
#Hutan obat kerajaan petir
Tainam Chun yang baru saja tersadar telah di usir keluar dari dalam kamar perawatan oleh ayahnya sendiri.
Semua hanya karena Dewi petir ingin berbicara empat mata dengannya. Karena penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, Tainam Chun membuka sedikit pintu ruangan untuk mendengar pembicaraan mereka.
Saat itu Taizheng menatap Dewi petir wajah yang memerah dan terlihat begitu malu malu. Saking groginya dia berhadapan dengan kecantikan seorang Dewi, dia tak berani untuk menatap matanya secara langsung. Bahkan dia sering memainkan jari jari untuk menghilangkan sedikit rasa gugupnya.
"A ... anu ... , sebelum kita mulai berbicara. Bisakah kau katakan siapa namamu?" tanya Taizheng sambil memainkan jari jarinya.
Setelah mendengar pertanyaan Taizheng, Dewi petir pun berkata, "Tatap mataku!"
"Tatap mataku?"
"Nama yang aneh, jadi aku harus memanggilmu tatap atau mataku?" tanya Taizheng sambil memasang tampang heran.
"Itu bukan namaku, aku meminta padamu untuk menatap mataku,"
"Apakah kata sederhana ini tak bisa kau mengerti sama sekali?" tanya Dewi petir dengan tampang datar.
"Ah, maaf tadi aku ...," Taizheng terdiam setelah menatap mata Dewi petir.
Setelah menatap mata Dewi petir pupilnya berubah membiru dalam sekejap mata, dan seketika wataknya pun berubah drastis bak langit dan bumi. Dia tak malu malu lagi seperti tadi, dan bersikap jauh lebih tenang.
Melihat Taizheng sudah cukup tenang, Dewi petir pun berkata,
"Lama tak bertemu, Taizheng,"
"Murid memberi hormat kepada guru," ucap Taizheng sambil menundukkan kepalanya.
Tainam Chun yang melihat situasi aneh itu pun langsung berkata di dalam hati, "Ke ... kenapa ayah memanggilnya guru?"
"Sebenarnya siapa wanita itu?"
__ADS_1
Disaat Tainam Chun mengintip sembari menguping, Taizheng berkata melalui telepati, "Bocah itu sedang mengintip, haruskah aku ... ,"
"Tidak perlu, kita abaikan saja dia," ucap Dewi petir melalui telepati.
"Ngomong ngomong ... ,"
"Bocah dengan tubuh petir itu, kau namakan siapa?" tanya Dewi petir dengan serius.
"Hamba menamainya dengan nama Tainam Chun guru," jawab Taizheng dengan mata birunya.
"Apakah dia tak pernah menanyakan siapa nama ibunya?" tanya Dewi petir sambil menatap mata Taizheng.
"Tentu saja dia telah bertanya lebih dari sekali," jawab Taizheng dengan lancar.
"Lalu kau menjawab apa?" tanya Taizheng dengan serius.
"Murid ini hanya memberitahu apa yang guru perintahkan," jawab Taizheng melalui telepati sambil menundukkan kepalanya.
"Apa yang ayah katakan tentang ibuku?"
"Kenapa dia terdiam, dan Dewi itu langsung berkata kalau.ayahku adalah murid yang berbakti. Sebenarnya siapa wanita ini" pikir Tainam Chun dengan tampang bingung.
Ketika Tainam Chun sedang dibuat bingung oleh apa yang telah dia dengar, Taizheng kembali membuatnya bingung dengan berkata, "Sampai kapan aku harus merahasiakan ini darinya?"
"Sampai pecahan ingatannya sudah benar benar pulih kembali," jawab Dewi petir sambil menatap mata Taizheng.
"Baiklah guru," jawab Taizheng sambil memberi hormat.
"Oh iya, ngomong ngomong tubuh petir yang pernah aku wariskan padanya kini telah aktif. Berikan liontin ini kepada bocah itu untuk menekan auranya,"
"Pastikan agar dia terus membawa benda ini bersamanya," sambung Dewi petir dengan tampang serius.
"Baik guru," Taizheng menundukkan kepalanya sambil menerima liontin dari Dewi petir.
__ADS_1
Ketika Dewi petir hampir melangkah keluar, Taizheng kembali menghentikannya dengan berkata, "Tunggu guru!"
"Ada apa?" tanya Dewi petir sambil menoleh ke belakang.
"Apakah kau tak ingin menekan ingatanku tentangmu lagi?" tanya Taizheng sambil memberi hormat.
"Tedak perlu, aku lebih suka kepribadianmu sekarang. Dibandingkan kepribadianmu yang gila saat melihat wajahku," ucap Dewi petir dengan kesal dan langsung bergegas meninggalkan ruangan.
Setelah memberi titah kepada Taizheng, Dewi petir melangkah mendekati pintu. Tainam Chun pun langsung bergegas pergi ke kamar lain agar tak ketahuan kalau telah menguping pembicaraan mereka.
Ketika Dewi petir telah keluar untuk membantu perbaikan kerusakan istana, dia berhenti tepat di depan pintu kamar dimana Tainam Chun bersembunyi.
Sambil menatap kearahnya, dia pun berkata, "Temui ayahmu, dan mintalah liontin emas yang telah aku berikan kepadanya,"
Mendengar ucapan Dewi petir, Tainam Chun pun terkejut bukan main.
Sambil mencoba bersembunyi sebaik mungkin, dia pun berkata, "Sejak kapan dia menyadari kehadiranku?"
"Lalu kenapa dia diam saja sejak tadi?"
"Apakah dia memang sengaja membiarkanku menguping beberapa hal?"
#Masa sekarang, sekte badai berduri.
Karena Tainam Chun hanya melihat dan mendengar sebagian kecil dari ucapan Dewi petir saja, dia pun tak bisa menceritakan asal usulnya sama sekali.
Yang jelas, tubuh petir memanglah warisan yang telah diturunkan olehnya.
Karena masih belum mendapat jawaban yang memuaskan, Dewa petir pun mencari alternatif lain untuk memecahkan masalah dengan berkata,
"Bisakah kau panggilkan ayahmu kemari?"
"Baik Dewa petir," sambung Tainam Chun sambil memberi hormat.
__ADS_1