Rahasia With Ipar

Rahasia With Ipar
Bab 158


__ADS_3

Pagi ini Amanda terlihat begitu ceria, sedari pagi dia terus saja tersenyum senang, entah apa yang membuat wanita itu enggan melunturkan senyuman manisnya, sehingga membuat semua orang yang ada di sana merasa heran.


Saat ia tengah membuat puding kesukaannya, tiba-tiba saja Ethan memeluk tubuhnya dari belakang. Sontak membuat wanita itu sedikit terkejut karena di sana banyak pelayan.


"Kamu apa-apaan sih, Mas? Malu tau dilihatin pelayan ... lepasin ih!" Amanda mencoba untuk melepas tangan sang suami yang melingkar di pinggangnya.


"Biarin aja. Mereka juga tahu kalau kita ini suami istri," goda Ethan sambil menaruh dagunya diceruk leher sang istri


Amanda hanya bisa menghela nafas saat melihat perlakuan suaminya. Entah kenapa akhir-akhir ini memang Ethan sangat manja, seharusnya dia yang lebih manja tapi ini malah sebaliknya.


Bahkan pernah suatu malam Ethan malah tidur di ketiaknya Amanda, karena dia merasa wangi ketiak istrinya membuat pria itu bisa tertidur dengan nyenyak, dan itu terbiasa sampai hari ini.


"Sayang, aku berangkat dulu ya. Soalnya ada meeting pagi, kebetulan ada klien juga dari luar negeri yang datang."


"Lho! Kamu nggak sarapan dulu? Aku udah buat sarapan tuh di meja."


"Nggak. Dibekelin aja ya! Aku nanti sarapan di kantor." Amanda mengangguk, kemudian dia langsung mengambil tupperware dan membuat bekal sarapan untuk suaminya.


Setelah jadi Amanda langsung memberikannya kepada Ethan, namun saat dia sudah menyelami tangan Ethan bukan hanya keningnya saja yang dicium, tetapi keteknya juga. Awalnya Amanda pikir, Ethan akan mencium perutnya tetapi ternyata ia salah.


"Kenapa malah ketek aku yang kamu cium?" bingung Amanda menahan malu saat Mama Inggit tengah terkekeh.


"Habisnya wangi ketiak kamu buat aku candu. Bahkan sehari saja tidak menciumnya, aku sampai tidak fokus bekerja." Amanda yang mendengar itu pun langsung memukul lengan Ethan, karena dia merasa itu adalah sesuatu hal yang begitu konyol.


"Ada-ada aja. Udah sana pergi!"


"Jadi kamu ngusir nih?" Ethan merengut dengan wajah yang ditekuk sedih, membuat Mama Inggit dan juga Amanda tertawa kecil. "Tidak. Aku tidak mengusir kamu ... tapi tadi kamu yang bilang ada meeting, gimana sih?"


"Iya yah ..." Etgan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya sudah, kalau gitu aku berangkat dulu."

__ADS_1


Amanda mengangguk, kemudian dia mengantar Ethan sampai teras. Setelah selesai wanita itu kembali masuk ke dalam rumah mengecek puding yang berada di kulkas, tetapi ternyata masih setengah jadi. Akhirnya Amanda memutuskan untuk pergi ke taman menyiram bunga-bunga yang beberapa hari lalu dia tanam bersama mama Inggit.


"Sayang, jangan nyiram dong! Kamu nggak boleh capek-capek ya! Ingat, kamu itu lagi hamil." Mama Inggit mengambil selang yang berada di tangan Amanda.


"Masa cuma nyiram tanaman aja bikin aku capek sih, Mah! Orang cuma megangin selang sambil nyiramin dedaunan itu, nggak capek Mah. Kecuali lari. Ayolah ... aku nggak punya kegiatan, masa setiap hari cuma makan, duduk, tidur, nonton TV, kayaknya kalau nggak ada kegiatan yang lain? Aku merasa sumpek, Mah."


"Iya, Mama tahu tapi kan--"


"Kalau Mama nggak mau ngizinin aku melakukan hal yang aku mau, ya sudah, kalau gitu aku kerja lagi aja deh di butik." Amanda membalik badannya, akan tetapi tangannya langsung ditahan oleh Mama Inggit.


"Oke ... oke. Tapi jangan melakukan hal yang berat ya!" Mendengar itu Amanda langsung menurut. Dia tersenyum riang, kemudian dia mulai menyirami tanamannya sambil bersenandung kecil.


.


.


"Mas," panggil Alea saat hari seakan berangkat bekerja.


Pria itu sudah bisa menerima kehadiran Alea bahkan dia juga sudah mulai membuka hatinya untuk wanita tersebut.


"Nanti siang kita jadikan ke rumah sakit untuk program kehamilan?" Haris langsung mengangguk.


Memang mereka sudah merencanakan akan program kehamilan, karena Haris juga sudah tidak sabar ini segera menimang seorang bayi, dan dia juga sudah mulai mencintai wanita itu walaupun masih belum dalam rasa yang ia punya kepada Alea.


"Iya, nanti aku pulang ya. Pokoknya kamu siap-siap saja!" Keduanya pun turun ke lantai bawah untuk sarapan, namun yang membuat Alea dan juga Haris cukup kaget, sudah ada Darius dan Fitri di sana.


"Pagi," sapa Fitri dengan senyuman manisnya kepada Haris, namun dia menatap sinis ke arah Alea.


Haris tidak menjawab, dia merangkul pinggang Alea dengan begitu posesif, karena Haris tidak ingin Fitri masuk ke dalam kehidupannya kembali. Walaupun dia tahu sekarang wanita itu sudah menjadi kakak iparnya, tetap saja dari sorot matanya Fitri seperti wanita yang ingin merebutnya kembali.

__ADS_1


Melihat sapaannya tidak dijawab, Fitri hanya berdecih, kemudian dia menatap Alea dengan tajam. "Maklumlah ya, pengantin baru ... turun dari kamar aja siang-siang bolong," sindirnya.


"Jaga ucapan kamu! Memangnya apa yang salah? Lagi pula, untuk apa sih Mah dia ke sini?" Haris menatap ke arah mamahnya.


"Haris ... Darius dan juga Fitri akan tinggal di sini kembali."


"What! Mama serius?" kaget Haris dan langsung dibalas anggukan oleh Mama Dina.


Dia melihat ke arah Alea yang saat ini tengah menatap sendu saat mendengar jawaban dari mama Dina. 'Sepertinya aku tidak bisa membuat Alea dan juga Fitri serumah. Aku takut jika wanita ular itu berbuat nekat pada istriku.' batin Haris.


Dia berencana akan membawa Alea ke apartemennya, karena Haris tidak ingin serumah dengan Fitri dan Darius. Ditambah juga Haris tidak ingin melukai hati Alea, dia ingin menjaga perasaan sang istri.


.


.


Siang ini Amanda sudah masak ikan gurame bakar, cumi asam manis dengan sayur capcay. Dia berencana akan ke kantor suaminya, karena tadi Amanda sudah mengirimkan pesan kepada Ethan tidak mengizinkan pria itu untuk makan di luar.


"Ayo Pak kita jalan!" titah Amanda kepada sang supir. Mobil pun meninggalkan kediaman Louis, membelah jalanan yang lumayan ramai dengan terik matahari 35 derajat, bahkan AC mobil pun tidak terasa sama sekali.


"Kenapa hujan belum turun juga ya, Pak? Padahal di kota-kota lain sudah pada musim hujan, tapi di sini hanya terlihat mendung dan gluduknya saja," ucap Amanda mengajak ngobrol sama sopir.


"Tidak tahu Bu ... mungkin kota kita terakhir yang kena hujan." Amanda hanya mengangguk, setelah itu tidak ada pembicaraan lagi hingga mobil sampai di kantor.


Wanita itu turun menaiki lift menuju lantai atas. Dia menenteng rantang makanan di tangannya sambil tersenyum bahagia, membayangkan suaminya menikmati dengan lahap masakan yang ia buat dengan sepenuh hati dan cinta.


"Pasti Mas Ethan akan sangat menyukainya. Aku jadi nggak sabar ingin makan bareng sama dia," lirih Amanda sambil berkaca di dalam lift.


Setelah itu dia keluar dan berjalan menuju ruangan suaminya. "Mas, aku bawa--" Ucapannya terhenti saat tiba-tiba saja ia melihat seseorang di dalam ruangan Ethan, hingga membuat tangannya yang sedang memegang rantang terkepal dengan kuat.

__ADS_1


BERSAMBUNG........


__ADS_2