
#Gedung alkemis Xianlun
#Dua puluh menit setelah Xiao Tian pergi
Tok tok tok
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu masuk. Tian Ling langsung menuju pintu tersebut dan kemudian membukanya tanpa ragu.
Saat pintu telah terbuka lebar, Tian Ling melihat pria berpakain serba putih dengan anting dan kalung dengan bentuk menyerupai matahari berdiri tepat di hadapannnya.
"Penatua Zhao?" tanya Tian Ling.
"Siapa yang datang, Tian Ling?" tanya Xianlun sambil berjalan keluar dari ruangan peraciknya.
###
"Pe ... penatua Zhao?"
"Apakah terjadi sesuatu pada patrtria?" ucap Xianlun dengan mata terbelalak.
"Andai aku bisa bilang tidak, tapi sayangnya kenyataan berkata lain. Tolong ikutlah ke gedung utama. Patriach sedang sekarat saat ini, racun di tubuhnya mulai menyerang kembali. Dan jauh lebih ganas dari pada racun kemarin," ucap penatua Zhao sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Bukankah ini masih sore?"
"Kenapa racunnya menguat lebih awal?"
"Padahal biasanya hanya kambuh di saat tengah malam," ucap Xianlun dengan tampang terkejut.
"Aku pun tak mengerti, oleh karena itu aku datang kemari secepat yang aku bisa. Tolong cepat temui patriach, dan tekanlah racunnya seperti biasa," ucap penatua Zhao sambil menundukkan kepala.
"Kau tak perlu menundukkan kepalamu, penatua penatua Zhao. Ini sudah menjadi tanggung jawabku sebagai salah satu dari tetua cabang alkemis perguruan badai berduri," ucap Xianlun sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.
##
Xianlun telah sampai di gedung utama perguruan badai berduri. Dia langsung menuju ke ruang dimana patriach di rawat.
Seperti biasa, di luar ruangan tersebut para tetua berkumpul dan memasang tampang khawatir. Ketika yang lain menunggu diluar dengan penuh hawatir, Xia Ning dan Xiang Ying bergantian untuk mencoba menekan racun di tubuh tetua dengan segala metode yang mereka miliki. Namun karena cara kerja racun itu di luar pemahaman mereka, alhasil merekapun menyerah.
Mereka berhenti mencoba, karena setiap metode yang mereka gunakan hanya memperburuk dan malah memperkuat racun itu sendiri. Ketika Xianlun memasuki ruangan, Xiang Ying dan Xia Ning langsung membungkukkan badan mereka lalu memohon agar Xianlun segera memberikan pil penekan racun yang biasa Xianlun berikan selama empat hari ini.
Meski mereka sangat membenci untuk melakikan hal itu, mereka tetap melakukannya karena sadar bahwa hanya Xianlun yang bisa menekan racun tersebut.
Selama empat hari ini, tak ada yang tahu apa dan dari mana racun yang menyerang patriach berasal.
Dan selama empat hari itu pula, mereka mencoba membuat pil sesuai resep Xianlun. Namun pil yang mereka murnikan tak ada yang bisa menandingi pil milik Xianlun.
Karena selain pil yang diracik Xianlun, tak ada yang bisa menekan racun tersebut. Meskipun pada saat tengah malam di hari berikutnya, racun tersebut akan kembali menguat hingga membuat Patriach hampir sekarat.
Ini merupakan hari ke lima, dan pertama kalinya racun di tubuh Patriach menguat di sore hari. Karena hal tersebut, Xianlun mulai kepikiran dengan ucapan Xiao Tian.
Sadar bahwa apa yang menimpa Patriach adalah kesalahannya, dia pun langsung bergegas mendekati tubuh Patriach. Lalu langsung memasukkan pil level lima yang telah dia racik dengan bimbingan Xiao Tian.
Tepat setelah pil itu tertelan, mata Patriach tiba tiba saja memerah. Semua otot serta urat nadinya tiba tiba saja tegang. Tak lama setelah itu, dia pun memuntahkan begitu banyak darah berwarna hitam.
"Pil apa yang kau berikan!"
"Kenapa kondisi patriach terlihat semakin parah!" ucap Xiang Ying sambil menarik kerah Xianlun.
"Tenanglah, aku memang memberikan pil yang berbeda dari sebelumnya. Tapi aku sangat yakin kalau pil itu bisa menyembuhkan Patriach," jawab Xianlun dengan dipenuhi keringat dingin.
"Jika nyawa Patriach sampai melayang, maka aku tak akan memaafkanmu!" bentak Xiang Ying sambil mendorong mundur Xianlun.
"Jika itu terjadi maka kau bisa menghabisi diriku," ucap Xianlun sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Patriach tak berhenti memuntahkan darah sejak tadi. Jika terus begini, patriach pasti akan mati kehabisan darah."
"Sebenarnya pil apa yang kau berikan pada patriach?"
"Apakah itu hasil racikanmu, atau hasil racikan orang lain?" tanya Xia Ning dambil melirik ke arah Xianlun.
"Itu hasil racikanku, aku baru saja selesai meraciknya dua puluh menit yang lalu," jelas Xianlun sambil menatap Xia Ning.
"Apa kau pernah menguji pil itu sebelnya?"
"Atau patriach merupakan orang yang pertama kali menelan pil itu?" tanya Xia Ning sambil mengerutkan dahi.
"Patriach yang pertama kali, tapi aku sangat yakin kalau pil ini pasti bisa menyembuhkan Patriach," ucap Xianlun sambil membalas tatapan Xia Ning.
"Jika ini pertama kalinya kau memberikan pil itu pada seseorang. Bukankah itu berarti bahwa kau menjadikan Patriach sebagai kelinci percobaanmu?" tanya Xiang Ying sambil menatap tajam mata Xianlun.
"Ini pertama kalinya kau memberikan pil barumu kepada seseorang. Kenapa kau terlihat begitu yakin?"
"Sedangkan apa yang kita lihat saat ini, Patriach kita sedang terlihat sekarat," ucap Xia Ning sambil menatap sinis mata Xianlun.
"Apa yang mereka katakan, ada benarnya juga."
"Meski darah yang keluar dari mulut Patriach adalah darah hitam yang mengandung racun, tetap saja itu bisa membunuh patriach."
"Sialnya aku tak membawa pil penambah darah. Kalau begini terus, patriach bisa mati kehabisan darah."
"Aku tak tahu kalau hasilnya akan seperti ini, apakah pangeran Xiao Tian menipuku?"
"Dia bilang kalau pil tadi saja sudah cukup, aku terlalu percaya padanya hingga lupa meracik pil penambah darah."
"Aku benar benar lupa kalau dia adalah pembunuh keji yang menghapus keberadaan tuan Xian Yun. Kenapa aku bisa sebodoh ini, hanya karena diajari cara meracik pil level lima?" pikir Xianlun sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kenapa kau mendadak terlihat tertekan?"
"Berhenti memojokkan tetua Xianlun!"
"Jika dia berniat membunuh patriach, sudah dia lakukan sejak awal. Toh tanpa memberi patriach obat mematikan pun, patriach tetap akan kehilangan nyawa jika tak segera ditangani. Bukankah itu yang kalian katakan sebelumnya?"
"Jadi berhenti memojokkan Xianlun!"
"Dan sadar dirilah!"
"Toh kalian tak bisa melakukan apapun untuk menolong patriach, bukan?" tanya penatua Zhou sambil menatap tajam mata Xiang Ying dan Xia Ning.
Mendengar ucapan penatua Zhou, Xiang Ying dan Xia Ning memalingkan wajah meteka lalu betkata, "Cih,"
"Patriach terus mengeluarkan darah hitam. Bagaimana ini?" pikir Xianlun dengan mata terbelalak.
"Jangan salahkan dirimu, aku tahu kau sudah berusaha semaksimal mungkin," ucap penatua Zhou sambil menepuk pundak Xianlun dengan tampang sedih. Dia berjalan melewati Xianlun sambil menahan air mata karena tak ingin menangis dihadapan Xianlun dan yang lainnya.
Ketika penatua Zhao sedang berjalan melewati Xianlun, dia menghentikan langkahnya karena mendengar suara patriach Bai. Suara yang dia dengar adalah,
"Mau kemana kau, penatua Zhou?"
"Bukankah tugas utamamu sebagai tangan kananku adalah melindungi diriku?"
"Bagaimana bisa kau melindungiku, jika kau pergi menjauh?" ucap patriach Bai yang baru saja pulih dari masa kritisnya. Dia bangkit dari tempat tidurnya, dan posisinya saat ini duduk di atas kasur dengan kaki yang diluruskan. Wajahnya menghadap ke punggung penatua Zhao, dan darah hitam sudah berhenti keluar dari mulutnya. Wajahnya terlihat begitu bugar bagai tak pernah terjadi apa apa sebelumnya.
Warna mata dan semua urat serta otot otot yang tegang sebelumnya, kini benar benar kembali normal. Semua itu tergambar di mata penatua Zhao, tepat ketika dia menoleh ke belakang.
"Pa ... patriach?" ucap penatua Zhao dengan mata terbelalak. Setelah melihat bahwa patriach Bai telah membaik, penatua Zhao tak bisa membendung air matanya lagi. Dengan air mata yang mengalir tanpa dia sadari, dia kembali berkata,
"Syukurlah,"
__ADS_1
"Syukurlah," ucap Penatua Zhao sambil menutupi wajah dengan telapak tangan kanannya.
"Syukurlah, ternyata patriach masih bisa diselamatkan."
"Maaf karena meragukanmu, master," pikir Xianlun dengan wajah yang di penuhi air mata.
"Mustahil, aku sangat yakin bahwa darah yang keluar dari mulut Patriach sangatlah banyak. Tapi kenapa patriach terlihat tak kekurangan darah sama sekali?" pikir Xia Ning dengan mata terbelalak.
"Pil macam apa yang Xianlun berikan?" pikir Xiang Ying dengan mata yang terbelalak.
#Perguruan badai berduri
#Gedung utama cabang petarung
Xiao Tian berada di gedung utama cabang petarung, tepatnya di ruang tengah yang di desain seperti arena pertarungan. Suasana disana benar benar kosong, karena para murid saat ini sedang berada di gedung mereka masing masing.
"Benar benar sepi,"
"Apa kau yakin kalau kau merasakan energi qi milik pria tua yang menyegel semua relikku, di sekitar sini?" tanya Xiao Tian sambil menatap Dewa petir.
"Aku sangat yakin," ucap Dewa petir sambil menatap tajam mata Xiao Tian.
"Sebenarnya siapa pria tua itu?"
"Mungkinkah dia salah satu tetua di sini?"
"Jika memang benar, kenapa sekte ini hanya diakui sebagai sekte tingkat empat," ucap Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Tempat ini begitu kosong, tapi aku merasa bahwa ada seseorang yang mengawasi kita dari jauh. Mungkinkah itu pria tua yang kalian cari?" ucap Sunlong sambil mengerutkan dahi.
Ketika sedang melirik ke kanan dan ke kiri, Xiao Tian, Sunlong dan Dewa petir terkejut bukan main karena seseorang tiba tiba saja menepuk punggung Xiao Tian dari belakang sambil berkata,
"Mencariku?"
Xiao Tian langsung membalikkan badan, Sunlong pun langsung menoleh ke sumber suara. Namun disana tak ada siapapun.
"Kemana dia pergi?" ucap Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Aku tak merasakan hawa keberadaannya sama sekali, pria tua itu benar benar bisa menyembunyikannya dengan baik. Lalu kenapa aku bisa merasakannya ketika masih berada di luar gedung?"
"Jangan bilang kalau dia sengaja memancing kami, mungkinkah dia juga bisa melihatku?" pikir Dewa petir dengan tampang bingung.
"Aku tahu kau masih disini, keluarlah dan cepat singkirkan tanda terkutukmu dari pundakku!" teriak Xiao Tian sambil melihat lihat ke segala arah.
"Hahahahah, aku akan menyingkirkannya asal kau mau menjadi muridku," ucap pria tua itu dengan suara yang menggema di seluruh ruangan.
"Tunjukkan dirimu!"
"Berhenti bersembunyi layaknya pengecut!" teriak Xiao Tian sambil melihat ke atas langit langit.
"Aku akan menunjukkan diri setelah kau memenangkan turnamen pertarungan empat sekte besar di daratan ini. Dan juga akan menyingkirkan tanda terkutukku jika kau berhasil memenangkan turnamen alkemis empat sekte besar," ucap pria tua itu dengan suara yang menggema di seluruh isi ruangan.
"Sebenarnya, apa hubunganmu dengan sekte ini?"
"Kenapa kau menyuruhku mewakili sekte ini untuk memenangkan turnamen?" tanya Xiao Tian sambil menatap ke atas langit langit.
"Itu bukan urusanmu," ucap orang tua misterius tersebut dengan suara yang menggema di seluruh ruangan.
"Dia sudah pergi, aku sudah tak merasa was was lagi," ucap Sunlong dengan naoas terengah engah.
"Kenapa hanya kau yang masih merasakan hawa keberadaan orang tua itu?" tanya Dewa petir sambil menatap ke arah Sunlong.
"Ingatlah, kau sudah kehabisan energi qi serta kekuatan jiwamu. Wajar kalau kau tak bisa merasakan hawa keberadaannya. Oleh karena itu aku memintamu untuk beristirahat di gedung alkemis dulu. Lanjutkan saja pencariannya hingga esok hari," ucap Sunlong sambil menatap Dewa petir.
__ADS_1
"Huft, aku benci mengatakannya. Tapi yang kau katakan memang ada benarnya," ucap Dewa petir sambil menghela napas.