
Happy reading....
Haris pulang ke rumah karena dia harus bersiap-siap untuk pergi ke bandara, dan saat pria itu sudah selesai memakai pakaian kasual, tiba-tiba Fitri masuk ke dalam.
Membuat Haris seketika memutar bola matanya dengan malas. Entah apa yang dimau oleh wanita itu, Haris pun merasa heran. Karena Fitri seolah tidak membiarkan hidupnya tenang.
"Buat apa lagi sih ke sini?" tanya Haris dengan ketus.
"Apa kamu keluar kota untuk menghindariku, Mas?"
Mendengar hal tersebut Haris malah tertawa terbahak-bahak, membuat Fitri seketika menatapnya dengan heran, karena dia rasa perkataannya tidak ada yang salah dan lucu.
"Kenapa kamu ketawa, Mas? Emangnya pertanyaanku ada yang lucu ya?" tanya Fitri dengan bingung.
"Hahaha! Fitri ... Fitri. Pedemu itu tingkat langit. Kamu dengar ya! Aku keluar kota bukan untuk menghindarimu, memangnya siapa kamu sampai sepenting itu di dalam hidupku? Aku keluar kota, karena kerjaan, bukan karena kalian berdua. Jangan terlalu berharap dan jangan terlalu tinggi kepedeannya! Nanti kalau jatuh itu nyungsepnya bukan ke tengah sawah, tapi ke lobang keong. Jadi nggak usah berpikiran yang aneh-aneh deh! Dan asal kamu tahu ya! Jangan pernah kamu berpikir aku akan kembali kepadamu, dan mengemis cinta darimu. No! Tidak akan pernah kulakukan mengemis cinta pada wanita sepertimu! Itu sangat menjijikan. Jadi sampai sini sudah paham kan!" Haris melenggang meninggalkan Fitri keluar dari kamar.
Wanita itu masih terpaku saat melihat reaksi dan juga jawaban yang begitu menohok dari Haris. Dia memegangi dadanya yang terasa sakit, sedangkan satu tangannya mengusap perut.
"Kenapa rasanya sesakit ini ya? Apa aku sudah mulai mencintai Mas Haris? Tidak. Itu tidak mungkin. Aku menikahinya hanya untuk mendapatkan Mas Darius. Sebaiknya sekarang aku menghindarinya, dia sudah sangat membenciku. Jadi untuk apa lagi aku mendatanginya hanya akan membuat aku semakin hina di matanya," gumam Fitri dengan lirih.
.
.
Tidak terasa sudah satu bulan Hariss berada di luar kota, tepatnya dia berada di Manado untuk mengerjakan sebuah proyek di sana, sekaligus dia ingin menghindari Fitri dan juga Darius dan ingin memulai hidup yang baru.
Saat pria itu tengah duduk di kursi yang ada di kantornya, tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata itu panggilan dari Rizal.
"Iya, kenapa Zal?" tanya Haris saat telepon sudah tersambung.
"Saya menemukan gadis itu, Tuan."
"Benarkah? Di mana dia?" tanya Haris dengan antusias.
"Gadis itu berada di Manado juga tuan, di kota yang sama dengan Tuan saat ini. Dan dari penyelidikan, jika gadis itu sedang mencari pekerjaan. Sebab dia baru saja dipecat dari sebuah Cafe," jawab Rizal di seberang telepon.
__ADS_1
Haris yang mendengar hal tersebut tersenyum miring. Dia memiliki rencana di mana sedikit akan menjerat wanita itu untuk masuk ke dalam hidupnya.
Kemudian Haris pun memerintahkan Rizal untuk memulai rencananya, dan pria itu langsung mengiyakan setelahnya telepon pun terputus.
"Kita akan segera bertemu gadis manis." Haris dengan nada yang lirih sambil tersenyum menyeringai, tepatnya ia tersenyum puas karena selama satu bulan mencari keberadaan gadis itu tidaklah mudah.
.
.
Hari ini adalah hari di mana sidang perceraian Amanda dan juga Darius yang terakhir, dan Hakim sudah memutuskan jika mereka sudah resmi bercerai.
Akan tetapi Amanda masih melewati masa iddah selama 3 bulan, dan selama itu pula Darius masih berkewajiban untuk menafkahi Amanda.
"Aku akan memberikanmu nafkah 10 juta per bulan, apa itu cukup?" tanya Darius saat mereka sudah berada di parkiran
"Tidak usah, Mas. Lebih baik uangnya kamu pakai buat persalinan calon istrimu saja! Aku tidak butuh. Lagi pula aku punya pemasukan, jadi tidak usah repot-repot. Aku juga tidak minta harta gono gini kok dari kamu, permintaanku hanya satu, biarkan aku hidup tenang tanpa kalian mengusikku!" jawab Amanda dengan tajam sambil menatap ke arah Fitri dan juga Darius.
Di sana juga ada Tante Anjani dan juga Om Umar yang menemani Amanda.
"Mah, Pah, ayo kita pulang! Aku juga harus ke butik nih, sebab ada pekerjaan yang harus ku kerjakan bersama dengan Lulu," ajak Amanda kepada kedua orang tuanya.
"Apalagi sih Mas?" tanya Amanda dengan kesal.
"Aku mau minta maaf, karena--"
"Sudah ku maafkan. Tapi tidak bisa kulupakan. Ingat! Karma itu ada, aku mungkin bisa memaafkan, tapi karma tetap berjalan." Amanda menatap bergantian ke arah Darius dan juga Fitri, kemudian dia berjalan masuk ke dalam mobil.
Fitri menatap ke arah kedua orang tuanya, dia begitu merindukan tante Anjani dan juga Om Umar, di mana dua orang itu yang selalu menyayanginya sedari kecil. Tapi dia sudah mengecewakan mereka ,ingin sekali Fitri memeluk tubuhnya, namun dia merasa segan.
"Ayo Pah! Putri kita sudah menunggu," ajak tante Anjani kepada suaminya.
Om Umar mengangguk, kemudian dia menatap ke arah Darius dan juga Fitri. "Kalian hidup bahagia saja! Semua impian kalian sudah terwujud kan? Jadi tidak perlu lagi kalian mengusik hidup Amanda. Jika itu terjadi, akan kubuat kalian menderita sampai hidup di kolong jembatan, paham!" gertak Om Umar, kemudian dia meninggalkan dua orang tersebut.
Mobil melaju keluar dari gedung pengadilan agama, diikuti oleh tatapan Fitri yang begitu sendu karena dia begitu merindukan kedua orang tuanya.
__ADS_1
'Maafkan Fitri, Mah, Pah. Tapi Fitri begitu mencintai Mas Darius. Semoga suatu hari nanti pintu maaf bisa terbuka di hati kalian untukku.' batin Fitri.
.
.
Sementara saat Amanda sudah sampai di butik, dia tidak menemukan adanya Lulu di sana. Wanita itu pun merasa heran, lalu bertanya kepada salah satu pegawainya dan mengatakan jika Lulu memang belum sampai.
"Tumben-tumbenan tuh Nenek lampir belum sampai ke butik? Awas aja kalau dia sampai telat, gue potong entar gajinya."
Saat Amanda sedang mengerjakan tugas, tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka. Dan ternyata yang masuk adalah Lulu. Wanita itu langsung menatap ke arah Lulu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hello tuan putri! Abis dari mana aja?" tanya Amanda dengan tatapan menyipit.
"Gue habis kencan sama calon jodoh, gue," jawab Lulu dengan cemberut.
Mendengar hal tersebut Amanda langsung beranjak dari duduknya, kemudian dia berjalan ke arah Lulu yang sedang menekuk wajahnya.
"What! Lo serius? Gimana? Gimana? Apa kalian cocok atau akan langsung menuju jenjang pernikahan?" tanya Amanda dengan antusias.
Lulu memukul lengan Amanda dengan kesal, karena apa yang dikatakan wanita itu seperti mengejek. Boro-boro merasa cocok, Lulu yang baru pertama kali melihatnya saja benar-benar kesal pada pria itu.
"Kok bisa sih lo nggak cocok sama dia? Emangnya kenapa?" tanya Amanda dengan penasaran.
"Gimana gue mau cocok? Baru pertama ketemu aja tadi pagi, gila mukanya datar banget kayak kulkas 6 pintu. Kalau kulkas 4 pintu sih udah dimiliki sama anak dari King Bollywood ya, yaitu si tampan Aryan. Tapi kalau dia mah jangan ditanya. Kulkas 6 pintu aja kalah. Gila, nggak mau gue dijodohin sama pria kayak gitu! Bukan selera gue banget ih. Amit-amit!" Lulu mengetuk tangannya di atas meja.
Melihat kekesalan sang sahabat, Amanda malah terkekeh dan itu malah membuat Lulu semakin kesal. "Hebat ya! Sahabat ini lagi kesel, bukannya support malah diketawain?" cemberut Lulu.
"Ya habis lucu. Jangan kayak gitu! Entar beneran jodoh baru tahu rasa. Lagi pula, kan kalian baru pertama ketemu, belum mengenal baik kan? Terus gimana? Apa ada rencana lagi?" Amanda menaik turunkan alisnya ke arah Lulu.
"Ada. Nanti malam gue suruh makan malam sama dia. Dinner berdua, dan itu sudah diatur sama mama, papa dan kedua orang tuanya, suwe kan?" Lulu memanyunkan bibirnya.
"Wah! Congratulation my bestie! Akhirnya lo bakal sold out juga ya. Setidaknya Daripada Lo di obral 35.000-an, kan nggak papa nikah sama kulkas 6 pintu?" ledek Amanda
"Udah ah, diem lo! Entar yang ada nih bantal melayang di wajah lo!"
__ADS_1
Amanda terkekeh dengan puas saat melihat wajah kesal Lulu. Kemudian dia beralih untuk mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai, sementara Lulu masih dilanda kekesalan.
BERSAMBUNG.....