
#Gedung cabang petarung
Xiao Tian dan patriach Bai sampai di tempat pendaftaran lebih cepat berkat teknik teleportasi. Namun tempat itu begitu sepi, seakan akan tak ada acara apapun.
"Kenapa begitu sepi?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Ada penjelasan akan hal itu, sebenarnya saat ini semua orang berada di depan pintu masuk gedung. Pintu akan dibuka setelah semua tetua berkumpul. Selain itu, bisakah kau lihat ke atas langit?" tanya Patriach Bai sambil menunjuk ke atas langit.
"Bukankah itu array pelindung?" tanya Xiao Tian dengan polosnya.
"Benar sekali, array itu dapat menghalangi segala macam jenis teknik perpindahan ruang dan hal semacamnya. Itu diaktifkan oleh para tetua agar tak ada orang luar yang bisa memasuki tempat ini. Pemilihan wakil siswa sangatlah sakral dan tak boleh diketahui oleh orang luar. Selama ini tak ada yang bisa menembus pertahanan array ini.
Setahuku, teknik legendaris seperti halnya telepirtasi jarak jauh yang baru kau gunakan tidak bisa menembus array ini."
"Apa yang membuat teknikmu berbeda dengan tekniknya?" tanya patriach Bai sambil menatap tajam mata Xiao Tian.
"Tekniknya?"
"Siapa yang kau maksud?" tanya Xiao Tian sambil membalas tatapan Patriach Bai.
"Hal ini sangat tabu bagiku, tapi aku harus memberitahukannya padamu. Tak hanya master yang memiliki teknik teleportasi, kakakku juga memilikinya. Namun tekniknya tak bisa menembus array ini. Apakah mungkin bahwa kau adalah guru dari kakakku?" tanya Patriach Bai sambil mengerutkan dahi.
"Kakakmu?"
"Seingatku kau memang memiliki kakak, dan telah lama menghilang selama lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Dan kau telah lama menganggapnya tiada karena menghilang begitu lama dan membiarkan sekte ini terjatuh. Aku tak memang tahu bahwa kau memiliki seorang kakak, tapi seingatku kau sangat tak ingin membahasnya. Kenapa kau tiba tiba saja berubah?"
"Apakah dia baru saja kembali?"
"Jika memang iya, bisakah kau pertemukan kami?" tanya Xiao Tian sambil menatap tajam mata Patriach Bai.
"Sial aku keceplosan, aku tak boleh memberitahukan bahwa kakakku ada disekitar sini. Aku takut master menyadari eksistensi relik kaisar iblis di tubuh kakakku jika mereka bertemu."
"Apa yang harus kukatakan?" pikir Patriach Bai sambil menundukkan kepala.
Patriach Bai tertunduk dengan tangan yang terkepal kecang, dia begitu bingung harus berkata apa kepada Xiao Tian. Melihatnya begitu tertekan, Xiao Tian pun menepuk punggungnya lalu berkata,
"Jangan dipikirkan, lupakan saja jika kau tak ingin memberitahuku. Dari raut wajahmu saja aku bisa melihat bahwa kau tak ingin membicarakan ini, kalau begitu kita bahas lain kali saja. Untuk saat ini, kita keluar hedung dulu. Proses seleksi tak akan lernah dimulai jika kau belum menemui para tetua," ucap Xiao Tian sambil menepuk punggung Patriach Bai.
__ADS_1
"Baik master," ucap Patriach Bai sambil menundukkan kepalanya.
Tepat setelah itu, Xiao Tian kembali berteleportasi ke luar gedung. Dewa petir yang sejak tadi kehilangan fokus karena sedang melihat lihat sekitar tertinggal di dalam gedung dan baru menyadari kepergian Xiao Tian setelah dia menghilang.
"Eh, kemana semua orang?" ucap Dewa petir sambil menengok ke kanan dan kiri.
#Diluar gedung
Xiao Tian berteleportasi ke atas awan. Dia terlihat melayang di atas udara sehingga menarik fokus semua orang.
"Hei, bukankah itu patriatch Bai?"
"Dan siapa pria bertopeng disebelahnya?" tanya salah satu murid yang kebetulan melihatnya.
"Aneh, seingatku patriach Bai tak menyukai ketinggian," ucap tetua Xia Ning sambil mengerutkan dahi.
"Mungkinkah Patriach sudah mengatasi rasa takutnya?" pikir Xiang Ying sambil mengerutkan dahi.
"Apa yang buronan itu lakukan?"
"Bagaimana bisa dia bersama patriach?"
####
Xiao Tian menatap ke bawah untuk mencari murid murid yang memiliki kualifikasi. Dan berdasarkan penilaiannya terdapat tiga orang yang terlihat cukup kuat di bidang petarung. Sedangkan di cabang alkemis, selain Yun Yun, Ning Ying, dan Tian Ling semuanya hanya seorang pemula yang mayoritas memiliki bakat sebagai seorang alkemis bintang satu saja.
"Long Hu, Xian Juan dan Tian Fengji. Diantara semua murid, merekalah yang terbaik. Berdasarkan aturan turnamen harus ada lima perwakilan dari setiap cabang. Berdasarkan pengamatanku, selain mereka bertiga tak ada yang layak. Lalu dimana dua orang yang lain?"
"Kau tak mungkin memilih secara acak bukan?"
"Selain itu, mereka terlihat murung. Apakah kau tahu alasanya?" tanya Xiao Tian sambil menatap ke patriach Bai.
"Kenapa kau bertanya?"
"Bukankah kau sudah menyalin ingatannya?" tanya Sunlong.
"Informasi tentang itu tersegel bersamaan dengan ingatan tentang kakaknya. Jadi aku terpaksa menanyakan hal ini untuk memperoleh informasi yang diperlukan," jawab Xiao Tian melalui telepati.
__ADS_1
"Mata anda begitu tajam, mereka bertiga memang orang yang terpilih dari turnamen sebelumnya. Mereka bertiga bukanlah murid yang terkuat, karena dua murid yang lain jauh lebih kuat dibandingkan mereka. Namun kedua murid yang menjadi harapan kami itu, sudah tak ada di sekte ini lagi. Petarung nomor satu kami terbunuh saat turnamen. Sedangkan yang satunya lagi, terpaksa pindah ke sekte lain demi kelangsungan hidupnya," ucap Patriach Bai sambil mengepal erat kedua tangannya.
"Bagaimana dengan cabang alkemis?"
"Selain tiga orang yang mendemonstrasikan pemurnian pil di luar perguruan, mana dua wakil yang lainnya?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Cabang alkemis adalah cabang terburuk sekte kami. Tak ada murid yang sanggup memenangkan turnamen bahkan satu babak sekalipun," ucap Patriach Bai sambil menghela napas.
"Haih, kalau begitu dua sisanya hanya dipilih secara acak?" tanya Xiao Tian sambil menepuk dahinya.
"Aku ingin berkata tidak, namun karena itu kenyataannya mau bagaimana lagi," ucap Patriach Bai menghela napas.
"Tiga sekte lain telah sepakat agar membiarkan sekte ini terus berjalan, dengan catatan kami harus memenangkan salah satu cabang. Jadi master bisa memilih untuk bergabung di cabang manapun," ucap Patriach Bai sambil tersenyum.
"Kalau begitu, aku akan memilih cabang petarung," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Biasanya aku merasa begitu takut akan ketinggian, entah mengapa selagi aku master masih menyentuh pundakku aku tak merasa takut sama sekali," pikir patriach Bai sambil menoleh ke arah Xiao Tian.
"Turunlah lebih dulu, aku akan mengikutimu dari belakang," ucap Xiao Tian sambil menatap ke bawah.
"Bi ... bisakah kita turun bersama?" tanya Patriach Bai sambil mengeluarkan keringat dingin.
"Haih,"
"Aku hampir lupa kalau dia takut akan ketinggian," ucap Xiao Tian sambil menepuk dahinya.
Setelah berbincang cukup lama, mereka pun akhirnya turun secara bersamaan. Awalnya selain Xia Meng dan beberapa murid yang ditandai bola sinar hitam Xiao Tian, tak ada yang menyadari siapa Xiao Tian. Namun saat mereka hampir mendarat. Semua orang mulai mengetahui bahwa pria di samping patriach Bai adalah murid baru Xianlun yang sempat menghajar kedua tetua di hari pertamanya.
Meski begitu, demi menghormati patriach Bai mereka pura pura tak mengenalnya. Mereka langsung membungkuk sambil memberi hormat, ketika Xiao Tian dan Patriach Bai menyentuh daratan.
Tap
"Hormat kami patriach," ucap semua orang sambil memberi hormat.
"Maaf karena membuat kalian menunggu lama," ucap Patriach Bai sambil tersenyum.
"Buka pintunya, lalu ayo kita mulai seleksinya!" ucap patriach Bai sambil tersenyum.
__ADS_1
"Baik, Patriach," ucap para tetua sambil memberi hormat.