
Xiao Tian telah membuka portal menuju ruang hampa, semua bangsa siluman serta seluruh penghuni kerajaan memasuki portal itu tanpa ragu.
Tepat ketika semuanya telah masuk ke dalam portal ruang hampa, portal pun Xiao Tian tutup.
"Gulungan ini memang hanya bisa membawa maksimal lima orang saja. Tapi dengan di kombinasikan dengan ruang hampa, aku jadi bisa membawa semuanya secara bersamaan," pikir Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Ternyata kau bisa mikir juga ya?" ucap Dewa petir yang tiba tiba muncul tepat di belakang Xiao Tian.
"Sejak kapan kau ada di belakangku?" tanya Xiao Tian dengan tampang kesalnya.
"Aih, sayang sekali. Ternyata kau tak terkejut akan kemunculanku," ucap Dewa petir sambil menepuk pundak Xiao Tian.
"Jawab pertanyaanku, sejak kapan kau ada di belakangku?" tanya Xiao Tian dengan kesal.
"Sejak kau membuka portal ruang hampa tentunya. Oh iya, cepatlah pergi ke dimensi es. Aku sudah berpegangan padamu, cepat aktifkan gulungannya. Jangan buang buang waktu, atau kau ingin membuat semua orang menunggu?"
"Ingatlah satu jam disini sama dengan satu hari disana, kau mengerti?" sambung Dewa petir dengan tampang mengesalkannya.
"Iya iya, aku mengerti." Xiao Tian mengalirkan kekuatan qi nya ke dalam gulungan lalu disaat dia membuka gulungan tersebut, dia pun langsung menghilang dari tempatnya berdiri. Kemudian muncul di depan istana es yang berada dalam dimensi es.
Xiao Tian kembali membuka portal ruang hampa, lalu menyuruh para pria tua dan penduduk yang tak bisa mengikuti latihan untuk memperkuat diri keluar dari ruang hampa karena persediaan makanan akan terbuang percuma jika mereka berdiam diri di dalam portal ruang hampa.
"Siluman rubah putih bisa menyerang kapan saja, apakah kami harus menetap disini juga?" tanya para Lan Lu si raja siluman rusa.
"Kau ini bagaimana?"
"Kalau kau disini dan tak mengikuti latihan bersama yang lain, kau akan tertinggal jauh dan tak bisa melindungi bangsamu,"
sambung Xiao Tian melalui telepati.
"Tapi, bagaimana dengan rakyatmu ini?"
"Bukankah mereka jyga perlu dilindungi?" tanya Lan Lu melalui telepati.
"Benar juga ucapan Lan Lu. Tadinya kupikir tempat ini merupakan tempat teraman. Tapi gara gara siluman rubah sialan itu semuanya jadi berantakan," pikir Xiao Tian sambil meremas kepalanya karena merasa pusing dan tak tahu harus bagaimana.
"Haih, berhenti memikirkan hal kecil seperti itu. Apakah kau lupa kalau kau masih memiliki seorang Dewa di sampingmu?" tanya Dewa petir sambil menepuk pundak Xiao Tian.
"Karena kultivasimu belum mencapai ranah pendekar alam langit, aku tak bisa mengajarkan teknik ini padamu. Teknik ini juga tak dapat diaktifkan oleh sebuah roh tanpa raga. Karena itu, tak ada jalan lain selain membiarkanku untuk merasukimu."
"Sudah saatnya aku mengambil alih semua pekerjaanmu, selagi ada aku di sampingmu jangan pernah menanggung semuanya seorang diri. Oh iya, setelah aku mengaktifkan teknik pelindung .... ,"
"Jangan buru buru untuk mengambil kembali kendali atas tubuhmu itu. Karena aku harus mengembalikan kultivasi teman temanmu yang telah Wu Kong segel menggunakan jurusnya," jelas Dewa petir sambil menatap Xiao Tian.
"Baiklah, kalau begitu aku serahkan sisanya padamu," ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Kalau begitu, aku akan mulai merasukimu," ucap Dewa petir sambil menatap ke arah Xiao Tian.
Setelah Dewa petir merasuki Xiao Tian, dalam sekejap aura tubuhnya langsung berubah. Matanya pun membiru dan seperti biasa kultivasinya meningkat hingga empat puluh lapisan setiap kali dirasuki oleh Dewa petir.
Xiao Tian yang saat itu berada pada lapisan puncak pendekar alam roh naik tingkat hingga menjadi pendekar alam fana.
Secara berurutan, tingkatan kultivasi setelah Dewa Petarung adalah, pendekar alam ilusi, pendekar alam roh, pendekar alam Beast, pendekar alam mortal, pendekar alam naga, pendekar alam fana, pendekar alam angin, pendekar alam langit, pendekar alam peri, pendekar alam surga, pendekar alam immortal, hingga pendekar alam Dewa.
Lan Lu yang saat itu berdiri tepat dihadapan Xiao Tian langsung memahami bahwa yang ada di hadapannya saat ini bukan Xiao Tian lagi, melainkan pengawal pribadinya yang tak bisa dia lihat sama sekali ketika menjadi roh tanpa raga.
"Lama tak bertemu, Dewa petir," bisik Lan Lu sambil menatap mata Xiao Tian.
"Serahkan sisanya padaku. Kembalilah ke dalam portal dan beritahukan pada semua bangsa siluman. Kalau semuanya akan baik baik saja," jawab Dewa petir sambil tersenyum tipis.
"Kalau begitu, aku pamit undur diri," ucap Lan Lu sambil berjalan kembali menuju portal ruang hampa.
"Putra mahkota, kenapa matamu berubah membiru?"
"Apakah tempat ini benar benar aman?"
"Bagaimana dengan makanan disini?"
"Apakah bisa dimakan?"
__ADS_1
"Disini sangat dingin, dan istana itu terbuat dari es. Apakah kami sanggup bernaung disana?" tanya para penduduk sambil menatap Xiao Tian.
"Ssstttt, jangan banyak bertanya. Jika kalian percaya padaku, cukup dengarkan aku. Mengerti?" tanya Xiao Tian sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri.
Semua penduduk menutup mulut mereka rapat rapat, lalu menganggukkan kepala mereka sebagai isyarat bahwa mereka telah mengerti.
Ketika semuanya sudah tenang, Xiao Tian yang sedang dirasuki Dewa petir langsung melompat terbang ke atas istana es. Sambil merapalkan beberapa mantra yang tak dimengerti manusia, dia melempar enam jarum perak berlapis racun mematikan yang sempat Xiao Tian rampas dari bawahan Xian Yun.
Jarum jarum tersebut di lempar terpisah ke segala arah hingga membentuk pola segi enam. Dengan tubuhnya yang dijadikan sebagai pusatnya.
Ketika polanya mulai terlihat sebuah cahaya perak membentuk segi enam terpancar keluar dari daratan hingga menembus awan. Kemudian sinar itu langsung menghilang tanpa jejak seakan tak terjadi apa apa.
Tepat ketika sinar itu menghilang, rasa dingin yang sebelumnya dirasakan oleh para penduduk berubah menjadi perasaan hangat yang cukup nyaman.
"Apakah anda baru saja merubah suhu dimensi ini, putra mahkota?" tanya salah satu pria tua.
"Aku tak merubah seluruh dimensi, tapi hanya merubah suhu di dalam array pelindungku saja. Apapun yang terjadi, jangan pernah lewati garis pembatas array pelindung. Karena array ini berlapis racun mematikan. Siapapun yang berani melewati pembatas array baik dari dalam atau pun dari luar, maka mereka pasti akan terkena racunnya. Apa kalian mengerti?" tanya Xiao Tian sambil menatap semua penduduk.
"Kami mengerti putra mahkota," ucap para penduduk sambil memberi hormat.
"Untuk urusan makanan, di belakang istana es terdapat banyak pohon buah buahan. Dan juga di dalam cincin ruang kalian pun sudah cukup untuk bekal satu bulan. Jangan khawatir, dalam waktu satu bulan kita pasti sudah cukup kuat untuk melawan balik. Selagi kami berjuang untuk memperkuat diri, menetaplah disini dan jangan tinggalkan tempat ini, kalian mengerti?" tanya Xiao Tian sambil menatap tajam para penduduk.
"Kami mengerti, putra mahkota," ucap para penduduk sambil memberi hormat.
Setelah seledai menasehati penduduk, Xiao Tian yang saat itu masih dalam kendali Dewa petir kembali masuk ke dalam portal ruang hampa menyusul Lan Lu dan para siluman lainnya.
#Ruang Hampa
"Hormat kami, maha guru," ucap para siluman sambil memberi hormat.
"Kenapa mereka memanggil Xiao Tian dengan sebutan lain?" pikir ratu Xiao Hong sambil mengerutkan dahinya.
"Hormat kami tuan Xiao Tian," ucap para roh iblis sambil memberi hormat.
"Cih, kupikir kau tak akan kembali," ucap Dian Zheng sambil memasang wajah kesalnya.
Melihat penyelamat sekaligus suaminya di pukul hingga pingsan, Liang Su pun langsung menyerang balik Xiao Tian dengan sekuat tenaga.
Namun, Xiao Tian menangkis serangannya dengan mudah karena memang saat itu Liang Su hanya memiliki tenaga manusia biasa.
Sambil menangkap tangannya, dia pun berkata, "Tenanglah, aku tak bermaksud melukai suamimu. Aku hanya membuatnya pingsan karena hampir mengatakan apa yang tak boleh dia katakan,"
"Apa maksudmu?"
"Dia hanya memanggilmu dengan sebutan Dewa, tapi kau menyerangnya tanpa sebab yang jelas," jawab Liang Su dengan tampang kesalnya.
"Kenapa kau begitu membela Su Yan, apakah kau sudah mulai menyukainya?" tanya Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"I ... itu tidak mungkin. Aku hanya ingin membalas kebaikannya, karena telah menghajar para roh iblis sialan yang berani macam macam denganku!" ucap Liang Su sambil menatap ke arah lain karena tak ingin menatap mata Xiao Tian. Terlihat jelas kalau dia sedang tersipu malu karena sedang menyembunyikan perasaannya.
#Beberapa jam sebelum raja Xiao Zhaoye dan yang lainnya masuk ke dalam portal ruang hampa
Liang Su tersadar dari pingsannya, dan saat dia baru tersadar dia melihat roh iblis ular sedang mengendus endus perutnya.
Roh iblis ular begitu tertarik dengan keturunan siluman serigala suci yang berada di perut Liang Su dan tak bisa menahan diri untuk mengendusnya.
Liang Su yang saat itu melihat tingkah aneh roh iblis langsung berteriak begitu kencang hingga membuat semua orang termasuk Su Yan tersadar.
"Kyaaa!"
"Apa yang kau inginkan dariku!" teriak Liang Su.
"Dimana aku?" pikir jenderal Huang Cheng.
"Roh iblis, aku ingat sekarang. Mereka terus menakuti kami setiap kali baru tersadar hingga membuatku pingsan karena mereka selalu muncul tepat di depan mata setiap kali aku baru membuka mata," pikir salah satu prajurit bayangan ratu Xiao Hong dengan pakaian yang terlihat bagai ninja dengan tangan dan kaki yang terikat kencang oleh rantai perak milik para roh iblis.
"Jangan berteriak nona, aku hanya mengendus bau bayimu. Tak ada niatan lain selain itu. Lagi pula kau memiliki sedikit bau ular di tubuhmu, mana mungkin aku memakan sebangsaku," jawab roh iblis ular sambil mengendus perut Liang Su.
"Menyingkur dari perutnya, iblis jelek?" ucap Su Yan dengan mata emasnya.
__ADS_1
Rantai perak yang mengikatnya langsung hancur, dan lima buah ekor emas muncul tepat di belakang punggungnya. Aura emas disertai tekanan hebat terpancar keluar dari tubuhnya, salah satu ekornya langsung memukul mundur roh iblis ular hingga terpental begitu jauh.
"Aku tak mau tahu siapa dan apa yang sedang kalian lakukan. Siapapun yang berani mengganggu istriku maka akan kuhabisi saat ini juga," ucap Su Yan sambil mengeluarkan hawa membunuh.
"Tu ... tunggu pendekar, medusa tak bermaksud mengganggu istrimu. Dia hanya mengendus perutnya tidak lebih dari itu. Lagipula dia adalah seorang wanita, tidak bagus bagi seorang pendekar tangguh sepertimu menganiaya seorang wanita bukan?" tanya roh iblis buaya sambil mencoba menghalangi Su Yan agar tak menghancurkan roh medusa.
"Wanita katamu?"
"Dia tak lebih dari seorang roh iblis belaka," ucap Su Yan sambil menghajar mundur roh iblis buaya dengan salah satu ekor emasnya.
"Uhuk uhuk, bukankah istrimu pun sama saja?"
"Dia dan medusa tak ada bedanya sama sekali. Jika istrimu menjadi roh maka dia tak akan terlihat seperti sekarang," jawab roh iblis buaya sambil terbatuk batuk menahan rasa sakit.
"Apakah dia Su Yan?"
"Sejak kapan dia sekuat ini?"
"Tingkatan kultivasinya telah mencapai pendekar alam ilusi lapisan puncak. Ini benar benar membuatku merasa seperti orang tua yang gagal. Karena masih bertahan di tingkat setengah Dewa petarung lapisan pertama," pikir jenderal Huang Cheng sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Apa dia baru saja melindungiku sebagai seorang suami?"
"Entah mengapa saat ini aku merasa kalau dia bisa diandalkan. Tidak seperti sebelumnya," pikir Liang Su sambil tersipu malu.
"Apa aku baru menyebut Liang Su sebagai istriku?"
"Dan mengamuk hanya karena hal sepele?"
"Mustahil!"
"Seharusnya hanya sisi lemahku yang menyukainya. Kenapa aku jadi ikut ikutan merasakan hal aneh ini?"
"Tidak!"
"Aku tak boleh membiarkan perasaan ini terus berkembang. Jangan sampai aku melupakan dendamku terhadap kerajaan Api. Aku harus berhenti mengamuk, jika tidak Liang Su akan berpikir kalau aku begitu mencintainya," pikir Su Yan sambil menghela napas.
"Kau benar, Liang Su mungkin sama seperti medusa. Namun bedanya dia telah menjadi istriku. Sebelum aku berubah pikiran, pergilah dari sini dan jangan pernah menunjukkan wajah kalian lagi!" bentak Su Yan melalui telepati.
"Ba ... baik!" ucap roh iblis buaya sambil pergi membawa pergi medusa, dan diikuti oleh roh roh iblis lain yang juga ikut pergi karena takut menjadi sasaran amarah Su Yan.
#Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Dian Zheng luluh kembali hingga mau berbicara dengan Dewa petir lagi.
Tepat ketika mereka baru berbaikan, para roh iblis datang dengan tampang ketakutan menuju ke hadapan Dian Zheng.
"Guru, kenapa kau tak memberi tahu kami kalau di antara teman tuan Xiao Tian ada orang yang tak boleh di ganggu?"
"Apakah kau tahu guru?"
"Roh sekelas medusa pun, hampir dihancurkan olehnya. Jika aku tak memohon padanya, mungkin medusa sudah hancur saat ini," ucap roh iblis buaya dengan tampang paniknya.
"Bagaimana bisa kalian menghadapi hal sulit seperti itu?"
"Aku kan hanya menyuruh kalian menyapa dengan ramah, jangan bilang kalau cara kalian menyapa terlalu kelewatan," sambung Dian Zheng dengan dahi yang dikerutkan.
"Ka ... kami melakukan sesuai anjuran guru kok, benarkan kawan kawan?" ucap roh iblis buaya sambil menatap ke arah roh iblis lain.
"Bisakah ayah bacakan pikiran mereka untukku?" tanya Dian Zheng melalui telepati.
"Dengan senang hati, putraku," jawab Dewa petir melalui telepati.
"Aku sudah membaca seluruh pikiran mereka, sebenarnya mereka melakukan ... ," Dewa petir membisikkan seluruh kelakuan roh iblis yang melanggar ajaran Dian Zheng.
Setelah mendengar cara salah para roh iblis untuk belajar menyapa manusia, Dian Zheng langsung marah besar dan langsung menghukum mereka dengan setruman listrik yang cukup membuat mereka kesakitan.
"A ... ampun guru!" teriak para roh iblis sambil menahan rasa sakit karena disetrum berkali kali.
"Aku akan mengampuni kalian, setelah kalian meminta maaf kepada Su Yan dan semua orang yang kalian sandera. Tenang saja, aku akan mendampingi kalian agar Su Yan tak menghabisi kalian disaat dia melihat kalian lagi," ucap Dian Zheng sambil menatap murid muridnya.
"Baik guru," ucap para roh iblis sambil memberi hormat.
__ADS_1