
Happy reading....
"Tahu tentang apa?" tanya seseorang di balik punggung Fitri, dan membuat wanita itu seketika langsung berbalik dan membulatkan matanya saat mengetahui siapa orang tersebut.
Fitri melihat Tante Dina yang sedang berdiri di ambang pintu, wanita itu pun menjadi sangat gugup, bahkan terlihat wajahnya pucat pasi.
Tante Dina merasa penasaran dengan arti dari ucapan menantunya tersebut, kemudian dia mendekat ke arah Fitri. "Tahu tentang apa, Nak? Apa maksud dari ucapanmu?" tanya wanita itu sambil menatap ke arah menantunya.
"Itu Mah ... anu ... aku ..." Fitri terlihat sangat gugup, membuat Tante Dina semakin curiga.
Entah kenapa dia merasa Fitri tengah menyembunyikan sesuatu hal yang besar dari semua orang, feelingnya mengatakan seperti itu.
"Kenapa wajah kamu terlihat gugup sekali? Apa sesuatu hal itu adalah hal yang negatif?"
"Bukan seperti itu, Mah. Aku ..." Fitri benar-benar tidak tahu apa yang harus ia ucapkan.
'Aduh, matilah aku! Apa yang harus kukatakan kepada Mama? Jawaban apa yang harus kuberikan kepadanya, agar ia tak curiga?' batin Fitri sedang berpikir tentang jawaban yang pas agar Tante Dina tidak merasa curiga.
Sementara mertuanya saat ini tengah menatap dalam ke arah Fitri, saat melihat kegugupan di kedua mata menantunya.
"Fitri, kenapa kamu diam saja? Apa maksudnya? Kalau kamu tidak menyembunyikan apapun, harusnya kamu bisa dong menjawab pertanyaan mama?"
"Itu Mah, sebenarnya aku ... berencana untuk memberikan kejutan kepada Mas Haris. Rencananya aku ingin membeli sebuah motor sport kesukaan dia. Karena kan dia sangat suka sekali dengan motor GP, jadi aku ingin membelinya," jawab Fitri dengan nada sedikit gugup.
Tante Dina terdiam sambil menatap dengan menyipit ke arah Fitri, membuat wanita itu menjadi semakin gugup, bahkan tangannya sudah memilih-milih ujung baju.
"Ya ampun! Mama kira apa? Seharusnya hal seperti itu kamu tidak usah gugup sayang. Mama dukung kok, toh memang yang kamu katakan itu benar, Haris kan sangat menyukai motor," ujar Tante Dina sambil mengusap pundak Fitri.
Wanita itu bernafas lega karena ternyata mertuanya percaya dengan ucapannya. Kemudian Tante Dina pun pergi dari sana meninggalkan Fitri yang kembali melanjutkan menonton televisi.
.
__ADS_1
.
Setelah sampai di restoran di mana tempat dia berjanjian dengan Harlris, Fitri pun masuk ke dalam dan ternyata suaminya sudah menunggu.
"Maaf ya Sayang, udah menunggu lama ya," ucap Fitri dengan manja seperti biasanya.
"Enggak kok, buat istriku walaupun 1 tahun menunggu tidak masalah," jawab Haris.
"Dasar gombal "
"Aku nggak gombal lho sayang, seriusan. Walaupun kamu mau lama, satu atau 2 tahun bahkan bertahun-tahun, aku akan tetap menunggumu. Selama cintamu masih untukku. Tapi selama cinta itu sudah tidak ada lagi dan kamu malah menghianatiku, jangankan untuk satu tahun, satu jam bahkan 1 detik pun aku akan meninggalkanmu."
Mendengar itu Fitri terdiam, dia merasa tersindir namun ada rasa bersalah di dalam hatinya karena sudah menghianati Haris.
Melihat keterdiaman istrinya, Haris pun terkekeh, "Ya ampun Sayang, aku hanya bercanda tidak usah dipikirkan. Tapi apa yang aku ucapkan tadi memang benar, jadi jangan pernah kamu menghianati cintaku ya! Karena aku sangat amat tulus mencintaimu, dan aku berharap kita bisa menua bersama."
Haris mengecup tangan Fitri, sementara wanita itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Dia tahu Haris adalah pria yang baik, mencintainya dengan tulus, tapi sayangnya Fitri tak pernah bisa membalas cinta pria tersebut dan dia lebih mencintai Darius.
Memang wanita itu masuk ke dalam kehidupan Haris hanya karena ingin bersama dengan Darius, sebab dia tidak ingin kehilangan Darius untuk kedua kalinyax dan ternyata pria tersebut juga masih sangat mencintainya.
Tak lama makanan datang, kemudian mereka pun langsung makan siang. Namun Fitri mengingat tentang Haris yang mengundangnya makan siang sebab ada hal yang ingin dibicarakan.
"Oh iya sayang, tadi kamu bilang ditelepon ada hal yang ingin dibicarakan. Soal apa itu?" tanya Fitri.
"Habiskan dulu makanannya, baru nanti kita bicara!" Jawab Haris sambil mengunyah makanannya.
Fitri menganggukan kepala, dia benar-benar sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh suaminya, karena entah kenapa Fitri merasa itu bukan hal yang baik.
'Apa benar dugaanku, jika ini ada hubungannya dengan pagi tadi? Semoga saja tidak. Semoga itu hanya perasaanku saja,' batin Fitri menerka-nerka.
__ADS_1
Setelah makan siang selesai, Fitri saat ini sedang memakan es krim kesukaannya. Dia menatap ke arah sang suami begitu pula dengan Haris.
"Jadi ..." ucap Fitri menggantung perkataannya.
"Jadi begini Sayang, kemarin itu beberapa hari yang lalu aku main ke kantornya Kak Darius terus aku menemukan sebuah sepatu milik seorang wanita. Tapi ... tadi pagi aku menemukan sepatu yang sama persis dengan yang aku lihat di ruangannya Kak Darius. Kenapa sepatu itu ada di lemari kamu ya?" tanya Haris dengan hati-hati.
"Sepatu? Maksud kamu?" Fitri terlihat pura-pura bingung.
Padahal sebenarnya jantungnya saat ini sedang berdetak dengan kencang, seperti akan copot dari tempatnya saat mendengar pertanyaan dari Haris. Bagaimana tidak? Sepatu yang dimaksud oleh Haris adalah yang waktu hampir mereka terpergok selingkuh.
'Bodoh. Kenapa sampai aku tidak menyembunyikan sepatu itu. Tahu gitu mendingan kubuang saja sepatunya.' batin Fitri merutuki dirinya sendiri.
"Iya sayang, maaf bukan aku maksud untuk menuduhmu. Hanya saja,baku merasa heran. Apakah sepatu itu kamu dikasih oleh kak Darius, atau---"
"Mas ini ada-ada aja deh. Mana mungkin Mas Darius ngasih aku sepatu? Lagi pula,nsepatu itu walaupun satu merek tapi kan nggak hanya keluarkan satu aja, pasti kan banyak serinya Mas. Mungkin aja Mas Darius ingin membelikannya buat Mbak Amanda, tapi ternyata sama." Fitri mengangkat kedua bahunya.
"Iya, kamu benar. Memang waktu itu mas Darius bilang kalau dia ingin membelikan untuk Kak Amanda, tapi tidak cocok dan dia bilang sih ingin dikasih ke Mbak Kim, makanya aku heran kok bisa ada di lemarinya kamu?"
"Sudahlah Mas, mungkin memang sama. Lagi pula sepatu itu kan nggak hanya satu aja. Apa kamu berpikir kalau aku ada main sama Mas Darius?" Fitri melihat Haris dengan tatapan menyipit.
Dia mencoba untuk memojokkan pria itu agar Haris tidak terus mendesak soal sepatu tersebut.
"Maaf sayang, aku tidak bermaksud seperti itu. Maaf jika ucapanku menyinggung kamu. Sama sekali tidak pernah terpikirkan, lagi pula mana mungkin sih Istriku yang cantik ini selingkuh dengan kakak iparnya sendiri? Seperti tidak punya malu saja. Lagi pula kamu ini wanita yang berpendidikan, mana mungkin kamu menjadi pelakor dalam rumah tangga kakakmu sendiri, dan menjadi wanita murahan. Apalagi mas Darius itu adalah kakak kandungku," kekeh Haris sambil menggelengkan kepalanya.
"Nah, itu kamu tahu. Ya sudah, sekarang kita ke kantor kamu yuk! Aku udah lama nggak main ke kantor kamu!" ajak Fitri mengalihkan pembicaraan agar pikiran Haris tidak tertuju kepada hal itu terus-menerus.
Pria itu pun tersenyum, kemudian mereka beranjak dari duduknya setelah membayar lalu pergi dari sana menuju kantor Haris.
'Astaga! Sekarang aku dan juga Mas Darius harus benar-benar bermain cantik, jika tidak, kami akan ketahuan sebelum mendapatkan hak waris. Aku juga tidak mau hidup melarat.' batin Fitri.
BERSAMBUNG...
__ADS_1