
Happy reading .....
Makan malam itu memberikan kesan yang begitu mendalam di hati Amanda, di mana perlakuan Ethan yang begitu romantis meluluhlantahkan perasaannya. Dan karena hari sudah mulai malam mereka pun memutuskan untuk pulang.
Ethan melepas jaketnya, kemudian dia memakaikannya kepada Amanda. Karena angin berhembus cukup kencang, dan Ethan takut jika Amanda jatuh sakit.
Saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil, tiba-tiba hujan mengguyur dengan deras. Padahal tadi cuaca begitu cerah.
"Aneh, tiba-tiba saja hujan. Padahal tadi kita di sana masih ada bintang-bintang dan cuacanya cerah, tidak ada sama sekali tanda-tanda akan turun hujan?" bingung Amanda.
"Mungkin langit tahu kalau kita sedang dinner, dan dia tidak ingin menurunkan airnya terlebih dahulu, karena takut merusak momen kita," jawab Ethan.
Amanda tersenyum, kemudian mobil melaju meninggalkan pantai. Sepanjang perjalanan Amanda hanya diam sambil menyandarkan tubuhnya, sementara tangannya digosok karena dia merasa kedinginan.
"Kamu kedinginan, sayang?" tanya Ethan.
"Sedikit."
Ethan pun mengecilkan AC di dalam mobil, lalu menyetel lagu romantis yang dibawakan oleh salah satu penyanyi solo di Indonesia, sehingga suasana benar-benar membuat keduanya hanyut dalam lagu tersebut.
Tiba-tiba saja saat mereka melewati jalanan yang sepi, segerombolan preman mencegah keduanya, di mana ada tiga buah motor dengan 6 orang menyegat mobil Ethan, sehingga membuat pria itu pun menginjak pedal gas secara tiba-tiba.
"Aawwh!" ringis Amanda saat dia merasakan jidatnya terbentuk dasbor.
"Kamu nggak papa, sayang?" tanya Ethan dengan raut wajah yang cemasm
Amanda menggelengkan kepalanya sambil mengelus keningnya yang terasa sedikit sakit. "Nggak apa-apa, cuma sedikit sakit aja."
Kemudian keduanya menatap ke depan, dan salah satu dari pria di motor tersebut menggedor pintu kaca mobil milik Ethan.
"Woi; Keluar kalian!" teriak pria tersebut.
"Sayang, mereka siapa ya?" tanya Amanda dengan panik, karena dia benar-benar takut sebab beberapa orang itu membawa tongkat baseball.
__ADS_1
"Aku juga nggak tahu sayang," jawab Ethan yang benar-benar tidak mengenal merekam
"Keluar kalian! Atau ku pecahkan kaca mobil ini!" teriak pria gondrong yang berada di luar.
Ethan hendak membuka pintu mobil, akan tetapi ditahan oleh Amanda. Dia menggeleng dengan raut wajah yang sudah dilanda kepanikan dan ketakutan.
"Jangan keluar! Please! Aku takut mereka melukai kamu, sebaiknya kita pergi saja dari sini!" pinta Amanda
Ethan tahu jika wanita tersebut mengkhawatirkan dirinya, kemudian dia menggenggam tangan Amanda. "Jangan khawatir ya! Aku ingin tahu siapa mereka dan kenapa mereka mencegah kita?"
"Tapi sudah pasti mereka orang suruhan, tidak mungkin begal. Lihat! Mereka bahkan ada tiga motor. Ayolah kita pergi saja dari sini! Aku takut," pinta Amanda.
DUGH!
Terlihat pria itu memukul kaca mobil Ethan, hingga membuatnya retak. dan Amanda yang melihat itu pun menjerit, "aaakhh!" teriak Amanda sambil menutup telinganya.
"Ayo kita pergi dari sini! Aku takut. Jangan turun, please! Mereka membawa senjata." Amanda sudah dilanda ketakutan, bahkan air matanya sudah menetes.
Ethan yang melihat ketakutan di raut wajah calon istrinya pun akhirnya menurut. Dia memundurkan mobilnya, kemudian pergi dari sana meninggalkan mereka. Dia bahkan tidak memperdulikan kaca mobilnya yang retak.
Amanda benar-benar takut, dia bahkan beberapa kali menengok ke belakang. "Mereka mengikuti kita. Mereka mengikuti kita!" panik Amanda.
"Kamu jangan cemas ya! Aku tidak akan membiarkan mereka melukai kita. Kamu pegangan yang kuat, aku akan ngebut," jawab Ethan dan Amanda langsung menganggukkan kepalanya.
Dia berpegangan dengan kuat, matanya terpejam karena Amanda takut dengan kecepatan. Akan tetapi, dia tidak mempunyai pilihan lain, karena saat ini nyawa mereka sedang dalam bahaya.
Akai kebut-kebutan itu pun terjadi, di mana jalanan juga lumayan senggang. Jadi membuat Ethan leluasa untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan yang penuh.
Dia khawatir dengan kondisi Amanda, di mana wanita itu benar-benar sangat ketakutan. Padahal tadi Ethan Ingin turun dan mengetahui siapa mereka, lalu kenapa mereka mencegah mobilnya di jalan.
'Lihat saja! Aku akan memberi pelajaran kepada mereka. Tapi saat ini keselamatan Amanda lebih utama.' batin Ethan.
Mereka terus mengejar mobil Ethan, bahkan mepet dari kanan dan kiri meminta pria itu untuk berhenti. Lalu salah satu pria yang dibonceng oleh pria lainnya di atas motor, menggendor pintu kaca mobil Ethan dengan tongkat baseball.
__ADS_1
"Aaaghh!" Amanda semakin menjerit, dia benar-benar dilanda ketakutan yang teramat sangat, hingga Ethan melihat lampu hijau dan dia segera menginjak pedal gasnya, apalagi lampu itu sudah berubah menjadi kuning.
Saat motor tersebut mengejar Ethan, mereka harus berhenti karena lampu merah. Tidak mungkin menerobos karena takut jika nanti akan ditangkap oleh Polisi.
"AAAGH! Sial! Mereka berhasil lolos!" geram salah satu pengemudi motor tersebut.
"Telepon Bos sekarang!" titah salah satu yang lainnya.
.
.
Amanda bisa bernafas lega saat mobil sudah melaju dengan pelan, jantungnya sedari tadi terus berdetak kencang karena Amanda benar-benar dilanda ketakutan.
Ethan menggenggam tangan wanita itu, kemudian mengecupnya, "mereka sudah tidak mengejar kita lagi."
"Siapa mereka? Kenapa mereka mengejar kita? Aku merasa mereka bukan lah begal," ucapan Amanda dengan tatapan lurus ke arah Ethan.
"Iya, aku juga berpikir begitu. Sudah, jangan tahu dipikirkan!" Ethan mengusap kepala Amanda dengan lembut.
Hingga mobil pun sampai di kediaman Amanda, dan sebelum wanita itu turun dari mobil, Ethan merengkuhnya dalam dekapan membuat Amanda merasa sedikit nyaman.
"Tenang ya! Aku akan selalu ada di sisi kamu. Aku tidak akan membiarkan siapapun mencelakai kamu. Ingat! Kamu tidak boleh keluar tanpa sebuah pengawalan, karena aku tidak mau jika nanti kamu kenapa-napa," ucap Ethan sambil menangkup kedua pipi Amanda.
Wanita itu menatap dalam ke arah pria tampan yang saat ini hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Bahkan hembusan nafas Ethan pun dapat dirasakan oleh Amanda. Wanita itu tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
"Iya, aku tidak akan kemana-mana. Kamu juga pulangnya hati-hati ya!"
"Iya sayang," jawab Ethan dengan lembut, kemudian dia mengecup kening Amanda. "Turunlah sudah malam! Tapi jangan bicarakan hal ini kepada mama dan papamu ya, takut mereka cemas."
Amanda hanya mengangguk, kemudian dia turun dari sana. Setelah itu Ethan melajukan mobilnya untuk menuju rumah, dan sepanjang perjalanan pikirannya terus tertuju kepada keenam orang yang sedari tadi mengikuti dirinya.
"Apa ini ada hubungannya dengan Mona? Apa dia yang menyuruh orang-orang itu? Jika Iya, aku harus waspada. Aku takut dia akan mencelakai Amanda," gumam Ethan bertanya-tanya.
__ADS_1
Karena entah kenapa, feelingnya mengatakan bahwa ini semua ulahnya Mona. Tapi dia belum mempunyai bukti sehingga Ethan hanya menduga-duga saja.
BERSAMBUNG.....