
Setelah mendapatkan apa yang dia butuhkan, Xiao Tian menghapus ingatan Yuan er karena telah mengetahui banyak rahasianya.
Saat dia keluar dari wilayah terlarang, Xiao Tian melihat para penjaga yang masih terbaring pingsan karena dia totok sebelumnya. Ada beberapa yang sudah sadar, Namun mereka tak bisa bergerak dan bersuara karena Xiao Tian telah menotok semua syaraf gerak dan titik suara semua penjaga.
Agar tak terjadi kecurigaan, Xiao Tian melakukan hal yang sama kepada ingatan mereka. Kemudian menotok kembali tubuh para penjaga agar bisa bergerak saat sadar nanti.
Ketika Xiao Tian ingin pergi meninggalkan wilayah terlarang, Xiao Tian menggunakan teknik tubuh ilusi yang dia dapatkan dari dewa petir sebelumnya. Salah satu teknik yang telah dia tulis ke salah satu buku yang dia berikan kepada para prajurit yang ada di ruang hampa saat ini.
Saat teknik tersebut aktif, tubuh Xiao Tian langsung menjadi transparan. Lebih transparan dari sebuah roh seperti Sunlong.
Dia tak bisa terlihat oleh siapapun layaknya roh Dewa petir. Karena Sunlong masih bisa dilihat oleh orang yang memiliki kultivasi di atasnya, Xiao Tian pun menyuruhnya masuk ke dalam cincin ruangnya.
"Untuk apa kau bersembunyi?" tanya Dewa petir sambil mengerutkan dahi.
"Kau bisa membaca pikiran tanpa perlu menyentuh dan menatap mata target kan?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Tentu, memangnya kenapa?" tanya Dewa petir sambil mengerutkan dahi.
"Aku kan tak bisa membaca pikiran sepertimu, aku hanya bisa membaca,menyalin dan menghapus ingatan saat tubuh targetku berhasil disentuh dan mata kami saling bertatapan."
"Jadi kumohon padamu, baca pikiran dia untukku. Berdasarkan peringatan Sunlong kemarin malam, pria tua misterius yang menyegel relikku waktu itu telah bertemu dengannya."
"Aku ingin tahu apa yang mereka bicarakan saat itu," ucap Xiao Tian sambil menatap mata Dewa petir.
"Kenapa kau tak temui dan minta dia menatapmu seperti saat itu saja?"
"Bukankah ini merepotkan?" ucap Dewa petir sambil memasang wajah malas.
"Aku memang bisa menyalin ingatannya, tapi semua informasi tentang Tian Zong tak bisa kulihat sama sekali. Teknikku otomatis terputus saat aku mencoba menggali lebih dalam semua ingatan tentang Tian Zong," ucap Xiao Tian sambil menherutkan dahi.
"Membaca pikiran dan membaca ingatan itu berbeda ya, kita bisa mengetahui rahasia tersebut jika dia memikirkan hal itu," ucap Dewa petir sambil menghela napas.
"Iya iya, aku tahu," ucap Xiao Tian sambil menatap mata Dewa petir.
Beberapa menit kemudian Patriach Bai datang ke tempat tersebut. Dan melihat para penjaga masih terbaring tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi?"
"Siapa yang melakukan ini?" pikir Patriach Bai sambil mengerutkan dahi.
Saat Patriach Bai baru ingin membangunkan mereka, para penjaga sudah sadar dengan sendirinya. Tentunya mereka tak ingat mengapa mereka pingsan sama sekali.
"Aduh, tubuhku terasa pegal. Kenapa aku bisa tertidur di tanah?" ucap penjaga A.
"Hei bangunlah, ada Patriach Bai disini!" ucap penjaga B.
__ADS_1
"Hormat kami, patriach Bai!" ucap para penjaga sambil memberi hormat.
"Apakah master yang melakukan ini?"
"Kalau benar, dan dia sudah kembali dengan selamat. Berarti kultivasinya berada di atas pendekar alam mortal. Sama sepertiku yang telah menjadi pendekar alam naga,"
"Sudah kuduga, dugaan para pelindung iblis pasti salah. Master Xian Yun bukanlah orang lemah yang menyembunyikan kultivasi dan berlagak kuat," pikir patriach Bai sambil tersenyum tipis.
"Apa yang dia pikirkan?" tanya Xiao Tian sambil menepuk punggung Dewa petir.
"Tak ada hal yang penting. Dia masih terlalu memuja Xian Yun dan menganggap bahwa kau adalah dia," ucap Dewa petir sambil menatap Xiao Tian.
"Apa hanya itu?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Ada lagi, dia juga menganggapmu bukan orang lemah yang menyembunyikan kultivasi dibalik jubah dan berlagak kuat."
"Padahal kenyataannya adalah sebaliknya."
"Kalau dalam poin ini, kau dan Xian Yun tak ada bedanya. Sama sama menyembunyikan kultivasi untuk menakut nakuti orang yang lebih kuat," jelas Dewa petir.
"Haih, aku sudah tahu itu dari hasil menyalin ingatnnya semalam. Apakah dia tak memikirkan hal lain lagi?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Para pelindung iblis, itu kata terakhir yang mengganjal di pikiranku. Apakah kau berhasil menyalin informasi tentang itu dari pikirannya?" tanya Dewa petir sambil mengerutkan dahi.
"Para pelindung iblis ... ,"
"Mereka melindungi iblis yang mereka pikir pantas untuk dilindungi, dan memiliki markas yang tersembunyi di balik bayangan. Berdasarkan ingatan Patriach Bai, tak ada yang mengetahui asal mereka."
"Kelompok itu datang dan pergi bagaikan hembusan angin. Mereka bisa muncul dimanapun dan kapan saja, dan menghilang saat tujuan mereka muncul telah terpenuhi," jelas Xiao Tian sambil memasang wajah serius.
"Jika ucapanmu itu benar, kemungkinan mereka punya gulungan teleportasi atau teknik teleportasi tingkat tinggi seperti dirimu."
"Aku berkata seperti ini, karena ada orang lain yang bisa menggunakan teknik teleportasi jarak jauh tanpa dibimbing oleh Dewa kera. Dan orang yang kumaksud adalah pria tua misterius yang telah menyegel relikmu sebelumnya. Pria tua dengan nama Tian Zong," jelas Dewa petir.
"Jika aku bertemu dengannya lagi, akan kubaca statusnya. Untuk mengetahui keahlian serta tingkat kultivasi pria tua itu," ucap Xiao Tian sambil mengepalkan kedua tangannya.
Saat Xiao Tian dan Dewa petir sedang berdiskusi, Patriach Bai berjalan memasuki wilayah terlarang untuk memastikan apakah bahan herbalnya masih ada atau sudah diambil oleh Xiao Tian yang dia anggap sebagai Xian Yun.
Karena takut Patriach Bai melihat tubuh Yuan er, Sunlong pun berbicara melalui telepati,
"Hei bocah, tolong peringatkan dia agar tak masuk menuju celah neraka!"
"Akan repot jika dia menemukan tubuh Yuan er!"
"Selain Tian Zong yang kalian bicarakan, patriach Bai sama sekali tidak mengetahui keberadaan Yuan er. Aku takut dia menganggap Beast dengan bentuk manusia sebagai ancaman, lalu menghabisinya sebelum menjadi seorang siluman."
__ADS_1
"Seorang pemuja pembasmi iblis seperti patriach Bai, pasti memiliki pikiran seperti Xian Yun dan antek anteknya."
"Mereka berpikir bahwa iblis dan siluman adalah ancaman bagi manusia dan harus dibasmi habis meski tak melakukan salah,"
"Aku benci mengatakan ini, tapi jika kau tak menyelamatkannya. Mungkin nasib Yuan er akan seburuk nasib Su Yan, bahkan bisa lebih buruk dari itu."
"Hal terbaik yang bisa Yuan er terima, jika kau tak mencegah Patriach Bai saat ini adalah mati di tangannya. Dan hal terburuknya adalah dia diserahkan ke sekte pembasmi iblis, yang sangat tak bermoral. Mereka akan menginterogasi lokasi teman temannya, lalu membasminya saat sudah mendapatkan apa yang mereka mau. Jika Yuan er menolak untuk memberi tahu, mereka akan menyiksanya terus menerus bahkan akan menodai kesuciannya," ucap Sunlong dengan nada kesal.
"Cukup!"
"Aku mengerti!"
"Temanmu adalah temanku juga, tak akan kubiarkan hal buruk itu menimpa Yuan er," ucap Xiao Tian sambil mengepal erat tangannya.
"Aku tahu kalau sekte pembasmi iblis sangat kejam, tapi tak tahu kalau mereka sangat tak bermoral dan tak tahu malu. Menodai seorang iblis dan siluman hanya untuk mencari informasi tentang lokasi target mereka berikutnya. Nenar benar tak bisa dimaafkan!" ucap Xiao Tian dengan nada kesal.
"Berhenti, Patriach Bai!" ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Kenapa aku mendengar suara master di dalam kepalaku?" pikir patriach Bai sambil menghentikan langkahnya.
"Aku sudah keluar dan bahan yang kau cari sudah kuambil, jangan membuang buang waktu untuk mengeceknya!"
"Jika kau melakukan hal itu, maka itu membuktikan bahwa kau meragukanku!" ucap Xiao Tian melalui telepati dengan nada tinggi.
"Master menggunakan telepati?"
"Kenapa master mengatakannya seakan kalau dia sedang kesal?" pikir Patriach Bai sambil mengerutkan dahi.
"Kenapa kau diam saja?"
"Cepat kembalilah ke tempatmu!"
"Bukankah hari ini kau ingin aku mengikuti turnamen yang kau maksudkan?" tanya Xiao Tian melalui telepati dengan nada kesal.
"Ba ... baik, master."
"Aku akan kembali ke gedungku," ucap Patriach Bai sambil menoleh ke kanan dan kekiri.
"Haih, perasaanku mengatakan kalau master sedang marah. Aku tak boleh menyinggungnya lagi. Mau tak mau aku harus kembali ke gedungku," pikir Patriach Bai sambil menghela napas.
Patriach Bai membalikkan badannya, lalu berjalan keluar wilayah terlarang sesuai perintah Xiao Tian.
"Kenapa anda kembali secepat ini?" tanya para penjaga sambil memasang wajah heran.
"Haih, sudahlah. Aku tak mau membahasnya," ucap Patriach Bai sambil berjalan melewati para penjaga.
__ADS_1
Setelah berhasil meyakinkan Patriach Bai untuk menjauhi wilayah terlarang, Xiao Tian berkeliling seluruh wilayah perguruan dengan teknik tubuh ilusi yang masih aktif.
Sambil memanfaatkan tubuhnya yang tidak dapat dilihat semua orang, Xiao Tian berkeliling sambil menandai semua lokasi agar bisa digunakan sebagai titik teleportasi saat keadaan mendesak.