
enjoy
.
.
.
.
let's read
➿➿➿➿➿➿➿➿➿➿➿
Nara masih terduduk lemas di kursi, dan air mata yang tak kunjung kering, dan masih terus mengalir
mengingat kenangan kenangan dirinya saat bersama Bu Yanti,
hari sudah sore, namun Nara masih enggak untuk di suruh beristirahat, karena dirinya tidak mau meninggalkan Bu Yanti,
pak Idris hanya bisa pasrah, Karan iya tahu betapa besar cinta Nara pada Bu Yanti, ibu asuh yang selalu menemaninya,yang selalu mengusap lukanya,orang yang pertama kali akan membela Nara jika iya dilukai , orang yang akan khawatir dan panik jika Nara sakit, orang yang pertama tersenyum jika melihat Nara sukses
pak Idris" non mau minum sesuatu biar bapak belikan
Nara" tidak pak, Nara gak haus
pak Idris" non, mau saya antar pulang ke hotel
Nara" tidak pak Nara disini saja, Nara mau temani ibu
pak Idris" baiklah non, kalo gitu bapak ambilkan bantal dan selimut agar non bisa beristirahat
Nara" terimakasih pak
memang di ruang tunggu itu mereka memiliki tempat untuk beristirahat, namun menurut pak Idris tidak baik saja melihat seorang wanita yang tidur di tempat seperti itu
Nara masih setia dengan duduk termenung nya ,
hari semakin gelap, Nara mulai merasakan kantuk dan dirinya sudah memejamkan mata,
mba ipah dan pak Idris tidak tega melihat anak majikannya tidur di emperan seperti ini ,
ipah" kasian non Nara ya pak,
pak Idris" iya kasian non Nara, kenapa ya jalan hidup nya begini
ipah" kasian non Nara harus di bohongi orang tua hingga sekarang ya pak
pak Idris" sssttt jangan ngomong itu, nanti kita kena marah sama nyonya, jangan sampai non nara tahu
ipah" maaf pak kelepasan
rara dan taya kini sedang bermalam di rumah Abi, karena Abi sangat memaksa mereka untuk bermalam walau hanya semala
taya" sayang, kamu capek gak
rara" enggak, kenapa ?
taya" sayang kalo kita punya anak, kira kira wajahnya mirip siapa ?
rara" ya kalau gak mirip aku ya kamu, adalah jangan mirip tetangga
taya" oooo, sayang kalo mau punya anak kita harus ngapain sih
rara" ya buat lah
taya" oooo buat
rara" kamu kenapa sih nanya begitu
taya" sayang kamu mau punya anak ?
rara" ya mau lah sayang,
__ADS_1
taya mendekat pada Rara , dan mulai mencium istrinya
taya" kita buat adik bayinya mom
taya langsung memulai aksi nya itu, dan Rara menerima dengan senang hati,
mereka bertempur hingga keduanya lelah dan tertidur karena lelah dan peluh yang sudah bercucuran
taya" i love you sayang
rara" i love you to Daddy
pagi hari Rara sudah segar dan wangi karena dirinya sudah mandi dan membersihkan diri
cha-cha" ih kakak pagi pagi udah wangi, abis ngapain sih udah mandi aja
rara" biasanya juga begini Bun, emang kenapa Bun
cha-cha" ya gak apa apa, bunda kan cuma tanya, kak nanti siang kita ke rumah sakit yuk
rara diam sejenak tidak langsung menjawab pertanyaan dari sang bunda
rara" em kakak gak bisa Bun, kakak mau ikut mas taya bertemu dengan relasi nya Bun (berbohong)
cha-cha" memang kakak harus ikut, bunda gak enak kan harus nya kemarin ke sana nya
rara" gak bisa Bun, karena relasinya mas taya itu membawa istrinya, jadi aku menemani Bun
(berbohong)
cha-cha" jadi bunda sendiri
rara" ya mau bagai mana Bun,
cha-cha" ya sudah bunda sama dion saja ke rumah sakit nya
rara" iya Bun
taya" kamu tumben mau ikut aku ngantor, kenapa gak ke rumah sakit
rara" kenapa gak boleh ya, ya sudah aku pulang saja
taya" loh loh bukan gak boleh, tapi kan tujuan mu dari awal itu mau menemani Nara, tapi kenapa sekarang malah mau ikut aku kantor
rara" buat apa menemani orang yang tidak mau di temani (ketus)
taya" kenapa begitu ?
rara" sudah lah, aku malas membahas nya,
taya merasa bingung dengan sikap istrinya, yang cepat sekali berubah
sesampainya di kantor taya langsung bertemu dengan Dimas dan membahas tentang proyek besar mereka sedang kan Rara hanya duduk dengan ras abisan yang luar biasa
waktu makan siang sudah tiba,cha-cha pergi bersama Dion menuju ke rumah sakit namun sebelum itu cha-cha menelepon Rara lebih dulu
cha-cha* kakak benar tidak bisa ikut bunda
rara* benar Bun, (berbisik)
cha-cha* kakak masih di tempat pertemuan
rara* iya Bun , ya sudah ya Bun ..
rara mematikan panggilan tersebut, Rara sangat menyesal karena dirinya harus berbohong pada bundanya Karana ia tak mau bertemu Nara
cha-cha Samapi di rumah sakit, dan melihat Nara yang sedang melamun
cha-cha" Nara
Nara" eh bunda (mencium tangan) bunda sama siapa ?
cha-cha" sama Dion, soalnya Rara gak bisa ikut, lagi nemenin taya ke temu relasinya, ah pasti dia udah kasih tahu kamu ya
__ADS_1
Nara tersenyum kaku mendengar perkataan cha-cha
"apa aku egois,tidak memberitahu Rara masalah Alvin,dan aku,apa aku salah marah padanya " Nara memikirkan itu semua sampai iya tak mendengar cha-cha mengajaknya berbicara
cha-cha" Nara,na,Nara (melambaikan tangan nya di depan wajah nara)
Nara" oooo iya Bun ada apa ?
cha-cha" eh alah, di ajak ngomong malah bengong
Nara" maaf Bun (terkekeh)
cha-cha" gimana ibu mu, apa udah baikan
Nara" belum Bun, kemarin malah terkena serangan jantung kedua
cha-cha" astafirloh , kamu yang sabar ya, ikhlas aja Dnegan semua yang terjadi jangan terlalu bersedih na
Nara" Nara sudah ikhlas Bun, apa pun yang terjadi
cha-cha" kamu sudah makan, ini bunda bawa makanan untuk kamu,
Nara" terimakasih Bun jadi ngerepotin bunda
cha-cha" enggak kok bunda gak repot, udah kamu makan dulu habisin ya
Nara mulai makan,Nara sangat sedih, ia makan sambil menahan tangis nya,
Karana iya merasa bersalah pada Rara, yang Bahakan masih membolehkan bundanya untuk bertemu Nara,
" bahkan iya tidak melarang bunda untuk bertemu aku, kenapa aku jadi sangat egois" batin Nara
setelah selesai dan berbincang sebentar Dnegan nara, cha-cha berpamitan untuk pulang,
setelah ke pulangan cha-cha Nara mencari ponselnya untuk menghubungi Rara
Nara berniat untuk meminta maaf pada Rara
Nara menghubungi Rara berkali kali kali, namun Rara tidak mengangkat
Nara mencoba lagi dan Rara menjawab teleponya
Nara* halo Ra
rara* iya ada apa ? (ketus)
Nara* Ra aku,aku mau meminta maaf pada mu
rara* untuk apa ?
Nara* aku tahu aku salah, kemari aku terbawa emosi dan (menangis)
rara* ya sudah aku sedang dalam perjalanan nanti aku hubungi lagi
Tut Tut Tut
rara mematikan panggilan dari Nara ,
Nara benar benar meras bersalah, kini Rara benar benar marah pada nya
"semuanya pergi meninggalkan aku, aku suguh bodoh, aku sungguh egois, aku memang jahat" Nara menyalahkan dirinya sendiri karena kesalahannya kini sahabat satu satunya yang iya punya juga meninggalkan nya
_______________________________
tbc
next ya
jangan lupa kasih like dan komen buat aku
kita lanjut lagi
terimakasih
__ADS_1