Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 318 : Menemui para murid


__ADS_3

Xiao Tian merubah wajahnya kembali tepat disaat hampir masuk ke dalam array pembatas naga ilusi, semua agar identitasnya tak terbongkar.


"Salam patriach," ucap para tetua alkemis dan semua murid mereka sambil memberi hormat.


"Hormat kami, patriach Tian Zong," ucap para murid cabang petarung sambil memberi hormat.


"Apa semua murid cabang alkemis sudah menguasai tekniknya?" tanya Xiao Tian sambil menatap Xiang Ying.


"Tentu patriach, semua murid telah menguasai teknik peleburan tanpa tungku. Tinggal penyatuan dan pemadatan bahan saja yang belum bisa kami praktekkan. Semua karena tak ada satupun tungku yang bisa kami gunakan untuk membantu latihan kami," ucap Xiang Ying sambil memberi hormat.


"Bukankah aku sudah menuliskan cara latihan tanpa tungku?"


"Apakah metodeku terlalu sulit?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Metode yang anda berikan tidaklah mustahil jika dipraktekkan terus menerus, hanya saja memerlukan waktu berhari hari untuk menguasai metode tersebut. Karena metode yang anda berikan memerlukan kontrol tinggi dalam pengendalian kekuatan jiwa. Jangankan murid murid kami, aku dan kedua tetua lainnya pun belum bisa menyatukan bahan herbal tanpa bantuan tungku," ucap Xiang Ying sambil menundukkan kepalanya.


"Aku benci mengakuinya, tapi memang itulah kenyataannya," ucap Xia Ning sambil menundukkan kepala.


"Sepertinya aku berharap terlalu tinggi terhadap kalian," ucap Xiao Tian sambil menghela napas.


Para tetua menundukkan kepala mereka karena merasa malu akan kemampuan mereka. Jangankan mengajarkan murid muridnya, mereka saja belum bisa mengendalikan kekuatan jiwa dengan benar.


Meracik pil tanpa tungku tidaklah mudah. Selain memerlukan kontrol yang baik dalam kekuatan jiwa, seorang alkemis juga perlu paham betul bahan yang mereka gunakan bisa disatukan dan tak memiliki elemen yang berlawanan. Menyatukan bahan dengan elemen yang berlawanan tidaklah mustahil, tapi perlu usaha dan pemahaman lebih untuk melakukannya. Dan alasan mengapa tak ada tetua yang berani menjamin kalau mereka bisa meracik tanpa tungku yaitu karena mereka sadar bahwa dalam resep yang Xiao Tian berikan terdapat bahan yang berlawanan.


"Sebenarnya apa yang membuat kalian merasa ragu?"


"Aku yakin seorang pemula seperti kalian seharusnya menguasai metodeku dengan mudah, apakah ada salah satu bahan yang kalian lupakan?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Kami yakin bahwa kami melakukan sesuai dengan gulungan. Tapi tak peduli walau sekeras apapun kami mencoba, hasilnya tetaplah sama. Kedua bahan tersebut selalu menolak satu sama lain, dan berakhir meledak di atas udara," jawab Xianlun sambil menatap Xiao Tian.


"Kedua bahan?"


"Bukankah aku memberi kalian resep yang bertuliskan tiga buah bahan?" ucap Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Itu ... , apakah rumput ilusi bukanlah sebuah kesalahan?" tanya Xia Ning dengan mata terbelalak.


"Rumput ilusi?"


"Maksudmu kalian semua mengabaikan bahan ini karena menganggapnya sebagai bahan tak berguna?" tanya Xiao Tian sambil menatap tajam mata ketiga tetua.


Ketiga tetua langsung terdiam dengan mata terbelalak, dan tak sanggup berkata apa apa karena memang itulah kenyataannya.


"Asal kalian tahu saja ... ,"


"Rumput ilusi yang kalian anggap tak berguna itu, bisa menetralkan racun dari cangkang kerang pelangi dan mengikat aura panas dari taring naga merah."


"Kalian pikir aku menulisnya tanpa alasan?" tanya Xiao Tian sambil mengeluarkan tekanan qi yang menggemparkan semua orang.


"A ... ampun patriach, kami akui kami salah dan dibutakan oleh pengetahuan dangkal kami," ucap ketiga tetua sambil membungkukkan badan.


"Sudahlah, aku tak mau dengar alasan kalian. Karena kalian sudah tahu alasan kegagalan kalian, lanjutkan latihannya lagi. Dan jangan berpikir untuk mendapatkan tungku kalian kembali, hingga semua murid cabang alkemis berhasil memurnikan pil tanpa sebuah tungku. Oh iya, aku telah memasang array pembatas, jadi kalian tak bisa keluar dari ruangan ini hingga kalian berhasil," ucap Xiao Tian sambil menatap tajam ketiga tetua.


"Baik patriach, kami mengerti," ucap ketiga tetua sambil membungkukkan badan.


"Ampun patriach, bukan maksudku untuk ikut campur. Aku tahu bahwa latihan ini penting, tapi bukankah sebentar lagi turnamen empat sekte akan dilaksanakan?" tanya Tian Ling sambil memberi hormat.


"Turnamen ya?"


"Percaya atau tidak, turnamennya telah ditunda hingga tiga hari lagi," ucap Xiao Tian sambil menatap Tian Ling.


"Ditunda?"

__ADS_1


"Atas dasar apa?" tanya Xianlun sambil mengerutkan dahi.


"Akan kujawab pertanyaanmu, jika kau dan kedua tetua yang lain berhasil melatih semua murid alkemis," ucap Xiao Tian sambil menatap tajam mata Xianlun.


"Hamba mengerti, patriach," ucap Xianlun sambil memberi hormat.


Ketika Xianlun, Xia Ning dan Xiang Ying sedang berbincang dengan Xiao Tian. Xia Hu dan para murid sedikit menguping pembicaraan mereka.


"Turnamennya ditunda?"


"Apakah itu mungkin?"


"Bukankah sekte lain sangat menantikan turnamen ini untuk segera menyingkirkan sekte kami?"


"Apakah semua karena kemunculan patriach?" pikir Xia Hu sambil mengerutkan dahi.


"Kenapa kau terdiam?"


"Lanjutkan latihanmu agar tak terkejar oleh teman temanmu," ucap Xiao Tian sambil menatap tajam mata Xia Hu.


"Ma ... maaf patriach, aku hanya terpikir soal turnamen yang ditunda. Itu terdengar agak aneh," ucap Xia Hu sambil tersenyum.


"Tak perlu kau ambil pusing, anggap saja semua itu terjadi berkat diriku," ucap Xiao Tian sambil menatap Xia Hu.


"Bagaimana dengan Long Hu, Xian Juan dan Tian Fengji?" tanya Xia Hu sambil mengerutkan dahi.


"Apa maksud pertanyaanmu?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Bukankah kau telah berjanji untuk mengadu kekuatan kami dengan mereka?" tanya Xia Hu sambil mengerutkan dahi.


"Pertanyaan yang cerdas," ucap Xiao Tian sambil menjentikkan jari.


"Bagi ruangan ini menjadi dua dengan ilusimu," ucap Xiao Tian melalui telepati.


"Perintah diterima," ucap raja siluman rubah sambil mengeluarkan gelombang ilusi dari dalam tubuhnya.p


Sebuah garis yang membagi dua ruangan tiba tiba saja muncul tepat di belakang kaki Xiao Tian. Garis tersebut mengeluarkan cahaya yang cukup tebal hingga menyilaukan pandangan semua orang. Sinar dan garis tersebut terlihat begitu nyata dimata semua orang, kecuali Xiao Tian dan para siluman rubah tentunya.


Selain sinar yang tiba tiba muncul tepat di belakang punggung Xiao Tian tersebut, para siluman rubah merah juga membuat ilusi yang sama di depan sekat pembatas ruangan dan di setiap sisi ruangan. Saat ini semua orang berpikir bahawa mereka sedang di dalam sebuah kurungan berbentuk kubus merah yang terlihat cukup transparan.


"Tak kusangka keahlianmu meningkat sejauh ini," ucap Xiao Tian melalui telepati.


"Ehehe, semua ini berkat metode yang anda ajarkan yang mulia," ucap raja siluman rubah merah sambil tersenyum.


"Apa yang anda lakukan, Patriach?" tanya Xia Hu sambil mengerutkan dahi.


"Tak ada tujuan lain selain untuk melatih kalian, secara terpisah," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.


"Aku tahu betul kalau sekte lain tidak menganggap sekte kita sebagai sebuah sekte, bahkan cenderung menganggap kita sebagai sampah yang harus segera disingkirkan. Penundaan turnamen adalah salah satu hal yang mustahil terjadi sejak dulu. Lupakan tentang turnamen ... ,"


"Tian Fengji, Long Hu dan Xian Juan pun tak mungkin menunda urusan mereka dengan kami. Selain itu, apa yang terjadi dengan atap ruangannya?"


"Terakhir kali kami lihat atapnya hancur akibat sambaran petir. Apakah anda memperbaiki lubangnya saat semuanya tak sadarkan diri?"


"Oh iya, sejak melampaui pendekar alam beast, instingku berubah menjadi semakin kuat. Entah mengapa aku merasa bahwa saat ini apa yang kulihat bukanlah kenyataan. Dan entah mengapa aku merasa asing dengan tempatku berdiri saat ini. Bisakah kau jawab semua pertanyaanku itu, Patriach?" tanya Xia Hu sambil mengerutkan dahi.


"Bocah ini benar benar sulit ditipu, menyebalkan," pikir Xiao Tian sambil memasang wajah kesal.


"Baiklah kau menang, tempat ini memang bukan ruang bawah tanah gedung cabang petarung. Semua yang kau lihat saat ini adalah palsu, dan merupakan sebuah tipuan mata belaka."


"Tapi tahukah kau, tahu terlalu banyak tidaklah baik untukmu," bisik Xiao Tian sambil mendekat ke arah Xia Hu.

__ADS_1


"Meski begitu, aku tak bisa mengabaikan fakta begitu saja. Bisakah anda jelaskan padaku tentang dimana sebenarnya kami saat ini, Patriach?" tanya Xia Hu sambil mengerutkan dahi.


"Dimensi lain, apakah kau puas dengan jawabanku?" bisik Xiao Tian ke telinga Xia Hu.


"Di ... dimensi lain?"


"Mungkinkah anda ... ," belum sempat Xia Hu menyelesaikan kalimatnya, Xiao Tian menatap tajam matanya dengan aura yang mengintimidasi. Tatapan tersebut menjelaskan bahwa dia tak ingin hal tersebut di dengar oleh orang lain. Xia Hu langsung terdiam karena paham akan situasinya.


"Bagus, jadilah murid yang baik dan berlatihlah yang rajin. Jangan banyak tanya lagi, mengerti?" tanya Xiao Tian sambil menepuk pundak Xia Hu. Xiao Tian mengeluarkan tekanan yang mendominasi untuk mengisyaratkan bahwa dia tak ingin ditanya lagi.


"A ... aku mengerti, patriach," ucap Xia Hu dengan tubuh yang gemetar.


Setelah membungkam mulut Xia Hu, Xiao Tian pun memilih untuk menjaga jarak dari murid murid yang lainnya untuk menghindari pertanyaan pertanyaan lain.


Setrlah berjarak cukup jauh dari posisi para murid, Sunlong yang masih berada dalam cincin ruang mengungkapkan rasa ingin tahunya dengan berkata,


"Berkat gulungan yang kau berikan kepada mereka, kau tak perlu menghabiskan waktu untuk melatih secara langsung."


"Selagi mereka berlatih, apakah kau akan mengamati saja atau melakukan hal lain?"


tanya Sunlong melalui telepati.


"Tentu saja aku akan memanfaatkan waktuku untuk berlatih juga. Tapi tidak didepan mereka," jawab Xiao Tian melalui telrpati.


"Teknik apa yang ingin kau kembangkan?" tanya Sunlong melalui telepati.


"Kau akan tahu setelah melihatnya, tapi pertama tama kita harus mencari Dewa konyol itu terlebih dulu," ucap Xiao Tian melalui telepati.


"Begitu ya, aku mengerti," ucap Sunlong melalui telepati.


Xiao Tian kembali menjentikkan jarinya untuk memberi tanda kepada raja siluman rubah merah, tepat setelah jarinya dijentikkan raja siluman rubah merahpun muncul tepat di hadapannya. Meski berada tepat dihadapan Xiao Tian, para murid tak bisa melihat tubuh rubah merah karena mereka masih terikat dalam ilusi mereka.


"Salam yang mulia, apakah ada yang bisa hamba lakukan lagi?" tanya raja siluman rubah merah sambil memberi hormat.


"Aku akan pergi sebentar, kau awasi terus latihan mereka dari dalam bayangan. Tetap sembunyikan tubuh kalian dari pandangan mereka dengan teknik ilusi," ucap Xiao Tian melalui telepati.


"Hamba mengerti yang mulia," ucap raja siluman rubah merah sambil memberi hormat.


"Oh iya, aku akan pergi selama seharian penuh. Jika kau dan anak buahmu lapar, makanlah diluar array agar mereka tak mencium aroma makanan kalian," ucap Xiao Tian melalui telepati.


"Tenanglah yang mulia, kultivasi kami sudah cukup memadai untuk menahan lapar selama dua hari. Mengawasi seharia tanpa makan bukanlah masalah bagi kami," ucap raja siluman rubah merah sambil memberi hormat.


"Itu berlaku jika kalian diluar Array dan tidak menggunakan banyak kekuatan qi untuk mewujudkan teknik ilusi. Berbeda dengan array array lainnya, array yang sedang kita masuki saat ini memiliki efek tertentu. Salah satu efeknya dapat membuat ras manusia bertahan hidup tanpa makan selama satu minggu penuh."


"Sedangkan efek buruknya dapat diterima oleh ras lain. Tak peduli setinggi dan sekuat apapun kultivasi dari sebuah ras, mereka akan tetap merasakan lapar jika bukan berasal dari ras manusia," jelas Xiao Tian melalui telepati.


Kruyukkkk.... suara perut raja siluman rubah merah mulai terdengar, begitupun para bawahannya yang juga mulai merasakan lapar.


"Sepertinya efeknya mulai terasa, pergilah makan secara bergantian agar ilusinya tak menghilang," ucap Xiao Tian melalui telepati.


"Baik yang mulia," ucap raja siluman rubah merah sambil memberi hormat.


Tak lama setelah itu, raja siluman rubah merah pun kembali lenyap dalam pandangan XiaoTian.


"Setelah kau menceritakan efek array ini, entah mengapa aku juga merasa lapar. Bisakah kita pergi sekarang?" tanya Sunlong melalui telepati.


"Oh, maaf karena membuatmu menunggu," ucap Xiao Tian melalui telepati sambil mengaktifkan teknik teleportasi.


"Tunggu patriach, anda mau kemana?" ucap Xia Hu yang baru sadar bahwa tubuh patriachnya itu mulai memudar.


Tak lama setelah itu dia pun menghilang dari pandangan semua orang.

__ADS_1


__ADS_2