Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 209 : Melawan Huai Zhong


__ADS_3

Xiao Tian berhasil membuat Huai Zhong keluar dari persembunyiannya dengan berpura pura terjebak dalam jebakan Huai Zhong.


Setelah jebakan Huai Zhong dihancurkan Xiao Tian, dia pun terkejut bukan main.


"Aku tak tahu kalau pedang hitam pagoda iblis bisa melenyapkan lingkaran sihir, bagaimana bisa kau lebih tahu dari pada aku?" tanya Huai Zhong dengan heran.


"Jawabannya sangat mudah, itu karena aku memiliki guru yang hebat." Xiao Tian menebaskan pedang hitam ke arah Huai Zhong, namun Huai Zhong menghilang lalu tiba tiba muncul di belakang punggungnya.


Saat Huai Zhong ingin menghajar Xiao Tian, Su Yan mencoba menusuknya menggunakan tombak perak. Namun lagi lagi dia menghilang lalu muncul di belakang punggung su Yan yang baru saja menyerangnya.


Setelah muncul di belakang Su Yan, Huai Zhong mengumpulkan qi kegelapan di telapak tangan kanannya hingga muncul sebuah bola hitam legam yang mengandung racun mematikan.


Proses pembuatan bola hitam beracun itu begitu cepat, tak sampai memakan waktu satu detik pun. Bersamaan dengan sempurnanya jurus yang dia buat, Huai Zhong langsung mengarahkan jurus tersebut ke punggung Su Yan.


Akan tetapi, mata hijau kembali bangkit tepat sebelum punggungnya terkena serangan balasan Huai Zhong.


Tepat ketika matanya bangkit, hal pertama yang Su Yan lakukan adalah melapisi tombak perak dengan aura hijau lalu bergeser ke kanan untuk menghindari serangan Huai Zhong. Tepat ketika Huai Zhong berada di samping kirinya, Su Yan langsung menusuknya menggunakan tombak perak berlapis aura hijau. Akan tetapi Huai Zhong kembali menghilang dari pandangan.


Berbeda dari sebelumnya saat ini mata hijau Su Yan bertahan begitu lama, melihat hal aneh tersebut Xiao Tian pun mencoba memastikan apakah Su Yan yang ada di hadapannya masih memiliki kesadaran atau dikendalikan oleh sisi lainnya lagi.


Tanpa pikir panjang, Xiao Tian mencoba menebas Su Yan dengan pedang hitamnya.


Namun Su Yan menahan serangan Xiao Tian dengan membenturkan tombak perak berlapis aura hijau di tangannya. Ketika dua buah senjata berlapis aura yang bertentangan, sebuah gelombang kejut tercipta hingga membuat mereka terpental mundur cukup jauh.


"Hei, kenapa kau menyerang temanmu sendiri!" bentak Sunlong sambil menatap Xiao Tian.


"Dia bahkan tidak bicara sejak tadi, matanya pun berubah menghijau. Aku takut kejadian waktu itu terulang lagi," jawab Xiao Tian.


"Tenanglah, dia tak sedang dikendalikan oleh sisi lainnya," jawab Sunlong.


"Dari mana kau tahu?" tanya Xiao Tian.


"Amatilah baik baik, matanya saja berbeda dengan yang waktu itu. Saat diluar kendali matanya berwarna kuning keemasan.


Dari segi kekuatan saja sudah sangat jauh berbeda," jelas Sunlong.


"Tapi, bagaimana jika dia tiba-tiba menyerangku saat kita lengah?" tanya Xiao Tian.


"Tenanglah, aku ada di pundakmu dan selalu mengawasinya sejak tadi. Jika terjadi sesuatu aku akan menceritakannya melalui telepati," sambung Sunlong melewati telepati.

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban Sunlong, Xiao Tian pun mulai mencoba bersikap tenang. Akan tetapi ketenangannya tak bertahan lama, karena tiba tiba saja Su Yan melemparkan tombak peraknya ke arah Xiao Tian tanpa rasa ragu.


Dengan reflek Xiao Tian pun menghindari serangan kejutan Su Yan dengan bergeser ke kanan. Tepat ketika tombak perak berada di samping kirinya, Xiao Tian mencoba menangkap tombak tersebut dengan menggunakan tangan kiri. Namun Su Yan melesat dengan kecepatan tinggi hingga muncul di hadapan Xiao Tian. Dia mendaratkan tendangan kaki yang membuat Xiao Tian terpental mundur menjauhi tombak perak.


Ketika tombak perak sudah melesat cukup jauh ke tengah ruangan, Su Yan melesat maju lalu menangkap tombak peraknya kembali.


Tak lama setelah itu suara tawa Huai Zhong terdengar hingga ke segala penjuru ruangan.


"Hahhaha, aku tak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi aku suka melihat kalian mencoba menghabisi satu sama lain, lanjutkanlah pertunjukan kalian hingga salah satu dari kalian kehilangan nyawa,"


"Cih, kenapa kau menyerangku!" tanya Xiao Tian.


"Bukannya kau dulu yang menyerangnya?" sambung Sunlong.


"Aku tak bertanya padamu!" ucap Xiao Tian dengan kesal. Dia memukul kepala Sunlong dengan ujung pegangan pedang hitam karena merasa kesal.


"Aduh, sakit tahu!" ucap Sunlong sembari memegang kepalanya yang agak benjol.


Ketika fokus Xiao Tian teralihkan oleh Sunlong, Su Yan kembali melemparkan tombak perak ke arah Xiao Tian.


Ketika Xiao Tian ingin menyentuh punggung tangan kirinya untuk mengaktifkan portal ruang hampa, Su Yan menghentakkan kakinya ke lantai hingga membuat beberapa tengkorak melayang ke udara. Setelah itu dia mendorong tengkorak tengkorak itu ke arah Xiao Tian dengan menggunakan telapak tangan kanan yang di lapisi qi murni.


Tingkat kecepatan dari tengkorak yang Su Yan dorong jauh lebih cepat dari pada tombak perak, sehingga Xiao Tian tak ada pilihan lain selain menghindari tombak perak sembari menangkis semua tengkorak. Dia membelah semua tengkorak menjadi dua bagian dengan memanfaatkan pedang hitam, lalu melompat ke kanan untuk menghindari tombak perak yang hampir menusuk perutnya.


Sadar ada yang aneh dengan Su Yan, Sunlong pun terus mengawasinya sambil mencoba mencari tahu apa yang akan dia lakukan.


Su Yan tersenyum tipis, lalu melesat maju mendekati tombak perak.


Awalnya Sunlong pikir, Su Yan akan menangkap tombaknya lagi. Namun dugaanya salah, karena Su Yan malah memukul ujung tombak itu dengan telapak tangan yang berlapis qi hijau murni.


Bukk Shuuttt


Tombak perak melesat dengan kecepatan tinggi hingga menancap ke bayangan di sekitar tembok berlapis tengkorak manusia.


Ketika tombak tersebut menancap ke bayangan itu, tembok berlapis tengkorak yang tertancap perlahan runtuh lalu bayangan yang baru saja tertancap tombak perak berubah menjadi Huai Zhong dengan perut yang tertusuk tombak.


Setelah tembok tengkorak runtuh, terlihat sebuah sisi ruangan lain. Yang terlihat tak jauh berbeda dari ruangan tempat mereka bertarung. Hanya saja terdapat kursi yang terbuat dari tengkorak dan Dewa Petir yang terkurung dalam kandang besi. Namun tak ada yang bisa melihat sisi lain ruangan dengan jelas karena tak ada penerangan sedikitpun di ruangan tersebut.


Satu satunya yang bisa melihat isi dari ruangan itu hanyalah Sunlong yang memiliki penglihatan malam. Akan tetapi dia tak langsung memberi tahu Xiao Tian karena takut membuat konsentrasinya terpecah belah.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau mengetahui posisiku?" ucap Huai Zhong sambil memegang tombak perak yang menancap di perutnya.


Bukanya menjawab pertanyaan Huai Zhong, Su Yan malah menoleh ke arah Xiao Tian lalu tersenyum tipis.


"Kenapa dia malah tersenyum padaku?"


"Padahal aku juga ingin tahu penjelasannya," pikir Xiao Tian sambil menatap mata Su Yan.


Tepat ketika Xiao Tian menatap matanya, mata Su Yan kembali normal seperti manusia pada umumnya. Hal yang pertama Su Yan katakan saat itu adalah, "Apa aku melakukan hal aneh lagi?"


Sadar bahwa Su Yan telah kembali pada dirinya lagi, Xiao Tian pun tersenyum tipis lalu muncul secara tiba tiba di samping kanan Su Yan. Sambil menepuk pundaknya dia pun berkata, "Kau tadi terlihat begitu hebat, sekarang giliranku untuk beraksi. Mundurlah, aku merasakan bahwa kekuatan qi milikmu mulai melemah.


" Tapi ... ," awalnya Su Yan ingin menolak perintah Xiao Tian, namun ketika Sunlong menatapnya dia langsung menundukkan kepala lalu menyetujui perintah Xiao Tian untuk pergi menjauhi area pertarungan.


" Baik, Ketua," ucap Su Yan sembari menundukkan kepalanya.


Sambil mencoba mencabut keluar tombak perak dari perutnya, Huai Zhong melapisi tubuhnya dengan aura hitam berlapis qi kegelapan. Sejak aura hitam melapisi seluruh tubuhnya, pendarahan di tubuhnya pun mulai berhenti. Bahkan tak ada darah setetespun yang keluar meski tombak perak berhasil dia cabut setelah melapisi tubuhnya dengan aura hitam. Meski luka di tubuhnya telah sembuh, tapi robekan di pakaiannya tak bisa di tutupi.


Tepat ketika tombak perak dicabut, Xiao Tian dan Sunlong terkejut bukan main. Karena Huai Zhong mengeluarkan bau seperti seorang manusia.


"Mustahil, apakah kau seorang manusia?" tanya Xiao Tian.


"Ketahuan ya?"


"Cih, menyebalkan."


Huai Zhong membuka tudung hitam yang menutupi kepalanya, lalu mempwrlihatkan wajah aslinya.


Wajahnya terlihat seperti manusia berumur delapan belas tahun, sedangkan rambutnya berwarna putih. Matanya hitam legam dan memakai dua buah anting anting hitam di kedua telinganya.


"Perkenalkan, inilah aku. Huai Zhong sang dewa pemalas," ucap Huai Zhong sambil memegang tombak hitam yang tiba tiba muncul tepat di hadapan tangan kanannya.


#####


Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.


Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.


Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.

__ADS_1


Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.


Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁


__ADS_2