Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 189 : Janji Xiao Tian


__ADS_3

Sunlong meminta Dewa Petir menyembuhkan sisa lukanya, tapi Dewa Petir menolak dan terus mengabaikan omelan Sunlong.


"Ayolah, cepat sembuhkan sisa lukaku!" teriak Sunlong dengan kesal.


"Kalau kau ingin lukamu sembuh, panggil aku dengan sebutan Dewa tampan dan baik hati. Ucapkan hal tersebut sambil bersujud di hadapanku, ucap Dewa Petir sambil menatap Sunlong.


"Berhenti bermimpi!"


"Aku tak akan pernah bersujud pada Dewa setres sepertimu!" bentak Sunlong dengan tampang kesalnya.


"Kumohon, bisakah kau sembuhkan sisa luka Sunlong?" tanya Xiao Tian sambil bersujud dihadapan Dewa Petir.


"Aku meminta kadal kecil itu yang bersujud, bukannya kamu. Sebelum dia bersujud aku tak akan menyembuhkannya," ucap Dewa Petir sambil menyilangkan tangannya.


Tubuh Sunlong saat ini masih begitu rapuh, hanya karena luka kecil saja, jika tidak segera diobati maka resikonya bisa menghilangkan rohnya.


Ketika melihat tangannya yang mulai memudar, Sunlong pun mulai merasa panik.


Dia melirik ke arah Dewa Petir lalu berkata,


"Apa yang terjadi dengan tubuhku?"


"Tubuhmu masih begitu rapuh karena belum dibangkitkan begitu lama, seorang roh beladiri seharusnya tak berdiam diri di luar alam pikiran. Namun kasusmu berbeda, kau tidak bisa hidup di alam pikiran karena bola sinar hitam akan menelanmu hidup hidup jika kembali ke sana. Untuk mempertahankan bentuk rohmu, kau harus menyerap qi sebanyak mungkin. Namun dengan kultivasimu yang telah lumpuh total, mustahil bagimu untuk memulihkan kekuatanmu sendiri. Kau memerlukan bantuan orang lain yang bisa mentransfer kekuatan qi," jelas Dewa Petir sambil menatap Sunlong.


"Bukankah kau sudah mentransfer qi putih tadi?" tanya Xiao Tian sambil menatap Dewa Petir.


Aku memang memberikan qi putih di awal tadi, namun qi itu hanya membantunya pulih untuk sementara. Sebenarnya aku bisa menggunakan qi biru untuk memulihkan Sunlong sepenuhnya, tapi aku ingin melihat sejauh mana kemampuanmu dalam mengobati seorang roh," jelas Dewa Petir sambil menatap Xiao Tian.


"Begitu ya?"


"Sekarang kan kau sudah tahu kalau kemampuanku masih sangat pas pasan, bisakah kau bantu Sunlong secepatnya?" tanya Xiao Tian dengan keringat dingin di wajahnya.


"Itu tergantung pada kadal kecil itu, jika dia mau menuruti syaratku maka akan kubantu dia," ucap Dewa Petir dengan tampang kesal.


"Mustahil aku menruti permintaan konyolmu!" bentak Sunlong dengan kesal.


"Bisakah kau turuti permintaan Dewa Petir kali ini saja?"


"Tolong berhenti bersikap keras kepala," ucqp Xiao Tian sambil menatap Sunlong.


"Cih, baiklah," Sunlong terpaksa menuruti permintaan Dewa Petir setelah melihat tangan serta kakinya mulai terlihat semakin transparan. Tapi tepat ketika Sunlong bersujud pandangan semua orang teralihkan ke arah lain karena mendengar suara Taiwu yang baru saja tersadar.


"Apa yang kau lakukan, pangeran?"


"kau sedang berbicara dengan siapa?" tanya Taiwu sambil melihat Xiao Tian yang sedang menoleh menghadap Sunlong.


"Tak apa, bukan hal yang penting. Sepertinya aku mengigau karena merasa terlalu lelah," ucap Xiao Tian sambil menoleh menghadap Taiwu.


"Apa kau yakin kalau kau tidak apa-apa?" tanya Taiwu dengan wajah hawatir. Taiwu merasa bingung dengan apa yang dia lihat. Seingatnya dia sedang memegang pergelangan tangan Xiao Tian, namun apa yang baru saja dia lihat saat ini benar benar tak sesuai ingatannya yang terakhir.


"Sudahlah berhenti menghawatirkanku, aku baik baik saja."


"Kau bisa melihatnya dengan jelaskan?"


"Dari pada membahas hal yang tak ingin kubahas, bisakah kau kembali tidur dan biarkan aku berjaga?" tanya Xiao Tian.


"Tidak, aku tak bisa meninggalkanmu begitu saja. Apalagi setelah mengetahui kalau kau masih mengantuk hingga mengigau tak jelas," ucap Taiwu.


"Aku sudah tak mengantuk, pergilah. Ini perintah, jika aku mengantuk atau terjadi sesuatu, aku pasti akan membangunkanmu." Setelah mendengar kata perintah, Taiwu pun tak bisa membantah ucapan Xiao Tian.


Sambil berjalan kembali ke rumah buatan Xiao Tian, Taiwu berkata,


"Baiklah, aku kan pergi."


"Jaga dirimu, dan ingatlah bangunkan aku jika terjadi sesuatu."


"Naga biru akan mengawasimu sebagai penggantiku, kau tak boleh menolak semua ini ya," ucap Taiwu sambil memanggil naga biru.


"Iya iya, pergilah sekarang juga," ucap Xiao Tian sambil melambaikan tangannya.


Setelah naga biru berada di hadapannya, Taiwu pun pergi meninggalkan Xiao Tian bersama dengan naga biru.

__ADS_1


Ketika Taiwu berjalan pergi meninggalkan Xiao Tian, dia tak sengaja berpapasan dengan putri Jia Li yang dirasuki Huanran dan Jingmi yang sedang kebingungan mencari Xiao Tian.


"Kenapa kalian ada di luar sini?" tanya Taiwu sambil mengerutkan dahinya.


"Syukurlah kak Taiwu ada disini, apa kau tahu dimana ayah Xiao Tian berada?" tanya Jingmi sambil berjalan mendekat.


"Tenanglah dia tak apa-apa, kembalilah ke ruangan kalian dan tidurlah dengan nyenyak," jawab Taiwu sambil memegang pundak Jingmi dan putri Jia Li.


"Tapi, aku ingin melihat ayah Xiao Tian dulu," sambung Jingmi dengan tatapan sedihnya.


"Lihatnya besok saja ya, saat ini ayahmu sedang fokus mengawasi sekitar," jawab Taiwu sambil mengelus kepala Jingmi.


"Tapi aku kan ... ," belum sempat Jingmi menyelesaikan kalimatnya, Taiwu memotong ucapannya dengan berkata, "Sudahlah jangan nakal, kembalilah ke ruanganmu sekarang juga," ucap Taiwu sambil menatap Jingmi dengan senyuman tipis di wajahnya.


"Tapi aku ... ," belum sempat Jingmi menyelesaikan kalimatnya, Huanran memotong ucapannya dengan berkata,


"Sudahlah, ikuti saja permintaan Taiwu. Ayo kita kembali ke ruangan kita," ucap Huanran sambil mendorong punggung Jingmi secara perlahan.


Huanran membawa Jingmi


Taiwu.


" Baiklah, kalau begitu kami akan kembali tidur di dalam ruangan kami," sambung Huanran yang sedang merasuki tubuh putri Jia Li. Huanran menarik tangan Jingmi sambil berjalan kembali memasuki rumah.


"Tapi, kita kan belum melihat ayah Xiao Tian." Jingmi mencoba menolak dorongan Huanran, tapi karena kekuatan Huanran terlampau jauh di atasnya Jingmi tak bisa menolak dan terpaksa pergi bersamanya.


Ketika sudah melihat putri Jia Li dan Jingmi kembali memasuki rumah buatan Xiao Tian, Taiwu pun melanjutkan rencananya untuk mengecek jurang yang tercipta akibat sambaran petir putih milik Dewa Petir.


Dia berjalan kaki ke tempat itu karena naga biru tak sedang bersamanya.


Sementara itu, Sunlong sedang bersujud kepada Dewa petir sambil melakukan semua syarat yang diucapkan Dewa Petir berkali kali. Sunlong terus bersujud sambil memuji Dewa Petir selama beberapa menit, dia terpaksa melakukan hal tersebut karena tak ingin lenyap atau menghilang dari dunia nyata.


Melihat Sunlong begitu tak berdaya, Xiao Tian pun berkata, "Maafkan aku Sunlong, karena aku kau jadi terpaksa melakukan hal yang memalukan bagimu."


"Kau pikir kata maaf saja cukup untukku?" jawab Sunlong dengan tampang kesal.


"Sekarang aku hanyalah sebuah roh biasa yang begitu rapuh. Aku tak bisa mengobati lukaku sendiri, luka akibat seretanmu tadi benar-benar menyiksaku. Jika kau ingin meminta maaf padaku, maka lepaskan ikatan kontrak kita. Aku tak ingin terikat terus dengan manusia," jelas Sunlong dengan tampang kesal.


"Dewa Petir, bisakah kau lepaskan rantai perak yang mengikat leher Sunlong?" tanya Xiao Tian.


"Bukan itu yang kumaksud, maksudku lepaskan ikatan kontrakku dengannya. Dia sekarang hanyalah sebuah roh biasa. Dia bahkan tak bisa berdiam diri di dalam tubuhku karena bola sinar hitam yang mendominasi sebagian besar alam pikiranku."


"Tak ada gunanya lagi menjadikannya sebagai roh beladiriku," ucap Xiao Tian.


"Kau yakin ingin melepaskannya?" tanya Dewa Petir.


"Aku sangat yakin, apalagi setelah kudengar keluhannya tentang betapa rapuhnya dirinya. Oh iya, sebelum melepaskannya bisakah kau sembuhkan dia terlebih dulu?" sambung Xiao Tian.


"Itu mustahil, bagaimanapun kontrak roh merupakan kontrak yang suci. Aku mungkin bisa menyembuhkan sedikit luka pada roh Sunlong. Tapi tak bisa melepaskan kontrak roh beladiri sesuka hatiku. Hanya pemilik kontrak yang bisa membatalkan perjanjian itu, dengan kata lain hanya kau yang bisa. Akan tetapi itu juga harus melalui ujian alam roh," jelas Dewa Petir dengan tampang seriusnya.


"Ujian alam roh?" tanya Xiao Tian.


"Cih, kami kan hanya melakukan kontrak roh bela diri. Kenapa harus melakukan ujian roh segala!" bentak Sunlong.


"Apa kau lupa dengan keadaanmu sekarang?"


tanya Dewa Petir sambil menatap Sunlong yang masih tergeletak di tanah. Dia masih berusaha bangun dengan leher yang terikat rantai perak.


"Uhuk uhuk, apa maksudmu?" tanya Sunlong.


"Sekarang kau hanyalah makhluk lemah yang tak memiliki kekuatan qi sedikitpun. Rohmu begitu rapuh, jika memaksa melakukan ritual pemutusan kontrak perjanjian roh beladiri maka kau akan lenyap."


"Lingkaran sihir yang menjadi perantara ritual memerlukan kekuatan qi yang besar dari majikan dan roh beladirinya. Sedangkan kau tak memiliki kekuatan qi sedikitpun. Tanpa adanya kekuatan qi, maka yang akan terhisap adalah daya hidupmu," jelas Dewa Petir.


Seketika wajah Sunlong menjadi terlihat begitu putus asa, dia memahami nasib buruk yang dia alami sekarang. Dalam pikirannya saat ini yaitu kenyataan bahwa dia tak akan pernah bisa terbebas dari belenggu kontrak roh beladiri.


"Apakah tak bisa jika memutuskan rantainya saja?" tanya Xiao Tian.


"Rantai perak adalah rantai suci yang mengikat kalian. Seharusnya roh beladiri tak bisa dikeluarkan dari dalam tubuhmu dan bisa mengobrol di alam nyata seperti sekarang. Aku mengeluarkannya dari alam pikiranmu dengan teknik yang hanya bisa dilakukan oleh para Dewa."


"Bagaimanapun secara tidak langsung dia telah menolongmu. Walau dia adalah seorang kaisar iblis, aku tetap membantunya keluar dari belenggu rantai ilusi. Karena jika dia masih terus terikat rantai ilusi di alam pikiranmu, maka lambat laun rohnya akan hancur terserap oleh bola sinar hitam," Jelas Dewa Petir sambil mentap Xiao Tian.

__ADS_1


"Cih, lagi-lagi bola sinar hitam. Kenapa bola yang merasukiku itu selalu menyakiti orang-orangku. pertama Kaibo dan naga hitam, lalu si gendut. Sekarang Sunlong."


"Kapan bola sinar hitam berhenti mengganggu orang-orangku."


"Bisakah kau singkirkan bola terkutuk ini?" tanya Xiao Tian sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Bola sinar hitam adalah hadiah sekaligus kutukan dari dewa naga agung penjaga lembah kristal es. Kekuatanku tak cukup untuk menyingkirkan bola itu. Satu-satunya jalan yang bisa kau lakukan kali ini adalah, meningkatkan terus energi qi cahaya di dalam tubuhmu. Agar gelang Dewa bisa bekerja seperti sedia kala," Jelas Dewa petir sambil menatap Xiao Tian.


"Hadiah dan kutukan ya," ucap Xiao Tian sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Aku mengerti apa yang kalian bahas itu begitu penting, tapi bisakah kalian obati lukaku terlebih dulu?" tanya Sunlong dengan wajah kesalnya.


Sadar bahwa mereka hampir melupakan Sunlong yang semakin memudar, mereka pun langsung berhenti berbicara. Dewa Petir langsung mendekati Sunlong lalu menempelkan telapak tangannya ke tubuh Sunlong.


"Ah, maaf aku terlalu serius berbicara. Sampai-sampai melupakanmu." Dewa Petir menyelimuti roh Sunlong dengan sinar biru yang keluar dari telapak tangan kanannya. Seketika luka-luka pada roh Sunlong perlahan menghilang.


"Luar biasa, roh yang tak memiliki fisik ternyata bisa disembuhkan dengan cara seperti itu. Ngomong-ngomong bisakah kau sembuhkan roh beladiri Taiwu juga?" tanya Xiao Tian.


"Bukankah aku pernah bilang padamu?"


"Kau harus keluar dari daratan elemen terlebih dulu. Untuk menyembuhkan luka dalam milik Taiwu kau memerlukan kristal duri naga dan bunga kristal es. Tanpa bahan-bahan itu maka roh beladirinya tak akan sembuh dan dia akan tetap menjadi seorang grand master petarung untuk selamanya."


"Tak peduli seberapa keras dia berlatih dan seberapa banyak dia berkultivasi, dia tak akan pernah bisa naik ke tingkat jenderal petarung. Karena roh beladirinya yang telah terluka begitu parah," jelas Dewa Petir sambil mengobati luka Sunlong.


"Jadi apa yang harus kulakukan pertama kali?" tanya Xiao Tian sambil menatap Dewa Petir dengan tatapan bingung, dia mengerutakan dahinya sambil mengepalkan kedua tangannya begitu kencang.


"Terlalu dini bagimu untuk pergi ke alam roh, terlalu berbahaya juga bagimu untuk pergi ke laut barat. Kau harus melebihi kekuatan seorang Dewa Petarung untuk bisa pergi melewati laut barat. Sebelum pergi menemui Dianzeng, kau harus menekan kekuatan bola sinar hitam terlebih dulu," jawab Dewa Petir.


Setelah luka Sunlong sembuh, rantai perak perlahan menghilang karena batas waktu Sunlong dan Xiao Tian berada di jarak dibawah dua puluh meter telah terpenuhi.


"Maafkan aku karena belum bisa membantumu, aku masih terlalu lemah sekarang. Suatu saat nanti aku pasti akan membebaskanmu dan membantumu mendapatkan kembali tubuhmu."


"Sampai saat itu tiba, bisakah kau terus bersamaku?" tanya Xiao Tian sambil memberikan tangannya ke hadapan Sunlong. Dia ingin mengajaknya bersalaman sambil membantunya berdiri.


"Akan ku pegang janjimu itu, tapi aku tak akan pernah mau berjanji untuk terus bersamamu. Jika ada cara lain untuk terbebas dari ikatan kita, maka aku akan melakukan hal itu," jawab Sunlong sambil meraih tangan Xiao Tian.


Ketika Sunlong telah berada di atas pundak kanannya, Xiao Tian pun berkata,


"Tenang saja aku tak akan pernah mengingkari janjiku."


"Aku tak perlu janjimu, tapi perlu pembuktianmu. Jika tiba masanya ikatan kita bisa terputus, tolong lupakan kalau kita pernah bersama dan biarkan aku mencari cara untuk mendapatkan tubuhku sendiri," ucap Sunlong dengan wajah seriusnya.


"Meskipun kau menolak bantuanku saat ikatan kita terputus. Aku akan tetap menolongmu mendapatkan kembali tubuhmu," jawab Xiao Tian sambil tersenyum.


"Kenapa kau begitu keras kepala?"


"Aku hanya ingin terputus dari ikatan kontrak roh beladiri, dan pergi menjauh dari para manusia terutama dirimu. Tak bisakah kau membiarkanku melakukan hal yang kuinginkan seorang diri!" jawab Sunlong dengan nada yang keras.


"Aku tak bisa melakukan itu," sambung Xiao Tian dengan senyuman di wajahnya.


Mendengar ucapan Xiao Tian, Sunlong pun mengerutkan dahinya sembari menoleh ke arah Xiao Tian.


Dengan tatapan bingung, dia pun berkata,


"Kenapa?"


Setelah mendengar pertanyaan Sunlong, Xiao Tian pun langsung menghirup napas begitu dalam, lalu membuangnya secara perlahan.


"Karena aku telah menganggapmu sebagai keluargaku sendiri," jawab Xiao Tian dengan senyuman tulus di wajahnya.


Sunlong kehabisan kata kata setelah mendengar jawaban terakhir Xiao Tian.


Dia memang merindukan sosok keluarga. Dia juga merindukan seorang yang bisa dia panggil teman. Namun selama ini dia menutupi perasaannya itu dalam dalam karena masih mengingat masa kelamnya.


#####


Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.


Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.


Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.

__ADS_1


Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.


Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁


__ADS_2