
Melihat Patriach dan salah satu tetua mereka dipermainkan. Para murid sekte harimau emas ikut menyerbu Xian Juan, namun mereka semua terpental mundur hingga terjatuh ke daratan setelah Xian Juan mengeluarkan gelombang kejut.
Duarr
Duarr
"Apa dia benar benar hanya seorang bocah?" tanya Jian Su sambil menoleh ke belakang.
Duakk
Duarr
"Kau lengah!" ucap Patriach Bai sambil memukul mundur Jian Su yang sedikit lengah.
"Patriach!" ucap para tetua dari sekte harimau emas sambil melompat mendekati tubuh Patriach mereka yang terluka.
Disaat ketiga tetua itu sedang termakan emosi dan melesat menuju Patriach Bai. Patriach Liang Ting mulai melancarkan aksinya dengan menyerang ketiga tetua tersebut dari belakang.
Shut shut shut
Cleb cleb cleb
"Apa yang?" ucap ketiga tetua sekte harimau emas sambil melihat tombak beracun yang menembus perutnya.
Brukkk
"Tangkap para murid sekte harimau emas dan sekte naga bersayap yang masih bertahan hidup. Habisi para murid yang mencoba membangkang, sedangkan bocah itu suruh kelima murid utama kita untuk menghabisinya," ucap Patriach Liang Ting dengan tampang serius.
."Anda tak ingin merekrutnya?" tanya salah satu patriach sambil mengerutkan dahinya.
"Tak perlu, dia terlalu berbahaya dan sulit ditebak. Instingku mengatakan bahwa, jika dia tak dihabisi sekarang sekte kita akan diambang kehancuran," ucap Patriach Liang Ting sambil mengerutkan dahi.
"Baiklah, patriach," ucap ketiga tetua sambil memberi hormat.
Ketiga tetua dari sekte singa perak mulai melancarkan aksi mereka,
"Apa maksud perbuatanmu ini, Liang Ting?" Tanya Patriach Bai sambil mengerutkan dahinya.
"Aku tahu kau tidak bodoh, apa yang aku lakukan saat ini pasti sudah kau pahami sejak dulu. Bukankah begitu, Tian Bai?" ucap Liang Ting dengan senyum tipis di wajahnya.
"Dasar wanita licik!"
"Apa kau tak takut dengan kerajaan jika melanggar aturan turnamen!" bentak Tian Bai dengan tampang kesal.
"Ish ish ish, kau terlalu banyak omong Tian Bai. Kerajaan tak akan membubarkan sekte kami, jika kami menjadi satu satunya sekte yang tersisa," ucap Liang Ting sambil tersenyum tipis.
"Maksudmu?" tanya Tian Bai dengan tampang was was.
"Sayang sekali jika harus membunuh pendekar alam naga sepertimu, jika kau mau mergabung dengan sekteku dan membawa serta seluruh pengikutmu. Mungkin kalian akan kubiarkan hidup. Bagaimana menurutmu, Tian Bai?" ucap Liang Ting
sambil menyodorkan tangannya.
"Apakah ucapanmu ini bisa dipercaya?" tanya Patriach Bai sambil mengerutkan dahi.
"Tentu saja, tapi dengan satu syarat. Biarkan kami menyingkirkan Xian Juan, karena imstingku mengatakan bahwa dia sangatlah berbahaya," ucap Liang Ting sambil tersenyum tipis.
"Dia adalah salah satu muridku, aku tak mungkin membiarkannya mati begitu saja. Jika kau menginginkan agar aku dan semua pengikutku tunduk padamu, maka lupakan saja permintaan tak masuk akalmu itu!" bentak Patriach Bai sambil mengeluarkan pedang dari dalam cincin ruangnya.
"Kuanggap itu sebagai penolakan," ucap Liang Ting sambil tersenyum tipis.
Patriach Bai menebaskan pedangnya ke arah Liang Ting, namun tebasan pedangnya itu ditahan oleh Liang Ting hanya dengan menjepitnya di antara dua buah jari.
"Sayang sekali, setelah empat tahun terlewati. Kultivasimu masih belum berkembang juga ya?"
__ADS_1
"Tian Bai," ucap Liang Ting sambil menjepit kencang pedang tersebut hingga hancur berkeping keping.
Duakkk
Liang Ting dan Patriach Bai beradu pukulan, namun karena Liang Ting tiga kali lebih kuat, Patriach Bai terpukul mundur hingga menghantam daratan.
Duarrrr
"Uhuk uhuk,"
"Mustahil, sejak kapan kau menjadi pendekar alam naga lapisan ke sembilan!" ucap Patriach Bai sambil mencoba berdiri.
"Kalau aku berkata sejak dulu, apakah kau akan percaya?" tanya Liang Ting sambil tersenyum tipis.
Tap tap
Wooshhh
Liang Ting memunculkan pedang yang terbuat dari qi murninya. Kemudian berjalan mendekati Patriach Bai untuk menghabisi nyawanya.
Sreatt sreatt
"Bisakah kau menjauh darinya, Nona?" tanya Tian zong sambil menepuk pundak Liang Ting dengan hawa membunuh yang begitu kuat.
"Ti ... Tian Zong?"
"Kau kah itu?"
"Kapan kau kembali?"
"Dan sejak kapan kau menjadi seorang pendekar alam langit?" tanya Tian Ling dengan mata yang terbelalak.
Aku tak akan menjawab pertanyaan seseorang yang akan mati," ucap Tian Zong sambil memotong leher Tian Ling dengan tangan kosong.
"Kenapa kau diam saja saat Tian Bai hampir dibunuh?" ucap Tian Bai sambil menatap tajam mata Xiao Tian dengan tekanan qi yang begitu tinggi.
"Sial, aku pikir pak tua ini tak akan menunjukkan diri hingga turnamen selesai."
"Apakah dia sudah tak peduli lagi dengan relik di tubuhnya?" pikir Xiao Tian dengan tubuh gemetar.
Tian Zong menghilang dari tempatnya berdiri, lalu muncul dihadapan Xiao Tian. Lalu langsung menyentuh pundaknya dan berkata,
"Ho ... , jadi kau menjadi begitu berani karena relikmu sudah bisa dipakai ya?"
"Entah cara apa yang kau gunakan, tapi cara itu tak akan berguna untuk kedua kalinya. Karena aku akan membuatmu mengulangnya dari awal," ucap Tian Zong sambil menepuk pundak Xiao Tian.
"Hei apa yang kau lakukan!"
"Singkirkan tangan kotormu darinya!" bentak Sunlong dan Dewa petir sambil melesat secepat mungkin ke arah Xiao Tian.
Namun disaat mereka masih cukup jauh, Tian Zong tersenyum dan berkata, "Reset,"
Woosshhh
Xiao Tian kembali ke titik awal dimana dia baru bertemu Tian Zong, selain dirinya tak ada yang mengingat kejadian tersebut termasuk Dewa petir dan yang lainnya.
Daratan Xian Yun
Jauh dari perguruan badai berduri
Xiao Tian membuka matanya lalu berkata,
"Dimana aku?"
__ADS_1
"Tentu saja di daratan Xian Yun, dimana lagi?"
"Kau kan baru saja bilang jika ada urusan ditempat ini, kenapa tiba tiba jadi linglung?" tanya Dewa petir dengan tampang bingung.
Tapp
"Apakah kau memiliki makanan?" ucap Tian Zong sambil menepuk pundak Xiao Tian.
"Aku tidak asing dengan adegan ini," pikir Xiao Tian dengan mata yang terbelalak.
Xiao Tian membalikkan badannya lalu menyerang Tian Zong dengan kekuatan penuhnya. Namun karena hanya mengandalkan kekuatan fisik belaka, serangannya tak memberikan efek apapun terhadap Tian Zong.
"Kau ... ," ucap Xiao Tian dengan mata yang terbelalak.
"Hei hei, jangan kasar begitu dong. Aku hanya meminta makanan, kenapa kau malah melayangkan sebuah tendangan?" ucap Tian Zong sambil menghela napas.
"Berhenti berpura pura!"
"Cepat singkirkan tanda terkutukmu dari pundakku!" bentak Xiao Tian dengan kesal.
"Syaratnya masih sama, buat sekte badai berduri menang di turnamen empat sekte. Namun kali ini lakukan dengan benar tanpa membuat keributan. Jangan membunuh murid sekte lain, karena itu akan memicu perang. Jika kau mengulanginya lagi, maka akanku reset ulang lagi dari titik ini."
"Percayalah, jika kau tak menurutiku. Maka kau akan mengulang kembali hingga hasil yang kuinginkan terwujud, sampai jumpa," ucap Tian Zong sambil mengaktifkan teknik teleportasi.
"Sialan, ternyata kemampuan reliknya adalah reset. Kalau begini aku harus menari sesuai keinginannya, atau terpaksa mengulang kembali dari titik ini," ucap Xiao Tian dengan tampang kesal.
"Hei, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Kenapa kau bicara sendiri seperti orang gila?" tanya Dewa petir dengan tampang bingung.
Sekte singa perak
Liang Ting berencana untuk membujuk dua sekte yang lain agar memulai pertarungan lebih awal. Namun saat dia ingin keluar dari wilayah sektenya, Tian Zong menculiknya saat pandangan semua orang teralihkan oleh suara ledakan yang telah dia atur.
Duarrr
Wooshhh
"Patriach menghilang, cepat cari ke seluruh wilayah!" teriak para tetua dengan tampang panik.
Wilayah terlarang sekte badai berduri
Di dalam jurang yang disebut celah neraka
"Dimana aku?" tanya Liang Ting dengan mata yang terbelalak.
"Kenapa tubuhku tak bisa digerakkan, sebenarnya siapa yang menyentuh punggungku saat ini?" pikir Liang Ting dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
"Berkat dirimu, aku harus mereset ulang semuanya. Tolong jagalah batasanmu, dan berubahlah menjadi wanita yang lebih baik." "Apakah kau tahu?"
"Kerajaan berencana menghapuskan semua sekte agar tak ada yang bisa mengancam ketentraman istana?"
"Jika kau memaksa untuk menghancurkan ketiga sekte lain, maka kita semua akan hancur," ucap Tian Zong dengan suara yang disamarkan.
"Siapa sebenarnya kau?"
"Apa pedulimu?"
"Untuk apa aku mempercayai kata katamu!" bentak Liang Ting dengan tampang kesal.
"Kau tak perlu tahu diapa aku, tapi kau bisa mempercayai ucapanku ini. Kau bisa mencari tahu sendiri dengan mengirim pasukan bayanganmu untuk menyelidiki kebenaran tentang istana. Itu saja yang ingin kukatakan, oh iya satu hal lagi. Aku bisa meratakan klanmu kapanpun kumau. Kau seharusnya paham petul sekuat apa aku ini, jika sudah mengerti akan kukembalikan kau ketempatmu," ucap Tian Zong sambil memegang pundak Liang Ting.
"Ba ... baiklah," ucap Liang Ting sambil menundukkan kepala.
__ADS_1