
Turnamen di tunda beberapa saat oleh Chen Li karena dia merasa bahwa nyawanya sedang terancam. Dia memiliki insting yang cukup kuat dan tak pernah meragukan instingnya tersebut.
Lian Ting yang terkejut akan perubahan sikap jenderal Chen Li langsung berinisiatif untuk mendekatinya. Dia melompat ke tengah arena lalu berkata, "Apa maksud semua ini jenderal?"
"Kenapa kau menunda turnamennya?"
"Bukankah seharusnya turnamen delakukan tanpa sebuah jeda?"
"Itu kan yang tertulis dalam permintaanku,"
Mendengar lontaran pertanyaan dari mut Lian Ting, Tian Zhong pun mencoba membungkamnya dengan cara melontarkan pertanyaan lain yang disertai dengan tekanan qi yang mendominasi.
"Apa kau sedang mempertanyakan keputusanku?" tanya Jenderal Chen Li sambil mengeluarkan tekanan yang cukup kuat hingga membuat Lian Ting terdiam kaku dan gemetar ketakutan.
Karena kultivasi jenderal Chen Li jauh lebih tinggi dari pada kultivasi Lian Ting, alhasil Lian Ting langsung terdiam kaku sambil gemetar ketakutan.
"Ada apa dengannya?"
"Kenapa dia seakan menjaga jarak denganku?"
"Apa dia kesal karena hasil turnamen tadi?"
"Aku harus memenangkan hatinya lagi, jika tidak rencanaku untuk merampas wilayah sekte kecil itu akan hancur," pikir Lian Ting dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
Ketika Lian Ting ingin berusaha berbicara kembali, Chen Li menatap dirinya dengan tatapan yang begitu tajam seakan mengisyaratkan kalau saat itu dia tak ingin diganggu. Sadar bahwa memaksa untuk berbicara sekarang adalah hal yang bisa memperburuk suasana, dia pun terdiam hingga akhirnya membiarkan jenderal Chen Li pergi keluar gedung.
Sementara itu, Tian Zhong dan para bawahan Xiao Tian yang tersembunyi dibalik bayangan mengamati jenderal Chen Li dari tempat yang cukup jauh. Mereka terus mengikuti gerakan langkah jenderal Chen Li dari kejauhan sambil memprediksi apa yang akan dilakukan jenderal angkuh itu.
Selain mengandalkan para bawahannya, Xiao Tian juga mengamati jenderal Chen Li dari balik topeng Dewanya.
"Sesuai dugaan, dengan keangkuhan jenderal Chen Li dia pasti tak akan memberitahukan kepada Tian Ling bahwa saat ini dia sedang ketakutan. Berdasarkan perkiraanku, dia pasti akan mencari tempat sepi untuk memanggil bantuan."
"Sisanya kuserahkan padamu, Tian Zhong," pikir Xiao Tian sambil tersenyum di balik topeng dewanya.
Setelah melihat Jenderal Chen Li ingin pergi meninggalkan gedung, Xiao Tian pun menyuruh penatua Zhao untuk membawa penatua Xia Meng pergi.
"Bawa Xia Meng ke tempat istirahat, aku tak ingin melihatnya bertindak berdasarkan perasaan lagi," ucap Xiao Tian sambil memegang tubuh Xia Meng yang pingsan karena dia.
"Baik pa ... , maksudku penatua Yan," ucap Penatua Zhao sambil menggendong tubuh penatua Xia Meng.
Setelah melihat jemderal Chen Li keluar gedung, Xiao Tian pun memulai rencana lainnya. Dan rencana tersebut diawali dengan menyuruh Tian Bai dan seluruh anggota sekte badai berduri membungkuk dan memberi hormat kepadanya. Semua itu dia lakukan demi memancing para penatua alkemis dari sekte lain yang penasaran akan perkembangan para murid alkemis di sekte badai berduri. Dia berencana menjadikan dieinya umpan untuk menyered keluar para penatua satu persatu dengan cara halus.
"Tian Bai?" ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Iya kak, ada apa?" jawab Tian Bai melalui telepati.
"Membungkuklah padaku, dan suruh semua anggota sekte mengikutimu. Buatlah seolah olah kalian menghormatiku karena telah membantu melatih para alkemis," sambung Xiao Tian melalui telepati.
"Tapi kak, bagaimana jika mereka mulai mengawasimu?"
"Identitasmu bisa bisa ... ," belum sempat Tian Bai menyelesaikan kalimatnya melalui telepati, Xiao Tian memotong pembicaraan dengan berkata, "Lakukan saja,"
Tian Bai langsung beranjak bangun dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati kursi Xiao Tian. Sambil berjalan mendekat dia memberi komando kepada semua orang melalui telepati untuk mengikutinya saat dia membungkuk.
"Terimakasih karena telah memberi kemenangan untuk sekte kita," ucap Tian Bai sambil membungkukkan badan.
Semua murid beserta tetua sekte badai berduri, ikut membungkukkan kepala mereka mengikuti arahan Tian Bai.
Sontak ketiga sekte lain langsung menatap ke arah Xiao Tian. Awalnya mereka mengabaikan eksistensi Xiao Tian karena menganggapnya sebagai tetua lemah dari cabang alkemis belaka. Tapi melihat reaksi patriach Bai dan seluruh penghuni sekte badai berduri membuat mereka berpikir bahwa dialah dalang dibalik naiknya ketrampilan alkemis di sekte itu.
"Penatua Xen, awasi pendekar bertopeng itu. Sepertinya dia bukan orang sembarangan," gumam patriach Sun Yu dari sekte naga bersayap.
__ADS_1
"Baik, patriach," ucap Penatua Xen sambil memberi hormat.
Sekte naga bersayap dan sekte harimau emas mengirimkan salah satu penatua mereka untuk menyelidiki pria bertopeng dari sekte badai berduri itu. Sedangkan Tian Ling mengabaikan Xiao Tian karena berpikir kalau dia hanyalah semut belaka. Dia menilainya begitu rendah karena tak dapat merasakan tingkat kultivasinya sama sekali.
Meski Tian Ling terkesan acuh, para tetua dari sekte singa perak tak diam begitu saja. Tanpa diperintah oleh patriach mereka, para tetua berinisiatif untuk mengawasi gerak gerik Xiao Tian. Dan mencari tahu metode latihan Xiao Tian guna meningkatkan ketrampilan alkemis sekte mereka.
Karena ini berkaitan dengan ilmu alkemis, para tetua yang tertarik mengejar Xiao Tian adalah para alkemis bintang empat yang rata rata memiliki kultivasi dibawah pendekar alam roh. Meski kultivasi mereka lemah, mereka memberanikan diri untuk mengawasi Xiao Tian karena berpikir bahwa Xiao Tian tak memiliki pondasi kultivasi sama sekali.
Sadar bahwa banyak mata yang mulai memperhatikannya, Xiao Tian pun tersenyum.
"Jaring telah berhasil ditebar, tinggal menariknya keluar demi mendapatkan hasil," ucap Xiao Tian di dalam hati.
Setelah menyuruh semua orang berhenti membungkuk, Xiao Tian berniat pergi meninggalkan gedung. Tentunya Tian Bai tak mengijinkan dia lergi tanpa ditemani siapapun. Namun Karena Xiao Tian bersikeras menolak untuk dikawal, Tian Bai pun menyerah untuk memaksakan kehendaknya. Meski berkata pada Xiao Tian bahwa dia membiarkannya pergi sendirian, Tian Bai tetap menyuruh Penatua Zhao untuk menyusulnya setelah Xiao Tian sudah pergi jauh ke luar gedung.
#####
Disaat baru keluar dari gedung, Xiao Tian melihat Chen Li yang berjalan menuju ke arah timur. Mengetahui hal tersebut Xiao Tian memilih berjalan ke arah barat untuk memancing para tetua alkemis ke tempat yang sepi.
Tempat sepi yang dimaksud tentunya di daerah gedung alkemis, semuanya begitu sepi karena semua orang berada di tempat turnamen.
Melihat mangsa mereka sudah berada di tempat sepi, para tetua langsung menunjukkan diri dan mengepung Xiao Tian secara bersamaan.
Woosh wooshh
"Berikan gulungan metode rahasia alkemis yang kau miliki!" ucap para tetua dari tiga sekte yang berbeda secara bersamaan dan tanpa direncanakan.
Sadar bahwa tak hanya sektenya yang mengincar metode latihan Xiao Tian, penatua Xen langsung berkata,
"Hei kalian!"
"Apa yang kalian lakukan disini!"
"Dia adalah mangsa sekteku!" ucap penatua Xen sambil menatap tajam para tetua.
"Sekte singa perak kami juga menginginkannya, jadi kuharap kalian menyerah saja," ucap penatua Zu sambil tersenyum.
"Hanya karena sektemu memenangkan turnamen selama berturut turut di tahun tahun sebelumnya, jangan likir kalau kalian bisa merebut mangsaku!" bentak penatua Xen sambil mengeluarkan pedang dari dalam cincin ruangnya.
Ketika para tetua sedang berdebat, Xiao Tian menganalisa kekuatan serta skill mereka dengan gelang Dewa. Berdasarkan pengamatanya, saat itu dia sedang dikepung oleh tiga orang pendekar alam roh lapisan kedua dari sekte naga bersayap. Satu orang pendekar alam roh lapisan ketiga yang berasal dari sekte naga bersayap. Dan lima orang pendekar alam roh lapisan ke enam yang berasal dari sekte Singa perak.
"Aku mengerti maksud kalian mengepungku, tapi bisakah kalian berhenti berdebat?"
"Adu mulut tak akan menyelesaikan masalah, lebih baik kalian adu kekuatan saja agar bisa menentukan siapa pemenangnya," ucap Xiao Tian sambil meregangkan otot.
"Ide bagus," ucap para tetua dari sekte singa perak.
"Sudah jelas kalau aku yang dirugikan jika beradu kekuatan disini. Aku menyesal karena pergi kemari seorang diri," pikir Penatua Xen sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Tiga lawan lima tidaklah menguntungkan, tapi metode misterius itu layak untuk diperjuangkan. Sepertinya tak ada jalan lain selain meminta bantuan sekte naga bersayap," pikir salah satu tetua sekte harimau emas sambil melirik ke arah penatua Xen.
"Sepertinya mereka juga menyadari kemampuan mereka. Baguslah kalau begitu," pikir Penatua Xen sambil membalas tatapan penatua sekte harimau emas.
"Haruskah kita mengeroyok mereka?" ucap penatua Yun dari sekte singa perak.
"Tak perlu, meski penatua Xen berasal dari cabang petarung kultivasinya tak jauh berbeda denganku. Bahkan cenderung lebih rendah karena habis mengalami luka dalam sebelumnya," ucap penatua Ding melalui telepati.
"Aku mengerti," jawab penatua Yun sambil menganggukkan kepala.
Ketika delapan tetua itu saling bertarung. Penatua Yun mengeluarkan rantai hitam dari cincin ruangnya lalu mengikatkan rantai tersebut ke tubuh Xiao Tian. Dengan senyum di wajahnya dia pun berkata, "Jangan melawan dan ikuti saja aku, oke!"
Sepertinya teman temanmu sedang terpojok, lihatlah," ucap Xiao Tian sambil melihat ke atas langit.
__ADS_1
Penatua Yun yang berpikir bahwa Xiao Tian tak mungkin bisa lepas dari rantai hitamnya langsung menatap ke atas untuk memastikan kebenaran ucapannya. Namun siapa sangka ketidak kewaspadaanya terhadap Xiao Tian membuatnya mencapai ajal lebih cepat.
Xiao Tian tiba tiba saja ada di belakangnya dan sebuah pedang bergerigi sudah menembus punggung penatua Yun.
"Se ... sejak kapan kau ada dibelakangku?" tanya Penatua Yun sebelum mencapai ajalnya.
"Sejak kau menengok ke atas langit," ucap Xiao Tian sambil menarik kembali pedangnya.
Brukkk
"Berteleportasi dengan rantai hitam di tubuhmu, lalu menghancurkan rantai tersebut sekaligus dan langsung mengeluarkan pedang dari dalam cincin ruangmu untuk menusuknya dari belakang. Lumayan juga gaya bertarungmu itu ya," ucap Dewa petir sambil melirik ke arah Xiao Tian.
Brukkk
Ketika tubuh Penatua Yun terjatuh, para tetua singa perak belum juga menyadari bahwa teman seperjuangannya telah tewas di tangan Xiao Tian.
Mereka terlalu fokus meladeni serangan para tetua dari sekte lain, dan berniat untuk membunuh mereka.
Setelah mereka benar benar berhasil menghabisi para tetua dari sekte lain. Xiao Tian langsung muncul secara tiba tiba tepat di belakang punggung penatua Ding dengan pedang yang sudah dia tempelkan ke leher mangsanya.
"Bertarung di atas udara memang seru ya?"
"Sampai sampai kalian melupakan aku dan temanmu," ucap Xiao Tian sambil tersenyum di balik topeng dewanya.
"Ba ... bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Penatua Ding dengan mata terbelalak.
"Tanyakan itu pada penjaga neraka," ucap Xiao Tian sambil menarik pedangnya hingga membuat Penatua Ding kehilangan nyawannya.
"Beraninya kau!" ketiga penatua melayangkan pedang mereka secara bersamaan ke arah Xiao Tian, namun pedang mereka malah patah disaat berhasil menyentuh tubuh Xiao Tian.
"Hei hei, pedang kalian kotor tahu!"
"Darahnya bertebaran ke jubahku deh!" ucap Xiao Tian sambil mengeluarkan aura membunuh yang cukup kuat.
"Pe ... pendekar alam fana lapisan pertama!"
"Sepertinya kami salah memilih musuh," ucap para tetua dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
"Kalian terlalu lambat menyadarinya," ucap Xiao Tian sambil menebas leher para tetua yang terdiam kaku karena aura membunuh miliknya.
Brukk
Brukk
Brukk
Tubuh para tetua terjatuh hingga menyentuh tanah. Tepat ketika urusan Xiao Tian selesai, Tian Zhong pun datang mendmui Xiao Tian karena mencium bau darah saat kebetulan lewat.
"Apa sebenarnya rencanamu?" tanya Tian Zhong yang bingung akan rencana Xiao Tian.
"Cukup diam dan ikuti saja alurnya,"
"Ngomong ngomong kenapa kau malah disini?"
"Pergilah dan lanjutkan rencananya!"
"Jika tidak semuanya akan kacau," ucap Xiao Tian sambil menatap Tian Zhong.
"Bagaimana dengan jejak pertarunganmu ini?" tanya Tian Zhong sambil mengerutkan dahi.
"Aku bisa mengurus mayat mereka. Pergilah," ucap Xiao Tian sambil menatap tajam mata Tian Zhong.
__ADS_1
"Baiklah, jika memang itu maumu," ucap Tian Zhong sambil beranjak pergi meninggalkan Xiao Tian.