Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Malu


__ADS_3

Happy reading....


"Eeeuugh ..." suara lenguhan terdengar lirih di telinga Ethan.


Di menatap ke arah wanita yang sejak tadi memejamkan matanya, karena tak sadarkan diri. Melihat Amanda sudah membuka matanya secara perlahan, membuat Ethan merasa lega.


"Akhirnya kamu sadar juga," ucap Ethan dengan nada yang cemas.


Amanda melihat raut ketakutan dan kekhawatiran di wajah tampan pria yang saat ini tengah duduk di hadapannya. Dia terdiam sambil menatap ke arah Ethan.


Masih terngiang jelas saat pria itu menyebutnya dengan kata 'sayang. Entah kenapa Amanda pun tidak tahu, dia merasa tidak suka saat Mona masih mengejar-ngejar Ethan. Dan Amanda rasa, jika dia sudah menaruh hati pada pria tampan tersebut.


"Apa aku pingsan?" tanya Amanda.


"Iya. Maaf ya, gara-gara Mona kamu harus terluka seperti ini."


Amanda hanya tersenyum, kemudian dia mencoba untuk bangkit. Dan melihat itu Ethan pun mencoba untuk membantu dirinya kemudian Amanda bersandar di sandaran ranjang, lalu Ethan mengambil air putih dan membantunya minum.


"Ini sudah malam ya. Aduh ... kita harus cepat pulang. Kalau tidak, Mama dan Papa pasti akan khawatir." Amanda melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 19.00 malam.


"Tidak usah khawatir! Tadi aku sudah menelpon tante Anjani, jadi mereka tidak cemas," jawab Ethan.


Amanda sedikit tertegun, dia tidak menyangka jika Ethan secepat itu menelpon orang tuanya. Tetapi setidaknya tante Anjani dan juga Om Umar tidak khawatir dengan keadaan Amanda.


"Ya sudah, kalau gitu kita pulang sekarang yuk!" ajak Amanda.


"Kita makan malam dulu di bawah. Apa kamu juga tidak ingin membersihkan diri? Aku tadi sudah pesan baju, ini." Ethan memberikan paper bag kepada Amanda, di mana dia sudah membelikan dress untuk Amanda beserta dengan pakaian dalaamnya.


Wajah wanita itu merona malu saat melihat ada dalaaman berwarna pink muda, membuatnya seketika menatap ke arah Ethan. Namun, pria tersebut malah kebingungan saat Amanda menatapnya dengan lekat.


"Kenapa? Apa ada yang salah? Apa kamu tidak suka warna bajunya?"

__ADS_1


"A-ah, tidak. Tidak apa-apa. Kalau begitu aku bersih-bersih dulu ya, nanti aku turun ke bawah," ujar Amanda.


Ethan menawarkan diri untuk membantu Amanda, tetapi wanita itu menolak. Dia sudah sangat malu saat mengetahui jika Ethan membeli dalaaman untuknya, dan Amanda tidak tahu apakah itu ukurannya pas atau tidak.


Yang membuatnya heran adalah, Ethan sama sekali tidak terlihat risih saat membelikan pakaian itu untuk Amanda. Padahal dia saja sebagai wanita merasa malu.


Setelah sampai di kamar mandi, Amanda membuka bajunya,lalu dia segera mengguyur tubuhnya di di bawah air shower untuk menghilangkan pegal-pegal. Tidak lupa wanita itu juga membasahi rambutnya karena terasa begitu pening.


"Ya ampun! Kepalaku sakit sekali. Sepertinya memang ini bukan karena kelelahan, tapi karena benturan tadi," gumam Amanda sambil berpegangan kepada dinding kamar mandi.


Setelah selesai dia memakai pakaaian dalaam serta baju yang dipesan oleh Ethan. Namun yang membuat Amanda heran adalah, ukuran pakaaian dalaam itu sangat pas untuk Amanda.


"Bagaimana dia bisa membeli ukuran yang begitu pas? Padahal dia saja belum pernah melihat bentuk dan juga ukuran tubuhku?" gumam Amanda dengan bingung sambil merasakan kepalanya semakin berdenyut nyeri.


Padahal dia tadi sudah minum obat, tapi kenapa kepalanya semakin sakit, membuat tubuh Amanda seketika limbung hingga berpegangan kepada wastafel,dan tidak sengaja menumpahkan sabun serta alat-alat mandi milik Ethan di sana hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring


PRANG!


PYAAR!


"Amanda, kamu nggak papa 'kan? Itu suara apa?!" tanya Ethan sambil setengah berteriak dan menggedur pintu kamar mandi.


Akan tetapi tidak ada jawaban di dalam sana membuat seketika hati Ethan menjadi risau, karena dia takut jika Amanda di dalam kenapa-napa.


"Amanda! Kamu tidak apa-apa 'kan? Kamu bisa mendengarku? Amanda aku masuk ya?!"


Ethan mencoba untuk membuka pintu kamar mandi, dan ternyata tidak terkunci. Kemudian perlahan dia menyembulkan kepalanya, dan seketika matanya membulat saat melihat Amanda tergeletak di lantai kamar mandi dengan keadaan wanita itu masih memakai dalamaan.


"Astaga! Amanda!" jerit Ethan, kemudian dia langsung berlari dan menggendong tubuh Amanda.


Pria itu bahkan tidak memperdulikan tubuh wanita yang dia gendong setengah polos, kemudian menidurkannya di atas ranjang lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

__ADS_1


Bohong jika Ethan tidak tergiur saat melihat tubuh Amanda. Apalagi bagian atasnya yang begitu montok. Akan tetapi, Ethan mengenyampingkan rasa itu, karena saat ini dia sangat khawatir dengan keadaan Amanda.


"Aawwh! Sssh! Kepalaku sakit sekali," ucap Amanda dengan lirih, kemudian dia membuka matanya perlahan dan melihat jika dirinya sudah berada di dalam kamar.


"Syukurlah, akhirnya kamu sadar. Kamu kenapa bisa pingsan di kamar mandi?" tanya Ethan dengan raut wajah yang begitu cemas.


"Aku tidak tahu. Kepalaku sakit sekali, dan ..." Amanda menggantungkan ucapannya, kemudian dia menatap ke arah tubuhnya yang masih memakai dalamaan. Seketika wanita itu menarik selimut sampai menutupi lehernya.


Lalu dia menatap tajam ke arah Ethan, takut jika pria tersebut malah melihatnya. Akan tetapi, bodoh jika Amanda beranggapan Ethan tidak melihat tubuhnya sama sekali, karena dia masih dalam keadaan memakai dalaaman dan tentu saja Ethan bisa melihatnya.


"Apa kamu tadi ..." Amanda tidak melanjutkan ucapannya, tapi tatapannya mengarah pada Ethan dengan lekat.


Tahu dengan arah tujuan ucapan Amanda, Ethan pun mengangguk. "Tentu saja aku melihatnya, jika tidak, bagaimana mungkin aku bisa berjalan ke kamar dan menggendongmu?"


Seketika wajah Amanda bersemu merah bagai kepiting rebus, lalu dia masuk ke dalam selimut. 'Astaga! Kenapa aku bodoh sekali? Yya ampun Amanda! Kenapa sih kamu pingsan di waktu yang tidak tepat. Kamu kan sama dia belum menikah? Aduh!' rutuk Amanda pada dirinya sendiri di dalam hati.


Sementara Ethan merasa lucu dengan sikap Amanda yang terlihat begitu gelisah dan malu. Dia terkekeh kecil, tapi tidak Ethan pungkiri dia adalah pria yang normal, melihat wanita seperti itu tentu saja membangkitkan sesuatu di dalam tubuhnya.


"Tidak usah malu. Sekarang pakai bajumu! aku akan menunggu di meja makan ya. Aku akan menyuruh bi Sarkiyem untuk ke sini, dan nanti kamu akan turun bersamanya." Ethan mengusap pucuk kepala Amanda yang menyembul di balik selimut.


Pria itu pun keluar dari kamar, dan mendengar pintu kamar tertutup Amanda seketika membuka selimutnya. Dia bisa bernafas dengan lega, namun tidak bisa Amanda bayangkan jika dia harus bertatap muka dengan Ethan karena dirinya benar-benar sangat malu.


"Ya ampun Amanda! Kenapa kamu bisa seceroboh itu sih? Lagian nih kepala kenapa sampai pusing. Kalau mau pusing nanti aja kalau udah pakai baju aku kan malu sama Ethan." Amanda memukul jidatnya beberapa kali.


"Aduh! Awwwh! Kepalaku sakit sekali." ringis Amanda. Tak berapa lama bi Sarkiyem datang.


Setelah Amanda memakai baju, mereka pun turun ke lantai bawah untuk makan malam di mana saat ini Ethan sudah menunggunya.


"Cantik." puji Ethan saat melihat Amanda memakai dress yang ia beli.


Sementara wanita itu hanya tersenyum dengan pipi yang sudah merona. Tanpa menggunakan blush on sekalipun, pipi Amanda sudah merah karena pujian dari Ethan.

__ADS_1


'Astaga jantung, kondisikan. Kalau kau mau melompat dari tempatnya nanti saja saat ini aku masih membutuhkanmu.' batin Amanda merutuki jantungnya yang sedang berdetak dengan kencang, karena sedari tadi Ethan terus saja menatap dalam ke arah dirinya.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2