Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 327 : Bersiap untuk turnamen


__ADS_3

#Diluar array naga langit saat Xiao Tian masih mengambil alih arrah tersebut untuk meningkatkan tingkat kesulitan latihan para alkemis.


"Dewa petir, kemarilah aku ingin bertanya padamu," ucal Xiao Tian sambil menatap ke arah Dewa petir.


"Kenapa?" tanya Dewa petir sambil mengerutkan dahi.


"Bicara soal Tian Zhong dan reliknya, apakah kau tak punya cara untuk mengatasinya?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Tidak, aku tak bisa menghancurkan ataupun merebut paksa relik ditubuhnya. Satu satunya cara lain yang bisa kupikirkan yaitu menghabisinya secepat mungkin," ucap Dewa petir dengan tampang serius.


"Dia bukanlah pria jahat, bisakah kau bersimpati sedikit saja?" tanya Xiao Tian sambil menghela napas.


"Sebenarnya masih ada satu cara, aku bisa merasuki tubuhmu lalu menyegel paksa kekuatam reliknya dengan teknik tingkat Dewa. Namun resikonya cukup besar, setelah aku menyegel relik tersebut, kau akan kehilangan dua kartu as milikmu sekaligus," jelas Dewa petir sambil memasang wajah serius.


"Resiko seperti apa memangnya?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Kehilangan kesempatan lain untuk memanfaatkan kekuatanku," ucap Dewa petir dengan tampang serius.


"Jadi maksudmu, jika kau menyegelnya dengan teknik tingkat dewa maka konsekuensinya hanya tak bisa meminta bantuanmu hingga hari berganti?" tanya Xiao Tian sambil menatap Dewa petir.


"Yap benar sekali, jadi apa jawabanmu?"


"Apakah lanjut, atau biarkan saja?" tanya Dewa petir sambil menatap mata Xiao Tian.


"Tentu saja lanjut!" ucap Xiao Tian dengan tegas.


"Oh iya, kau kan juga seorang Dewa seperti Wukong. Apakah kau bisa merekayasa ingatan seperti dia?" tanya Xiao Tian sambil memasang wajah penuh harapan.


"Tentu saja aku bisa, hanya saja skala teknikku tidak seluas teknik Wu Kong. Memangnya kenapa?" tanya Dewa petir sambil mengerutkan dahi.


Xiao Tian meminta Dewa petir mendekatkan telinganya, lalu menceritakan raecananya dengan berbisik bisik.


######


#Masa sekarang


#Gedung pusat cabang petarung.


Setelah kekuatan relik Tian Zhong selesai diatasi, Xiao Tian memutuskan untuk menemui Tian Bai dan para tetua lain untuk mempersiapkan turnamen.


Sedangkan para alkemis dan murid cabang petarung, disuruh menetap untuk mengistirahatkan tubuh mereka.


"Apakah anda yakin, tak membiarkan kami ikut?" tanya Xianlun sambil menatap Xiao Tian dengan rupa Tian Zhong.


"Kalian sudah berlatih begitu keras, istirahatlah yang cukup dan pulihkan tenaga kalian. Ingatlah, sekte lain bisa menyerang kita kapan saja," ucap Xiao Tian sambil menatap para tetua.


"Kami mengerti, patriach," ucap para tetua secara bersamaan.


"Ayo pergi," ucap Dewa petir dengan rupa Xiao Tian.


Xiao Tian dan Dewa petir menghilang dari pandangan semua orang, lalu muncul di belakang kediaman Tian Bai.

__ADS_1


Ketika baru sampai di gedung Tian Bai, tiba tiba tubuh yang Dewa petir rasuki mulai memudar.


"Sepertinya waktuku sudah habis," ucap Dewa petir sambil melihat tangannya.


"Padahal durasimu merasuki tubuh masih sepuluh menit lagi, siapa sangka tubuh tiruanku malah menghilang duluan," ucap Xiao Tian sambil melihat Dewa petir.


"Yah mau bagaimana lagi, kau kan belum begitu menguasai teknik ini seperti layaknya Dewa kera. Sayang sekali, sepuluh menitku terbuang sia sia karena setelah ini aku tak bisa merasukimu lagi," sambung dewa petir sambil menghela napas.


"Sepertinya mulai sekarang, aku hanya bisa memanfaatkan kemampuanku sendiri ya?"


ucap Xiao Tian sembil memasang wajah serius.


Beberapa detik setelah Xiao Tian bicara, Dewa petir kembali menjadi roh tanpa tubuh karena tubuh yang dia rasuki lenyap tanpa bekas.


"Mulai sekarang keberhasilan rencana sepenuhnya ada ditanganmu, aku sudah tak bisa terjun langsung lagi hingga hari berganti," ucap Dewa petir sambil menatap Xiao Tian.


"Iya, aku paham." Xiao Tian langsung pergi menemui Tian Bai untuk bersiap siap memulai turnamen.


Ketika dia baru melangmah masuk ke dalam gedung para tetua cabang petarung juga ada di sana dengan tampang panik mereka.


"Wah wah, sepertinya semua orang sudah berkumpul ya?" ucap Xiao Tian dengan rupa Tian Zhong.


"Pa ... patriach?" ucap para tetua secara bersamaan.


"Kak Tian Zhong?"


"Syukirlah kau muncul, apakah kau tahu kemana para murid dan tetua alkemis pergi?" tanya Tian Bai dengan tampang panik.


"Begitu ya?"


"Syukurlah, kupikir sekte ini benar benar berakhir hari ini," ucap Tian Bai dengan tampang lega.


"Memangnya mengikuti turnamen bisa merubah masa depan sekte?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Masa depan ya?"


"Yah tak peduli mereka masih disini atau pun tidak, sekte ini pasti tetap akan dibubarkan," ucap Tian Zhong dengan tampang frustasi.


"Kau sudah tahu kalau hasil turnamen tak jauh berbeda dari tahun tahun sebelumnya, tapi mengapa kau bersi keras memaksa para murid untuk mengikuti turnamen?" tanya Xiao Tian dengan tampang tegas.


"Aku tahu aku memang egois, tapi bukan aku yang meminta mereka tinggal. Mereka sendiri yang memutuskan. Jujur jika mereka mengasingkan diri seperti dirimu pun, aku tak akan mencari mereka. Lagipula diam di sekte ini sama saja dengan mencari mati," ucap Tian Bai sambil menundukkan kepala.


"Lalu kenapa kau menetap?" tanya Xiao Tian dengan tatapan tajamnya.


"Karena sekte ini peninggalan orang tua kita!"


"Aku tak ingin meninggalkannya meski nyawaku dipertaruhkan. Tak peduli sekencang apapun badai yang menerjang, aku tak akan goyah. Meski tak ada kemungkinan untuk menang, aku akan mempertahankan sekte hingga akhir!" teriak Tian Bai dengan penuh emosi.


"Manusia dengan perasaannya, benar benar konyol," ucap Sunlong melalui telepati.


"Hei aku juga manusia tahu!" sambung Xiao Tian melalui telepati.

__ADS_1


"Oleh karena itu aku tertarik padamu. Kau berbeda dengan manusia pada umumnya. Kau tahu kapan untuk mundur, dan kapan untuk menyerang. Bertindak berdasarkan perasaan tanpa sebuah rencana yang matang, sama saja dengan membuang nyawa. Mengorbankan nyawa hanya demi melindungi hal yang bisa dibangun kembali, konyol sekali," ucap Sunlong dengan nada kesal.


"Sekte bisa kau bangun lagi, tapi nyawamu tidak. Kenapa kau begitu keras kepala adikku?" tanya Xiao Tian dengan rupa Tian Zhong.


"Jangan pojokkan patriach Tian Bai, meski dia tak begitu ahli setidaknya dia masih setia terhadap sekte. Dia tak hanya sendiri, kami juga sependapat dengannya," ucap Xia Meng sambil memasang wajah kesal.


"Kau adalah orang yang cerdas Xia Meng, aku mengetahui itu sejak awal aku bertemu denganmu. Andaikan Xia Feng Ying tak diminta oleh sekte lain, mungkin kau akan memilih kabur dari sekte bersamanya sejak dulu. Apakah aku benar, teman?" tanya Xiao Tian sambil menatap tajam mata Xia Meng.


"Ya, aku memang menetap karena hal itu. Aku hanya ingin memastikan apakah putriku hidup atau tewas di tangan mereka," ucap Xia Meng dengan tampang kesal.


"Aku tak tahu apakah dia masih hidup atau tidak, tapi kudengar sekte busuk itu melakukan metode terlarang demi meningkatkan kekuatan murid murid mereka," sambung Xiao Tian dengan senyum tipis di wajahnya.


Bukkk


Duarr


"Cukup!"


"Aku tak mau mendengarnya lagi!" ucap Xia Meng sambil memukul lantai ruangan hingga hancur lebur membentuk sebuah kawah.


"Bagaimana dengan kalian berdua?"


"Apa alasan kalian menetap disini?" tanya Xiao Tian sambil menatap kedua tetua petarung.


"Apakah anda tak pernah mendengar nama Kong Ming Chun?"


"Dia adalah putraku satu satunya putra kesayanganku. Jika penatua Zhao tak mencegahku waktu itu, aku pasti sudah membuat keributan di tengah tengah turnamen," ucap penatua Kong dengan tampang kesal.


"Aku mengerti perasaanmu penatua Kong. Tapi jika kau merusak turnamen hal yang paling buruk pasti akan terjadi saat itu juga," ucap penatua Zhao sambil memasang tampang bersalah.


"Ketiga sekte berniat menghancurkan sekte kita, jika aku membuat kesalahan mereka akan langsung menghabisi seluruh sekte dengan dalih merusak aturan turnamen."


"Aku tahu persis akan kenyataan itu, makanya aku memilih diam disaat kau menahanku."


"Tapi, turnamen kali ini adalah turnamen terakhir sekte kita. Setelah kita dikalahkan lagi, dan sekte telah dibubarkan, maka aku sudah tak terikat lagi dengan sekte dan bisa bebas membalas dendam kepada bocah bau kencur itu!" ucap penatua Kong sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Sayangnya hal itu tak akan terjadi, karena kita tak akan kalah kali ini," ucap Xiao Tian sambil menatap para tetua.


"Apa maksud ucapanmu patriach Tian Zhong?" tanya para tetua sambil memasang wajah heran.


"Dari mana kepercayaan dirimu itu datang kak?" tanya Tian Bai sambil mengerutkan dahi.


"Percaya saja pada kakakmu ini," ucap Xiao Tian sambil menepuk pundak Tian Bai.


"Aku tahu ini mustahil, tapi entah mengapa aku merasa bahwa ucapannya benar benar bisa dipercaya," pikir Tian Bai dengan tampang bingung.


"Baiklah, aku percaya padamu kak," ucap Tian Bai sambil meneteskan air mata.


"Kenapa kau menangis?" tanya Xiao Tian sambil mengelap air mata Tian Bai.


"Tak apa, hanya teringat masa lalu," ucap Tian Bai sambil mencoba tersenyum.

__ADS_1


"Setelah lama tak bertemu denganmu, aku sangat merindukan momen ini. Momen dimana aku bisa mempercayakan beban yang kutanggung kepada seorang kakak sepertimu. Terimakasih karena sudah memberikanku harapan, kak Tian Zhong," pikir Tian Bai sambil meneteskan air mata.


__ADS_2