
Xianlun dan Xiang Ying langsung mempraktekkan teknik yang telah mereka pelajari, sedangkan Xia Ning hanya bisa menonton mereka karena dia tak memiliki tungku untuk digunakan saat ini.
Xiang Ying dab Xianlun memusatkan kekuatan jiwa di telapak kanan mereka, lalu membaca mantra yang tertulis di dalam gulungan untuk menaikkan tingkat kualitas tungku. Setelah dirasa kekuatan jiwa di telapak tangan kanan mereka sudah cukup, mereka langsung menepuk tungku milik mereka dengan tangan kanan secara bersamaan.
Dalam sekali coba, mereka pun berhasil meningkatkan kualitas tungku hingga ke tingkat lima. Namun karena belum terbiasa dengan teknik tersebut, dan belum sepenuhnya menguasai kontrol kekuatan jiwa. Mereka pun kehabisan kekuatan jiwa hingga hampir jatuh dengan napas yang terengah engah.
"Apakah kalian masih bisa lanjut?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Ka ... kami masih bisa," ucap Xiang Ying dan Xianlun sambil menelan pil pemulih kekuatan jiwa tingkat dua yang mereka keluarkan dari dalam cincin ruang.
"Sepertinya kalian belum bisa mengontrol keluatan jiwa dengan benar. Apakah metodeku terlalu sulit dipahami?"
"Ingatlah bahwa kalian adalah seorang tetua dari cabang alkemis, jika kalian saja seperti ini bagaimana murid kalian bisa menjadi alkemis tingkat tinggi?"
"Pil tingkat dua tak akan bisa mengembalikan seluruh kekuatan kalian, perlu puluhan pil tingkat dua untuk menstabilkan kekuatan jiwa yang bisa kalian habiskan dalam setengah jalan meracik pil tingkat lima."
"Semua ini terjadi karena kontrol kalian dalam kekuatan jiwa sangatlah kurang, sebagai seorang patriach aku tak bisa menerima ini. Pantas saja murid kalian tak pernah memenangkan cabang alkemis, kalian saja belum bisa melebihi ekspektasiku," ucap Xiao Tian sambil menatap tajam kedua tetua.
"Ampun Patriach, metode anda memang luar biasa. Kami memang memahami cara kerjanya, hanya saja tubuh kami masih belum terbiasa dengan metode tersebut," ucap Xianlun sembil menundukkan kepala.
"Dengan kemampuan kaliam saat ini, kalian hanya bisa membuat pil tingkat tiga dengan efektifitas 99%. Sedangkan aku memerlukan pil tingkat lima dengan efektifitas lebih dari seratus persen. Apa kalian tahu alasanku mengumpulkan semua murid cabang alkemis dengan murid cabang petarung?"
"Semua kulakukan demi meningkatkan kekuatan dua buah cabang hingga layak bersaing dengan sekte lain di turnamen besok. Dimana para petarung akan menelan pil yang kalian racik, dan menerobos sebanyak mungkin dengan metode yang bisa menyakiti mereka. Semakin besar efektifitas dan tingkat pil yang mereka telan, maka semakin kecil rasa sakit yang akan mereka alami. Dan pil yang harus kalian racik adalah pil pemulih jiwa yang berbahan dasar rumput pelangi, gingseng ungu dan daun pencakar langit. Apakah kalian bisa menyanggupi permintaanku ini?" tanya Xiao Tian sambil menatap tajam para tetua.
"Ampun patriach, hamba tak memiliki ketiga bahan tersebut," ucap Xianlun sambil memberi hormat.
"Ketiga bahan tersebut memang sangat mudah ditemukan dan begitu melimpah di kebun herbal kami, tapi saat ini hamba tak membawanya karena memang sebelumnya tak ada yang mengetahui potensi dari bahan herbal tersebut. Bahkan kami menganggap ketiga bahan tersebut sebagai benalu karena begitu sulit dilebur dengan bahan lain," ucap Xiang Ying sambil memberi hormat.
"Hamba juga tak membawa bahan yang anda sebutkan tadi, semua karena memang kami tak pernah menggunakannya," ucap Xia Ning sambil memberi hormat.
"Haih, kalau begitu suruh setengah muridmu untuk mengambil bahan tersebut sebanyak mungkin. Dan sisanya tetap disini untuk membantu memulihkan kekuatanjkwa Xianlun dan Xiang Ying," ucap Xiao Tian sambil menghela napas.
"Baik patriach," ucap Xianlun dan kedua tetua sambil memberi hormat.
"Apa kalian dengar?"
"Pergilah dan lakukan apa yang diperintahkan!" ucap Xia Ning sambil menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Baik guru!" ucap para murid sambil memberi hormat.
"Aku tak peduli siapapun yang pergi sekarang, yang penting setengah dari kalian harus pergi untuk mengambil bahan yang disebutkan tadi. Tak perlu ditunjuk bagi yang mau cepatlah pergi!" ucap Xiang Ying sambil menatap murid muridnya.
"Tian Ling, kau satu satunya muridku. Pergilah dan ikuti mereka demi diriku," ucap Xianlun sambil menatap Tian Ling.
"Baik guru," ucap Tian Ling sambil memberi hormat.
"Untuk Tian Ling dan kedua murid yang mengikuti demonstrasi sebelumnya, tetaplah disini. Kalian adalah murid terbaik dari tiga tetua. Sangat penting bagi kalian untuk mengasah kemampuan hingga hari berganti," ucap Xiao Tian sambil menatap ke arah Xianlun.
"Ampun patriach, bila boleh tahu latihan macam apa yang harus kami jalani?"
"Sedangkan disini hanya ada dua buah tungku saja. Bisakah kami berlatih bersama hingga fajar nanti?" tanya Tian Ling sambil memberi hormat.
"Mundurlah!" ucap Xiao Tian sambil menyipitkan matanya.
"Baik, Patriach," ucap Tian Ling sambil melangkah mundur.
"Ini bukan hanya untuk Tian Ling saja, aku meminta kalian semua mundur hingga berjarak lebih dari dua puluh kaki dari tungku. Aku akan menggambar susunan sihir yang bisa berguna untuk semua orang," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
Ketika semua orang mundur, Xia Hu dan teman temannya kembali sambil membawa tungku Xia Ning yang mereka simpan di dalam cincin ruang.
"Baik Patriach," ucap Xia Hu sambil mengeluarkan tungku milik Xia Ning.
Tungku tersebut sudah ada dalam posisinya, meski masih terlihat rusak Xiao Tian masih bisa memperbaiki tungku tersebut dengan segenap kekuatan jiwa yang masih tersisa di dalam tubuhnya. Dalam sekali tepuk sambil membaca mantra di dalam hati, tungku tersebut kembali normal hingga membuat semua orang terkejut.
"Ini adalah teknik yang menguras begitu banyak kekuatan jiwa, berbeda dengan teknik saat di demonstrasi sebelumnya. Teknik yang baru saja ku praktekkan begitu menguras banyak tenaga, namun efeknya permanen hingga bisa membuat tungku ini menjadi terlihat baru. Sekarang kekuatan jiwaku hanya tersisa satu sama seperti Xianlun dan Xiang Ying, jika aku menggunakannya lagi aku pasti akan pingsan," pikir Xiao Tian dengan napas terengah engah.
"Xia Ning, sekarang tungkunya sudah aku perbaiki. Cepat praktekkan metode peningkatan kualitas tungku sekarang juga!" ucap Xiao Tian dengan napas terengah engah.
"Baik Patriach," ucap Xia Ning sambil melangkah maju mendekati tungkunya.
Xia Ning mempraktekkan apa yang kedua tetua praktekkan sebelumnya, namun hasilnya cukup mengejutkan Xiao Tian karena dia berhasil meningkatkan tungku dengan kekuatan jiwa yang cukup sedikit.
"Benar benar diluar ekspektasiku, kau berhasil Xia Ning!"
"Aku bangga padamu," ucap Xiao Tian sambil tersenyum.
__ADS_1
"Berhasil dalam sekali coba, Xia Ning benar benar berbakat. Aku harus meminta saran kepadanya," pikir Xiang Ying sambil menatap ke arah Xia Ning.
"Terimakasih atas pujiannya patriach," ucap Xia Ning sambil memberi hormat.
"Baiklah, karena semua tungku sudah berada di tingkat lima. Kau mundurlah, untuk sementara. Aku ingin menggambar sebuah pola yang sangat berfungsi untuk melatih kontrol kekuatan jiwa murid murid alkemis," ucap Xiao Tian sambil menatap mata Xia Ning.
"Baik, patriach," ucap Xia Ning sambil memberi hormat.
Setelah semua orang menyingkir dari daerah sekitar tungku, Xiao Tian menggambar tiga buah lingkaran yang dibuat secara terpisah di dekat tempat setiap tungku. Ditengah pola lingkaran tersebut terdapat lambang bintang enam dengan dengan lingkaran kecil yang berada di tengah bintang tersebut.
Disetiap garis temu pola pola tersebut Xiao Tian menyuruh para murid berdiri disetiap sudut garis temu yang totalnya ada dua belas. Dan menyuruh ketiga tetua berdiri di tengah lingkaran kecil tersebut.
Sedangkan Xianlun terpaksa meminjam murid dari kedua tetua untuk menjalankan susunan tersebut. Awalnya Xiang Ying dan Xia Ning memang berselisih dengan Xianlun, tapi karena Xiao Tian yang meminta mereka untuk meminjamkan murid, merekapun menuruti hal tersebut karena tak ingin menyinggung orang yang mereka anggap sebagai patriach Tian Zong.
Setelah berada dalam posisi masing masing, Xiao Tian menyuruh para murid untuk duduk bersila sambil mengacungkan telunjuk tangan mereka. Kemudian memusatkan kekuatan jiwa untuk dialirkan ke dalam susunan tersebut. Sedangkan para tetua disuruh tetap berdiri dan konsentrasi terhadap tungku mereka.
Sambil menunggu bahan yang diperlukan, Xiao Tian menyuruh mereka meracik pil lain yang ada di dalam resep. Sebelum menyuruh mereka meracik pil, Xiao Tian bertanya pada mereka bahan mana saja yang mereka bawa.
Setelah mengetahui jawabannya, Xiao Tian menyiruh mereka meracik pil pemulih jiwa sesuai dengan resep yang ada di gulungan.
Terdapat berbagai macam resep yang Xiao Tian tulis sebelumnya, dan semua resep tersebut memiliki fungsi yang sama yaitu untuk memulihkan kekuatan jiwa.
Meski memiliki efek yang sama dan tak sesulit meracik ketiga bahan abnormal yang sulit dilebur, Xiao Tian tak merekomendasikan bahan lain karena memang bahan lain cukup langka dan sulit ditemukan di daratan Xian Yun.
Oleh karena itu, sejak awal Xiao Tian meminta mereka meracik pil yang cukup sulit diracik bagi para pemula. Namun karena bahan yang diperlukan belum ada, Xiao Tian terpaksa menyuruh para tetua menggunakan bahan yang cuku langka tersebut.
Meracik sebuah pil tingkat lima memerlukan kontrol kekuatan jiwa yang besar, dan jumlah kekuatan jiwa yang harus dimiliki setidaknya harus mencapai angka delapan ratus keatas.
Sedangkan saat itu selain Xia Ning, kedua tetua hanya memiliki kekuatan jiwa di angka satu saja. Semua karena kekuatan jiwa mereka telah terkuras habis saat menaikkan kualitas tungku sebelumnya.
Demi menaikkan kekuatan jiwa para tetua Xiao Tian mengaktifkan formasi susunan bintang enam yang dia gambar di dekat tungku. Dengan para tetua sebagai pusatnya dan para murid sebagai sumber kekuatan mereka, kekuatan jiwa Xiang Yong dan Xianlun pulih dalam sekejap mata. Xia Ning yang sejak awal masih memiliki kekuatan jiwa, mendapatkan energi yang luar biasa hingga bisa meracik pil lebih cepat dari kedua tetua yang lain.
Dengan efektifitas pil yang mencapai angka seratus lima puluh persen, Xia Ning mendapatkan pujian dari Xiao Tian hingga membuatnya menjadi begitu senang.
"Kau memang berbakat, tapi jangan berpuas diri dahulu. Karena kau tak boleh berhenti berlatih hingga bisa meracik pil tingkat lima dengan efektifitas dua ratus persen. Jadi sebelum hal ini tercapai, jangan berhenti berlatih, mengerti?" ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Hamba mengerti, Patriach," ucap Xia Ning sambil memberi hormat.
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan Xiao Tian, para tetua beserta murid yang ada dalam tiga buah sususan formasi bintang enam meracik pil sebanyak mungkin sambil menunggu bahan yang mereka perlukan tiba.