Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 306 : Mengulang kembali


__ADS_3

"Sialan, kenapa ini harus terjadi?"


"Padahal sedikit lagi aku akan mendapatkan informasi tentang api suci yang hanya diketahui oleh Liang Ting. Padahal jika dia tak ikut campur, Dewa petir pasti akan membaca dan menyalin pikirannya untukku. Tak hanya itu, dia juga berpikir bahwa aku akan mengabaikan Tian Bai. Padahal aku telah bekerja sama dengan Dewa petir untuk menghajar wanita gila itu setelah urusannya selesai. Jika dia tak muncul, semuanya tak akan jadi seperti ini."


"Arghhh!"


"Menyebalkan!" teriak Xiao Tian dengan tampang kesal.


Tak lama setelah pria tua itu pergi dan ketika Xiao Tian masih mengeluh, prajurit Xianlun berkumpul untuk mengepungnya.


Namun Xiao Tian menghilang dari pandangan mereka dengan mengaktifkan teknik teleportasi.


Karena sudah tahu bahwa obat yang dia perlukan ada di dalam celah neraka, Xiao Tian lamgsung berteleportasi ke tempat tersebut. Lalu menghajar seluruh penjaga yang menghalanginya.


#Wilayah terlarang


#Sekte badai berduri


"Mau kemana kau?"


"Tempat itu sangat beracun, apakah kau ingin memasuki hutan beracun itu?" ucap Dewa petir dengan tampang bingung.


"Tidak, aku terlalu lemah karena luka dalamku saat ini. Sunlong yang akan menggantikanku kesana," jawab Xiao Tian dengan tampang serius.


"Hei kenapa bawa bawa aku!" teriak Sunlong sambil keluar dari cincin ruang Xiao Tian.


"Pergilah ke pusat asap beracun, jurang terdalam yang disebut sebagai celah neraka. Disana ada teman lamamu, minta dia agar membawakan kotak merah berisi bahan herbal milik Patriach Bai. Kalau kau yang memintanya dia pasti akan memberikannya tanpa banyak tanya," ucap Xiao Tian melalui telepati.


"Teman lama?"


"Siapa maksudmu?" tanya Sunlong dengan tampang bingung.


"Yuan er, si beast ular hijau," ucap Xiao Tian sambil menoleh ke arah Sunlong.


"Apa kau tak berbohong padaku?"


"Dia bernasib malang sama sepertiku, seluruh keluarganya dibantai habis karena dianggap berbahaya. Padahal dia dan keluarganya hanya memakan hewan liar dan tak pernah mengganggu manusia, jika bukan karena ku tolong dulu dia mungkin akan dihabisi oleh para pemburu. Saat itu dia begitu membenci manusia, namun aku mencoba meyakinkannya agar tak membenci seluruhnya. Karena tak semua manusia jahat dan tak bermoral."


#Ribuan tahun lalu awal pertemuan Sunlong dan Yuan er


Kerumunan pedagang yang terpaksa memutari hutan demi menghindari para bandit. Namun tanpa diduga ternyata di dalam hutan yang dianggap damai tersebut muncul kerumunan Beast harimau yang haus darah. Yuan er dan keluarganya memangsa beast beast itu untuk melindungi para manusia, namun bukannya berterimakasih mereka malah melaporkan hal ini kepada sekte pembasmi iblis hanya karena sadar bahwa beast beast ular tersebut berpotensi untuk berevolusi menjadi bangsa siluman. Saat malam mulai datang sekte pembasmi iblis langsung memulai aksi mereka. Tanpa belas kasihan mereka membantai habis semua Beast ular di hutan tersebut.

__ADS_1


Yuan er yang saat itu merupakan salah satu dari tetua Beast ular, mencoba melawan sekaligus melindungi keluarganya, namun semua sia sia karena musuh yang dia hadapi memiliki kultivasi jauh di atasnya.


Saat pembantaian hampir selesai, Sunlong yang sedang berjalan jalan sambil terbang di malam hari tak sengaja mendengar teriakan minta tolong dari seekor Beast dalam bahasa ular. Tanpa basa basi dia langsung melesat cepat ke sumber suara. Lalu memukul mundur semua pembasmi iblis hingga terluka cukup parah.


Saat itu dia masih terlalu naif sehingga tak sanggup membunuh para pembasmi iblis itu, dia pikir mereka tak akan berani balas dendam saat sadar bahwa lawan mereka adalah seorang Kaisar iblis terkuat yang sudah berada di ranah para Dewa.


Satu satunya Kaisar iblis yang masih hidup bebas dan tak pernah terlihat sebelumnya.


Meski telah Sunlong tolong, Yuan er masih sangat trauma terhadap manusia. Sunlong mencoba banyak hal agar Yuan er mau meneruskan hidupnya dan melupakan soal tramanya itu. Hingga akhirnya mereka pun semakin akrab dan berteman baik.


Namun siapa sangka, pertemanan mereka hanya berlangsung cukup singkat. Semua karena Sunlong membawa pulang seorang manusia setelah berkeliling di malam hari.


Meski manusia itu terlihat terluka dan tak berbahaya, Yuan er begitu membenci manusia itu. Hingga memilih untuk pergi menjauhi Sunlong karena tak mau meninggalkan manusia itu.


Yuan er memang lergi menjauh, tapi Sunlong telah menandainya hingga bisa mengetahui kondisinya meski mereka berpisah cukup jauh. Sunlong sangat penasaran dengan manusia, dia mencoba berteman dengan pria yang dia tolong untuk memperbaiki reputasi iblis. Namun siapa sangka ternyata pria itulah yang menjadi akhir dari penyebab kematian Sunlong dan seluruh keluarganya. Dia juga kehilangan kemampuan untuk melacak Yuan er karena sudah tak memiliki tubuh lagi.


Meski sudah dihabisi, orang tersebut mencegah bawahannya membunuh Sunlong. Semua dia lakukan hanya untuk kesenangan. Sekaligus ingin melihat bagaimana seorang Kaisar iblis yang telah kehilangan tubuh membalaskan dendamnya.


Walau dibiarkan hidup dalam bentuk roh, Sumlong tak bersyukur sama sekali. Dia bersumpah untuk mencari cara untuk mendapatkan tubuh kembali dan akan membalaskan dendam seluruh keluarganya.


Jika dia tak mengenal Xiao Tian, Sunlong pasti membenci manusia untuk selamanya dan akan menghancurkan peradaban manusia saat kekuatannya telah kembali.


####


Masa sekarang


"Bukankah sudah kubilang untuk mencobanya dari awal?" tanya Tian Zong yang muncul dari dalam wilayah terlarang.


"Aku mengalami luka dalam. Jika aku tak menyembuhkannya sekarang, bagaimana caraku membuat sekte ini menang turnamen!" bentak Xiao Tian dengan kesal.


"Latihlah para murid dari cabang alkemis dan cabang petarung. Buat mereka menjadi pemenang dan cegah perselisihan antar sekte," ucap Tian Zong sambil menatap tajam mata Xiao Tian.


"Bagaimana jika aku menolak?" tanya Xiao Tian dengan tampang kesal.


"Aku akan mereset semuanya ke titik awal kita bertemu," ucap Tian Zong sambil tersenyum tipis.


"Dasar pria tua sialan," pikir Xiao Tian sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Baiklah aku akan mengikuti permainanmu, tapi katakan dulu padaku bagaimana caraku untuk mendapatkan koneksi agar bisa masuk ke dalam sekte dan mengajar murid dari dua buah cabang yang berbeda?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Kau bisa merubah wajahku kan?" tanya Tian Zong sambil mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Bisa sih, tapi ... ," ucap Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Tak perlu ada kata tapi!"


"Pergilah dari sini dan jangan datang kemari lagi!"


"Karena bahan yang kau incar, akan terus kubawa hingga kau sukses nanti," ucap Tian Zong sambil tersenyum tipis.


"Kalau begitu semoga sukses!" ucap Tian Zong sambil menghilang dari pandangan Xiao Tian.


"Sialan!"


"Dia benar benar menguji kesabaranku!" ucap Xiao Tian dengan kesal.


"Siapa dia?" tanya Dewa petir dengan tampang bingung.


"Ngomong ngomong dimana Sunlong?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


Bukk


Woooshhh


Sunlong terlempar keluar dari dalam wilayah terlarang seperti habis dipukul seseorang, hingga menabrak Dewa petir yang masih terlihat bingung.


Duakkk


"Aduh!"


"Apa maksudmu menabrakku!"


"Dasar kadal kampret!" teriak Dewa petir dengan kesal.


"Yuan er, kenapa kau tak mengenaliku lagi?" pikir Sunlong dengan tampang sedih.


"Hei, kenapa kau malah menangis?" ucap Dewa petir dengan tampang bingung.


"Kalian nerdua kembalilah ke dalam cincin ruangku. Waktuku sangat mendesak saat ini, jadi jangan banyak tanya dan ikuti saja aku," ucap Xiao Tian sambil merubah wajahnya hingga mirip dengan Tian Zong.


Xiao Tian berjalan menuju tempat Patriach Bai dengan wajah yang mirip dengan orang yang telah lama dianggap hilang oleh sekte tersebut. Orang yang menjabat sebagai Patriach sebelum Tian Bai tiba sebelumnya.


Semua mata tertuju padanya karena merasa tak asing dengan wajah tersebut. Awalnya tak ada yang menyadari wajah siapa itu, namun saat sudah berada di lingkungan para petarung. Semua orang langsung mengenali wajahnya, terutama tetua Xia Meng dan murid muridnya yang langsung membungkuk sambil berkata, "Selamat datang kembali, Patriach Tian Zong."

__ADS_1


__ADS_2