
Xiao Tian telah kembali ke wilayah kerajaan petir, sambil menaiki naga hitam dia langsung terbang menuju wilayah klan Huang untuk menemui putri Jia Li dan kawan kawannya yang sedang berkunjung disana.
#Kediaman jenderal Huang Cheng
Para prajurit panik bukan main setelah melihat naga hitam versi raksasa terbang mendekat ke arah kediaman jenderal Huang Cheng.
Mereka panik bukan tanpa sebab, tapi karena berdasarkan ingatan mereka saat ini. Naga hitam adalah penguasa lembah naga yang sangat berbahaya bagi seorang pendekar dibawah tingkat Dewa petarung. Mereka tak memiliki ingatan mengenai naga hitam yang telah ditundukkan oleh Xiao Tian. Bahkan merekapun melupakan naga biru yang telah Taiwu tundukkan sebelumnya.
Melihat naga hitam terbang mendekat tentu saja membuat mereka panik bukan main.
Saking paniknya para prajurit tersandung batu beberapa kali karena lari sambil menatap ke atas langit.
#Ruang utama jenderal Huang Cheng (Aula pertemuan)
Jenderal Huang Cheng sedang mengobrol dengan ratu Xiao Hong di aula pertemuan. Huang Li dan yang lainnya sedang menguping pembicaraan mereka sambil bersembunyi di sekat pembatas ruangan yang terletak sedikit jauh di belakang kursi tempat jenderal Huang Cheng duduk.
Ketika sedang membahas tentang tanah klan Xiao yang telah kosong akibat pembantaian yang dilakukan oleh raja sebelumnya, seorang prajurit mengganggu pembicaraan mereka karena masuk dengan nafas yang terengah engah. Tak hanya itu, dia juga terlihat panik dan terus mengucapkan kata gawat.
"Gawat jenderal, gawat!" ucap prajurit keluarga Huang dengan nafas terengah engah.
"Apanya yang gawat?" tanya jenderal Huang Cheng.
"Gawat jenderal, gawat!" ucap prajurit itu dengan napas yang terengah engah.
"Bisakah kau bicara lebih jelas lagi?" tanya jenderal Huang Cheng sambil menatap tajam mata prajuritnya.
"Na ... naga hitam penguasa lembah naga sedang terbang menuju kemari!"
"Kita harus segera pergi dari sini, atau naga itu akan menghabisi kita semua," ucap prajurit itu dengan napas terengah engah.
"Apa kau tak sedang bercanda?"
"Naga hitam tak pernah keluar dari lembah naga, apa tujuannya datang kemari?" tanya jenderal Huang Cheng sambil menatap mata prajuritnya.
"Aku pun tak percaya dengan apa yang aku lihat, jika jenderal ingin mengetahui kebenarannya. Silahkan lihat dengan mata kepala anda sendiri. Naga itu terlihat begitu hitam dan besar, matanya terlihat begitu tajam dengan iris hitam dan bola mata berwarna kuning," ucap prajurit itu dengan mata yang terbelalak.
"Baiklah akan aku cek dengan mata kepalaku sendiri."
"Tapi ingatlah baik baik!"
"Jika kau berani menipuku, akan kubuat kau menyesal," ucap jenderal Huang Cheng sambil berjalan keluar ruangan.
"Naga hitam raksasa?"
"Jingmi juga mau lihat, ayo kita ikuti jenderal Huang Cheng," ucap Jingmi sambil menarik tangan Kaibo.
"Naga hitam sangatlah berbahaya, apakah kamu tak takut?" tanya Kaibo.
"Entahlah, tapi firasat Jingmi mengatakan bahwa naga hitam tak semengerikan rumor yang tersebar," ucap Jingmi sambil berlari dengan tangan yang masih memegang erat tangan Kaibo.
__ADS_1
"Waduh sejak kapan Kaibo dan Jingmi ada di belakang kita?" ucap si Gendut sambil menatap Su Yan dan Huanran.
"Entahlah, aku terlalu fokus menguping tadi," jawab Su Yan sambil menggelengkan kepala.
"Aku juga tak menyadari keberadaan mereka, mas endut," ucap Huanran sambil menggelengkan kepala.
"Jangan tanya padaku, aku bahkan tak mengingat identitasku," ucap Liang Su.
"Kenapa kalian malah berdebat disini, ayo cepat kejar mereka. Bagaimanapun Kaibo dan Jingmi hanyalah anak anak, Xiao Tian pasti akan memarahi kita kalau terjadi sesuatu kepada mereka," ucap Huang Li dengan tampang kesalnya.
"Benar kata Huang Li, ayo kita kejar mereka sebelum semuanya terlambat!" sambung putri Jia Li sambil mengerutkan dahi.
#Di Luar kediaman jenderal Huang Cheng
Naga hitam mulai mendarat saat sudah cukup dekat dengan kediaman jenderal Huang Cheng, ribuan panah mulai melesat ke arah naga hitam disaat naga tersebut sudah berada di jarak serang para prajurit.
"Kenapa mereka malah menyerang kita?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Apa kau lupa tentang ingatan palsu yang Wu Kong berikan kepada semua orang?"
"Berdasarkan ingatan mereka, aku adalah makhluk berbahaya penguasa lembah naga."
"Memang sih ingatan tersebut tidaklah salah, hanya saja mereka melupakan fakta bahwa aku telah kau tundukkan sudah cukup lama," jelas naga hitam.
"Haih, begitu ya. Merepotkan saja," ucap Xiao Tian sambil mencoba mengendalikan angin di sekitarnya.
Xiao Tian memanfaatkan elemen angin untuk menghempaskan semua anak panah yang mengarah ke naga hitam. Dia juga langsung melompat turun untuk menenangkan semua prajurit agar tak menembaki naga hitam lagi.
"Pa ... pangeran Xiao Tian?"
"Kenapa kau bisa berada di atas kepala naga hitam?"
"Dan kenapa kau melindungi naga hitam raksasa?" tanya jenderal Huang Cheng sambil menatap Xiao Tian.
"Karena naga hitam adalah beast milikku. Aku dan dia telah terikat kontrak untuk waktu yang cukup lama," ucap Xiao Tian sambil menatap jenderal Huang Cheng.
Ketika para prajurit sudah tak memanah naga hitam lagi, naga hitam langsung mendarat tepat di belakang punggung Xiao Tian.
"Wah naganya besar sekali!" ucap Jingmi yang baru saja keluar dari dalam kediaman jenderal Huang Cheng.
"Buankah itu kak Xiao Tian?"
"Kenapa dia ada di dekat naga raksasa itu?" tanya Kaibo sambil mengerutkan dahinya.
###
"Kau telah menjalin kontrak dengan naga hitam?"
"Ini benar benar luar biasa. Dengan naga hitam yang menjadi beast putra mahkota, Kerajaan petir pasti makin ditakuti oleh kerajaan lain," ucap jenderal Huang Cheng sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Sudahi saja basa basinya, aku kemari untuk bertemu dengan putri Jia Li. apakah dia masih ada disini?" tanya Xiao Tian sambil menatap jenderal Huang Cheng.
"Kau mencariku, Yan Yan?" tanya putri Jia Li yang baru keluar dari kediaman jenderal Huang Cheng.
"Siapa lagi yang kucari, kalau bukan kamu, Lily," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Gunakanlah mode kecilmu, penampilanmu yang sekarang membuat takut semua orang. Ditambahlagi kultivasimu yang telah meningkat melebihi seorang Dewa petarung," ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Baiklah tuan, aku akan menggunakan wujud kecilku," ucap naga hitam melalui telepati.
Naga hitam merubah wujudnya ke versi mini hingga membuat Jingmi gemas, Jingmi yang sejak awal tak merasa takut dengan naga hitam langaung lari mendekatinya lalu menggendongnya layaknya hewan peliharaan.
"Wah imut sekali, sudah kuduga naga hitam pasti tak semengerikan rumornya," ucap Jingmi sambil menggendong naga hitam.
###
"Aku ingin bicara empat mata denganmu, Lily," ucap Xiao Tian sambil menatap putri Jia Li.
"Kenapa kau tak mengatakannya di depan semua orang saja?" tanya putri Jia Li.
"Ini tentang penyakit yang mengurangi umurmu," ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Aku ingin mengatakannyadihadapan semua orang, tapi hal ini sangatlah privasi. Bisakah kita bicara berdua saja, Lily?" tanya Xiao Tian sambil menatap putri Jia Li.
"Oh, tentu saja. Kita pergi ke salah satu kamar tamu saja. Disana tak akan ada yang mengganggu," ucap putri Jia Li sambil menatap Xiao Tian.
"Aku setuju akan hal itu, tapi apakah jenderal Hung Cheng mengijinkannya?" tanya Xiao Tian sambil menatap jenderal Huang Cheng.
"Tentu saja akan aku ijinkan kalian pergi ke ruang tamu. Cepat pergi dan selesaikan urusan pribadi kalian," ucap jenderal Huang Cheng sambil melempar kunci untuk ruang tamu.
"Terimakasih atas pengertiannya, jenderal," ucap Xiao Tian sambil memberi hormat.
## Ruang tamu
Xiao Tian membuka segel yang mengunci cincin ruang milik Xian Yun. Setelah segelnya terbuka dia langsung memberikan cincin tersebut tanpa ragu ke pada putri Jia Li yang saat itu sedang menatap matanya.
"Cincin apa ini?"
"Kenapa kau memberikannya padaku?" tanya putri Jia Li sambil mengerutkan dahi.
Cincinnya memang tak berarti, tapi isinya sangatlah berarti bagimu. Di dalam cincin ruang tersebut terdapat seribu keping pil penambah umur. Ada juga beberapa pil yang bisa mempercepat kultivasimu," jelas Xiao Tian.
"Dari mana kau mendapatkan semua ini?"
"Bukankah ini sangatlah berharga?"
"Kenapa kau berikan kepadaku begitu saja?" tanya putri Jia Li sambil menatap mata Xiao Tian.
"Dasar gadis bodoh, nyawamu lebih berharga dari pada pil pil ini. Terimalah dan jangan berani untuk menolaknya, karena aku tak suka penolakan," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Terimakasih, Yan Yan," ucap putri Jia Li sambil memeluk Xiao Tian.
"Sama sama, Lily," ucap Xiao Tian sambil membalas pelukan putri Jia Li.