Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 420 : perjalanan Jia Li


__ADS_3

#Kamar Jia Li dan Xiao Tian


Xiao Tian memasuki kamar setelah mendapat ijin untuk masuk dari Jia Li.


Dengan tampang cemas dia pun berjalan memasuki ruangan tersebut.


"Kau baik baik saja, Lily?" tanya Xiao Tian setelah masuk ke dalam kamar.


Saat itu Putri Jia Li sedang duduk di atas kasurnya dengan tampang sedih dan frustasi. Terdapat makanan di meja dekat kasurnya. Makanan tersebut belum disentuh olehnya sama sekali karena sedang tak bernapsu untuk makan.


Jia Li hanya terdiam mengabaikan sahutan Xiao Tian karena sedang melamun memikirkan ucapan adiknya.


Dalam pikirannya dia terus terngiang ucapan pedas dari Jia Qing adik kandungnya. Dan ucapan itu adalah, "Bagiku, kakakku sudah lama tiada,"


Karena Jia Li terlihat begitu frustasi, sebuah rasa penasaran pun muncul di benak Xiao Tian. Dia mendekatinya dengan penuh rasa simpati, lalu menyentuh salah satu pundaknya secara perlahan.


"Kau baik baik saja, Lily?" tanya Xiao Tian sambil menyentuh pundak Jia Li.


Putri Jia Li tersadar dari lamunannya dan tersentak sedikit karena terkejut akan sentuhan Xiao Tian.


"Ah, maafkan aku Yan Yan. Aku benar benar tenggelam dalam duniaku sendiri tadi," ucap Jia Li sambil mencoba menghapus air matanya.


Awalnya Xiao Tian tak begitu memperhatikan air mata putri Jia Li. Namun setelah melihatnya dari dekat, matanya terlihat jelas seperti seseorang yang mau menangis. Bahkan lebih mirip seperti orang yang sedang menahan tangis.


Karena melihat istri sekaligus teman masa kecilnya terlihat sedih, Xiao Tian pun kembali merasa khawatir.


Dengan nada yang lembut dia pun kembali bertanya kepada putri Jia Li.


"Apakah semuanya baik baik saja, Lily?" tanya Xiao Tian sambil menatap wajah putri Jia Li.


Xiao Tian tahu betul kalau semua tak baik baik saja, namun dia ingin mendengar Jia Li menjawabnya sendiri. Karena itu dia menanyakannya berulang kali hingga dia mendapatkan jawaban yang ingin dia dengar.


Akan tetapi, Jia Li terlalu keras kepala dan hanya ingin menyimpan masalahnya seorang diri. Dia melakukan hal tersebut karena tak ingin menambah beban pikiran untuk Xiao Tian.


"Ya, semuanya baik baik saja kok," ucap putri Jia Li sambil menoleh ke arah lain.


Karena tahu kalau Jia Li sedang berbohong kepadanya, Xiao Tian pun kembali melontarkan pertanyaan dengan berkata, "Apakah kau masih menganggapku sebagai suamimu, Lily?"


"Tentu saja iya, kenapa kau bertanya begitu?" tanya Jia Li sambil menatap ke arah lain.


"Kau bahkan tak mau menatapku, bagaimana bisa aku percaya bahwa kau masih menganggapku?" tanya Xiao Tian dengan serius.


"Bu ... bukan maksudku untuk tak mau menganggapmu, tapi ... ," belum sempat Jia Li menyelesaikan kalimatnya, Xiao Tian memotong pembicaraan dengan berkata,


"Tapi apa?"


"Aku tak mau ada kata tapi di antara kita,"


Jia Li pun terdiam karena tak bisa melanjutkan ucapannya.


"Pernikahan dibuat berdasarkan rasa saling percaya. Jika kau bahkan tak mempercayaiku seperti ini, maka lebih baik kita akhiri saja hubungan kita," sambung Xiao Tian dengan tampang serius.


Karena Xiao Tian terus memojokkannya, putri Jia Li pun menyerah untuk menyembunyikan masalah tersebut.


Dengan napas terputus putus dia pun berkata,


"Se ... sebenarnya, sebenarnya aku ...,"

__ADS_1


"Sebenarnya apa, katakanlah padaku Lily," Xiao Tian kembali bertanya dengan serius.


"Sebenarnya aku tidak baik baik saja. Semua karena Jia Qing adikku telah benar benar membenciku. Dia bahkan berkata kalau kakaknya telah lama tiada," jawab Jia Li sambil menyembunyikan tangis diwajahnya.


"Bisakah kau ceritakan bagaimana rincian kejadiannya, Lily?" tanya Xiao Tian sambil memegang kedua pundak Jia Li.


"Ehm," angguk Jia Li sambil mencoba untuk menahan tangis diwajahnya.


Xiao Tian sebenarnya bisa membaca pikiran Jia Li dan langsung memahami apa masalahnya, namun dia tetap menanyakan hal tersebut untuk mendapatkan kepercayaannya. Selain itu, cara terbaik menenangkan seseorang adalah membiarkan orang tersebut menceritakan masalahnya sendiri tanpa sebuah paksaan.


#Sehari yang lalu


Jia Li dan kedua jenderal utama terbang menuju sekte duri naga sambil menaiki tiga naga biru.


Setelah terbang dalam jangka waktu yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju.


Akan tetapi karena mereka datang sambil menaiki naga raksasa, para penghuni sekte pun menjadi sangat panik hingga melesatkan beberapa anak panah.


"Serang naga naga itu!"


"Jangan biarkan mereka mendekat!"


para penjaga menghujani naga biru dengan panah mereka.


"Bakar!" jenderal Taifeng meminta para naga biru membakar semua panah yang mengarah ke arahnya.


Woooshhh


Para naga biru menyemburkan laser biru dan berhasil menghanguskan semua panah yang melesat ke arah mereka.


Ketika semua anak panah telah menjadi abu, dia pun melompat turun sambil memegang dua buah pedang.


Tanah tempat jenderal Taifeng mendarat mengalami keretakan.


"A ... apa dia manusia?" ucap para penjaga sambil melangkah mundur.


"Kelihatannya sih begitu," jawab salah satu penjaga sambil berjalan mundur.


Semua penjaga mengganti panah mereka dengan pedang, lalu bersiap untuk menyerang. Namun sebelum hal itu terjadi, terdengar suara seseorang yang cukup berwibawa.


"Berhenti!"


"Apa kalian ingin setor nyawa?" tanya patriach Liu Bei sambil berjalan melewati semua orang.


Tap tap tap


Para naga mendarat secara bersamaan, lalu diikuti oleh jenderal Taizhong yang melompat turun.


Setelah melihat jendral Taizhong turun, tangan patriach Liu Bei tiba tiba saja gemetar. Namun dia menutupi rasa takutnya tersebut dengan cukup baik.


"Maaf atas sambutan kasar orang orangku sebelumnya. Bisakah aku bertanya apa keperluan para senior sekalian disini?" tanya patriach Liu Bei sambil menyatukan kedua tangannya.


"Siapa sebenarnya dua orang kuat ini?"


"Kultivasi mereka jauh lebih mengerikan dari pada topeng bencana. Apakah mereka berasal dari daratan lain?" pikir patriach Liu Bei sambil menelan ludahnya.


Wooshhh

__ADS_1


Tapp


Putri Jia Li ikut turun menyusul para jenderal.


"Bu ... bukankah itu putri dari kerajaan Awan?"


"Kenapa dia ada disini?"


"Dan sejak kapan kultivasinya menjadi semengerikan ini?" pikir patriach Liu Bei dengan tubuh gemetar ketakutan.


Patriach Liu Bei mulai tak bisa mengendalikan dirinya karena Jia Li tak begitu pandai menyembunyikan tingkat kultivasi. Bagi patriach Liu Bei, seorang pendekar mengerikan adalah pendekar tingkat dewa petarung. Sedangkan kedua jenderal menunjukkan kekuatan seorang pendekar alam ilusi lapisan pertama, yang nyatanya berbeda satu lapisan setelah tingkat dewa petarung lapisan puncak.


Sementara itu, putri Jia Li menunjukkan kekuatan seorang pendekar alam naga yang berbeda lima tingkat dari kekuatan seorang Dewa petarung.


Karena kejutan tersebut patriach Liu Bei pun mulai gemetar ketakutan.


"Salam paman Liu Bei, bagaimana kabarmu," ucap Jia Li sambil melangkah mendekat.


"A ... aku baik baik saja yang mulia," jawab Liu Bei sambil menundukkan kepalanya. Keringat dingin mulai bercucuran keluar setiap kali Jia Li melangkah mendekat.


Tap tap tap


Jia Li melangkah mendekat dengan santainya karena sebelumnya dia cukup dekat dengan patriach Liu Bei.


Karena takut dengan tingkat kultivasi Jia Li, dia oun terus melangkah mundur tanpa sadar setiap kali Jia Li melangkah.


"Kenapa kau malah melangkah mundur paman?" tanya Jia Li dengan tampang heran.


Sadar bahwa patriach Liu Bei takut akan kultivasi Jia Li, jenderal Tailong pun memberi tahunya melalui telepati.


"Maaf mengganggumu yang mulia. Kusarankan agar kau katakan saja tujuan kita kemari, dan berhenti melangkah mendekat. Tak peduli seberapa dekat kalian sebelumnya, dengan kultivasi yang kau tunjukkan saat ini ...," jelas jenderal Tailong melalui telepati.


"Ah, aku paham. Mungkin dia belum percaya kalau aku masihlah Jia Li yang sama. Semua ini gara gara aku tak bisa menyembunyikan kultivasiku yang saat ini. Sungguh merepotkan," pikir Jia Li sambil menghela napas.


"Paman Liu Bei ...," belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Patriach Liu Bei menjawab ucapan Jia Li dengan berkata, "I ... iya aku disini,"


"Tolong jangan bicara sebelum aku selesai," sambung Jia Li sambil tersenyum.


"Ma ... maafkan aku senior. Jika aku membuatmu tersinggung tolong habisi aku saja, jangan apa apakan sekteku," ucap Liu Bei sambil membungkukkan badannya berkali kali.


"Ehm," Jia Li menatap patriach Liu Bei dengan kesal.


"Ah ma ... maaf," patriach Liu Bei menundukkan kepalanya.


"Begini, sebenarnya aku ingin bertemu dengan Jia Qing. Apakah dia masih ada disini?" tanya putri Jia Li dengan senyum di wajahnya.


"Ah ... , ingin bertemu dengan Jia Qing ya?"


"Di ... dia sudah lama tak kembali kemari. Terakhir kali dia disini adalah seminggu yang lalu. Dan kalau tak salah, dia berkata kalau ingin kembali ke kerajaannya," jawab patriach Liu Bei dengan jantung yang berdegup kencang.


"Begitu ya?"


"Terima kasih atas informasinya, paman," putri Jia Li memberi hormat lalu pergi menaiki naga biru.


"Kalau begitu kami mohon undur diri," ucap para jenderal sambil memberi hormat sebelum mereka pergi menaiki naga hitam.


"Hati hati, senior," sambung patriach Liu Bei sambil memberi hormat.

__ADS_1


Setelah Jia Li dan kedua jenderal pergi meninggalkan sekte duri naga, Patriach Liu Bei dan seluruh penjaga disana langsung berlutut dengan napas yang terengah engah. Dalam benak mereka secara kompak mereka pun berkata, "Monster, mereka benar benar monster,"


__ADS_2