Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Malas


__ADS_3

"Bagaimana Dok? Istri saya sakit apa?" desak Ethan yang sejak tadi hanya melihat dokter diam saja.


"Hanya kelelahan saja," jawab dokter.


"Hanya itu, Dok?" tanya Mama Inggit memastikan, karena dia pikir tadinya Amanda tengah hamil, tapi ternyata tidak.


"Iya, Bu. Dari hasil pemeriksaan, sepertinya Nyonya Amanda hanya kelelahan. Saya juga sudah memberikan vitamin, nanti diminum sehari tiga kali ya! Kalau begitu saya pamit dulu." Dokter itu pun keluar diantar oleh Mama Inggit.


Sementara Ethan di kamar menemani Amanda. Pria itu duduk di tepi ranjang sambil mengusap kepala sang istri dengan lembut. "Makanya kamu jangan capek-capek dong Sayang," ucapnya.


"Iya," jawab Amanda sambil memejamkan matanya.


"Ya sudah, sekarang kamu tidur istirahatkan tubuh kamu ya!" Amanda hanya menjawab dengan anggukan kecil tanpa membuka matanya sama sekali, kemudian Ethan keluar setelah menarik selimut dan menutupi tubuh sang istri.


Dia berjalan dan menghampiri mamanya, dan melihat itu Mama Inggit menatap sendu, karena dia pikir Amanda sedang hamil. "Kenapa wajah Mama murung seperti itu?"


"Tadinya mama pikir kalau Amanda itu sedang mengandung Ethan Junior, tapi ternyata hanya kelelahan. Padahal mama sudah tidak sabar ingin sekali menimang cucu dari kamu dan juga Amanda, tapi sepertinya Allah belum mengizinkan."


Ethan tahu perasaan mamanya pasti akan sangat terluka dia merangkul pundak Mama Inggit lalu mengusapnya dengan lembut dan mengecup keningnya.


"Mama doakan ya, semoga Amanda cepat mengandung benihku! Dan semoga Mama juga cepat mendapatkan cucu. Kita serahkan saja semuanya sama Allah."


"Kamu juga." Mama Inggit malah mencubit pinggang Ethan. "Lho! Mama kenapa cubit pinggang aku? Memangnya aku salah apa?" Ethan meringis sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas.


"Ya salah kamu lah ... kamu seharusnya bekerja lebih giat lagi." Wanita itu melipat tangannya di depan dada dengan wajah cemberut.


Bukannya kesal, Ethan malah tertawa. Kemudian dia memeluk tubuh mamanya dari belakang dan menyandarkan wajahnya di dagu wanita itu. "Aku bahkan sudah bekerja setiap malam. Kalau Amanda kuat 10 ronde juga, ayo! Tapi tenaga istriku tidak sekuat diriku, Mah. Jadi, awwh!" Belum juga ucapannya selesai, kali ini Mama Inggit menjewer telinganya.


"Amanda itu bukan robot. Kamu pikir 10 ronde itu tidak membuat gempor istrimu hah? Kamu mau membuat istrimu jalannya ngesot?" sentaknya dengan tatapan tajam.


Ethan meringis, bukan karena rasa sakitnya saja, tapi tatapan sang Mama yang membuatnya ketakutan, sebab walau bagaimanapun Mama Inggit adalah orang yang ditakuti oleh Ethan.


"Iya Mah, ampun-ampun! Nggak lagi-lagi aku gempur Amanda 10 ronde Lagian paling mentok 4 ronde kok, Mah."


"4 ronde kamu bilang? Itu sama saja kamu membuat istrimu lempok. Kamu lihat sekarang! Dia seperti itu karena siapa? Karena kamu. Jadi sekarang lebih baik kamu kurangi tuh mainmu. Setiap malam tidak masalah ... tapi kurangi ritme permainannya, oke! Dan satu lagi. Jangan bermain kasar! Kamu dan juga Amanda harus makan kacang-kacangan biar kalian berdua subur."


"Iya Tuan Ratu." Mama Inggit malah melengos begitu saja, dia pergi meninggalkan Etban yang sedang terkekeh karena berhasil mengerjai sang mama.


Dia berjalan ke ruang kerjanya menghubungi Rizal untuk menanyakan pekerjaan, dan akhirnya pria itu pun berkutat dengan laptopnya.


.


.


Pagi ini Amanda telat bangun. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sangat malas sekali bangun pagi, padahal biasanya wanita itu sangat cekatan dalam menyiapkan segala keperluan Ethan.


"Sayang, ini sudah jam 07.00. Aku mau bekerja, kamu nggak mau bangun?" tanya Ethan dengan heran saat melihat tingkah istrinya, kemudian dia duduk di tepi ranjang dan memegang kening Amanda tetapi tidak panas sama sekali.

__ADS_1


"Enggak ah sayang, aku lagi kurang enak badan. Maaf ya!" Amanda berkata tanpa menoleh ke arah Ethan


.


"Ya sudah, kalau gitu aku berangkat dulu ya." Pria itu pun mengecup kening Amanda, setelah itu dia pun keluar dan berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah di mana ruangan makan berada.


Di sana sudah ada mama Inggit yang tengah menyiapkan sarapan. Dia menatap heran ke arah putranya yang berjalan sendirian. "Kemana Amanda? Apa dia kesiangan lagi?"


"Iya Mah. Sejujurnya aku heran, dari semenjak dia sakit malah malas bangun pagi. Biasanya dia cekatan sekali menyiapkan semua keperluanku, tapi akhir-akhir ini dia seperti kurang enak badan. Terlihat lesu, wajahnya sedikit pucat, ah ... ntah lah Mah." Ethan mendesah pelan kemudian dia duduk di kursinya.


Mama Inggit juga merasakan hal yang sama, tidak biasanya Amanda bersikap seperti itu. Dia lalu membawa satu gelas susu jahe dan akan diberikan kepada menantu.


"Mah, aku nggak suka susu. Ngapain sih bikin susu?" ujar Ethan sambil mengoles rotinya dengan selai kacang.


"Siapa juga yang mau ngasih kamu. Susu ini untuk Amanda. Pede banget," ledek Mama Inggit sambil terkekeh kecil.


Dia pun melenggang meninggalkan meja makan tidak menemani Ethan sarapan. Menaiki tangga menuju lantai atas di mana saat ini menantunya masih tertidur dengan begitu santai.


Sejujurnya Amanda tidak enak terhadap mertuanya, karena dia terlihat seperti orang malas. Tapi entah kenapa Amanda sangat enggan sekali untuk keluar dari kamar, bahkan hanya untuk beranjak dari tempat tidur rasanya kaki dia seperti dirantai.


TOK!


TOK!


TOK!


"Amanda," panggil mama Inggit yang tiba-tiba saja masuk.


Amanda tersentak kaget karena dia fikir yang masuk itu adalah seorang pelayan atau Ethan yang kembali ke kamar, tetapi ternyata salah. Wanita itu pun langsung bangkit dari tidurnya dengan wajah bantal, rambutnya sedikit acak-acakan dengan piyama yang terlihat begitu longgar.


"Mamah," ucap Amanda dengan suara serak, sambil mengucek matanya. "Maaf ya, aku kesiangan lagi. Entah kenapa, aku--"


"Tidak apa-apa. Kamu ini seperti sama orang lain saja. Ini Mama bawakan susu jahe, masih anget, jadi kamu harus meminumnya sampai habis, bagus untuk daya tahan tubuh juga." Mama Inggit memotong ucapan Amanda sambil memberikan satu gelas susu kepada wanita itu.


Amanda langsung mengambilnya, dia tersenyum. "Makasih ya Mah. Maaf kalau aku merepotkan."


"Tidak kok, sayang, tidak sama sekali. Sudah, diminum dulu jahenya." Amanda mengangguk dan mulai menegak minuman itu. Seketika perut dan juga kerongkongannya terasa hangat, begitu pula dengan tubuhnya. Setelah habis dia pun menaruh gelas itu di atas nakas yang ada di samping tempat tidur.


"Aku nggak tahu Mah. Akhir-akhir ini entah kenapa malas sekali bangun tidur? Biasanya setiap pagi badan terasa segar, tapi entah kenapa akhir-akhir ini sangat lesu. Bahkan untuk beranjak dari tempat tidur saja enggan sekali, jika perut tidak dililit buang air kecil atau setor ke WC, tidak akan mau beranjak," jelas Amanda dengan wajah lesunya.


Mama Inggit tersenyum, dia mengusap rambut Amanda yang terlihat acak-acakan, kemudian mengambil sisir lalu menyisirnya secara perlahan.


"Tidak apa-apa, jangan sungkan. Mungkin memang kamu masih sakit, dan dokter kan bilang kemarin kalau kamu itu harus bedrest supaya imun tubuh kamu itu cepat sembuh."


Amanda benar-benar bahagia dan juga bersyukur mendapatkan mertua seperti mama Inggit. Dia langsung memeluk tubuh wanita itu. "Makasih ya Ma. Mama tidak marah sama aku. Mungkin kalau mertuaku bukan mama, aku sudah di teriaki, dicaci maki bahkan mungkin juga dikatakan istri pemalas."


Mendengar hal itu Mama Inggit malah terkekeh. "Itu adalah Mama mertua yang ada di novel. Tapi ini kan mama mertua kisah nyata."

__ADS_1


"Ya sudah, kalau gitu Amanda mau mandi dulu ya, Mah. Kayaknya badan sedikit lengket deh."


Mama Inggit mengangguk, kemudian Amanda berjalan ke arah kamar mandi, setelah itu dia pun membersihkan dirinya. Sementara Mama Inggit kembali ke bawah dan tidak mendapati Ethan, karena pria tersebut sudah berangkat tanpa berpamitan kepadanya.


.


.


Siang ini Amanda mau untuk keluar dari kamar seperti ayam yang baru saja menetas. Dia berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas, tapi tidak mendapati makanan yang ia mau.


"Bi, ada buah delima nggak?" tanyanya pada seorang pelayan.


"Buah delima, Nona? Tidak ada. Kalau mau nanti biar Bibi belikan di tukang buah."


"Boleh Bi. Bibi belikan ya! Dan nanti tolong sekalian pulangnya beli rujak, tapi jangan rujak lutis rujak beubeuk ya, Bi."


"Rujak bebek, Non? Mana ada bebek di rujak? Si Non ada-ada aja."


"Beubeuk Bibi, yang rujaknya dihancurin."


"Oh ... maksudnya rujak serut?" Amanda menepuk jidatnya. Dia pun akhirnya mengangguk saja. "Iya, pokoknya jangan yang bisa dicowel-cowel ya. Kalau bisa yang udah ancuran!"


"Siap Non. Kalau gitu Bibi beli dulu ya ... tapi Non ini kayak orang hamil, deh?"


Seketika Amanda terpaku saat mendengar ucapan pelayan itu, yang mengatakan jika dirinya seperti orang hamil. Tidak terasa tangannya terulur mengusap perutnya yang masih rata. 'Apa iya aku hamil? Tapi kata dokter kemarin kalau aku hanya kelelahan."


Pelayan itu pun pergi, sementara Amanda duduk di ruang tv sambil menonton televisi film Bollywood kesukaannya, dan tak lama pelayan itu kembali membawa pesanan Amanda.


"Ini Non, pesanannya."


"Makasih Bi," ujar Amanda, kemudian dia mulai menikmati rujak tersebut. Sementara buah delima masih berada di dalam kulkas.


Mama Inggit pulang setelah acara arisannya selesai. Dia melihat Amanda yang sedang lahap memakan rujak yang berada di mangkok, kemudian wanita itu mendekat dan duduk di sampingnya.


"Tumben-tumbenan kamu makan rujak, sayang?"


"Eh, Mama. Iya nih ... siang-siang gini enaknya makan rujak, Mah. Nggak tau kenapa tiba-tiba pengen aja," jawab Amanda sambil tersenyum.


"Seperti orang hamil saja kamu ini, Nak." Wanita itu mengusap kepala Amanda. "Ya sudah, kalau gitu Mama mau ke kamar dulu ya." Amanda hanya mengangguk saja, namun seketika langkah Mama Inggit terhenti, kemudian dia menoleh ke arah menantunya


"Mama mau tanya sesuatu deh sama kamu?"


"Apa itu, Mah?" Amanda menatap ke arah sang mama.


"Kamu bulan ini udah datang bulan belum sih?"


Seketika Amanda mematung saat mendengar pertanyaan dari mama mertuanya. Sendok yang tadinya akan dia suapkan mengapung di udara, tatapannya lurus ke arah Mama Inggit yang tengah menantikan jawaban dari Amanda.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2