amanda, Lulu? Dia baik-baik aja kan?" tanya Tante Anjani yang mulai cemas saat mendengar nada bicara Lulu yang panik.


"Tante harus ke rumah sakit sekarang! Amanda kecelakaan, Tante. Tadi Lulu habis dikabari sama Gisel_ asistennya Amanda."


"APA! KECELAKAAN!" kaget tante Anjani. Dia langsung memegangi dadanya dan tubuhnya hampir saja limbung, untung segera ditahan oleh om Umar.


"Siapa Mah? Siapa yang kecelakaan?" tanya om Umar yang sudah mulai merasa tak enak.


"Kamu kirimkan alamatnya ke tante sekarang ya!" Tante Anjani pun memutus telepon.


Kemudian dia langsung memeluk tubuh suaminya, membuat Om Umar seketika merasa takut dan juga khawatir. Akan tetapi dia tidak ingin berpikiran yang macam-macam.


"Ada apa, Mah? Siapa yang kecelakaan?"


"Kita harus ke rumah sakit sekarang, Pah! Amanda kecelakaan Pah," jawab Tante Anjani yang sudah berderai air mata.


"Innalillahi ... Ya udah kita ke rumah sakit sekarang, ayo!"ajak Om Umar dan tante Anjani mengangguk, walaupun sebetulnya kaki dia terasa begitu lemas, hanya untuk melangkah pun rasanya dia sudah tidak kuat.


Sepanjang perjalanan bahkan tante Anjani terus saja menangis, tangannya gemetar ketakutan karena dia takut kehilangan Amanda Putri satu-satunya.


"Ya Allah ... selamatkanlah putriku. Jangan Kau ambil dia dariku ya Allah. Jangan Kau pisahkan dia dengan suaminya. Mereka baru mengarungi bahtera rumah tangga ya Allah," ucap tante Anjani terus melafadzkan doa untuk keselamatan Amanda.


Om Umar pun tak kalah panik, hanya saja dia sebagai seorang pria dan kepala keluarga sekaligus ayah harus bersikap tenang, walaupun hatinya benar-benar hancur saat mendengar jika putrinya kecelakaan.

__ADS_1


'Amanda ... Papa yakin kamu wanita yang sangat kuat nak. Kamu harus bertahan! Jangan pernah tinggalkan mama dan papa, Nak. Kamu adalah kebanggaan kami, mutiara dan berlian yang kami punya satu-satunya. Kamu harus kuat Nak!' batin Om Umar.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2