Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 211 : Runtuhnya pagoda iblis


__ADS_3

Xiao Tian terpaksa harus bersiap menahan serangan tombak hitam yang dilapisi kekuatan qi yang begitu tinggi.


Meski tahu dia akan tiada, dia rela pasang badan demi melindungi Dewa Petir.


Xiao Tian berdiri begitu tegak tanpa menghiraukan teriakan Dewa petir yang terus menyuruhnya pergi.


Sambil memusatkan kekuatan qi di kedua pedangnya, Xiao Tian berkata, "Teruslah hidup, guru."


"Bocah sialan, kenapa kau memanggilku guru disaat seperti ini. Berhentilah bercanda, gurumu yang dulu jauh lebih hebat dari pada aku. Aku tak layak menjadi penggantinya,"


"Menyingkirlah, biarkan tombak itu mengenaiku. Kau masih memiliki tanggung jawab untuk melindungi alam semesta ini," ucap Dewa Petir sambil meneteskan air mata.


"Kau yang telah membuatku terlibat kembali dengan alam semesta ini, maka kau juga yang harus mengakhiri semuanya."


"Jangan pernah berpikir untuk pergi lebih dulu sebelum muridmu ini," ucap Xiao Tian sambil menyilangkan kedua pedang hitam bergerigi.


Dia memusatkan semua aura pedang ke titik tengah yang mempertemukan kedua buah pedang, lalu menempatkan titik tengah itu hingga sejajar dengan ujung tombak hitam yang melesat maju ke arahnya.


Tak perlu waktu lama, tombak hitam pun akhirnya bertabrakan dengan senjatanya. Xiao Tian mencoba menahan tombak itu dengan segenap tenaga. Namun karena perbedaan kultivasi yang teramat tinggi, dia pun terdorong mundur sedikit demi sedikit.


Semenjak senjata mereka saling bertabrakan, gelombang kekuatan yang dahsyat muncul hingga membuat ratusan tengkorak manusia beterbangan melewati Xiao Tian.


Selain terdorong mundur, perlahan pedang bergeriginya mulai mengalami keretakan akibat gelombang dahsyat yang muncul dari tombak tersebut.


Setiap detik yang terlewati, membuat retakan di pedang Xiao Tian semakin membesar. Meski sudah dilapisi oleh kekuatan penuh Xiao Tian, pedang tersebut tetap hancur berkeping keping setelah dipakai untuk menahan tombak hitam cukup lama.


Setelah tombak hitam menghancurkan pedang begerigi, tombak tersebut terus melesat maju menuju perut Xiao Tian.


Sunlong menutup matanya karena tak sanggup melihat apa yang akan terjadi, sedangkan Dewa Petir berteriak sambil mengeluarkan air mata setelah melihat pedang bergerigi hancur.


"Xiao Tian ... !"


"Selamat tinggal guru," ucap Xiao Tian sambil menutup matanya.


Ketika semua orang sudah pasrah akan keadaan, tombak hitam berhenti tepat sebelum menyentuh Xiao Tian.


Karena tombak hitam berhenti melesat maju, maka suara tusukan pun tak terdengar.


Karena merasa penasaran dengan yang terjadi, Xiao Tian pun membuka matanya.


Yang dia lihat saat itu adalah seseorang yang memeakai celana merah berselimut aura emas, dia juga memakai jirah emas yang menyilaukan mata. Mahkota perak yang dihiasi dua antena merah panjang yang melengkung kedepan menempel di atas kepalanya. Bulu berwarna coklat keemasan terlihat di sekitar leher kepala hingga kedua tangannya. Dia memegang tongkat emas yang berukuran normal di tangan kanannya.


Setelah melihat semua ciri ciri itu Xiao Tian pun memahi siapa yang sedang menolongnya, Sun Wu Kong sang Dewa Kera.


"Maaf membuatmu menunggu lama, Dewa Petir," ucap Wu Kong sambil menahan tombak hitam dengan tangan kirinya.

__ADS_1


"Ba ... bagaimana bisa kau ada disini?"


"Tempat ini seharusnya tak bisa dimasuki oleh roh para Dewa!" teriak Huai Zhong sambil melangkah mundur.


"Roh katamu?"


Lihat dengan baik, aku memiliki bayangan di bawah kakiku," ucap Wu Kong sambil meremas tombak hitam di tangan kirinya hingga hancur berkeping keping.


"Mu ... mustahil, seharusnya para Dewa dilarang ikut campur terhadap roda takdir. Kenapa kau diijinkan turun ke dunia manusia?" ucap Huai Zhong sambil gemetar ketakutan.


"Ngomong-ngomong disini terlalu gelap. Ayo kita buat semakin terang," ucap Wu Kong sambil melirik ke arah Dewa Petir.


"Sialan, semuanya merunduk!" teriak Dewa Petir sambil tiarap.


"Eh memangnya ada apa?" tanya Xiao Tian.


"Aku pun tak tahu, tapi lakukan saja sesuai ucapannya!" ucap Sunlong sambil memukul kepala Xiao Tian. Matanya seketika berkaca kaca, dan tangan kanannya memerah karena teknik pengerah tubuh Xiao Tian masih aktif.


"Kau tak apa?" tanya Xiao Tian.


"Sudahlah, cepat merunduk!" teriak Sunlong dengan kesal.


Setelah semua orang kecuali Huai Zhong tiarap, Wu Kong memperbesar ukuran tongkat emasnya. Panjangnya pun semakin bertambah hingga menembus tembok ruangan. Sambil melapisi tombak emas dengan kekuatan qi nya, Wu Kong memutar tombak tersebut hingga membelah seisi ruangan. Atap serta dinding ruangan pagoda tingkat lima beterbangan ke atas langit akibat pusaran angon yang ditimbulkan oleh serangan Wu Kong.


Huai Zhong pun langsung ikut merunduk setelah melihat Wu Kong memutar tongkat emasnya. Setelah atap ruangan tak ada lagi. Sinar mentari pun menerangi pandangan semua orang.


Ketika Huai Zhong sibuk merapalkan mantra sembari berjongkok, Wu Kong berjalan mendekatinya sambil menyeret tongkat emasnya yang telah kembali ke ukuran normal.


"Tu ... tunggu jangan mendekat, atau aku akan ... ," belum sempat Huai Zhong menyelesaikan kalimatnya, Wu Kong memotong ucapannya dengan berkata, "Akan apa?"


"Kau pikir kau bisa mengancamku?"


"A ... ampun Dewa Kera," ucap Huai Zhong sambil bersujud minta ampun.


"Sebelum menerima ampunan dariku, rasakan dulu pukulan tongkat emasku!"


Wu Kong memukul kepala Huai Zhong dengan tongkat emasnya hingga membuatnya tak sadarkan diri.


Setelah membuat Huai Zhong tak sadarkan diri, Sun Wu Kong merubah tongkat emasnya menjadi sekecil jarum dan menyelipkannya ke dalam telinga.


Setelah melihat Wu Kong mengalahkan Huai Zhong tanpa perlu bersusah payah, Xiao Tian berjalan mendekati Wu Kong untuk meminta bantuannya. Namun Wu Kong tiba tiba menghilang dari pandangannya dan muncul tepat di belakang Xiao Tian.


"Aku mengerti, kau tak perlu mengatakannya. Akan kubebaskan Dewa Petir sekarang juga," ucap Wu Kong sambil berjalan mendekati jeruji besi.


Setelah sampai tepat di depan jeruji besi, Wu Kong menempelkan telapak tangan kanannya yang telah berlapis qi emas ke jeruji besi yang mengurung Dewa Petir.

__ADS_1


Tepat ketika telapak tangannya bersentuhan dengan jeruji besi, semua kutukan yang menyegel kekuatan Dewa Petir menghilang tanpa sisa. Kemudian kurungan tersebut meredup bagaikan ilusi.


"Tak kusangka mereka bisa menciptakan kurungan roh yang sanggup menyegel kekuatan seorang Dewa," ucap Wu Kong sambil menatap Dewa Petir.


"Terimakasih karena mau datang menolongku Dewa Kera," ucap Dewa Petir sambil memberi hormat.


"Ah, tak perlu seformal itu. Pertama-tama bawa anak didikmu pergi dari sini, karena aku akan meruntuhkan pagoda ini," ucap Wu Kong sambil menepuk pundak Dewa Petir.


"Baiklah, Dewa Kera," sambung Dewa Petir sambil menundukkan kepalanya.


Ketika Dewa Petir naru saja mengiyakan permintaan Dewa Kera Sun Wu Kong, Xiao Tian memotong pembicaraan mereka dengan berkata,


"Tunggu dulu, dimana Su Yan?"


"Bukankah dia seharusnya ada di dalam pahoda?"


"Dia mengaktifkan mantra terlarang dan berganti tempat denganku, tenang saja setelah mantranya berakhir dia akan kembali.


Aku yakin saat ini dia sedang berada di dekat lembah kristal es sambil duduk santai," jawab Wu Kong.


"Sihir terlarang?"


"Dari mana dia mendapatkan mantra itu?" tanya Xiao Tian.


"Untuk rinciannya, kau tanyakan saja pada Dewa Petir. Cepat pergi karena aku akan mengamuk," ucap Wu Kong sambil melirik Dewa Petir.


"Lalu bagaimana dengan Liang Su dan yang lainnya?"


"Apakah mereka masih berada di dalam pagoda?" tanya Xiao Tian sambil menatap Wu kong.


Dewa Petir langsung menyentuh pundak Xiao Tian, lalu menteleportasikannya ke luar pagoda iblis. Tepat ketika Xiao Tian melirik ke arah pagoda iblis, pagoda tersebut mulai hancur berantakan hingga rata dengan tanah.


Debu yang keluar akibat runtuhnya pagoda iblis membuat pandangan Xiao Tian dan semua orang menjadi kabur.


Di dalam debu tersebut keluarlah Wu Kong. Dia keluar sambil menyeret tubuh Huai Zhong yang telah tak sadarkan diri.


#####


Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.


Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.


Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.


Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.

__ADS_1


Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁


__ADS_2