
selamat membaca
.
.
.
.
.
happy reading
-----------------------------------------------------
ataya sedang duduk di sebuah bangku taman iya pergi dari rumah bukan untuk mengejar Sarah melainkan menenangkan hati setra pikirannya
"maafin taya Bu, taya gak maksud marah sama ibu" gumam taya
tanpa seizin taya bulir bening itu pun mengalir deras di pipi taya
taya" seandainya kejadian itu tidak pernah terjadi, aku tidak harus bersamanya, (memejamkan matanya)
ponsel taya terus berdering namun taya enggan mengangkat nya iya tahu jika itu pasti panggilan dari Sarah
taya hendak mematikan ponselnya,namun belum sempat mematikan ponselnya ponselnya berdering dan menampilkan nama Rara di sana
"rara"
taya mengangkat panggilan itu
taya" ada apa (ketus)
rara" eyang uti , om eyang pingsan dan kami sedang membawanya ke rumah sakit
taya" apa ibu sakit, kalian membawanya ke mana ?
rara" N** T*****
taya" aku akan segera kesana
taya langsung mematikan panggilan itu dan langsung melajukan mobilnya ke arah rumah sakit yang di beritahu oleh Rara
sesampainya di sana taya melihat rara, Nara dan juga ayahnya yang sedang menunggu
taya" bagaimana ke adaan ibu
pak Lukman" buat apa kamu menanyakan nya, lebih baik kamu pergi , bapak sangat kecewa atas sikap mu pergi lah, sebelum bapak minta security yang mengusir mu
taya" tapi pak, taya ingin melihat ibu
pak Lukman" pergi bapak bilang (menaikan suara )
rara" eyang tenang ingat ini di rumah sakit,
pak Lukman" Ra bawa anak itu pergi dari sini, eyang tak mau melihat nya
rara mendekati taya
rara" om sebaik nya pergi, agar tidak terjadi keributan
__ADS_1
taya melirik tajam ke arah Rara
taya" ini semua gara gara kamu, kamu membuat hidup ku jadi begini, kamu selalu saja membuat ku susah, kamu selalu saja merusak semaunya jangan pernah kamu ikut campur dengan hidup ku, mulai besok kamu di pecat dan akan dikembalikan ke Indonesia aku tidak suka melihat mu
rara yang mendengar itu langsung meneteskan air mata, dan tidak habis pikir jika taya akan melakukan hal itu padanya
taya langsung menarik tangan Rara untuk pergi hal itu membuat pak Lukman dan Nara terkejut namun mereka tak bisa menghentikan taya karena jarak yang cukup jauh dan langkah taya yang cepat
taya menarik Rara masuk ke dalam mobilnya
dan membawanya entah kemana
di sebuah tempat kosong yang terkuat seperti taman yang sudah tidak terpakai lagi taya menghentikan mobil nya
dan kembali menarik tangan Rara dan sedikit menyeret nya agar Rara turun
rara" apa salah Rara, kenapa om taya benci sekali pada Rara, apa kesalahan Rara (menagis)
taya mengacak rambutnya frustasi
taya" kamu bertanya kesalahan mu, jika aku jabarkan. mungkin malu bisa membaut kamus dengan kesalahan kesalahan mu itu (berbohong) kamu tahu, sudah aku bilang berhenti menyukai ku, dan jangan pernah berharap pada ku, jadi aku minta berhenti melakukan itu
rara" Rara sudah mencoba, dan Rara sudah berusaha tenang saja, Rara tidak akan suka lagi dan berharap pada om taya lagi, dan mulai besok aku akan berhenti bekerja dan akan pulang
taya" bagus jika kamu mengerti, dan jangan pernah muncul di hadapan ku ingat itu
rara" sebelum aku melakukan itu, aku mau minta jelaskan apa kesalahan ku, agar aku bisa punya alasan untuk melakukan semua ini
taya" heh gadis bodoh, sudah aku bilang kesalahan mu banyak dan jangan pernah bertanya
rara" tapi aku mau tahu, (menagis)
taya" pergi dari sini
rara" tidak
taya" pergi aku bilang
rara masih diam di tempatnya
taya" pergi dari sini (membentek)
rara langsung pergi karena merasa takut pada taya iya berlari tantenya arah entah kemana yang penting menjauh dari taya
semetara di rumah sakit pak Lukman sibuk menelepon Fahri untuk meminta bantuan agar taya tidak bertindak bodoh pada Rara
pak Lukman" Fahri cepat cari mereka eyang tidak mau terjadi pada Rara
fahri" iya eyang Fahri akan mencari mereka
fahri mematikan panggilan itu dan meminta beberapa anak buahnya untuk mencari ke beradan rara dan taya
fahri mencari ke tempat tempat yang mungkin taya datangi namun iya tak menemukan taya atau pun Rara
setelah berlari kini Rara tak tahu iya berada dimana dan iya pun tidak membawa ponsel untuk menghubungi siapapun
rara benar benar bingung karena iya tidak tahu harus ke arah mana
kini iya hanya bisa menagis karena sekarang entah bagaimana nasib nya di negri orang
dengan air mata yang mengalir Rara terus berjalan mengikuti jalanan yang ada di depannya
__ADS_1
namun iya tak melihat satupun orang atau kendara an melintas di sana
"bagaimana ini aku harus apa, bunda Rara sangat takut bunda " gumam Rara
sementara taya masih duduk di dalam mobilnya sambil mengumpat tidak jelas
brak
memukul stir mobilnya
"shit anak itu tidak tahu tentang negara ini bagaimana jika terjadi sesuatu padanya. sungguh menyebalkan " geram taya
yang menyalakan mobil berniat mencari Rara ...
rara masih berjalan mengikuti instingnya saja yang sebenarnya pun iya tak tahu kakinya itu melangkah ke mana
tiba tiba Rara di hadang oleh beberapa pria yang bertubuh tegap, Rara mencium bau alkohol dari mulut empat pria itu
rara berusaha tidak perduli dan berniat melanjutkan perjalanannya namun salah satu pria itu menarik tangan Rara hingga Rara merasakan sakit di tangannya
"mau kemana nona manis,jangan terburu buru, santai saja, kami tidak berniat jahat, benar tidak"
"benar nona, jangan buru buru, bagaimana jika nikmati malam ini dengan hal yang menyenangkan "
rara mencoba melepaskan tangannya dari pria Yanga berkulit hitam di hadapannya
rara" tolong lepaskan saya, saya ingin pulang, jika kalian mau harta ambil ambil saja semuanya ( Rara menyerahkan tasnya )
"wah nona ini sungguh baik hati, ya " ucap salah satu pria itu
"tapi maaf nona kami tidak hanya mau ini kami masih menginginkan Yanga lain(tertawa) "
rara" saya mohon, lepaskan saya, saya sungguh ingin pulang, saya mohon (menangis)
"jangan menangis nona kami tidak akan menyakiti mu, malah kami akan membuat mu senang (berbisik di telinga Rara) "
rara" tolong tolong tolong (bertriak sekencang kencangnya)
" bertriak lah sesuka hati mu Nona, karena tidak akan ada yang mendengar teriakan mu itu "
ke empat pria itu kini mulai mengelilingi Rara
rara sungguh merasa sangat takut sampai sampai tubuh nya bergetar hebat,
"ya Allah tolong selamat kan Rara,(menangis) " Rara melafalkan dia dia yang iya bisa, berharap Allah mengabulkan doa doa nya
kini Rara benar benar merasa takut, dan iya pun pasrah dengan apa pun yang terjadi pada nya
"bunda tolong kakak Bun" batin Rara yang merasa sangat ketakutan bukan main
_____________________________________
TBC
next
maaf up nya lama, author nya baru sembuh sakit... maklum kerjanya lembur terus jadi badan drop, mohon di maaf kan ya semua
jangan lupa setelah membaca kasih like, komen,saran, share atau apa saja berbentuk dukungan buat author ya
terimakasih
__ADS_1