Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 322 : Memenuhi janji


__ADS_3

Dua hari di dalam ruang hampa telah berlalu, tiba saatnya Xiao Tian menemui para alkemis dan petarung dari sekte badai berduri.


Saat itu Sunlong telah menerobos hingga menjadi petarung emas bintang lima.


Tingkatan terendah dibawah Dewa petarung adalah Petarung, Petarung perunggu, Petarung perak, Petarung emas, Petarung elit, Master petarung, Grand master petarung, Jenderal Petarung, Raja petarung, Kaisar petarung, Petarung legenda, petarung setengah dewa.


Secara berurutan, tingkatan kultivasi setelah Dewa Petarung adalah, pendekar alam ilusi, pendekar alam roh, pendekar alam Beast, pendekar alam mortal, pendekar alam naga, pendekar alam fana, pendekar alam angin, pendekar alam langit, pendekar alam peri, pendekar alam surga, pendekar alam immortal, hingga pendekar alam Dewa.


Meski telah kembali bisa berkultivasi berkat teknik baru Xiao Tian, Sunlong belum puas karena perbedaan kekuatannya dengan orang orang lain sangatlah jauh.


"Dengan kecepatan kuktivasiku saat ini, aku tak akan bisa mengejar Xiao Tian dan yang lainnya," pikir Sunlong dengan tampang kesal.


"Sudahlah, jangan terlalu diambil pusing. Perlahan tapi pasti aku akan membuatmu mengejar yang lainnya," ucap Xiao Tian sambil menatap Sunlong.


###


"Oh iya bukankah sekarang sudah waktunya kembali?"


"Jangan sampai Tian Zhong mengulang semuanya karena berpikir kalau kau melarikan diri," ucap Dewa petir sambil menepuk pundak Xiao Tian.


"Setelah kupikir pikir, bukankah relik miliknya merupakan relik yang cukup kuat?"


"Kenapa dia memilih bersembunyi?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Kekuatan relik tidak berguna di hadapan beberapa orang, itulah alasan dia bersembunyi. Di dunia ini terdapat begitu banyak teknik dan pusaka yang belum kau ketahui. Seperti halnya tombak emas milik jenderal iblis yang pernah kau kalahkan dulu."


"Di dunia ini terdapat beberapa pusaka buatan yang bisa menetralkan kekuatan relik. Selain itu, ada juga beberapa orang yang bisa mengembangkan teknik penetral relik tanpa sebuah senjata. Sama seperti yang Tian Zhong praktekkan pada punggungmu waktu itu," jelas Dewa petir sambil menatap mata Xiao Tian.


"Aku mengerti maksudmu, tapi bukankah kultivasi Tian Zong sudah cukup untuk melindungi dirinya?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Bukankah kasusnya sama sepertimu?"


"Alasan hanya satu," ucap Dewa petir sambil menatap Xiao Tian.


"Melindungi orang orang yang disayangi," ucap Xiao Tian sambil menundukkan kepala.


####


Xiao Tian berteleportasi ke dalam array naga ilusi, dan disambut oleh para murid cabang petarung.


"Salam patriach," ucap Xia Hu sambil memberi hormat.


"Hormat kami, Patriach Tian Zong," ucap para murid sambil memberi hormat.


"Seratus pendekar alam ilusi lapisan puncak. Dan Lima pendekar alam mortal lapisan puncak. Pencapaian yang luar biasa, tak sia sia aku mengulang semuanya," pikir Xiao Tian sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Apakah latihan kalian berjalan lancar?" tanya Xiao Tian sambil menatap tajam para murid.


"Semuanya berjalan lancar tanpa kendala, patriach," ucap Xia Hu sambil mengerutkan dahi.


Oh iya, untuk para murid yang berlatih di dalam lima pusat array kemarin majulah," ucap Xiao Tian sambil menatap para murid.


"Xia Hu menghadap pada patriach," ucap Xia Hu sambil memberi hormat.


"Bai Li memberi hormat pada patriach," ucap Bai Li sambil memberi hormat.


"Bai Hu memberi hormat kepada patriach," ucap Bai Hu sambil memberi hormat.


"Liu Ming memberi hormat kepada patriach," ucap Liu Ming sambil memberi hormat.


"Fang Long memberi hormat kepada patriach," ucap Fang Long sambil memberi hormat.


"Susunan seratus jiwa telah menyetarakan kultivasi kalian, satu satunya yang bisa membedakan peningkatan kalian saat ini hanyalah usaha. Seperti yang kalian ketahui, bakat kalian berlima tidaklah bagus. Kalian harus berlatih lebih keras untuk melampaui para genius. Ingatlah, usaha tak akan menghianati hasil."


"Kalau kuperhatikan dengan baik, pondasi kultivasi serta teknik beladiri kalian telah menyentuh batas maksimal. Itu membuktikan bahwa kalian semua memiliki usaha yang sama dan tak bermalas malasan, aku bangga akan hal itu," ucap Xiao Tian sambil menatap kelima murid.


"Semua ini berkat bimbingan patriach," ucap para murid sambil memeberi hormat.


"Memiliki kekuatan besar memang bagus, tapi sembunyikan itu dengan baik terlebih dulu hingga turnamen nanti," ucap Xiao Tian sambil menatap para murid.


"Baik, patriach, ucap para murid sambil memberi hormat.


"Apa itu?" tanya para murid sambil mengerutkan dahi.


"Portal menuju alam nyata," ucap Xiao Tian sambil menatap para murid.


"Tunggu, maksudmu sejak awal kami berada di alam lain?" tanya Xia Hu sambil mengerutkan dahi.


"Anggap saja kalian berada di alam ilusi, semua yang berada di alam ini berjalan lebih lambat. Tian Fengji dan teman temannya akan datang sebentar lagi. Kau ingat dengan janjimu kan Xia Hu?" tanya Xiao Tian sambil menatap Xia Hu.


"Tunggu, bukankah janji itu sudah terlewat?' tanya Xia Hu sambil mengerutkan dahi.


" Bukankah sudah kujelaskan dengan baik?"


"Waktu disini berjalan lebih lambat dari waktu di alam nyata. Satu jam di alam nyata setara dengan satu hari di alam ini. Oh iya, bisakah kalian rahasiakan hal ini dari orang lain?" tanya Xiao Tian sambil menatap para murid.


"Kami pasti menutup mulut kami. Patriach sangatlah murah hati, kami tak mungkin menghianati kepercayaan patriach," ucap para murid sambil memberi hormat.


"Meski nyawa sebagai taruhannya?" tanya Xiao Tian sambil memberi hormat.


"Ya, kami pasti merahasiakan hal ini meski nyawa kami sebagai taruhannya," ucap para murid sambil memberi hormat.

__ADS_1


"Bagus, kalau begitu ikuti aku," ucap Xiao Tian sambil berjalan menuju portal. Diikuti oleh para murid yang berjalan di belakang punggung Xiao Tian.


####


Alam nyata.


Gedung cabang petarung.


lantai bawah tanah.


Xiao Tian keluar dari dalam portal terlebih dulu, diikuti oleh Xia Hu dan yang lainnya. Setelah semua orang keluar, portalpun kembali di tutup dan menghilang lagi dari pandangan mata semua orang.


"Atap yang berlubang karena sambaran petir, aura qi yang familiar. Tidak salah lagi, ini adalah lantai bawah tanah gedung petarung yang asli," pikir Xia Hu sambil melohat sekitar.


"Aku hampir lupa dengan lubang itu," pikir Xiao Tian sambil menatap atap.


Xiao Tian menghentakkan kakinya, seketika sebongkah tanah yang berukuran besar terangkat ke atas. Lalu dia pukul ke arah atap untuk menutupi lubang yang tercipta akibat sambaran petir. Dia juga meratakan bongkahan tersebut hanya dengan menggerakkan jari jarinya.


Wooshhh


"Seperti yang diharapkan dari Patriach Tian Zong, dia benar benar menutup lubang sebesar itu dengan begitu sempurna dalam waktu sekejap mata," pikir Xia Hu sambil tersenyum.


"Apakah latihan kalian sudah selesai?" tanya Tian Fengji sambil berjalan menuruni tangga.


Dia membawa pedang hitam di punggungnya.


"Tak kusangka ternyata kau datang seorang diri, kemana Xian Juan dan Long Hu?" tanya Xia Hu sambil menatap Tian Fengji.


"Hoo, sepertinya menjadi murid patriach dalam satu malam membuatmu cukup percaya diri ya?"


"Xia Hu?"


"Kau menegakkan kepalamu disaat berada di dalam sekte, tapi selalu menunduk saat berbicara tentang turnamen. Aku jadi meragukan kemampuanmu, sepertinya kau adalah orang yang jagi kandang saja," ucqp Xia Hu sambil menatap Tian Fengji.


Tap tap tap


"Kau tak akan bisa berbicara seperti itu, jika dalam posisi seperti kami," ucap Long Hu sambil berjalan menuruni tangga.


"Kau juga kemari?" tanya Tian Fengji sambil mengerutkan dahi.


"Taruhan dari turnamen adalah nyawa dan mertabat sekte, aku tak sanggup berdiam diri mendengar kabar bahwa para murid tak berbakat menggantikan posisi kita sebagai samsak tinju," ucap Long Hu sambil memasang wajah kesal.


Tap tap tap


"Samsak tinju ya?"

__ADS_1


"Memang benar sih, sekte kita kan sudah menjadi sekte terlemah sejak turnamen yang lalu. Tak bisa melawan dan hanya bisa dihancurkan," ucap Xian Juan yang baru saja menuruni tangga.


__ADS_2