
Happy reading ...
Hari ini Amanda sudah diperbolehkan untuk pulang, tapi kepalanya masih diperban karena lukanya belum kering. Wanita itu memakai kursi roda karena Ethan tidak membiarkan Amanda untuk berjalan.
Sesampainya di rumah sudah ada Lulu, Rizal, Akmal, Sania, tante Inggit dan juga kedua orang tua Amanda yang sedang menunggu. Di sana juga ada Gisel, tidak lupa Haris, Alea dan kedua mantan mertua Amanda pun datang.
"Assalamualaikum," ucap Amanda dan Ethan bersamaan.
"Waalaikumsalam ... surprise!" seru semua orang yang berada di dalam rumah.
Amanda tersenyum bahagia saat melihat semua orang yang dia sayang kumpul di sana. "Waaah! Ramai sekali?"
"Selamat datang kembali ya sayang, kami di sini sengaja ingin menyambut kepulangan kamu," ucap tante Anjani sambil mengecup kening Amanda.
"Maaf ya, kemarin Mama tidak bisa menjenguk kamu soalnya Mama dan Papa lagi di luar negeri," ujar Tante Dina sambil mengecup kening Amanda.
"Iya tidak apa-apa Ma, terima kasih ya ... Mama, Papa, Haris dan juga Alea, kalian sudah mau datang ke sini. Terima kasih banyak."
"Sama-sama ... kami juga mengkhawatirkan keadaan kamu, apa masih ada yang sakit?" tanya om Samuel.
"Tidak Pah, cuma masih sedikit lemas," jawab Amanda sambil tersenyum.
"Bestie ... nih gue tadi habis beli rujak dari pangkalan yang ada di perempatan depan. Gue juga bawain nih buat lo." Lulu menyerahkan satu piring rujak beserta dengan sambal kacang.
"Astaga ibu hamil, yang hamil kan elo, kenapa gue dikasih rujak? Gue kan baru keluar dari rumah sakit, mana boleh makan kayak gituan?" Amanda menggelengkan kepalanya, begitu pula dengan semua orang yang ada di sana.
"Yaelaah ... makan dikit doang mah nggak apa-apa kali."
"Maafin Lulu ya, Amanda. Dia kan memang sedikit gesrek otaknya, jadi dimaklum. Apalagi dalam keadaan hamil seperti ini, ngidamnya dan juga gesreknya bertabrakan menjadi satu, jadi agak konslet," ujar Rizal.
Lulu memukul lengan suaminya menatap tajam dengan wajah cemberut, kemudian wanita itu pun menangis_ membuat semua orang di sana merasa bingung namun juga merasa lucu.
"Sayang ... kamu kok malah nangis sih?" tanya Rizal dengan wajah yang heran.
"Habisnya kamu kenapa namain aku konslet? Emangnya aku listrik. Terus kenapa gesrek? Emangnya aku alumni dari RSJ? Kalau bicara itu yang baik-baik kenapa sih! Istri lagi hamil lho Mas, kalau kamu nyeletuk kayak gitu nanti anak kita mau kayak apa? Upin Ipin botak, nggak ada rambutnya," rengek Lulu.
"Ya nggak gitu juga sayang, tapi kan emang bener ... kamu itu semenjak hamil lebih sensitif, apa-apa dikit-dikit ngerengek, kayak bocah cilik yang minta dibelikan es krim tapi bapaknya kehabisan duit " Rizal menggelengkan kepalanya.
"Iya kan itu bukan permintaan aku Mas, itu permintaan anak kita. Memangnya kamu mau kalau anak kita ileran?"
"Sudah, sudah. Kalian ini malah bertengkar, sebaiknya kita menuju meja makan yuk! Makan siang, Mama sudah masak makanan yang sangat spesial untuk Amanda," ujar tante Anjani menengahi keributan yang terjadi di ruang keluarga.
__ADS_1
Kemudian Tante Dina mendekat ke arah Rizal lalu menepuk pundak pria itu. "Kamu harus ekstra sabar ya jika istri kamu sedang hamil, apalagi sifat Lulu yang barbar ditambah sekarang dia lagi mengandung, otomatis emosionalnya itu naik turun, tidak terkendali. Kamu sebagai seorang suami itu harus menyetok kesabaran, kalau habis beli saja di apotek," kelakar Tante Dina.
asalahnya Tante ... kalau malam Apotek tutup, kalau pagi yang ada bukan kesabaran aku yang habis, tapi ******," timpa Rizal dan langsung mendapatkan geplakan di tangannya dari Tante Dina.
"Sudah sudah. Kalian ini kalau bicara sukanya ngelantur. Ayo!" ajak Om Samuel sambil terkekeh kecil.
semua terasa begitu hangat saat berada di meja makan, canda tawa beriringan dari setiap orang, apalagi jika Lulu sudah mengeluarkan sifat barbarnya, membuat suasana jadi cair dan semua pasti tertawa.
Selepas makan siang Amanda tidak mau beristirahat, karena dia merasa jika tidur terus menerus akan membuat badannya pegal. Akhirnya dia pun ikut nimbrung di ruang keluarga, karena di sana para lelaki sedang bermain game sedangkan wanita sedang membicarakan tentang kehamilan Lulu dan juga Alea.
Terdengar suara pedagang di depan rumah Amanda. "Cendol ... cendol. Cendol dawet ..."
Lulu yang mendengar itu pun membulatkan mata. "Kakakanda!" teriak Lulu pada Rizal.
"Ada apa_ Adinda?" tanya Rizal.
"Kakanda, Adinda mau es cendol, beliin dong di depan!"
"Aduh, sayang ... aku lagi main game ini, nanti aja ya tanggung, bentar lagi menang," jawab Rizal tanpa menoleh ke arah Lulu.
"Kamu kok gitu sih? Beliin nggak! Kalau nggak mau, aku nggak kasih jatah nanti malam!" ancam Lulu.
Mendengar itu Rizal langsung loncat dari tempat duduknya. "Oke, aku beliin tunggu sebentar." Baru beberapa langkah dia pun kembali. "Tante, Amanda dan juga yang lain mau tidak?" seru Rizal.
Rizal membulatkan tangannya membentuk huruf O, kemudian dia keluar dari rumah membeli cendol dawet yang sedang terparkir di depan rumah Amanda, karena biasanya memang mangkal di sana.
Setelah selesai Rizal kembali ke dalam, dia membawa dua bungkus plastik lalu menyuruh pelayan untuk menyiapkannya di gelas.
"Mana Kakanda?"
"Itu lagi disiapin sama pelayan, sabar sih!"
"Jangan marah-marah dong! Kan aku nanya baik-baik." Terlihat kedua mata Lulu mulai mengembun kembali.
Rizal mengusap wajahnya dengan kasar, sementara semua terkekeh saat melihat penderitaan pria tersebut.
"Untung saja istriku tidak seperti itu. Alea wanita yang penurut dan tidak banyak menuntut. Kalau dia seperti Lulu, entahlah aku tidak bisa membayangkan penderitaanku akan seperti apa?" batin Haris sambil bermain game.
"Ss cendol sudah siap," ucap pelayan sambil menaruh nampan di atas meja, lalu menyiapkan es cendol yang sudah dituangkannya ke dalam gelas.
Amanda menatap dengan berbinar, kemudian dia mengambil satu gelas begitupun dengan yang lain.
__ADS_1
"Waaah! Segar banget sayang, gimana kamu suka nggak?" tanya Haris kepada Alea.
"Iya Mas, manis aku suka," jawab Alea sambil meminum es cendol dawet tersebut.
Akan tetapi terlihat Lulu hanya diam saja, mengaduk-aduk es cendol itu, dia sangat enggan masukkannya ke dalam mulut.
"Lu ... lo kenapa kok es cendolnya nggak diminum?" tanya Amanda dengan heran sambil menyeruput es cendol miliknya.
"Gue geli lihat yang ijo-ijo, kayak ingus yang udah mengental itu loh warnanya," celetuk Lulu dengan bergidik geli.
BYUUR!
Semua yang ada di sana seketika menyemburkan es cendol yang ada di dalam mulutnya, bahkan Ethan seketika menyemburkan es cendolnya ke wajah Haris yang ada di sampingnya.
"Astaga! Lo kalau nyenbur jangan ke sini dong! Sana ke lantai!" gerutu Haris sambil mengelap wajahnya.
"Sorry sorry ..." Ethan berkata sambil terbatuk-batuk.
Begitu pula dengan yang lain, setelah mereka meminum air putih semua yang ada di sana menatap tajam ke arah Lulu, termasuk juga Amanda.
"Kalian kenapa menatap aku seperti itu? Emangnya ada yang salah ya sama ucapanku?" tanya Lulu tanpa rasa berdosa sama sekali.
"Lo nggak sadar apa yang lo katakan tadi, hah? Lo bilang es cendol ini mirip ingus, Lulu!" jawab Amanda sambil bergidik geli.
"Loh, kan yang gue bilang benar. Lihat aja! Warnanya benar-benar mirip ingus." Lagi-lagi Lulu berkata dengan entengnya dan wajahnya sama sekali seperti bayi yang baru saja brojol.
Seketika semua orang mual saat mendengar ucapan Lulu, dan mereka bergantian menuju dapur untuk memuntahkan isi perutnya. Sementara Amanda hanya menggelengkan kepala sambil memijat keningnya yang mendadak menjadi pusing..
'Ya Tuhan! Kenapa aku mempunyai sahabat yang begitu kelewatan barbar? Yang tadinya aku sangat doyan dengan es cendol, tiba-tiba aku menjadi mual.' batin Amanda.
"Sumpah ya ... kayaknya setelah ini gue nggak akan suka lagi dengan namanya es cendol. Kalau melihat bentuknya, mungkin gue akan teringat dengan ucapan Lulu," timpal Haris sambil duduk di sebelah Alea.
"Gue pengen muntah lagi," ucap Rizal. Kemudian dia kembali ke dapur disusul oleh Ethan dan juga Om Samuel, sementara para wanita di sana hanya terkekeh saat melihat penderitaan para lelaki.
"Rizal ... Istri lo itu benar-benar ajaib ya?" ucap Ethan saat mereka berada di dapur. "Gue berharap jika Amanda hamil tidak akan segerek dan sekorslet istri lo."
"Gue doain jangan, tapi nggak apa-apa juga biar lo ngerasain tersiksanya gue seperti apa," celetuk Rizal dan langsung mendapat toyoran di kepalanya dari Ethan.
"Beruntungnya aku mempunyai istri yang begitu penurut dan tidak banyak menuntut. Untung saja Alea tidak sebarbar istrimu." Haris berkata dengan dada kembang kempis, karena dia merasa lemas dari tadi terus memuntahkan makan siang yang baru saja masuk ke dalam perutnya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1
Si Lulu benar² dah🤣🤣