Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Apakah Calonnya?


__ADS_3

Happy reading....


Haris dan juga Alea baru saja sampai di bandara, pria itu tidak langsung membawa Alea ke kediaman orang tuanya, karena Haris akan membawa Alea ke apartemennya terlebih dahulu.


Dia pulang bukan karena ingin memperkenalkan Alea kepada keluarganya saja, akan tetapi Haris juga disuruh oleh om Samuel untuk segera pulang sebab ada sesuatu hal yang harus dibicarakan.


"Kamu di sini dulu, nanti malam baru saya akan memperkenalkanmu kepada keluarga saya. Jadi kamu jangan kemana-mana! Di depan juga ada anak buah saya yang menjaga, jadi kamu jangan mencoba untuk kabur ya!" Pesan Haris kepada Alea.


Wanita itu hanya membuang pandangannya saja sambil mencebik kesal. Mau kabur juga seperti apa, jika di depan sudah ada anak buah dari Haris.


"Iya bawel, tidak usah mengingatkan terus. Dari pesawat sampai turun ke sini selalu saja berbicara seperti itu. Aku bukan anak kecil yang gampang lupa!" jawab Alea dengan wajah cemberut.


Haris menarik sudut bibirnya saat melihat wajah Alea yang begitu menggemaskan di matanya, kemudian dia pun pamit dari sana untuk pulang ke rumah.


Haris sedang menaiki mobil, dan saat ini dia tidak diantarkan oleh Rizal. Pria itu menyetir sendiri namun sepanjang perjalanan jantung Haris terus saja berdetak tak karuan, saat mengingat jika dia akan kembali bertemu dengan Fitri.


Mobil pun sudah sampai di kediaman orang tuanya Haris, dia langsung turun dan disambut oleh pelayan, kemudian dia mencium tangan Tante Dina yang juga menyabutnya.


"Mama apa kabar?" tanya Haris sambil memeluk tubuh Sang mama.


"Alhamdulillah kabar baik, kamu sendiri apa kabar? Sudah satu bulan kamu berada di luar kota, apa tidak kangen sama Mama?" Tante Dina memukul lengan Haris membuat pria itu terkekeh.


"Tentu saja kangen Mah, masa tidak? Papa ke mana?"


"Papamu sedang di kantor, paling sore juga pulang. Ayo, Mama buatkan kopi." ajak Tante Dina sambil menggandeng tangan Haris ke ruang makan.


Pria itu hanya menurut saja, namun dia melihat ke sekeliling tidak menemukan Fitri. Jujur Haris memang belum mengetahui jika Fitri dan juga Darius sudah diusir dari rumah oleh om Samuel dan juga Tante Dina.


"Kamu mencari siapa? Mantan istrimu?" tebak Tante Dina yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Sang putra.


"Enggak Mah," alibi Haris.


"Dia sudah diusir oleh Mama dan Papa dari sini, beserta dengan Darius juga. Mungkin sekarang mereka tinggal di kontrakan atau tinggal di hotel." Tante Dina mengangkat kedua bahunya.


Mendengar itu tentu saja Haris sangat kaget, dia tidak menyangka jika kedua penghianat itu sudah diusir dari rumah.

__ADS_1


"Mama serius?" tanya Haris memastikan.


"Ya seriuslah. Dan warisan juga sudah diberikan kepadanya sebanyak 30%, sedangkan 70% nya untuk kamu," jelas Tante Dina sambil duduk di samping Harris.


Lagi-lagi pria itu dibuat terkejut saat mendengar ucapan Mamanya, di mana warisan lebih banyak kepada dirinya ketimbang dengan Darius. Namun, Tante Dina menjelaskan jika semua itu sudah dipikirkan oleh om Samuel.


Haris pun hanya bisa mengganggukan kepalanya, dia tahu keputusan Papanya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.


"Tapi nanti malam, mama dan papa akan mengundang mereka ke sini."


"Untuk apa?" kaget Haris.


"Kamu dan juga Fitri kan sudah bercerai, dan sebentar lagi sidang kalian akan dimulai. Mama hanya ingin memastikan aja soal perceraian kalian nanti malam, walau bagaimanapun, harus dibicarakan secara baik-baik bukan?" ujar Tante Dina.


Haris mengangguk paham, kemudian dia menghabiskan kopinya. "Baiklah, nanti malam juga aku akan memperkenalkan seseorang kepada Mama dan papa."


"Seseorang? Siapa itu?" tanya Tante Dina dengan penasaran.


"Nanti juga Mama dan papa akan tahu," jawab Haris kemudian dia meninggalkan ruang makan.


"Apa itu calon barunya, Haris? Tapi apa secepat itu dia bisa move-on dari Fitri?" gumam Tante Dina sambil mengangkat kedua alisnya.


.


.


"Tante mau tanya, apa benar kamu baru saja cerai dengan suamimu?" tanya Tante Inggit sambil menatap lekat ke arah Amanda.


Mendengar pertanyaan dari Tante Inggit, Amanda pun menganggukan kepalanya. Dia tidak malu jika menyandang gelar seorang janda, karena bagi Amanda janda itu bukanlah status yang jelek.


"Boleh Tante tahu alasannya kenapa? Maaf jika ini terlalu pribadi, hanya saja Tante selalu bersimpati kepada seorang janda yang ditinggalkan oleh suaminya," ujar tante Inggit, sebab Ia takut menyinggung perasaan Amanda.


"Tentu saja Tante, Amanda tidak keberatan," jawab Amanda sambil tersenyum.


Kemudian dia pun menjelaskan kepada tante Inggit tentang prahara rumah tangganya. Namun dari penjelasan tersebut, Amanda tidak menjelekkan Darius. Dia tidak membuka semua bobrok dari pria itu, karena walau bagaimanapun Darius pernah menempati hatinya.

__ADS_1


Dan kewajiban Amanda adalah menjaga aib mantan suaminya. Walaupun dia juga mengatakan jika Darius memang berselingkuh, namun Amanda tidak menjawab berselingkuh dengan Adiknya sendiri.


Tante Inggit menatap sendu ke arah Amanda, dia tidak menyangka jika wanita seperti Amanda bisa dikhianati. Padahal terlihat begitu baik, cantik, bahkan sangat Mandiri.


"Kamu yang sabar ya Nak. Tante doakan semoga Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kamu." Wanita tersebut memeluk tubuh Amanda.


"Aamiin! Makasih Tante atas doanya. Tapi untuk saat ini Amanda balum siap menjalin hubungan Tante, masih sedkit trauma," jelas Amanda.


.


.


Setelah menghabiskan waktu bersama dengan tante Inggit dan juga Ethan, Lulu dan juga Amanda pun memutuskan untuk pulang, sebab hari juga sudah semakin sore.


Lalu mereka pun berpisah di parkiran, karena Amanda dan dulu membawa mobil begitu pula dengan Ethan.


"Astaga! Gue lupa." Lulu menepuk jidatnya.


"Lupa apa? Pacar lo ketinggalan di dalam?" ledek Amanda.


"Bukan Markonah. Gue lupa tadi nggak beli telur gulung, hehehe ..." Wanita itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya


Amanda memutar bola matanya dengan malas. Entah kenapa dia merasa heran kepada Lulu, sejak SMA sampai sudah sebesar itu wanita tersebut masih belum bisa melupakan makanan dari bahan yang terbuat dari telur itu.


Lalu mereka berdua masuk kembali ke dalam festival untuk membeli telur gulung, jajanan kesukaan Lulu yang tak pernah iya lewatkan jika ada yang menjualnya.


Selesai membeli mereka pun kembali ke parkiran, namun tiba-tiba tubuh Lulu bertabrakan dengan seseorang hingga tubuhnya terhuyung. Untung saja orang itu langsung menangkap tubuh Lulu dengan sigap.


Akan tetapi, seketika mata Lulu membulat kaget saat melihat siapa orang yang baru saja ia tabrak. Namun Amanda mengerutkan keningnya, sebab Ia seperti pernah melihat orang itu tapi lupa di mana.


"Elo!" kaget Lulu sambil menunjuk wajah orang tersebut.


BERSAMBUNG....


1 BAB LAGI MENYUSUL YA. AUTHOR MAU KONDAGAN DULU🤣

__ADS_1


__ADS_2