
Proses seleksi dihadiri oleh Patriach Bai dan enam orang tetua. Dari cabang petarung terdapat penatua Zhao, penatua Xia Meng dan penatua Kong.
Mereka berpakaian serba putih dengan ikat kepala yang juga berwarna putih yang bertuliskan sekte badai berduri. Bagian belakang pakaian mereka pun bertuliskan hal yang sama.
Sedangkan para alkemis terbagi menjadi tiga kubu. Berpakaian merah muda dengan corak teratai, ungu dengan corak ular dan merah dengan corak mawar. Mereka berpakaian sama persis seperti tetua yang menjadi guru pembimbing mereka. Yaitu, Xiang Ying, Xia Ning dan Xianlun.
Saat proses seleksi dimulai, Patriach Bai menyuruh Xiao Tian melompat ke tengah arena. Disana terdapat Dewa petir yang sejak tadi kebingungan mencari Xiao Tian.
"Akhirnya kau muncul juga, aku mencoba mencari jejak qi mu tapi tak bisa menemukanmu. Teknik apa yang kau gunakan sehingga tak bisa kulacak sama sekali ha?" tanya Dewa petir dengan kesal.
"Ah maaf, aku baru mencoba salah satu teknik yang pernah Wukong ajarkan padaku. Dan lupa menonaktifkannya," ucap Xiao Tian sambil menggaruk garuk kepalanya.
"Sebenarnya berapa banyak teknik tingkat Dewa yang dia ajarkan padamu?" tanya Dewa petir dengan kesal.
"Masih ada satu teknik yang belum kugunakan, dan aku akan menunjukkannya nanti saat turnamen," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Aku benci rahasia, aku bahkan tak bisa membaca pikiranmu lagi. Apakah kemampuan memblokir pikiranmu sudah aktif lagi?" tanya Dewa petir dengan tampang kesal.
"Ini semua berkat diriku yang sudah terbiasa dengan roh beladiri ular Yin Yang. Teknik yang pernah Sunlong ajarkan ini sudah bisa kembali aktif berkat hal ini," ucap Xiao Tian melaluo telepati.
"Begitu ya, huft. Merepotkan," ucap Dewa petir dengan tampang kesal.
Tepat setelah itu, Patriach Bai ikut melompat tepat ke samping Xiao Tian hingga membuat semua orang mulai berbisik tentang apa yang dilakukan patriach Bai.
Untuk menghentikan semua orang dia pun mengangkat salah satu tangannya, lalu berkata,
"Ehm!"
"Kalian semua pasti heran, mengapa aku bersama pria bertopeng ini. Dan apa alasan dia berdiri disampingku."
"Tanpa basa basi akan ku jelaskan semuanya. Pertama, dia akan menjadi salah satu perwakilan kita untuk sekte lain dalam turnamen. Dan kedua, dia akan berpartisipasi dalam cabang petarung," ucap Patriach Bai dengan tatapan serius.
Semua orang kecuali tetua Xianlun dan tetua Xia Meng langsung bangkit dari tempat duduk mereka karena terkejut dengan berita itu.
"Sekte kita sudah diambang batas, dan kau ingin menjadikan dia wakil kita?"
"Aku bahkan tak bisa merasakan kultivasi dari orang disebelahmu. Selain itu kenapa dia memakai topeng?"
"Aturan turnamen yaitu peserta dilarang memakai topeng apapun untuk membuktikan bahwa peserta tersebut bukanlah master tua yang menyamar," ucap Xiang Ying dengan tampang kesal.
"Dia memang kuat, tapi menjadikannya wakil untuk menggantikan dua peserta kita yang dulu ... ," ucap penatua Zhao dengan tampang cemas.
"Xianlun, katakanlah sesuatu!"
"Bukankah dia murid barumu!" bentak tetua Xiang Ying dengan tampang kesal.
"Sesuatu," ucap Xianlun dengan tampang datar.
"Wanita ini!"
"Bukan itu maksudku!" bentak Xiang Ying dengan tampang kesal.
"Mana berani aku menentang keputusan patriach, selain itu orang yang dia pilih adalah orang paling berbahaya. Entah apa rencananya, jika dia yang mewakili sekte kami. Aku yakin sekte ini bisa kembali berjaya," pikir Xianlun sambil tersenyum tipis.
"Sudahlah, berhenti berdebat. Tak peduli siapapun yang mewakili perguruan ini, kita tetap akan hancur," ucap Long Hu dengan tampang pesimis.
"Long Hu benar, seberat apapun kita mencoba. Kita pasti akan tetap kalah," ucap Xian Juan dengan tampang pesimis.
"Lebih baik bubarkan saja perguruan ini, dan lupakan turnamen ini" ucap Tian Fengji dengan tangan yang terkepal erat.
"Kong Ming Chun telah dihabisi tahun lalu, Sedangkan Xia Feng Ying rela pergi ke sekte lain demi melindungi nyawa kami. Entah bagaimana nasibnya sekarang, sekte sampah itu pasti sudah menodai Feng Ying kita," ucap Long Hu sambil mengepal erat kedua tangannya hingga meneteskan darah.
Saat Long Hu mengatakan hal tersebut, semua murid senior menundukkan kepala mereka. Bahkan para tetua pun terdiam tanpa kata kecuali tetua Xia Meng terlihat begitu kesal hingga melempar kursinya sendiri ke depan kaki Long Hu.
Bruakkkk
"Apa ini cara kalian membalas pengorbanan keponakanku?"
"Menyerah begitu saja?"
"Kupikir kalian akan berubah setelah empat tahun terlewati, siapa sangka kalau mental kalian tak berubah juga setelah begitu lama berlatih," ucap penatua Xia Meng dengan tampang kesal.
Ketika suasana sedang memanas, salah satu murid yang bertugas menjaga pintu luar berlari ke tengah arena sambil berkata,
"Mereka disini!"
__ADS_1
"Ketiga sekte besar sudah diluar!"
"Apa maksud ucapanmu?"
"Bukankah turnamennya akan dimulai empat jam lagi?" tanya Patriach Bai sambil mengerutkan dahi.
"Ampun patriach,"
"Bukannya aku mau menghentikan acara seleksi ini, tapi ketiga sekte besar telah sepakat untuk memulai turnamen lebih awal karena tak ingin membuang waktu," ucap Hua Yan dengan napas terengah engah.
"Kembalilah ketempatmu, dan bilang pada mereka. Agar kembali empat jam lagi!" bentak Patriach Bai dengan tampang kesal.
"Tapi patriach ... , mereka bilang kepadaku bahwa peraturan akan dirubah jika kita menyuruh mereka menunda turnamen. Dan aturan yang baru sangatlah memberatkan kita," ucap Hua Yan dengan napas terengah engah.
"Memangnya aturan apa yang mereka bilang?" tanya Patriach Bai sambil mengerutkan dahi.
"Mereka bilang, kita harus memenangkan dua cabang perguruan sekaligus," ucap Hua Yan sambil menundukkan kepala.
"Bukalah pintu masuknya untuk mereka,Penatua Zhou!" ucap Patriach Bai dengan tampang kesal.
"Baik, patriach," ucap penatua Zhou sambil memberi hormat.
"Berhenti!"
"Biarkan mereka menunggu selama empat jam!" ucap Xiao Tian dengan nada tinggi.
Karena dia belum mengetahui identitas Xiao Tian, Penatua Zhou mengabaikan Xiao Tian hingga terus mencoba untuk melanjutkan langkahnya. Namun langkahnya terhenti seketika tepat ketika Xiao Tian mengeluarkan hawa membunuh setingkat pendekar alam Beast lapisan delapan.
Sambil membuka topeng di wajahnya dia pun berkata, "Kau pikir kau mau kemana?"
"Tak bisakah kau mendengar ucapanku?"
Saat itu Xiao Tian sudah merubah wajah aslinya. Sehingga selain Xianlun, Tian Ling, Patriach Bai, Xia Meng beserta seluruh muridnya terkejut bukan main.
"Di ... dia pendekar alam Beast?"
"Pantas saja aku tak bisa melawannya," ucap Xiang Ying dengan mata terbelalak.
"Muda, tampan dan berbakat, aku menyesal sudah memprovokasinya," ucap Xia Ning dengan pipi yang memerah.
"Kualifikasiku?"
"Aku bisa menghancurkan perguruan ini hanya dengan mengundurkan diri," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Baiklah, kau menang!"
"Tapi jangan pikir kau akan lolos dari ini!"
"Jika perguruan ini dibubarkan karena dirimu, maka aku akan menghabisimu!" ucap penatua Zhao sambil berjalan kembali menuju ke tempatnya.
"Master, bukankah akan lebih baik jika tidak menunda turnamen?"
"Kenapa kau melakukan ini?"
"Bagaimanapun mustahil bagi kita untuk memenangkan kedua turnamen sekaligus," bisik patriach Bai dengan suara yang amat pelan.
"Aku punya ide bagus tentang itu, suruh kelima wakil murid dari cabang alkemis agar menemuiku di ruang bawah tanah gedung ini. Perintahkan juga keempat murid dari cabang petarung untuk menemuiku di tempat yang sama. Selama empat jam lamanya akan kubuat mereka berubah," jelas Xiao Tian sambil berjalan pergi meninggalkan arena.
Empat jam kemudian
Turnamen cabang petarung
keempat sekte telah berkumpul di tempat yang dijanjikan. Turnamen alkemis dan turnamen petarung dilakukan secara terpisah.
Dan saat ini, belum ada tanda tanda bahawa Xiao Tian dan yang lainnya akan hadir di tempat tersebut. Bahkan mereka belum juga muncul hingga lebih dari tiga puluh menit lamanya.
Karena sudah kehabisan kesabaran ketiga patriach dari sekte tersebut langsung bangkit dari tempat duduk mereka lalu berkata,
"Apa apaan ini?"
"Beraninya kalian membuat kami menunggu selama ini!" ucap Patriach Sun Yu, sambil menunjukkan tampang kesal.
Saat Patriach dari sekte naga bersayap itu mengangkat suara, Long Hu, Xian Juan dan Tian Fengji menunjukkan diri dengan tampang yang begitu tenang dan mendominasi. Aura mereka begitu kuat dan kultivasi terlemah yang mereka tunjukkan adalah pendekar alam mortal lapisan pertama.
Setelah melihat Long Hu, Xian Juan dan Tian Fengji keluar pertama kali dengan tampang gagah berani, Shan Ye seorang pendekar berpakaian hitam dari sekte naga bersayap melompat ke hadapan mereka lalu berkata,
__ADS_1
"Mengejutkan, tak kusangka kalian juga bisa menjadi seorang pendekar alam mortal.
Long Hu, Xian Juan dan Tian Fengji."
"Apakah kalian mau bergabung dengan sekte naga bersayap kami?"
"Atau ingin bernasib sama seperti Kong Ming Chun?" tanya Shan Ye dengan tampang menghina.
"Menyingkirlah dari dewa ini nak, kalau tidak kau akan menyesal," ucap Tian Fengji sambil menepuk pundak Shan Ye dengan tampang yang sangat tenang. Lalu berjalan melewatinya begitu saja.
"Beraninya kau mengabaikanku!" ucap Shan Ye sambil mencoba memukul Tian Fengji dengan kekuatan penuh. Namun Tian Fengji menahan pukulan tersebut hanya dengan satu tangan.
"Mu ... mustahil!"
"Aku delapan kali lebih kuat darimu, bagaimana bisa kau menahan pukulanku ini tanpa menggunakan kekuatan qi sedikitpun?" ucap Shan Ye dengan tampang kesal.
"Lebih kuat dariku?"
"Ngimpi!" ucap Tian Fengji sambil menendang mundur Shan Ye hingga menghantam tembok.
Bruakkk
"Ngomong ngomong siapa Kong Ming Chun?"
"Ah masa bodo, yang penting aku bisa memukul orang hari ini," ucap Tian Fengji sambil mengupil.
"Hei Dewa konyol, bisakah kau mengontrol emosimu!"
"Kalau tidak penyamaranmu akan terbongkar!" bentak Sunlong dengan tampang kesal.
Bukk bukkk
"Bisakah kalian diam!" ucap Xian Juan melalui telepati.
"Ingat kalian disini hanya untuk mengawasi, jadi diam disini dan biarkan aku yang melompat ke arena!" ucap Xian Juan dengan tampang kesal.
"Perasaanku saja, atau sifat mereka memang berubah drastis?" pikir patriach Bai dengan tampang bingung.
"Ngomong ngomong dimana master?"
"Kenapa dia tak ada disini?" tanya Patriach Bai dengan tampang bingung.
Turnamen cabang alkemis
Xiao Tian, Tian Ling, Xia Ning, Yun Yun dan Ling Xian (gadis yang dipilih secara acak dan dilatih secepat kilat di dalam ruang hampa bersama dengan Xia Ning dan yang lainnya)
Mereka telah berlatih di dalam ruang hampa, namun tak mengingat apapun tentang kejadian tersebut selain pengalaman meracik mereka di dalam sana. Semua karena Xiao Tian menghapus ingatan tentang ruang hampa dan semua orang didalamnya.
Ketika Xiao Tian baru berjalan masuk, salah satu murid dari salah satu sekte menghalanginya dengan berkata, "Kau berpakaian putih dan juga seorang pria, sudah jelas bahwa kau berasal dari cabang petarung. Apa yang kau lakukan di turnamen cabang alkemis?"
"Aku adalah murid dari tetua Xianlun, dan telah dipilih menjadi salah satu wakil cabang alkemis. Apakah pria tak boleh ikut andil dalam turnamen ini?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Memang tak ada larangan, hanya saja apakah kau tak malu menjadi satu satunya pria disini?" tanya gadis itu dengan tampang menghina.
"Jangan memandang rendah master yan yan!"
"Meski dia terlihat muda, dia bahkan jauh lebih berpengalaman dibandingkan dengan mastermu!" bentak Tian Ling sambil menatap tajam mata gadis itu.
"Kau dengar itu guru?"
"Mereka benar benar percaya bahwa pria ini bisa sebanding denganmu, ini benar benar menggelikan. Sejak kapan pria menjadi alkemis, ahahahah!" tawa gadis itu dan semua orang sambil menunjuk ke arah Xiao Tian.
Ketika semua orang tertawa, Xialun salah satu tetua dari cabang alkemis sekte badai berduri melompat ke arah Xiao Tian lalu langsung memegang kerahnya dengan begitu kencang.
"Apa maksudmu hadir disini!"
"Bukankah seharusnya kau berada di cabang petarung!"
"Apakah kau tahu apa yang sedang kau lakukan ini!"
"Tanpamu di cabang petarung, sekte kami akan hancur!" teriak Xialun dengan tampang kesal.
"Ho ... , kau sudah mulai berani meragukan keputusanku ya?"
"Guru?" tanya Xiao Tian dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"A ... aku tak bermaksud ... , hanya saja," Xianlun kehabisan kata kata untuk menutupi kekhawatirannya itu, namun Tian Ling menenangkannya dengan berkata, "Tenanglah guru, Yan Yan pasti sudah merencanakan semuanya. Kembalilah ke tempatmu dan tenangkan tetua Xiang Ying dan tetua Xia Ning yang terlihat putus asa itu. Beritahu mereka bahwa kami pasti akan memenangkan turnamen ini dengan telak," ucap Tian Ling sambil mengedipkan matanya.