Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 170 : Dewa obat dan rahasianya


__ADS_3

Setelah berhasil membuka peti yang menyimpan tubuh Dewa Obat, Dewa Petir dan Xiao Tian dibuat terkejut akan pemandangan yang mereka lihat.


Di dalam peti tersebut bersemayam seorang pria tua berpakaian putih polos dengan janggut panjang dan kumis tebal berwarna putih yang menghiasi wajah pria tua itu.


Setelah menatap pria tua itu, tiba-tiba saja mata mayat pria tua itu terbuka lebar. Kemudian mayat pria tua itu menatap ke arah mata Xiao Tian. Dari mata mayat tersebut keluar sinar putih yang langsung menyorot ke mata Xiao Tian.


"Apa yang ... " Dewa Petir terkejut melihat pemandangan yang terjadi. Selain khawatir dengan keadaan Xiao Tian, dia juga terkejut setelah melihat wajah dari sang Dewa Obat.


Xiao Tian langsung terdiam kaku ketika sinar putih menyorot ke arah matanya. Selagi sinar putih masih menyoroti mata Xiao Tian, satu demi satu pecahan ingatan Xiao Tian terkumpul menjadi satu.


"Aaaaaa." Xiao Tian mengalami sakit kepala yang begitu berat karena begitu banyak ingatan yang tiba-tiba saja terlintas di pikirannya.


#Delapan belas tahun yang lalu


#Kerajaan Petir


Saat itu umur Xiao Tian sekitar 5 tahun. Meski berusia begitu muda, dia sering diberi perintah untuk mempelajari tatakrama istana. Semua itu karena dia merupakan satu-satunya pangeran yang ada di kerajaan petir. Xiao Tian yang merasa bosan dengan aturan istana selalu mencoba kabur namun selalu tertangkap dan berakhir mendapat hukuman disaat ibunya sedang tidak berada di istana.


Melihat putranya dibuat repot oleh suaminya Xiao Hong membekali putranya topeng perubah wajah dan cincin ruang yang berisi pakaian rakyat jelata agar putranya bisa pergi meninggalkan istana. Dengan catatan tak boleh pergi keluar kerajaan dan menjauhi wilayah berbahaya tanpa memberi tahunya.


Meski memberi Xiao Tian kebebasan, Xiao Hong tidak sepenuhnya melepaskan putra kesayangannya itu. Dia tetap menyuruh beberapa prajurit untuk mengawasi sambil melindungi Xiao Tian tanpa diketahui oleh putranya itu.


Sejak memiliki topeng perubah wajah, Xiao Tian tak pernah tertangkap oleh ayahnya lagi. Dan tak pernah mendapatkan hukuman ketika dia pergi, semua itu karena Xiao Tian hanya kembali saat ibunya pulang dari sekte gunung api. Meski Xiao Hong merupakan seorang wanita sekaligus ratu dari kerajaan petir, dia memiliki kebebasan untuk pergi kemanapun berkat kekuatannya. Sebenarnya tanpa topeng pengubah wajah pun Xiao Tian bisa aman dari hukuman asalkan Xiao Hong ada di kerajaan. Sayangnya belakangan ini Xiao Hong disibukkan oleh kegiatannya sebagai Topeng bencana.


Xiao Hong sering pergi keluar kerajaan untuk mengawasi gerakan sekte kegelapan dan sekte iblis. Setiap kali mendengar kabar sekecil apapun tentang sekte-sekte sesat itu, dia pasti akan keluar kerajaan untuk mengecek kebenaran tentang kabar tersebut.


Itulah alasan mengapa Xiao Hong membekali Xiao Tian Topeng perubah wajah dan pakaian rakyat jelata, agar terbebas dari hukuman suaminya.


Meski Xiao Tian tak pernah mengadu kepada ibunya, Xiao Hong sering mendengar dari para pembantu istana tentang seberapa kerasnya Xiao Zhaoye menghukum putranya, saat menangkap basah putranya kabur dari pelajaran tata krama istana.


Sejak memperoleh topeng perubah wajah, Xiao Tian sering meninggalkan istana hingga berhari-hari sambil menunggu ibunya pulang dari luar kerajaan.


Ketika sedang pergi keluar istana Xiao Tian tak sengaja berpapasan dengan pria tua yang sedang kehausan. Pria tua itu meminta minuman ke semua orang namun tak ada yang mau memberinya minuman karena tubuh pria tua itu dipenuhi dengan luka yang berbau busuk.


Meski Xiao Tian juga tak sanggup menahan bau busuk yang keluar dari luka pria tua itu, dia tak tega melihat pria tua itu menangis sambil meminta air.


Sambil menahan napasnya Xiao Tian membawa air minum yang disimpan di dalam cincin ruangnya untuk diberi kepada pria tua itu. Setelah memberi air minum kepada pria tua tersebut, Xiao Tian menawarkan bekal makanannya yang juga dia simpan dalam cincin ruangnya.


Pria tua tersebut makan dengan lahap seperti orang yang tak pernah menyentuh makanan selama berhari-hari. Karena melihat pria tua itu begitu lahap, Xiao Tian memberikannya beberapa makanan serta minumannya lagi.


Tanpa rasa ragu pria tua itu memakan semua bekal makanan dan minuman Xiao Tian hingga tak bersisa sedikitpun. Meski sudah menghabisi semua makanan pria tua itu masih meminta tambahan makanan.


"Maaf kakek, aku tak punya makanan lagi."


"Aku sudah memberi kakek semua bekal makananku untuk satu minggu." Xiao Tian menatap ke arah pria tua itu sambil tersenyum.


"Tidak apa, Nak. Meski hanya sedikit mengganjal perut kakek. Makanan yang kau berikan sudah cukup memberi kakek sedikit tenaga." sambung pria tua itu sambil tersenyum kearah Xiao Tian.


"Sedikit katanya?"


"Sebenarnya berapa banyak makanan yang dia perlukan untuk membuatnya merasa kenyang."


"Sepertinya hari ini aku harus pulang sebelum ibu kembali ke istana, semoga saja kali ini ayah tak menyuruhku berlari keliling istana sambil membawa gentong besar berisi air lagi," pikir Xiao Tian dengan wajah yang agak kesal.


"Aku sudah memberimu makanan dan minuman, sekarang aku harus pergi dan mencari kesenangan sebelum hukuman datang menghampiriku," ucap Xiao Tian sambil menutup hidungnya.


"Kenapa kau menutup hidungmu?" tanya pria tua itu.


"Ah maaf, hidungku sedang bermasalah jadi jangan hiraukan itu."


"Sampai jumpa kakek dan jaga kesehanmu ya," ucap Xiao Tian sambil melangkah pergi.


"Nak katakan siapa namamu?"


tanya pria tua itu.


"Namaku Yanyan." Xiao Tian memberikan pria tua itu nama palsunya karena dia tak ingin identitasnya tersebar luas.


"Begitu ya, apa kau tertarik dengan ilmu alkemis?" tanya pria tua itu.


"Alkemis?"


"Apa itu?" Xiao Tian berbalik arah, menatap ke arah pria tua yang penuh luka itu.


"Berikan aku bahan-bahan ini maka kau akan mengetahui apa itu alkemis." pria tua itu melempar sebuah catatan kepada Xiao Tian.


"Temui aku di jalan sempit di dekat kota Shandian. Bawa semua bahan itu jika kau tertarik menjadi alkemis." jelas pria tua itu.


Xiao Tian masih belum mengerti dengan maksud dari pria tua itu, namun dia cukup penasaran dengan apa yang disebut dengan alkemis.


Karena penasaran, Xiao Tian akhirnya membuka isi kertas tersebut. Namun dia tak mengerti maksud dari tulisan itu karena belum pernah belajar membaca. Untuk mengetahui maksud dari tulisan tersebut, Xiao Tian bertanya kepada penduduk sekitar tentang maksud tulisan itu.


"Rumput duri naga, Akar kayu manis, Jamur giok merah, lumut pencakar langit. Semua ini adalah tumbuhan liar yang bisa kau temukan dimanapun, untuk apa kau mencari semua ini?" tanya salah satu penduduk sambil memegang kertas catatan yang Xiao Tian berikan.


"Semudah itu kah?"


"Kalau memang sangat mudah ditemukan, bisakah kau memberitahuku seperti apa bentuk benda-benda ini?" tanya Xiao Tian.


"Berapa banyak yang kau perlukan?" tanya pria itu.


"Sebanyak mungkin." jawab Xiao Tian.


"Berapa banyak uang yang kau punya?" tanya pria itu.


"Aku tak memegang uang sedikitpun," jawab Xiao Tian.


"Kalau begitu, kau tak akan mendapatkannya bocah kecil."

__ADS_1


"Menjauhlah dariku dan kembalilah saat kau sudah membawa uangnya." Pria itu mendorong Xiao Tian hingga terjatuh.


"Setidaknya kembalikan catatanku yang ada di tanganmu itu." Xiao Tian menatap ke arah pria itu dengan kesal.


"Ada apa dengan tatapanmu itu ha?"


"Dari pakaianmu saja aku sudah tahu kalau kau berasal dari daerah kumuh, jauh di pelosok kota Shandian. Apa yang membawamu kemari, wilayah ini sangat dekat dengan wilayah istana. Pergilah jika kau tak ingin aku habisi. Aku sangat benci saat melihat orang kumuh di tempat bersih seperti ini." Pria itu mengepalkan tangannya sambil mengancam akan memukul Xiao Tian jika tidak pergi.


Xiao Tian yang masih berusia lima tahun sangat ketakutan akan ancaman pria itu. Dia pergi meninggalkan pria itu sambil berlari menjauhi wilayah istana.


Setelah Xiao Tian pergi cukup jauh, salah satu prajurit yang bertugas untuk mengawasi Xiao Tian pergi mendekati pria yang telah melukai Xiao Tian. Prajutit tersebut menghajar lalu merebut paksa catatan milik Xiao Tian.


"Si ... siapa kau!"


"Kenapa kau memukuliku!" ucap pria itu dengan tubuh yang babak belur.


"Tenang saja, aku akan memberi hadiah yang pantas setelah menerima pukulan dariku." jelas prajurit penjaga Xiao Tian.


"Hadiah?"


"Kenapa kau mengeluarkan pedangmu?" pria itu gemetar ketakutan setelah melihat prajurit itu menghunuskan pedang ke arah lehernya.


Srattt


"Semua yang berani melukai pangeran kami harus mati, itu adalah perintah ratu Xiao Hong." Prajurit itu meninggalkan mayat dari pria yang dia tebas lalu pergi menyusul prajurit yang lain untuk mengawasi gerak gerik Xiao Tian.


Xiao Tian dalam dilema besar, terlalu berbahaya baginya membuka penyamarannya sebagai rakyat jelata. Dan juga terlalu bahaya baginya untuk kembali ke istana dengan pakaian rakyat jelata. Dia takut dihadang oleh pria yang mendorongnya tadi.


Perutnya mulai berbunyi pertanda kalau dia merasa lapar. Salah satu prajurit yang telah memberi perhitungan kepada pria yang melukai Xiao Tian berhasil menyusul prajurit yang lain, dia berinisiatif memberikan catatan serta semua bahan yang tertulis di kertas tersebut kepada Xiao Tian untuk menghibur pangeran kecilnya itu.


Xiao Tian yang tadinya sedang melamun, terkejut melihat semua bahan serta catatan miliknya tiba-tiba terjatuh dari atas pohon tempatnya berteduh. Bukan hanya itu, dia juga mendapat beberapa koin emas serta buah-buahan yang jatuh dari atas pohon.


Xiao Tian melihat ke atas untuk mencari tahu siapa yang telah membantunya, tapi dia tak melihat siapapun di atas pohon tempat dia berteduh.


"Aneh sekali," Xiao Tian kebingungan sambil menatap ke atas pohon.


Meski merasa banyak kejanggalan, Xiao Tian tak memusingkan sekua itu. Dia menyimpulkan bahwa itu pasti perbuatan dari orang-orang suruhan ibunya. Dengan sigap dia memakan beberapa buah yang ada di hadapannya, lalu menyimpan sebagian buah yang tersisa ke dalam cincin ruangnya. Dia juga menyimpan semua bahan herbal serta koin emas yang berada di depannya.


Setelah menyimpan semua bahan yang dia perlukan, Xiao Tian pergi ke daerah kumuh kota Shandian untuk menemui pria tua yang telah memberinya catatan itu.


Ketika sudah sampai di tempat tujuan, dia melihat pria tua itu sedang bersemedi di gang sempit perbatasan daerah kumuh kota Shandian. Tanpa rasa ragu dia mendekati pria tua itu dan langsung menyapanya sambil menutup kedua lubang hidungnya.


"Hei kakek, aku sudah menemukan semua bahan yang kau perlukan," ucap Xiao Tian sembari berjalan mendekati pria tua itu.


Xiao Tian mengeluarkan bahan-bahan yang diminta pria tua itu dari cincin ruangnya tanpa rasa ragu.


"Seperti yang diharapkan dari seorang pangeran." jawab pria tua itu.


"Kakek ini bagaimana, aku hanyalah seorang rakyat jelata seperti kakek. Pakaianku saja masih sangat kumuh, bagaimana bisa aku disebut sebagai pangeran," Xiao Tian mencoba mengelak ucapan pria tua itu.


"Kalau dari pakaianmu memang sulit dipercaya, tapi aku bisa mengetahuinya dengan jelas melalui cincin ruangmu. Mana ada seorang anak kecil dari daerah kumuh, bisa memiliki cincin ruang dan bisa mendapatkan bahan-bahan yang kuperlukan hanya dalam jangka waktu yang cukup singkat." Pria tua itu menatap kearah Xiao Tian.


"Tak apa, aku tak akan membongkar rahasia kecilmu itu. Lagipula aku suka dengan nama Yanyan. Hanya saja, lain kali jangan pernah menggunakan cincin ruangmu itu di depan semua orang untuk menjaga identitasmu," jelas pria tua itu.


Setelah menerima bahan herbal yang Xiao Tian berikan, pria tua itu langsung menyulapnya menjadi pil dengan menggunakan kekuatan rohnya. Setelah menciptakan sepuluh buah pil, pria tua itu langsung menelannya sekaligus. Semua luka serta bau busuk yang keluar dari tubuhnya menghilang dalam sekejap mata berkat pil itu.


Xiao Tian masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depannya itu, dia mencoba meraba wajah dan tubuh pria tua itu untuk memastikan bahwa semua luka memang sudah menghilang dengan sempurna.


Setelah memastikan semuanya benar-benar terjadi, Xiao Tian akhirnya bersujud dan memohon kepada pria tua itu agar menjadikannya sebagai murid. Dia ingin berlatih alkemis dan belajar membuat pil untuk menyembuhkan segala macam luka.


Sejak menjadi murid dari pria tua itu, Xiao Tian sering belajar alkemis dari guru pribadinya itu. Dia juga sering menerima pil berwarna biru yang diberikan oleh gurunya setiap seminggu sekali. Meski begitu dia hanya bisa mempelajari dasar-dasarnya atau materinya saja karena belum memiliki kekuatan roh di usianya yang masih terbilang cukup muda. Meski belum melakukan praktek Xiao Tian bisa mengingat betul semua materi yang diberikan gurunya.


Awalnya Xiao Tian belajar alkemis pada gurunya setiap hari, namun dia berhenti belajar alkemis dan lebih sering bermain sejak mengenal putri Jia Li yang saat itu menyamarkan namanya sebagai Lily.


Gurunya tak memaksa Xiao Tian fokus dalam belajar karena memang kenyataannya Xiao Tian memang masih terlalu kecil untuk berlatih alkemis. Dia hanya memberinya materi ketika Xiao Tian datang mengunjunginya dan memberikannya pil berwarna biru setiap kali Xiao Tian datang mengunjunginya.


Lima tahun kemudian putri Jia Li pergi meninggalkan kerajaan petir karena hukumannya telah berakhir. Xiao Tian pun kembali fokus dalam belajar alkemis. Tidak hanya itu, dia juga mulai tertarik dengan ilmu beladiri.


Sayangnya saat Xiao Tian meminta kepada gurunya untuk mengajarkannya ilmu beladiri, sang guru menolaknya secara mentah-mentah. Bukan hanya itu, Gurunya juga berkata kalau dia akan pergi meninggalkan kerajaan petir untuk sesuatu hal yang tak bisa dijelaskan.


"Guru, apa maksud semua ini?"


"Kenapa kau meninggalkanku?"


"Jika kau ingin aku tak berlatih beladiri, maka aku akan mengurungkan niatku itu."


"Tapi tolong jangan tinggalkan aku sendiri, aku sudah menganggapmu sebagai keluargaku. Kumohon jangan tinggalkan aku guru." Xiao Tian mengepalkan kedua tangannya.


Xiao Tian dalam dilema besar dan berpikir kalau gurunya pergi karena dia meminta belajar beladiri. Dia berpikir seperti itu karena dia tahu, bahwa sejak awal gurunya memang melarang keras dirinya mempelajari ilmu beladiri. Dan terus berkata kalau dia harus menahan hasratnya untuk mempelajari beladiri hingga mencapai usia delapan belas tahun.


"Ini bukan tentang ini dan itu, aku masih menganggapmu sebagai muridku oleh karena itu turuti permintaan terakhirku, suatu saat nanti kau akan tahu alasan dibalik kepergianku. Jagalah dirimu Yanyan, dan ingatlah agar tidak mempelajari beladiri sampai kau berusia delapan belas tahun." Guru Xiao Tian meninggalkan Xiao Tian sendirian tanpa rasa ragu sedikitpun.


"Guru, kenapa kau meninggalkanku!"


"Tolong jangan pergi guru!" Xiao Tian tak bisa menghentikan kepergian gurunya.


Setelah kepergian gurunya, Xiao Tian kembali ke istana dalam keadaan hati yang hancur. Tepat ketika dia pulang ke istana, ibunya datang lebih cepat dari dugaan Xiao Tian.


Melihat ibunya datang lebih cepat, dia merasa sangat senang karena tidak harus menerima hukuman daei ayahnya. Ketika ingin pergi memeluk ibunya, diluar dugaan Xiao Hong malah memukul tengkuk Xiao Tian sehingga pingsan.


"Maafkan aku anakku, mulai dari sekarang kau tak boleh keluar istana." Xiao Hong merampas pakaian kumuh serta topeng perubah wajah milik Xiao Tian dan menyuruh prajurit untuk mengurungnya di kamar.


Ketika tersadar dari pingsannya, Xiao Tian terkejut karena tiba-tiba saja dia berada di dalam kamarnya. Dia juga merasa pusing karena tak bisa menemukan cincin ruang serta topeng perubah wajah miliknya.


Setelah mencari cincin ruang serta topeng perubah wajah ke seluruh isi kamar, terdengar suara langkah kaki dari luar pintu kamarnya.


Perlahan tapi pasti pintu kamar Xiao Tian mulai terbuka, dia melihat ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang menemuinya.

__ADS_1


Ternyata yang datang menemuinya adalah Xiao Hong yang sedang membawa Taiwu memasuki kamarnya. Xiao Hong memperkenalkan Taiwu yang berusia sama seperti Xiao Tian. Taiwu bertugas menjadi teman sekaligus penjaga Xiao Tian sejak saat itu. Dia tidak boleh keluar istana dan hanya boleh bergaul dengan Taiwu di dalam lingkungan istana.


Karena bergaul dengan Taiwu cukup lama, akhirnya dia merasa akrab dengan Taiwu. Namun suatu hari dia tak diijinkan keluar dari kamar karena Taiwu sedang ada urusan di luar istana.


Karena merasa bosan terkurung cukup lama di dalam kamar, Xiao Tian pun mencoba membobol jendela untuk keluar dari kamarnya.


Akan tetapi, setelah melompat keluar dari jendela kamarnya. Dia terkejut melihat sebuah bola api mengarah tepat ke arahnya. Xiao Tian menutup matanya karena takut akan bola api tersebut.


Duarrrrr


Ketika membuka matanya, dia terkejut melihat sang ayah yang selama ini dia hindari. Memasang badannya untuk melindungi Xiao Tian dari bola api tersebut.


"Ayah!" Xiao Tian berteriak begitu kencang sambil berlari memeluk ayahnya yang telah terluka parah.


Ketika bola api mengarah lagi kepadanya, Xiao Hong menepis bola api tersebut dengan tangan kosong. Dia melakukan itu untuk melindungi putra serta suaminya sambil memakai kostum Topeng bencana.


Setelah melihat Topeng bencana, para iblis dan sekte kegelapan meninggalkan kerajaan petir. Serangan mendadak yang dilancarkan sekte-sekte sesat itu menimbulkan banyak kerugian bagi kerajaan petir.


Sepuluh hari telah berlalu, terhitung sejak serangan dadakan sekte kegelapan dan sekte iblis. Selain raja Xiao Zhaoye, semua orang yang terluka telah sembuh dari luka mereka.


Karena tak ada yang bisa menyembuhkan luka sang raja, semua orang mulai putus asa. Hingga muncul seorang alkemis tingkat tinggi yang entah datang dari mana dengan wajah yang begitu muda dan tampan. Alkemis itu menyembuhkan sang raja hanya dalam sekejap mata, dia menyebut dirinya dengan sebutan Dewa Obat.


Jiwa alkemis Xiao Tian bangkit kembali, sejak melihat Dewa Obat mengobati luka ayahnya hanya dalam sekejap mata. Dia mulai terobsesi menjadi alkemis dan sering menyebut dirinya sebagai Dewa Obat.


"Tunggu, ijinkan aku belajar alkemis darimu!"


"Jadikan aku muridmu." Xiao Tian memanggil sang Dewa Obat saat beranjak pergi meninggalkan istana.


"Sekarang bukan saat yang tepat bagi kita bertemu, kutunggu kau di kehidupan yang ketiga, semuanya akan terungkap saat mata kita saling bertatapan. Sampai jumpa, manusia." ucap Sang Dewa Obat sambil meninggalkan istana kerajaan petir.


Xiao Tian begitu kesal karena ditolak mentah-mentah oleh sang Dewa Obat, namun dia tak menyerah begitu saja. Dia pergi berguru ke salah satu alkemis bintang dua, namun dia disuruh untuk belajar beladiri terlebih dulu. Dia juga mencoba berguru ke alkemis yang lain, tapi dia ditolak dengan jawaban yang sama.


Karena sudah tidak ada jalan lain, akhirnya dia pergi ke sebuah perguruan beladiri atas ijin Xiao Hong. Meski tahu bahwa dia dilarang keras oleh gurunya yang terdahulu untuk belajar beladiri sebelum berusia delapan belas tahun, Xiao Tian tetap berlatih beladiri karena ingin cepat-cepat menjadi alkemis.


Awalnya tak terjadi apapun dengan tubuhnya, namun lambat laun tubuhnya semakin melemah dan sering merasakan sakit yang luar biasa di bagian perut ketika menjelang malam hari.


Selain guru pribadi di perguruan tersebut dan para prajurit yang mengawasi Xiao Tian, tidak ada yang mengetahui kondisi Xiao Tian ketika malam hari.


Xiao Hong yang mendapatkan kabar mengenai keadaan naas yang menimpa putranya memberi perintah kepada para pelayan untuk mengurusinya setiap malam hari. dari mulai mandi hingga tidur, Xiao Tian tidak boleh ditinggal setiap malam hari.


Suatu hari ketika keadaan Xiao Tian sudah cukup parah hingga tak sanggup berlatih beladiri lagi, dia akhrinya dilarang keras oleh guru serta ibunya untuk berlatih beladiri.


Sejak berhenti berlatih beladiri, perlahan kondisi tubuhnya membaik. Xiao Tian tidak merasakan sakit lagi setiap malam hari. Meski sudah tak bisa beladiri, Xiao Tian terus mencoba membuat pil berdasarkan materi yang pernah dia pelajari dari guru alkemisnya yang terdahulu. Akan tetapi dia selalu gagal.


Meski selalu gagal, dia tak berhenti menyebut dirinya sebagai Dewa Obat. Setelah mencapai umur delapan belas tahun, Xiao Tian diberi undangan pertemuan klan untuk membangkitkan roh beladiri. Namun dia menolak mentah-mentah undangan tersebut karena masih tidak percaya dengan tubuh lemahnya yang selalu sakit-sakitan ketika berlatih beladiri. Rumor jelekpun menyebar akibat penolakan Xiao Tian.


Suatu hari Xiao Tian mendengar putri Jia Li sedang berkunjung di kerajaan petir. Tanpa rasa ragu dia langsung menemui teman masa kecilnya itu untuk melepas rindu di hatinya.


Namun yang dia terima bukanlah sebuah pelukan atau pun sapaan, yang dia terima adalah sebuah hinaan dari mulut sang putri. Semua itu berasal dari rumor jelek yang menyebar tentangnya.


Karena rumor itu pula akhirnya maut menjemputnya saat dia dijodohkan dengan putri Jia Li.


Putri Jia Li telah termakan oleh gosip buruk tentang Xiao Tian, sehingga menyuruh pembunuh bayaran untuk menghabisi Xiao Tian agar kesuciannya terjaga. Sejak dulu putri Jia Li hanya memikirkan Yanyan, dan berjanji pada dirinya sendiri agar tak akan menikahi pria lain selain Yanyan. Dia tidak tahu kalau Yanyan dan Xiao Tian merupakan orang yang sama karena Yanyan yang dia kenal merupakan Xiao Tian yang memakai topeng perubah wajah.


Setelah tewas kehabisan darah akibat dicabik-cabik harimau liar, Xiao Tian bereinkarnasi ke dunia lain yang disebut bumi. Dia menjadi dokter jenius disana dan biasa dipanggil Dewa Obat. Dikehidupannya yang kedua dia tak mengingat apapun kecuali keterampilan medis yang dia pelajari dari gurunya yang terdahulu.


Berbeda dengan kehidupannya yang dulu, di kehidupannya yang kedua dia berhasil mempraktekkan materi yang diajarkan gurunya tanpa mengingat dari mana dia mempelajari ilmu medis itu. Suatu hari ketika dia sedang berjalan menuju ke tempat pasiennya. Dia tersambar petir dan akhirnya bereinkarnasi di dunianya yang dulu. Xiao Tian mengingat semua perjalanan hidupnya dari kehidupan pertama hingga kehidupan yang ketiga berkat bertatapan langsung dengan mayat Dewa Obat yang memiliki wajah sama persis seperti gurunya.


Xiao Tian kini telah mengerti, ternyata Dewa Obat yang selama ini diagungkan oleh para siluman harimau, merupakan orang yang sama dengan orang yang pernah menjadi gurunya sejak kecil.


Hanya saja menurut ingatannya ketika kecil, gurunya itu merupakan seorang pertapa dan alkemis biasa.


Meski melihatnya secara langsung, dia masih belum percaya dengan apa yang telah dia lihat itu. Dia melangkah mendekat lalu meraba wajah gurunya itu sambil berlinang air mata.


"Bagaimana mungkin guru bisa menjadi seorang Dewa Obat, dan kenapa kau tidak memberi tahuku sejak dulu."


"Apakah pria muda yang mengaku sebagai Dewa Obat waktu itu juga dirimu?"


"Tolong bangunlah dan jelaskan padaku, Guru," lirih Xiao Tian sambil mengeluarkan banyak air mata.


Sambil meraba wajah gurunya, Xiao Tian berkata,


"Guru, katakanlah padaku!"


"Kenapa kau berbohong padaku ketika aku masih menjadi muridmu!"


"Kenapa kau tak bilang padaku kalau kau adalah Dewa Obat yang selama ini dipuja oleh semua orang."


"Dan kenapa kau meninggalkanku ketika sekte iblis dan sekte kegelapan mulai melakukan pergerakan mereka ...."


"Katakan padaku, guru!"


"Yanyan kecilmu ada disini dan telah bertemu kembali denganmu, kau bilang kau akan menceritakan semua alasan dibalik kepergianmu setelah bertemu denganku lagi."


" Jawablah aku, Guru ...." Xiao Tian menangis tersedu-sedu sambil menggoyangkan tubuh gurunya yang telah tidak bernyawa.


"Dewa Petir tolong bantu aku membangkitkannya kembali." Xiao Tian meratap sambil memohon kepada Dewa Petir.


"Aku tak bisa mengembalikan sesuatu yang telah mati, mayat yang kau sentuh saat ini memang mayat dari seorang Dewa. Aku bisa merasakan kekuatan dewanya. Tidak diragukan lagi bahwa dia memang seorang Dewa Obat yang selama ini menghilang dari istana langit. Aku tak mengenalnya namun menurut rumor yang kudengar, Dewa Obat seharusnya telah tiada jauh sebelum pembasmian Kaisar iblis terjadi. Seingatku Dewa Obat menghilang dan dianggap telah tiada setelah menciptakan jutaan relik yang digunakan para Dewa untuk menyegel para iblis yang merusak keseimbangan dunia."


"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Xiao Tian.


"Biar aku yang mengurus mayat Dewa Obat, aku akan membawanya ke istana langit. Untuk sekarang kau harus fokus dengan tujuan awalmu. Pergilah dan bawa pil-pil suci itu secepat mungkin, agar kau bisa menyelamatkan putri Jia Li. Karena jika kau terlambat satu detik saja, mungkin kau akan kehilangan dirinya," tegas Dewa Petir.


Setelah mendengar peringatan Dewa Petir, Xiao Tian langsung pergi menuju istana es secepat mungkin. Meninggalkan mayat gurunya dan menyerahkanya kepada Dewa Petir.


"Tunggu aku Lily, bertahanlah. Yanyan kecilmu akan datang menemuimu." Xiao Tian terbang menaiki naga hitam raksasa dengan kecepatan tinggi meninggalkan markas siluman harimau perak yang telah hancur berantakan.

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2