Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 184 : Si Gendut berhasil menyusul


__ADS_3

Karena serangan mendadak dari raja siluman rubah putih Xiao Tian telah dikendalikan oleh sisi gelapnya lagi. Di dalam alam pikirannya, Xiao Tian melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh sisi gelapnya saat mengendalikan tubuhnya.


Dia merasa lega dengan tewasnya raja silukan rubah putih, tapi kini dia masih bingung bagaimana caranya mendapatkan kesadarannya kembali.


#Alam nyata


#Lembah naga


Si Gendut berhasil menyusul Xiao Tian berkat bantuan Huanran, dia berhenti berlari sejak melihat naga hitam raksasa sedang beradu kekuatan dengan naga hijau raksasa.


Demi membantu naga hitam raksasa, Si Gendut yang telah dirasuki Huanran melemparkan rantai emas untuk mengikat naga hijau raksasa.


Huanran menggunakan rantai emasnya karena dia tahu bahwa naga hijau raksasa adalah perwujudan dari roh jahat, entah bagaimana caranya sebuah roh bisa menyentuh dan disentuh oleh makhluk yang memiliki fisik. Bahkan bisa saling menyerang dan diserang hingga mengalami luka bagai memiliki sebuah fisik.


Ketika rantai emas mengikat naga hijau, Naga tersebut langsung terjatuh ke daratan. Bukan hanya itu, fisik naga tersebut juga berangsur memudar hingga terlihat transparan. Naga hijau raksasa perlahan lenyap setelah lebih dari tiga puluh detik terikat oleh rantai emas.


Melihat kejadian tersebut, Si Gendut mengambil alih kesadarannya hingga membuat Huanran terpaksa keluar dari tubuh si gendut.


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Kenapa naganya menghilang?" tanya si Gendut.


"Aku pun tak tahu. Padahal aku ingin bertanya padanya, bagaimana cara roh menyentuh makhluk yang memiliki fisik. Kalau saja aku tahu caranya, aku pasti sudah bisa menyentuh mas Endut tanpa harus merasuki tubuh orang lain," ucap Huanran dengan memasang muka cemberut.


"Sudahlah, mungkin belum saatnya. Ambil saja sisi positifnya, meski kita belum tahu caranya, setidaknya kita tahu bahwa ada cara lain menyentuh tubuh seseorang tanpa merasuki atau menciptakan tubuh baru."


"Jangan cemberut terus nanti cantikmu hilang loh," goda si Gendut.


"Ah mas Endut, sempat-sempatnya menggombal," ucap Huanran sambil tersipu malu.


Sejak menghilangnya tubuh naga hijau raksasa, ribuan naga hijau yang tergeletak di tanah juga ikut menghilang tanpa sisa.


Naga hitam raksasa langsung terbang mendekati si Gendut dan Huanran yang telah menolongnya. Dia langsung menawarkan punggungnya agar dinaiki mereka berdua.


"Terimakasih karena menawarkan kami tumpangan, ngomong-ngomong dimana guru Xiao Tian dan yang lainnya?" tanya si Gendut.


"Mau mas Endut tanya berkali-kali juga percuma. kita kan tak mengerti bahasanya," Sambung Huanran.


"Benar juga ya, hehehe," ucap Si Gendut sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Setelah si Gendut dan Huanran menunggangi punggungnya, naga hitam raksasa membawa mereka menemui Xiao Tian yang berada jauh di atas tebing.


Sebelum mendekati Xiao Tian, tiba-tiba saja Huanran memasuki cincin ruang si Gendut.


"Kenapa kau malah sembunyi?" tanya Si Gendut.


"Entah mengapa, Pangeran Xiao Tian tak terasa seperti biasanya. Terdapat aura kegelapan yang sangat mengerikan di sekujur tubuhnya," ucap Huanran.


"Kau ini ada-ada saja, mana mungkin guru memiliki aura kegelapan. Itukan jurus aliran hitam. Sedangkan selama ini dia hanya menggunakan jurus aliran putih."


Tanpa rasa ragu, si Gendut melompat mendekati Xiao Tian. Saat dia menepuk pundaknya, Dia mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Seketika tubuhnya gemetar seperti orang ketakutan. Jantungnya berdegup begitu kencang. Seketika dia mematung tak berdaya.


Alasan mengapa si Gendut mematung tak berdaya yaitu karena Xiao Tian pikir si Gendut adalah orang misterius yang baru saja kabur darinya. Karena itu dia mengeluarkan aura gelap yang sanggup membuat siapapun mematung tak berdaya. Setelah membuatnya tak berdaya, Xiao Tian mulai mengeluarkan hawa membunuh yang dapat membuat seorang Dewa Petarung sesak napas.


Melihat si Gendut dalam bahaya, Huanran mentransfer sedikit kekuatannya kepada si Gendut agar bisa membantunya bergerak.


Setelah mendapat sedikit kekuatan Huanran, si Gendut langsung bisa melepaskan tangannya dari pundak Xiao Tian. Setelah itu dia langsung mengeluarkan pedang dari cincin ruangnya.


"Siapa kau, dan apa yang kau lakukan di tubuh guruku?" tanya si Gendut sambil menghunuskan pedang ke punggung Xiao Tian.


Xiao Tian menghilang dari pandangan si gendut lalu mencul tepat di belakangnya, dengan nada mengancam dia berkata,


"Aku adalah gurumu, dan sejak awal tubuh ini memang tubuhku. Kenapa kau menghunuskan pedangmu padaku?"


"Apa kau sudah tak mengakuiku sebagai gurumu lagi?"


"Oh iya ngomong-ngomong, bagaimana caramu melepaskan diri dari teknik penghenti langkahku?"


"Aku tak menggunakan teknik apapun, aku hanya memusatkan semua tenagaku ke tangan yang telah menyentuh pundakmu," jawab si Gendut.


Xiao Tian mendekatkan mulutnya ke telinga si Gendut lalu dengan nada rendah dia berkata,


"Jangan berbohong, teknikku bahkan bisa membuat seorang Dewa Petarung lapisan puncak tak mampu menggerakkan tubuhnya, Sedangkan kau hanya seorang jenderal petarung lapisan lima. Bagaimana mungkin kau bisa lolos dari teknikku hanya dengan memakai kekuatanmu."


"Apa kejadian tadi perbuatan dari hantu kesayanganmu?"


"Kalau tak salah namanya Huanran ya?"


"Tolong keluarkan dia, aku ingin melihatnya menari di depanku."


Mendengar ucapan Xiao Tian si Gendut langsung berkata,


"Aku tak akan menuruti perintahmu."


"Kau bukanlah guruku, kau hanyalah penipu yang sedang meminjam tubuh guruku."


"Rasakan ini!" Si Gendut menebaskan pedangnya ke arah Xiao Tian dengan kecepatan tinggi. Namun pedang tersebut malah potong terbelah menjadi dua setelah mengenai tangan kiri Xiao Tian.

__ADS_1


"Murid durhaka, apa kau ingin memotong tangan kiri gurumu sendiri?" tanya Xiao Tian.


"Sial aku terlalu terbawa emosi, syukurlah tangannya tak apa-apa. Tapi bagaimana caraku menyadarkannya tanpa menggunakan pedang."


"Sepertinya hanya Huanran yang bisa melakukannya, tapi sejak tadi dia tak mau menunjukkan dirinya," pikir si Gendut.


"Mas Endut, larilah."


"Dia bukan lawan kita," ucap Huanran melalui telepati.


"Tapi ... " belum sempat menyelesaikan ucapannya Huanran berkata, "Tak ada kata tapi, cepatlah pergi."


"Pergi?"


"Ingin pergi kemana?" ucap Xiao Tian melalui telepati.


"Sial, dia bisa mendengar pembicaraan kita," ucap Huanran.


Xiao Tian mencekik leher si Gendut lalu berkata, "Akan kubantu kau pergi ke tempat lain."


"Gu ... guru, tolong sadarlah!"


"Jangan biarkan kegelapan menguasaimu!" ucap si Gendut."


Karena melimat mas Endutnya dalam bahaya, Huanran pun langsung keluar dari cincin ruang untuk merasukinya.


Setelah merasuki tubuh si Gendut, Huanran langsung melilitkan rantai emas ke tangan kanan Xiao Tian yang sedang mencekik tubuh si Gendut. Setelah rantai emas melilit ke tangan Xiao Tian, cekikkan tangan kanannya mulai terlepas. Tangannya mulai mengeluarkan asap, hingga membuat Xiao Tian berteriak kepanasan.


Demi melepaskan rantai emas, Xiao Tian menggunakan ribuan cambuk hitam ke arah tubuh si Gendut.


Karena kecepatan cambuk Xiao Tian jauh di atas Huanran, alhasil ribuan cambuk hitam berhasil mengenai tubuh si Gendut tanpa terkecuali.


Setelah terkena serangan bertubi-tubi dari cambuk hitam Xiao Tian, rantai emas pun terlepas dari tangan Xiao Tian.


Meski sudah rantai emas telah terlepas dari tangannya, Xiao Tian tak berhenti mencambuk tubuh si Gendut. Jika saat ini Huanran tak merasukinya, mungkin si Gendut akan mengalami luka yang sanggup membuatnya menghembuskan napas terakhir.


#Alam pikiran


"Sial, tolong hentikan itu. Aku tak sanggup melihat semua ini, kenapa sisi gelapku begitu sulit di kendalikan."


Saat ini roh Xiao Tian sedang terikat rantai ilusi di alam pikiran. Sejak gelang Dewa mengalami keretakan, rantai ilusi mulai muncul dan mengikat rohnya setiap dia kehilangan kendali. Semakin banyak retakan yang muncul di gelang Dewa, maka semakin banyak juga rantai yang akan mengikatnya.


Saat ini hanya kedua kakinya saja yang terikat rantai. Meski begitu, Xiao Tian tak bisa lepas dari rantai tersebut dengan mudah. Memerlukan qi murni bertipe cahaya untuk melepaskan rantai-rantai tersebut. Akan tetapi karena sedikitnya energi qi bertipe cahaya yang dia miliki, alhasil sisi gelap lebih mudah menguasainya.


Xiao Tian mencoba segala hal untuk menghancurkan rantai ilusi tersebut, dari menembakkan bola api ke rantai ilusi hingga memberontak dengan seluruh kekuatannya.


#Alam nyata


Xiao Tian telah mengambil alih tubuhnya kembali, ribuan cambuk hitam menghilang bersamaan dengan kembalinya kesadaran Xiao Tian. Si Gendut yang telah terluka parah, tergeletak pingsan tak berdaya di daratan.


"Apa yang telah kulakukan, kalau ini terus terjadi. Aku mungkin akan melukai semua orang yang kusayangi."


"Pertama Kaibo, sekarang si Gendut dan Huanran. Entah siapa lagi yang akan menjadi korban amukanku," ucap Xiao Tian dengan frustasi.


Xiao Tian berjalan mendekati tubuh si Gendut, lalu mengobati semua luka yang dia terima.


Setelah mekberikan pertolongan pertama kepada si Gendut. Xiao Tian membuka portal ruang hampa untuk mengeluarkan teman-temannya.


Ketika portal terbuka, Taiwu dan teman-temannya keluar dari portal dengan terburu-buru. Mereka sangat menghawatirkan Xiao Tian dan si Gendut.


"Pangeran!"


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Taiwu sambil melompat turun dari naga biru. Diikuti oleh teman-temannya yang lain.


"Aku baik-baik saja, tapi si Gendut ... " Xiao Tian tak sanggup menyelesaikan ucapannya.


Dia masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri karena telah diluar kendali.


"Ge ... gendut?


" Apa yang terjadi padanya?" Taiwu bertanya karena belum melihat tubuh si Gendut yang berada di belakang tubuh Xiao Tian.


"Dia ada di belakangku, lihatlah baik-baik." Xiao Tian menjawab dengan wajah yang murung.


Setelah melihat ke belakang tubuh Xiao Tian, mereka pun terkejut.


"Ya tuhan!"


"Lukanya begitu parah, aku bahkan nyaris tak bisa merasakan napasnya sama sekali."


"Napasnya terlalu lemah," ucap Taiwu.


"Kemana perginya ribuan naga hijau itu?" tanya Kaibo.


"Mereka telah lenyap karena seranganku," jawab Xiao Tian sambil menundukkan kepalanya.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Seperti yang diharapkan dari ayah Xiao Tian," sambung Jingmi dengan wajah kagum.


"Ketua, kenapa wajahmu begitu murung?"


"Aku tahu kondisi si Gendut begitu memprihatinkan, tapi bukan berarti kau harus terus murung seperti itu," ucap Su Yan sambil mengerutkan dahinya.


"Benar kata Su Yan, kenapa kau sangat murung?" tanya putri Jia Li.


"Mulai sekarang tinggalkan saja aku sendiri, pulanglah dan jangan ikuti aku menuju laut barat," jawab Xiao Tian sambil menatap ke bawah.


"Apa maksud ucapanmu?"


"Apa kau menganggap kami sebagai beban?" tanya Su Yan.


"Bukan itu yang kumaksud, aku tak ingin kalian bernasib seperti si Gendut," jawab Xiao Tian.


"Itu sudah resiko kami, swjak awal kami sudah tahu kalau perjalanan kita sangat berbahaya," sambung putri Jia Li.


"Tidak, bukan perjalanan saja yang berbahaya. Akan tetapi aku juga berbahaya bagi kalian, Kaibo pun tahu akan hal itu.


"Sebenarnya yang melukai si Gendut bukanlah musuh ataupun orang lain, pelakunya adalah aku sendiri," jawab Xiao Tian.


"Apa maksud ucapan ayah?"


"Bagaimana mungkin ayah Xiao Tian bisa menjadi pelakunya?" tanya Jingmi.


"Apa kau kehilangan kendali lagi?" tanya putri Jia Li.


"Begitulah, seperti yang kau ketahui,


saat aku diluar kendali. Aku bukan diriku lagi. Aku tak tahu alasan mengapa kekuatan kegelapan menguasaiku."


"Setiap nyawaku terancam, sisi gelap selalu muncul dan mendominasi tubuhku."


"Aku tak ingin melukai kalian, tolong menjauhlah dariku," ucap Xiao Tian.


Plakkkk


Putri Jia Li menampar pipi kiri Xiao Tian dengan cukup keras. Saking kerasnya tamparan tangan Putri Jia Li, tamparan tersebut meninggalkan bekas luka yang begitu merah.


"Apa maksudmu berkata seperti itu!"


"Apa kau sudah tak memiliki kepercayaan terhadap kami?" tanya putri Jia Li.


"Bukan itu maksudku, aku hanya ... " belum sempat Xiao Tian menyelesaikan kalimatnya, Putri Jia Li memotong ucapannya dengan berkata, "Hanya apa?"


"Hanya tak ingin melukai kami saat kau mengamuk?"


"Lalu bagaimana jika kau mengamuk selamanya?"


"Apa kau ingin menghindari kami terus!" bentak Putri Jia Li.


"Aku memang tak ingin menghindari kalian selamanya, Tapi ... ,"


"Bagaimana jika aku mengamuk lagi?" tanya Xiao Tian.


"Akan kutampar kau sampai kau kembali sadar."


"Sama seperti yang kulakukan barusan," jawab putri Jia Li.


"Baiklah, aku akan membiarkan kalian ikut."


"Tapi ... " belum sempat Xiao Tian menyelesaikan ucapannya, putri Jia Li berkata, "Tak ada kata tapi, intinya kami boleh ikut bersamamu titik."


Karena waktu sudah malam dan lembah naga merupakan tempat yang berbahaya, Xiao Tian membangun sebuah rumah yang terbuat dari tanah dengan menggunakan teknik pengendali elemen miliknya. Demi menghindari serangan dadakan dari musuh, merekapun berjaga secara bergantian di luar rumah tersebut.


"Luar biasa, kau bahkan bisa membuat rumah sebesar ini dalam waktu sekejap mata. Aku semakin mengagumimu ketua," ucap Su Yan sambil melihat rumah yang Xiao Tian bangun.


"Aku akan berjaga diluar, untuk perempuan istirahatlah di dalam rumah. Dan untuk para pria, tidurlah secara bergantian," ucap Xiao Tian.


"Biar aku yang berjaga duluan. Aku belum merasa mengantuk sekarang, kau tidurlah lebih dulu pangeran," ucap Taiwu.


"Baiklah, panggil aku atau yang lain saat kau sudah mengantuk," sambung Xiao Tian.


"Baiklah, pangeran," ucap Taiwu sambil memberi hormat.


Setelah memasuki rumah buatan Xiao Tian, mereka terkejut dengan pemandangan di dalam rumah tersebut. Tak ada properti apapun hanya sebuah ruang kosong tanpa pembatas ruangan.


"Ehm, Yanyan apakah kau bisa membuat pembatas antara tempat tidur pria dan wanita?" tanya Putri Jia Li.


"Baiklah, akan kubuatkan." Xiao Tian membuat pembatas ruangan antara ruang pria dan wanita. Jingmi dan Putri Jia Li memasuki ruangan yang sebelah kanan dan para pria tidur di ruangan sebelah kiri.


Sebelum menutup matanya, Xiao Tian memikirkan soal kejadian hancurnya dua buah rantai yang mengikatnya di alam pikiran. Dia masih bingung tentang alasan hancurnya kedua rantai tersebut. Saking bingungnya dia pun sampai tak memperhatikan sekitarnya.


Ketika sedang bengong dia terkejut melihat Dewa petir yang tiba-tiba muncul tepat di hadapannya. "Yo!"


"Ya tuhan, bisakah kau berhenti mengejutkanku!" bentak Xiao Tian.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2