
Tainam Chun telah memberi kabar bahwa Kaisar Langit dan para Dewa Dewi sedang menunggunya di luar gedung. Xiao Tian dan ketiga Dewa yang sedang bersama saat itu, langsung mengikuti Tainam Chun menuju keluar gedung.
Tap tap tap, mereka berjalan mengikuti Tainam Chun dengan tampang serius dan larut dalam pikiran masing masing.
"Apa yang Kaisar Langit inginkan dariku?"
"Mengapa dia datang begitu mendadak?" pikir Xiao Tian.
"Kenapa Kaisar langit muncul di tempat terbuka begitu tiba tiba?"
"Tainam Chun bahkan dapat bergerak bebas saat ini, apakah dia sudah tak peduli lagi dengan aturan langit?" pikir Dewa petir sambil menatap punggung Tainam Chun.
"Berdasarkan cerita darinya, seharusnya Kaisar Langit kemari untuk Xiao Tian. Syukurlah dia tak kemari untuk meminta pertanggung jawaban terhadap apa yang telah aku lakukan," pikir Wu Kong sambil mengingat apa yang telah dia lakukan terhadap Dewa Erlang dan para Dewa yang berusaha merebut roh bela diri Xiao Tian.
"Kenapa kita tak berteleportasi saja agar lebih cepat," pikir Dewa bumi sambil menghela napasnya.
Disaat semua masih larut dalam pikiran mereka, Tainam Chun tiba tiba saja berhenti bergerak. XiaoTian dan ketiga Dewa yang tadinya sedang melihat punggungnya pun langsung terdiam dan berkata, "Kenapa kau mendadak berhenti?"
"Untung saja kami menjaga jarak darimu jadi kami tak menabrak punggungmu," ucap Xiao Tian sambil menghela napas.
Melihat Tainam Chun masih terdiam kaku tanpa merespon sahutannya, Xiao Tian pun semakin kesal dan mencoba mencengkram pundaknya.
"Apakah kau tak mendengar pertanyaanku?" tanya Xiao Tian dengan kesal. Meskipun nampak kesal dia jauh lebih merasa bingung di dalam pikirannya, karena pundak Tainam Chun terasa begitu keras layaknya sebuah baja. Semakin dia mencoba menambah tenaga untuk mencengkramnya, semakin sakit pula telapak tangan Xiao Tian.
"Tubuh macam apa ini?"
"Sejak kapan Tainam Chun memiliki tubuh sekeras baja," pikir Xiao Tian sambil melepas pegangannya.
Karena kesal Tainam Chun tak kunjung menggubris dirinya, Xiao Tian pun berkata, "Sekarang aku tahu kalau teknik pengerasan tubuhmu memang sangat luar biasa. Tapi bisakah kau berhentie mengabaikanku?"
Disaat Xiao Tian masih mengomel kesal terhadap Tainam Chun, Wu Kong menghentikannya dengan berkata, "Itu bukan karena teknik pengerasan tubuh. Tapi karena waktu baginya telah berhenti. Satu satunya teknik penghenti waktu yang sanggup membuat tubuh para orang awam dan semua benda mati tak bisa digeser atau dihancurkan adalah karena momentum para Dewa,"
"Momentum para Dewa?" tanya Xiao Tian dengan heran.
"Itu adalah teknik rahasia Kaisar Langit yang dapat menghentikan waktu bagi para pendekar di bawah ranah alam immortal sebelum kemunculannya di alam bumi. Dan untuk mengaktifkan teknik tersebut, Kaisar Langit memerlukan bantuan dari para Dewa Dewi karena menguras begitu banyak kekuatan jiwa," jelas Dewa Bumi dengan serius.
"Tapi bukankah Tainam Chun tadi bergerak dan berkata kalau dia sudah melihat Kaisar Langit?"
"Kenapa dia baru terdiam sekarang?"
"Kultivasinya memang berada dibawah ranah alam immortal, tapi bukankah hal ini aneh?" tanya Xiao Tian dengan heran.
"Itulah yang membuat kami sedikit heran. Tapi mengingat gejalanya, kami yakin betul kalau ini adalah akibat dari momentum para Dewa," sambung Dewa petir sambil menghela napas.
Disaat Dewa petir selesai bicara, kedua Dewa menggangguk secara bersamaan sebagai pertanda bahwa mereka membenarkan semua ucapannya.
Karena masih belum puas dengan jawaban mereka, Xiao Toan pun kembali bertanya.
"Apa yang membuat kalian menjadi begitu yakin?" tanya Xiao Tian sambil menatap serius wajah mereka.
Sadar bahwa Xiao Tian belum puas dengan jawabanya, Wu Kong menunjukkan jarinya ke belakang punggung Xiao Tian.
Sambil memasang tampang serius dia pun berkata, "Lihatlah semua orang di belakangmu. Mereka juga terkena efek sama seperti Tainam Chun,"
Setelah mendengar ucapan Wu Kong, Xiao Tian langsung menoleh ke belakang. Dan dia pun melihat Patriach Bai serta beberapa orang dari sekte badai berduri sedang terdiam kaku seperti Tainam Chun.
Meskipun jarak mereka agak jauh, wajah mereka terlihat jelas karena sedang menghadap ke arahnya. Nampak betul bahwa mereka terhenti disaat sedang berniat pergi ke arah yang berlawanan dengannya.
"Apa mereka akan baik baik saja?" tanya Xiao Tian.
"Tenang saja, mereka masih hidup kok. Hanya waktu mereka saja yang berhenti. Kau bisa mengecek suhu tubuh mereka. Semuanya masih hangat meskipun jantungnya terhenti," jawab Dewa Bumi.
"Begitu ya," ucap Xiao Tian lega.
Setelah membahas beberapa hal kecil, Xiao Tian dan para Dewa pun melanjutkan langkah mereka menuju keluar gedung. Meninggalkan Tainam Chun yang terdiam kaku, lalu berjalan melewati patriach Bai serta orang orangnya.
Di tengah perjalanan, Dewa petir yang tak suka hal hal sepi berinisiatif untuk mengajak Xiao Tian ngobrol. Meskipun dia juga sedang penasaran Dengan kasus Tainam Chun seperti Wu Kong dan Dewa Bumi. Dia jauh lebih penasaran terhadap kultivasi Xiao Tian yang melonjak tinggi begitu saja.
Dengan nada menggoda sambil menyikut manja Xiao Tian, Dewa petir pun berkata,
"Kau benar benar melampaui ekspektasiku ya ... "
"Metode macam apa yang membuatmu menembus lebih dari sepuluh lapisan hanya dalam satu malam?"
"Saat waktu luang nanti jelaskan padaku apa yang telah terjadi padamu ya?" ucap Dewa petir sambil berjalan di samping kiri Xiao Tian.
"Haish," ucap Xiao Tian sembari menghela napas.
Sebenarnya Xiao Tian masih ingin bertanya tentang kasus Tainam Chun, tapi karena Dewa petir mulai membahas yang lain dan para Dewa nampaknya berniat untuk melihat Kaisar Langit terlebih dulu, dia pun berkata,
"Apa kau ingat tentang sisi lain yang pernah aku dapatkan dari ujian di lembah kristal es?"
"Ah ... ,"
"Tentu saja aku ingat!"
"Memangnya ada apa dengannya?" tanya Dewa petir sambil berjalan di samping Xiao Tian.
"Dia telah menyatu denganku secara sempurna. Sejak menyatu dengannya, semua pencapaiannya adalah pencapaianku. Segala metode kultivasi serta teknik serangan miliknya pun tersebar luas di dalam pikiranku. Meskipun rasanya sedikit menyedihkan karena tak bisa mengajaknya mengobrol lagi, tapi berkat pengorbanannyalah aku bisa menjadi seperti ini," jawab Xiao Tian sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Dewa petir pun menganggukkan kepalanya dan berkata, "Oh, begitu."
"Pantas saja aku merasa kalau terdapat sesuatu yang menghilang darinya, ternyata itu adalah sisi lainnya," pikir Dewa petir sambil memasang tampang serius.
"Apakah benar kalau kau melampaui sepuluh lapisan kekuatan hanya dengan cara seperti itu?" sambung Dewa Bumi yang ikut tertarik dalam obrolan mereka.
"Tentu saja tak hanya itu. Agar mencapai ke tingkat sekarang aku harus mengalahkan kaisar iblis di ruang hampaku lebih dulu," sambung Xiao Tian sambil tersenyum.
Ketika mendengar penjelasan Xiao Tian, nampak betul kalau Dewa petir dan Dewa Bumi tak mempercayai ucapannya. Tentu saja tak percaya karena setahu mereka di dalam ruang hampa tidak ada yang namanya Kaisar iblis.
"Sejak kapan di dalam ruang hampamu ada kaisar iblis?" tanya Dewa petir dengan tampang tak percaya.
"Sejak kau dan Dewa kera belum datang menyusulku di kastil vampir," jawab Xiao Tian dengan serius.
"Yang benar?" sambung Dewa petir dengan tampang tak percaya.
Karena kesal dengan Dewa petir yang tak mau mempercayai kata katanya, Xiao Tian pun memasang wajah kesal dan berkata, "Itu benar kok!"
Disaat Xiao Tian membentaknya, Dewa Petir mengalihkan pandangannya lalu menatap Dewa bumi dan berkata, "Apa kau percaya ucapannya?"
"Tentu saja tidak," sambung Dewa Bumi dengan sambil melirik Fewa petir.
Kesal dengan ekspresi mereka, Xiao Tian pun berjalan pergi mendahului mereka dan berkata, "Terserah kalian deh!"
Disaat Xiao Tian berjalan melewatinya, Wu Kong menoleh ke belakang dan berkata,
"Dia mengatakan hal yang sebenarnya kok. Aku berani jamin itu,"
"Kenapa kau begitu mempercayainya?" tanya Dewa Petir.
"Karena aku juga ada disana, saat hal tersebut terjadi," jawab Wu Kong dengan serius.
Melihat Wu Kong bersikap serius, Dewa petir dan Dewa Bumi pun menyerah untuk memperdebatkannya lagi.
Sambil menghela napasnya, Dewa petir pun berkata,
"Jika Dewa kera sudah bilang begitu, ya sudahlah,"
"Toh dengan ini, tugasku untuk menjadikan dia sebagai seorang Dewa jadi bisa lebih cepat dari perkiraanku," Dewa petir senyum cukup lebar sambil tertawa begitu keras di dalam hatinya.
"Kebebasan, kebebasan. Huahahahah!" pikir Dewa petir.
Dewa petir melontarkan begitu banyak pertanyaan bukan tanpa alasan. Semua karena dia penasaran dengan apa yang membuat Xiao Tian bisa menmbus begitu banyak lapisan bahkan setelah berada di tingkat pendekar alam peri. Setahu dia seharusnya membutuhkan waktu satu bulan lagi untuk meraih tingkat immortal meski dengan bantuan roh beladiri legendaris sekalipun.
Namun Xiao Tian mematahkan aturan tersebut dan dia tak melihat bagaimana hal tersebut terjadi.
Secara berurutan, tingkatan kultivasi setelah Dewa Petarung adalah, pendekar alam ilusi, pendekar
pendekar alam angin, pendekar alam langit, pendekar alam peri, pendekar alam surga, pendekar
alam immortal, hingga pendekar alam Dewa. Xiao Tian berhasil menembus dari alam peri ke alam immortal, jadi sangat wajar bagi Dewa petir untuk meragukannya. Namun karena Wu Kong bersaksi atas dirinya, dia pun percaya akan penjelasan Xiao Tian.
Setelah melangkah cukup lama, akhirnya mereka pun sampai di luar gedung. Sama halnya dengan pemandangan yang dia lihat di dalam gedung, Xiao Tian dapat melihat begitu banyak orang yang telah terdiam kaku seperti Tainam Chun. Ketika melihat bahwa ayah dan ibunya juga terdiam kaku seperti mereka, Xiao Tian terdiam sambil memandangi mereka.
Wu Kong yang melihat Xiao Tian terdiam, langsung melangkah melewatinya dan berkata, "Jangan terlalu lama melamun, cepat ikuti aku untuk menemui Kaisar Langit,"
"Ba ... baik," ucap Xiao Tian sambil melangkah mengikuti Wu Kong.
Xiao Tian dan para Dewa berjalan mengikuti Wu Kong. Mereka melewati bagiaj luar gedung yang masih terjaga dari sinar matahari tersebut dengan tampang yang cukup serius.
Disaat sudah melewati bagian luar gedung yang terjaga dari sinar matahari, Xiao Tian dan para Dewa menatap ke atas Langit mengikuti apa yang Wu Kong lakukan.
Dan di atas langit tersebut, mereka pun melihat begitu banyak Dewa Dewi serta prajurit langit yang berdiri dibelakang sang kaisar langit.
Saat itu, para Dewa Dewi yang berkumpul di luar adalah Dewi rembulan (Chang e), Dewi rembulan( Yue Liang), Dewi Bunga(Xishi), Dewi sungai (E Huang), Dewi sungai (Nu Ying), Dewa cinta (panglima Tian Feng), Dewa ilmu pengetahuan (Sha Wu Jing), Dewa awan putih (Yun Hei), Dewa awan hitam (Yun Bai), Dewa matahari(Houyi), Dewa air(Kanghui), Dewa Api (Zurong), Dewa perang( Guan Yu), Kaisar langit serta para pasukan langit.
Sebenarnya masih banyak Dewa Dewi yang ingin ikut, Namun Kaisar langit menyuruh mereka berjaga di alam Dewa karena takut terjadi sesuatu disana. Selain itu beberapa Dewa Dewi juga disibukkan oleh Nezha dan yang lainnya.
Beberapa diantara mereka diperintah oleh Kaisar langit untuk membantu mengobati luka serta mengembalikan kultivasi mereka.
Setelah melihat sang Kaisar Langit, para Dewa pun langsung memberi salam kepadanya. Tentunya dengan cara yang cukup sopan.
"Hormat kami yang mulia," Dewa petir, Wu Kong dan Dewa Bumi memberi hormat kepada Kaisar langit.
"Hormat hamba yang mulia," ucap Xiao Tian sambil memberi hormat.
Setelah menjawab salam mereka dengan bahasa isyarat, Kaisar langit memasang tampang serius dan berkata,
"Jadi ... ,"
"Apakah benar kalau kau yang telah melukai Dewa Erlang dan beberapa Dewa Dewi?" tanya Kaisar langit dengan tampang serius.
"Seratus persen benar, yang mulia," jawab Wu Kong sambil memberi hormat.
"Kenapa dia malah menanyakan hal itu?"
"Apakah dia kemari bukan untuk Xiao Tian?" pikir Wu Kong dengan tampang kesal.
Setelah mendengar jawaban Wu Kong yang begitu terang terangan, Kaisar Langit pun terkejut.
__ADS_1
"Kenapa kau tak menyangkalnya?" tanya Kaisar Langit.
"Karena memang itulah kenyataanya," jawab Wu Kong dengan santai.
"Apakah kau tak takut aku menghukummu?" tanya Kaisar Langit.
"Memangnya kau bisa?" tanya Wu Kong sambil tersenyum. Dia memancarkan tekanan kekuatan yang hanya bisa dirasakan oleh Kaisar Langit saja.
"Ah ... itu ... ,"
"Te ... tentu saja aku tak bisa."
"Lagi pula yang salah kan bukan dirimu."
"Aku malah ingin berterima kasih kepadamu karena telah memberikan hukuman kepada Dewa Erlang dan rombongannya yang turun ke bumi tanpa ijinku," sambung Kaisar Langit dengan keringat yang membasahi wajahnya.
"Oh, sama sama," jawab Wu Kong sambil menarik kembali pancaran qi miliknya.
"Oh iya, ngomong ngomong ... ,"
"Apakah benar pengguna roh beladiri Yin dan Yang ada di bawah pengawasanmu?" tanya Kaisar langit dengan serius.
"Bukankah kau juga tahu mengenai hal ini, yang mulia?" tanya Wu Kong tersenyum dengan tampang datar.
"Jangan ngomong itu di depan semuanya sialan!" bentak Kaisar langit melalui telepati.
"Oh, maaf," jawab Wu Kong melalui telepati.
Setelah mendengar ucapan terakhir Wu Kong, seketika semua Dewa Dewi memasang tampang ragu di wajah mereka.
"Apakah itu benar, yang mulia?" tanya para Dewa Dewi dengan tampang heran.
Sambil mengabaikan pertanyaan para Dewa Dewi, Kaisar Langit pun berkata,
"Berhenti bercanda, Dewa kera!"
"Ah, dia ingin bersikap sok berkuasa ya?" pikir Wu Kong sambil tersenyum.
"Apakah aku tak boleh bercanda?" ucap Wu Kong sambil memancarkan aura Dewa yang di khususkan kepada Kaisar langit.
"Sial, apakah dia akan marah?"
"Apakah aku sudah keterlaluan?"
"Kalau begini istana langit bisa di acak acak lagi!" pikir Kaisar langit sambil menyembunyikan kepanikannya.
"Bu ... bukan begitu maksudku, hanya saja sekarang bukanlah waktu yang tepat Dewa kera," jawab Kaisar langit sambil mencoba menutupi kepanikannya.
"Kenapa kaisar langit malah melembek?"
"Apakah rumor kalau dia takut pada Dewa kera itu benar?" pikir para Dewa dengan tampang heran.
"Sudah cukup basa basinya. Cepat tunjukkan kultivasimu, Xiao Tian," ucap Wu Kong dengan serius.
Xiao Tian menunjukkan tingkat kultivasi terbarunya, dan Wu Kong pun melepaskan segel di tubuh Xiao Tian dengan merapalkan beberapa mantra. Dan kemudian diakhiri oleh sebuah jentikan jari. "Terbukalah!" ucap Wu Kong di dalam hati.
Seketika langit menghitam, awan bergemuruh dan mata Xiao Tian berubah menjadi kata seekor ular. Bersamaan dengan itu, bayangan roh beladiri berbentuk ular kembar muncul tepat di atas kepala Xiao Tian.
"Pe ... pendekar alam immortal lapisan puncak?" gumam para Dewa Dewi dengan tampang terkejut.
Xiao Tian telah mengejutkan semua orang dengan memunculkan tingkat kultivasi terbarunya. Meskipun mereka tahu bahwa Xiao Tian telah mencapai ranah alam immortal karena bisa bergerak dalam momentum para Dewa. Kenyataan bahwa dia telah mencapai lapisan puncak di usia semuda itu membuat para Dewa terkejut bukan main.
"Dia hanya memerlukan selangkah lagi menuji ranah pendekar alam Dewa?"
"Yang benar saja. Kami bahkan memerlukan waktu ratusan tahun untuk mencapai tahap itu. Kecepatan kultivasi dari pemilik roh beladiri ular Yin dan Yang benar benar mengerikan," pikir para Dewa Dewi dengan heran.
Setelah melihat pencapaian Xiao Tiani Kaisar langit pun langsung tersenyum lega. Wajah panik yang sebelumnya masih menghantuinya, perlahan lenyap karena tak perlu berseteru dengan Wu Kong lagi. Dia berpikir demikian karena tahu bahwa jika Xiao Tian tak menunjukkan kelayakannya untuk menjadi salah satu dari penghuni Langit, para Dewa Dewi pasti akan meminta Xiao Tian agar memberikan roh beladirinya. Dan jika hal tersebut terjadi, maka dia pun terpaksa harus berurusan Dengan Wu Kong yang sedang bertugas melindunginya.
"Kerja bagus, Dewa kera. Dengan begini tak akan ada yang keberatan kalau Xiao Tian memilih jalannya sendiri," pikir Kaisar langit dengan senyum di wajahnya.
"Hormat hamba, Kaisar langit."
"Hamba telah menjadi seorang pendekar alam immortal, dan siap mengemban ujian dari para Dewa," ucap Xiao Tian sambil memberi hormat.
"Ujian para Dewa?"
"Jangan bilang kalau dia ingin menjadi salah satu penghuni langit," gumam Dewa Awan hitam dengan tampang terkejut.
"Tujuan kami kemari adalah membawa pergi pemilik roh beladiri ular Yin dan Yang. kenapa malah jadi seperti ini?"
"Kalau dia menjadi salah satu penghuni langit, mimpiku untuk merebut roh beladirinya akan menjadi sebuah mimpi saja," pikir Dewa Houyi dengan tampang kesal.
"Tak ada alasan bagi para Dewa untuk menolak kenaikan seorang Dewa baru,"
"Sepertinya tak ada pilihan lain selain melepaskan roh beladiri legendaris itu, huft," pikir Dewa Air sambil menghela napas dengan tampang kecewa.
"Kutunggu kau di alam para Dewa, manusia," ucap Kaisar langit sebelum menghilang dari pandangan Xiao Tian.
Bersamaan dengan memudarnya tubuh Kaisar langit, Dewi Chang e dan para Dewa Dewi yang lainnya juga ikut memudar dari pandangan semua orang.
__ADS_1
"Sampai jumpa di istana langit, kakak pertama!" ucap Panglima Tian Feng sebelum menghilang dari pandangan Wu Kong.
Setelah semua Dewa Dewi menghilang, waktu bagi para pendekar dibawah alam immortal pun kembali berjalan.