
Jenderal Huang Cheng beserta lima prajuritnya pergi menuju istana untuk melapor kepada raja.
mereka ingin melapor tentang siluman rubah merah kepada raja karena tak tahu kalau siluman rubah yang telah membantai klan Lin dan klan Jiang merupakan bawahan Xiao Tian.
Saat melihat gerbang istana dari luar, mereka mencium aroma darah yang begitu pekat di dalam gerbang.
Keadaan gerbang saat itu masih tertutup rapat, tapi tak ada satupun prajurit yang berjaga diluar. Karena merasa ada yang aneh, mereka langsung menarik pedang mereka sambil berjalan mendekati gerbang.
Belum sempat kaki mereka melangkah lebih dekat, terdengar suara raja siluman rubah merah di dalam kepala mereka.
Melalui telepati, raja siluman rubah merah berkata, "Katakan apa tujuan kalian kemari?"
"Siapa kau?"
"Kenapa tak mau menunjukkan wajahmu?" ucap jenderal Huang Cheng.
"Aku diberi perintah untuk menjaga gerbang istana. Jika kalian kemari untuk mencari masalah dengan kerajaan ini, maka pergilah dari sini," jawab raja siluman rubah merah melalui telepati.
"Kami tak berniat mencari kekacauan, kami kemari untuk melapor kepada raja," jawab jenderal Huang Cheng.
"Melapor?"
"Baiklah kalian boleh masuk. Tapi ingatlah pesanku ini baik baik."
"Jika kalian membuat masalah saat sudah berada di wilayah istana. Maka jangan harap bisa kembali merasakan udara segar," tegas raja siluman rubah melalui telepati.
"Kami berjanji tak akan membuat kekacauan saat memasuki wilayah istana. Jadi tolonglah buka gerbangnya dan biarkan kami lewat," jawab jenderal Huang Cheng.
Tak lama setelah jenderal Huang Cheng menjawab pertanyaan yang dilontarkan, gerbang istana mulai terbuka lebar.
"Masuklah," ucap raja siluman rubah merah.
Para prajurit mulai was was setelah melihat gerbang terbuka tanpa ada seseorang yang terlihat membuka pintu gerbang itu.
Mereka berpikir kalau mereka memaksa masuk akan terjadi sesuatu yang buruk, karena yang mereka lihat di balik gerbang terlihat normal tapi tercium bau darah yang begitu pekat.
Awalnya jenderal Huang Cheng pun merasa ragu untuk memasuki gerbang tersebut. Namun karena merasa berhutang budi pada keluarga kerajaan, dia pun memaksa untuk berjalan masuk.
Karena jenderal mereka memaksa masuk, para prajurit pun ikut berjalan di belakangnya.
Ketika mereka baru melangkah masuk melewati pintu gerbang, sebuah tekanan qi yang luar biasa menekan tubuh mereka hingga membuat gaya gravitasi terasa semakin berat. Tak hanya langkah kaki saja yang mulai terasa berat, mental mereka pun terganggu karena merasakan hawa membunuh yang cukup besar. Meski tak dapat melihat siapapun, mereka bisa merasakan kalau saat itu terdapat begitu banyak mata yang mengawasi entah dari mana.
#Ruang latihan kerajaan
Setelah menelan beberapa pil pemulih, Jingmi dan Kaibo kembali tidur untuk mempercepat reaksi pil tersebut. Sedangkan Liang Su menolak untuk diobati ketika mulai tersadar dari pingsannya.
Dia selalu menutup mulutnya begitu rapat lalu melontarkan pil itu sambil meludah setiap kali Su Yan berhasil menelankan pil ke mulutnya.
"Tolong berhentilah menolak untuk menelan pilnya, Liang Su. Kau terluka cukup parah, jika terus begini kau tak akan sembuh."
"Aku tak peduli, lebih baik aku mati dari pada mendapatkan pertolongan dari musuh!" bentak Liang Su.
"Musuh?"
"Aku adalah suamimu, bukan musuhmu. Tolong berhentilah melawan, demi anak kita yang ada diperutmu," sambung Su Yan dengan pandangan khawatir.
"Suami?"
"Anak kita?"
"Berhenti bercanda!"
"Aku tak mungkin menikah denganmu, apalagi mengandung anakmu. Aku bahkan tak pernah bertemu denganmu sebelumnya.
Dan siapa itu Liang Su?"
__ADS_1
"Seorang iblis ular sepertiku tak memiliki sebuah nama, jadi jangan pernah menganggapku sebagai istrimu. Manusia!" bentak Liang Su sambil memancarkan hawa membunuh.
"Apa kau melupakanku?"
"Liang Su?"
"Apa yang sekte iblis lakukan padamu hingga menjadi seperti ini?"
"Tolong cobalah mengingat semua kenangan kita, Liang Su," ucap Su Yan sambil memandang Liang Su.
"Liang Su, Liang Su, berhentilah memanggilku dengan nama itu!"
"Raja iblis Dian Zheng sangat membenci kekalahan. Jika dia tahu aku selamat karena ditolong oleh musuh, aku pasti akan mati. yang mulia Dian Zheng merupakan panutan serta suami idamanku, kau tak mempunyai kualifikasi untuk menjadikanku sebagai istrimu. Jadi berhentilah bermimpi!"
"Gagal dalam misi, sama saja dengan gagal mencapai impian. Yang mulia Dian Zheng tak mungkin memaafkanku, dan impian untuk menjadi istrinya sudah dipastikan sirna.
"Bunuh saja aku sekarang, tak ada lagi alasan untukku hidup di dunia ini," ucap Liang Su dengan wajah frustasi.
Ketika sedang memandang wajah Liang Su, terdengar suara panglima Tian Feng dari belakang punggung Su Yan.
"Sejak dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir," ucap panglima Tian Feng sambil berjalan melewati pintu yang telah dia buka.
Ketika menoleh ke belakang, dia melihat seorang pria gagah berjirah perak yang membawa garpu rumput di tangan kanannya.
"Siapa kau?"
"Bagimana caramu masuk kemari?"
"Kemana perginya penjaga diluar pintu?" tanya Su Yan sambil mengerutkan dahi.
"Jika kau tanya siapa aku, maka aku akan menjawabnya dengan singkat. Namaku adalah panglima Tian Feng dewa tertampan di seluruh jagat raya. Pemimpin seribu pasukan langit yang telah mendapatkan kembali jabatannya setelah merasakan seribu kehidupan yang terus mengalami penderitaan cinta. Garpu rumputku adalah saksi dari sulitnya hidup sebagai makhluk hina yang selalu mendapatkan penderitaan cinta setiap kali bereinkarnasi. Hidupku benar benar menyulitkan," ucap panglima Tian Feng sambil tersenyum tipis.
"Dewa?"
"Panglima perang pemimpin seribu pasukan langit?"
"Dewa Kera tak pernah bilang tentang dirimu, jadi berhenti berbohong dihadapanku!"
"Jangan mengaku sebagai Dewa dihadapan orang yang telah bertemu dengan Dewa yang asli!" ucap Su Yan sambil menyiapkan bola cahaya di tangan kanan dan kirinya.
Belum sempat Su Yan melemparkan jurusnya, Panglima Tian Feng memancarkan tekanan roh yang cukup besar hingga membuat Su Yan terkejut bukan main. Dia tak bisa menahan tekanan roh tersebut hingga tubuhnya gemetar ketakutan.
"Kekuatan macam apa ini, sial kenapa bisa orang sekuat ini lolos dari penjagaan semua orang," pikir Su Yan sambil menatap Panglima Tian Feng.
Ketika Panglima Tian Feng masih memancarkan tekanan roh yang cukup kuat, terdengar suara langkah kaki yang mendekati pintu ruangan yang terbuka cukup lebar.
Dari sebelah kanan ruangan terlihat seorang pria berbadan tinggi dengan hiasan emas di kepalanya berjalan memasuki ruangan.
Aura Dewa yang terpancar dari pria itu terasa begitu besar, melebihi panglima Tian Feng sehingga membuat Su Yan merasa lebih waspada.
Pakaian mereka sama, hanya saja dia memegang sebuah tongkat pendeta yang hiasa dibawa oleh para biksu suci dari kelompok pembasmi iblis.
"Kakak kedua, apa yang kau lakukan?" ucap Wu Jing sambil menatap punggung panglima Tian Feng.
Setelah mendengar suara Wu Jing, Panglima Tian Feng langsung menoleh ke belakang dengan tampang kesal.
Sambil menatap Wu Jing dengan pandangan kesal, Panglima Tian Feng pun berkata, "Adik Wu Jing ... ,"
"Kenapa kau memandangku seperti itu kak?"
tanya Wu Jing sambil mengerutkan dahinya.
"Bisakah kau sembunyikan aura Dewamu?"
"Apa kau mau membuat para Dewa sesat itu mengetahui lokasi kita?" tanya panglima Tian Feng melalui telepati dengan tatapan kesal.
__ADS_1
"O iya, maaf kak. Aku lupa menyembunyikan aura Dewaku. Ngomong ngomong, kakak pertama memintaku kemari untuk menjemputmu. Dia terlihat kesal karena kau begitu lama dalam menjalankan perintah. Semua orang sudah menunggu di ruang singgasana, cepatlah sembuhkan mereka yang terluka lalu bawa semuanya ke ruang singgasana," sambung Wu Jing melalui telepati sambil menatap Panglima Tian Feng.
"Kakak kedua dan adik Wu Jing, siapa sebenarnya mereka?"
"Kekuatan mereka tak kalah mengerikan seperti Dewa Kera."
"Apakah mereka musuh atau teman. Ini benar benar membingungkan, semoga saja mereka bukanlah musuh," pikir Su Yan sambil memandang punggung panglima Tian Feng.
"Jangan khawatir, kami kemari untuk menyembuhkan semua yang terluka. Jadi minggirlah dan biarkan aku mengobati istrimu," ucap panglima Tian Feng sambil mimisan.
"Entah kenapa aku merasakan firasat buruk jika kubiarkan dia menyembuhkan Liang Su, aku harus mencari cara untuk menolaknya secara halus. Orang orang ini sangat kuat dan berbahaya, aku tak boleh menyinggung mereka. Sepertinya adik Wu Jing terlihat lebih meyakinkan dari pada orang yang berada digadapanku," pikir Su Yan dengan tangan yang terkepal.
"Tu ... tuan panglima, bisakah kau ... ," belum sempat Su Yan menyelesaikan kalimatnya, Panglima Tian Feng menghentikan ucapannya dengan berkata, "Iya aku mengerti, aku akan mengobati Jingmi dan Kaibo. Adik Wu Jing, sembuhkan istrinya untukku. Aku tak ingin dia berpikiran buruk terus karena melihat mimisan di hidungku," ucap Panglima Tian Feng sambil berjalan mendekati Jingmi dan Kaibo.
"Apa dia baru saja membaca pikiranku?"
pikir Su Yan sambil menatap punggung Panglima Tian Feng.
Wu Jing tak memerlukan pil untuk menyembuhkan luka Liang Su, alhasil Liang Su tak dapat menolak bantuan Wu Jing.Meski lukanya sembuh dalam sekejap berkat sinar emas yang keluar dari telapak tangan Wu Jing, tubuh Liang Su masih tak bisa di gerakkan karena dia sempat membca pikiran Liang Su yang mencoba ingin membunuh dirinya sendiri ketika tangannya bisa digerakkan.
Setelah mengobati semuanya, Wu Jing memimpin semua orang menuju ruang singgasana. Saat itu Kaibo dan Jingmi berjalan tepat di belakang panglima Tian Feng. Sedangkan Su Yan berada di posisi paling belakang sambil menggendong Liang Su yang terlihat kesal karena tak bisa melakukan apapun.
#Ruang Singgasana
Xiao Tian, Taiwu, raja Xiao Zhaoye, ratu Xiao Hong, beserta para jenderal utama termasuk jenderal Tailong berkumpul di ruang singgasana sambil duduk di kursi mereka masing masing. Di ruang tersebut mereka membahas penyerangan ke dimensi es sambil menyusun rencana penyerangan bersama Dewa Kera Wu Kong yang hadir di ruang tersebut.
"Sambil menunggu kedua adik seperguruanku, aku akan memulai membahas rencananya."
"Pertama, masuklah kembali ke tubuh fisikmu, Dewa Petir," ucap Wu Kong sambil mengeluarkan tubuh Dewa Petir dari dalam cincin ruangnya.
"De ... dewa Petir?"
"Maksudmu terdapat roh seorang Dewa yang lain disekitar sini?" tanya jenderal Taifeng sambil menatap Wu Kong.
"Sepertinya kau belum menceritakan semuanya secara rinci, tak masalah akan kubantu untuk menjelaskannya. Selama ini putra mahkota dari kerajaan petir, penguasa dari Dimensi es sekaligus raja dari ketiga bangsa siluman berada dalam bimbingan seorang Dewa yang biasa dipanggil dengan sebutan Dewa Petir."
"Selain karena ku latih saat itu, alasan dari perkembangan pangeran Xiao Tian tak luput dari bimbingan Dewa Petir."
"Saat ini rohnya berada disamping kanan tubuh pangeran Xiao Tian," jelas Wu Kong sambil menatap ke arah Xiao Tian.
"Kenapa kau membongkar semuanya kepada semua orang?" ucap Dewa Petir sambil mengerutkan dahinya.
"Tenanglah, ini semua kehendak Dewi Quan Im, Kaisar Langit pun sudah memberi ijin kepadaku. Lagipula jika dia melarangku, aku bisa melucuti pakaianya saat itu juga," ucap Wu Kong melalui telepati sambil menatap Dewa Petir.
Di ruang singgasana terdapat tiga kursi keluarga kerajaan, Xiao Tian duduk di sebelah kiri, raja Xiao Zhaoye duduk di kursi tengah, sedangkan ratu Xiao Hong duduk di sebelah kanan raja.
"Jangan banyak protes, kembali saja ke tubuhmu sekarang juga."
"Musuh kita saat ini adalah sekte iblis yang bekerja sama dengan tiga Dewa sesat. Meski ketiga bangsa siluman tingkat tinggi bekerja sama melawan musuh musuh kita ini, kita tak akan bisa menang dengan mudah," sambung Xiao Tian melalui telepati sambil melirik ke kanan.
"Iya aku tahu, kau tak perlu mengatakannya lagi," sambung Dewa Petir dengan tampang frustasinya.
Sejak keluar dari ruang hampa, Dewa Petir tak bersemangat seperti biasanya. Semua karena dia selalu gagal membujuk Dian Zheng kembali ke jalan yang benar. Dian Zheng terus menolak mengakui Dewa Petir sebagai ayah kandungnya dan terus mencoba membunuh dirinya sendiri dengan menahan napas begitu lama hingga pingsan beberapa kali.
Dia juga menolak makanan atau pil penahan lapar yang diberikan Dewa Petir untuknya. Menahan lapar agar cepat tewas,.tapi semua itu percuma karena dia dikaruniai umur panjang oleh Kaisar langit hingga bisa menahan lapar hingga ribuan tahun lamanya. Dia tak akan mati kecuali kepalanya dipenggal. Meski kaki, tangan bahkan jantungnya terbelah menjadi dua, dia akan kembali hidup dan beregenerasi dalam waktu sekejap mata.
Hidup abadi bisa dianggap sebagai anugrah bagi semua orang, tapi merupakan sebuah kutukan bagi Dian Zheng.
Awalnya dia pun mengganggap ini sebagai anugrah, karena dia bisa mengalahkan sekua musuhnya hanya dengan kemampuan ini.
Akan tetapi semua pikirannya berubah setelah mengalami kekalahan yang cukup memalukan, dikalahkan oleh seorang manusia tanpa perlawanan yang berarti menjadi beban pikiran yang begitu membuatnya frustasi. Dan hal yang paling membuatnya marah adalah melihat seorang ayah yang telah lama dia anggap tiada karena tak pernah mencarinya hingga puluhan tahun lamanya.
Meski telah menjelaskan bahwa ada yang memalsukan kematiannya, dia tak mau tahu dan terus menganggap bahwa ayah dan ibunya tak peduli padanya. Semua pikiran itu terbesit dalam pikirannya sejak terakhir kali bertemu dengan Dewi petir di kerajaan petir.
Dia yang awalnya masih berharap bahwa orang tuanya masih mengingatnya, menjadi sangat kecewa ketika mendengar bahwa ibunya sama sekali tak mengingatnya.
__ADS_1
"Dian Zheng, putraku ... ," ucap Dewa Petir dengan air mata yang mengalir di pipinya.