
Pasukan siluman rubah merah, siluman harimau putih serta siluman rusa telah sampai di wilayah perbatasan kerajaan.
Demi mempersingkat waktu, Xiao Tian berencana untuk berteleportasi ke sana.
Saat berdiri cukup dekat dengan prajurit itu, dua langsung memegang pundak prajurit lalu berkata,
"Jangan takut, mereka bukanlah musuh. Aku akan membawamu ke sana dan langsung menemui mereka agar kau percaya."
"Bukan musuh?"
"Be ... benarkah itu?" ucap prajurit itu dengan tampang paniknya.
"Iya," ucap Xiao Tian sambil mengaktifkan teknik teleportasi. Tepat setelah teknik itu aktif, Xiao Tian pun menghilang dari pandangan semua orang.
"Apa yang?" Taiwu kebingungan melihat Xiao Tian menghilang dari pandangannya disaat dia sedang mengawasinya dari kejauhan.
"Apa putra mahkota baru saja menghilang?" ucap para prajurit di atas menara pengawas.
"Aku yakin dia masih di hadapanku tadi, bagaimana bisa dia menghilang begitu saja?" pikir Huang Yi dengan mata terbelalak.
"Tak hanya hawa fisiknya yang menghilang, bau serta hawa keberadaannya pun lenyap tanpa sisa. Kemampuan melacakku tidak berguna sama sekali," pikir Huang An dengan tangan yang terkepal kencang.
"Apa di antara kalian ada yang tahu dimana putra mahkota?" tanya Taiwu setelah melompat dari puncak gerbang istana.
"Ampun jenderal muda, saya tidak tahu apa apa. Putra mahkota menghilang begitu saja, kemampuan melacak saya tidaklah berguna saat ini," ucap Huang An sambil memberi hormat.
"Jangan memanggilku jenderal muda lagi, Posisi jenderal saat itu, aku terima hanya untuk menggantikan ayahku untuk sementara. Dan saat dia kembali normal, aku kembali menjadi pengawal putra mahkota seperti sekarang ini. Jadi berhenti memanggilku dengan sebutan itu, mengerti?" sambung Taiwu dengan tatapan kesal.
"Maaf jika ucapanku menyinggungmu jenderal muda Taiwu, eh maksudku tuan Taiwu. Hamba benar benar tak mengetahui kemana dan bagaimana bisa putra mahkota menghilang dari pandangan hamba," jawab Huang An.
"Kemungkinan putra mahkota dan prajurit itu berada di perbatasan timur kerajaan. Aku tak tahu teknik apa yang digunakan putra mahkota, tapi aku sangat yakin mereka saat ini sudah muncul di sana," sambung Huang Yi.
"Aku juga sempat berpikir begitu, tapi jarak ke perbatasan kan cukup jauh. Apa mungkin putra mahkota bisa sampai disana dalam sekejap mata?" sambung Taiwu sambil mengerutkan dahi.
"Apa kau lupa dengan insiden saat kau kehilangan jejak putra mahkota saat dia menaiki naga hitam untuk pergi ke barat?" tanya jenderal Tailong yang tiba tiba muncul di sebelah kanan Taiwu.
"Ayah?" sambung Taiwu sambil melirik ke kanan.
"Putra mahkota menyembunyikan berbagai macam hal, ini bukan kali pertamannya dia menggunakan teknik ini. Aku sangat ingat, kejadian saat kita sedang melawan sekelompok penyerang istana yang menyebut diri mereka sebagai pembasmi iblis."
"Saat itu putra mahkota menghilang dan muncul dari satu titik ke titik yang lainnya dalam sekejap mata. Awalnya aku mengira putra mahkota memiliki kecepatan tinggi hingga mataku tak dapat mengejarnya. Namun setelah kuperhatikan, gerakannya tidak teratir dan terkesan aneh."
"Berkali kali dia menghilang dari pandangan, lalu muncul di belakang punggung musuh yang berjarak saling berjauhan dan mengalahkan mereka dalam hitungan detik saja."
"Hawa keberadaannya pun menghilang pada saat dia menghilang, sama perses sepert sekaranh," ucap Taifeng yang tiba tiba muncul di samping kiri Taiwu.
"Paman Taifeng?"
"Mungkinkah pangeran memiliki teknik legendaris pemindah tubuh?" tanya Taiwu.
"Kemungkinan besar, iya. Karena aku tak melihat putra menggunakan gulungan apapun," sambung Taizhong yang baru melompat dari puncak gerbang dan berakhir mendarat di belakang punggung Taiwu.
"Jika kemampuan ini diketahui orang lain, pasti banyak orang yang mengincar putra mahkota untuk merebut atau mempelajari teknik langka tersebut. Mempunyai gulungan teleportasi saja bisa membuat daratan elemen gempar, sedangkan dia memiliki teknik teleportasi tanpa menggunakan media apapun," sambung jenderal Tailong sambil menatap ke arah Taiwu.
"Bukankah semua penduduk telah mendengar dan melihat apa yang dailakukan putra mahkota?"
"Bagaimana cara kita menyembunyikan teknik putra mahkota dari dunia luar?" tanya Taiwu sambil mengerutkan dahi.
"Hanya ada dua cara, hilangkan semua bukti hidup atau mengancam mereka dengan kekerasan," ucap jenderal Taifeng sambil menatap ke arah Taiwu.
__ADS_1
"To ... tolong ampuni kami, kami berjanji tak akan membocorkan teknik aneh milik putra mahkota ke luar kerajaan. Dan tak akan membahas hal ini lagi di masa mendatang, kami bersumpah atas nama klan kami," ucap Huang An dan seluruh penduduk biasa dari wilayah kekuasaan klan Huang.
"Kami juga bersumpah atas nama nenek moyang kami. Tolong ampuni nyawa kami, jenderal!" ucap para penduduk biasa yang tinggal di wilayah kekuasaan ketiga jenderal utama serta wilayah terdekat dengan istana sambil bersujud meminta ampunan.
"Aku pegang janji kalian, jika hal ini sampai bocor ke kerajaan lain. Maka akan kupenggal kepala kalian saat itu juga," ancam jenderal Tailong sambil mengeluarkan hawa membunuh.
"Kami berjanji tak akan membiarkan hal ini bocor ke kerajaan lain, jenderal," ucap semua orang sambil bersujud meminta ampunan.
"Kita sudahi basa basinya, cepat kita susul putra mahkota. Bagaimanapun kita harus memastikan kalau putra mahkota benar benar di sana dan dalam keadaan baik baik saja," ucap jenderal Taifeng sambil menatap Taiwu dan jenderal Tailong.
"Kau benar, ayo kita pergi," ucap jenderal Tailong.
"Apakah aku boleh ikut?" tanya Taiwu.
"Kau tetap disini, jagalah istana dan keluarga kerajaan disaat kami pergi. Aku takut musuh menyerang disaat kita semua pergi meninggalkan istana. Meski ada Tainam Chun dan prajurit yang lain di istana, mereka tak akan bisa menahan musuh berbahaya seperti tempo lalu. Setidaknya jika ada kau disana, kau bisa sedikit menghambat musuh jika hal buruk terjadi lagi," ucap jenderal Tailong sambil menepuk pundak Taiwu.
"Tapi ayah, aku kan tak jauh berbeda dengan Tainam Chun dan yang lainnya. Kultivasiku masih sangat rendah karena pernah mengalami cidera, saat ini pun aku masih dibawah kultivasi seorang jenderal petarung," ucap Taiwu sambil menatap ayahnya.
"Aku tahu itu, oleh karena itu aku tak menyuruhmu bertarung melawan musuh yang terlampau kuat," ucap jenderal Tailong sambil sebuah bola hitam berlambang tengkorak dari cincin ruangnya.
"Ini kan ... ," ucap Taiwu dengan mata yang terbelalak.
"Benar sekali, bola khusus yang digunakan untuk memberi peringatan bahaya. Kau cukup menyulut sumbunya dengan api, lalu melemparnya setinggi mungkin hingga meledak di atas udara. Benda ini begitu langka dan sudah lama tak di produksi, orang misterius pembuat benda ini telah lama menghilang sejak dua ribu tahun yang lalu."
"Leluhur kita telah menjalin hubungan baik dengan wanita misterius itu selama ratusan tahun lamanya, hingga menjadi satu satunya klan yang memiliki benda langka ini. Selain klan kita dan raja Xiao Zhaoye tak ada yang mengetahui hal ini. Ayah masih memiliki sepuluh buah lagi, kau simpan ini dan jangan biarkan orang lain tahu saat kau mengeluarkannya. Mengerti?" bisik jenderal Tailong sambil memberikan bola hitam bersumbu secara sembunyi sembunyi.
"Baik ayah," ucap Taiwu sambil memasukkan bola hitam ke dalam cincin ruangnya.
"Bom legendaris, aku pikir ini hanya dongeng tidur yang diceritakan ibu setiap kali ingin menidurkanku. Tak kusangka ternyata benda itu benar benar nyata," pikir Taiwu sambil mengepalkan tangannya.
"Kalau begitu, ayah pamit pergi dulu. Lindungilah raja seperti melindungi nyawamu sendiri, ingatlah bahwa klan kita berhutang begitu banyak kepada raja Xiao Zhaoye," ucap jenderal Tailong sambil membelakangi Taiwu.
"Aku mengerti, ayah," ucap Taiwu sambil menundukkan kepala.
"Ayo kita pergi!" ucap jenderal Taizhong.
"Ayo!" ucap jenderal Tailong sambil menganggukkan kepala.
Jenderal Taizhong, Taifeng dan jenderal Tailong melompat terbang menuju ke arah timur untuk menemui Xiao Tian.
#Sementara itu ....
Xiao Tian telah sampai di gerbang perbatasan timur kerajaan. Dia muncul tepat di luar gerbang sambil ditemani prajurit penjaga perbatasan yang dia bawa pergi dari gerbang istana.
"Apa itu putra mahkota?" tanya salah satu prajurit di atas menara pengawas.
"Kau ini bagaimana, bagaimana bisa putra mahkota muncul di luar gerbang secara tiba tiba!"
"Aku baru saja melihat ke sana dan tak ada apa apa kecuali debu. Kau seharusnya fokus mengawasi ke arah depan. Disana terdapat banyak makhluk aneh yang menuju kemari," balas prajurit lain yang juga mengawasi di menara yang sama.
"Trooootttttt!" prajurit yang berjaga di sisi lain menara pengawas meniup terompetnya.
"Kenapa si kampret itu meniup terompet penyambutan?" ucap prajurit a di menara pengawas sebelah kiri sambil menatap ke arah menara pengawas sebelah kanan gerbang.
"Putra mahkota ada di luar gerbang, cepat buka gerbangnya!" ucap prajurit di menara pengawas sebelah kanan sambil menunjuk ke arah depan pintu gerbang.
"Mati aku!"
"Bagaimana bisa putra mahkota ada disana?"
__ADS_1
ucap prajurit B yang baru menyadari keberadaan Xiao Tian saat menatap ke arah yang di tunjukkan oleh prajurit di menara sebelah kanan.
"Troooooot!" prajurit B meniup terompet penyambutan agar penjaga di bawah gerbang membuka pintu gerbangnya.
"Hei, apa kalian tak salah meniup terompet?" tanya prajurit yang berjaga di bawah gerbang.
"Cepat buka!"
"Putra mahkota ada diluar!" teriak prajurit B sambil menatap ke bawah.
"Apa!"
"Cepat buka gerbangnya!"
"Raja pasti akan membunuh kita, jika putra mahkota sampai kenapa kenapa. Cepat buka dan bawa putra mahkota masuk!" teriak prajurit B.
#Di luar gerbang
"Mati aku, kenapa tiba tiba aku berada di luar gerbang perbatasan?"
"Makhluk makhluk ganas itu terus berjalan kemari, kalau terus seperti ini bisa bisa aku mati," pikir prajurit yang dibawa pergi oleh Xiao Tian menggunakan teknik teleportasi.
"Jangan tegang, siluman siluman itu tak akan menggigitmu. Kau cukup temani aku berdiri disini, sambil menjadi saksi hidup atas perilaku para siluman nanti. Jangan tegang dan santai saja, mengerti?" tanya Xiao Tian sambil menepuk pundak prajurit di sebelah kanannya.
"Namaku Ah Ming, aku tak memiliki klan. Tapi aku masih memiliki seorang anak dan istri," ucap Ah Ming sambil menelan ludah dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
"Kenapa kau malah memperkenalkan diri?"
"Apa kau ingin menyapa mereka?"
"Kalau begitu pergilah?" ucap Xiao Tian sambil mendorong Ah Ming begitu kencang hingga berakhir di pelukan raja siluman rubah merah.
"Halo," ucap raja siluman rubah merah sambil tersenyum.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ah Meng langsung pingsan ketakutan setelah melihat wajah mengerikan siluman rubah merah dengan jarak yang begitu dekat.
"Sepertinya kau belum bisa tersenyum dengan baik ya, kawan," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Aku sudah berusaha agar tak menakutinya, tapi dianya saja yang terlalu penakut," ucap raja siluman rubah merah sambil menatap Xiao Tian.
"Senang melihatmu masih mengingatku dengan baik," sambung Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Terimakasih karena telah menyelamatkan kerajaan kami, Dewa obat Xiao Tian," ucap para siluman harimau dan siluman rusa sambil memberi hormat.
Setelah melempar kembali tubuh Ah Ming hingga mendarat ke pelukan Xiao Tian, raja siluman rubah merah turut memberi hormat dan diikuti oleh seluruh bawahanannya.
"Hormat kami maharaja, Xiao Tian,"
"Ma ... maha raja?"
"Hormat?"
"Kenapa makhluk makhluk seram itu bersujud dihadapan putra mahkota?" pikir para prajurit di bawah menara yang baru keluar dari dalam pintu gerbang untuk menjemput Xiao Tian masuk ke dalam.
Bukkk! prajurit B memukul prajurit A yang berdiri tepat di sampingnya.
"Sepertinya ini memang mimpi, aku tak merasakan sakit sedikitpun," ucap prajurit B yang menyaksikan kejadian epik itu dari atas menara pengawas di sebeleah kiri gerbang perbatasan.
Bukkk!
__ADS_1
"Tidak sakit matamu!"
"Yang kau pukul kan aku!" bentak prajurit A sambil membalas pukulan prajurit B.