
Su Yan dan Xiao Tian dihadang dua puluh pendekar bertopi jerami dengan pakaian serba merah.
Para pendekar tersebut memakai sebuah pedang yang di sarungkan di pinggang kiri mereka.
Sambil menatap Su Yan dan Xiao Tian, semua pedang mereka keluarkan secara bersamaan.
Pedang mereka mengeluarkan aura hitam yang berlapis hawa iblis. Sedangkan tatapan mereka mendadak berubah semakin tajam sejak aura hitam yang menyelimuti pedang
mulai menyebar ke seluruh tubuh mereka.
"Ada yang aneh dengan pedang yang mereka pegang. Apakah aura hitam itu merupakan aura pedang?" pikir Xiao Tian sambil mengerutkan dahinya.
"Biar aku yang menghabisi mereka," ucap Su Yan sambil menyodorkan tangannya ke belakang.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Xiao Tian sambil menatap Su Yan.
"Pinjamkan aku pedangmu, aku lupa membawa pedangku," ucap Su Yan sambil menoleh ke arah Xiao Tian.
Setelah mengerti yang Su Yan maksud, Xiao Tian mengeluarkan pedangnya dari dalam cincin ruang. Kemudian memberikannya kepada Su Yan yang telah menyodorkan tangannya.
Setelah menerima pedang Xiao Tian, Su Yan pun langsung melesat maju mendekati para pendekar bertopi jerami.
Ketika pedangnya bersentuhan dengan salah satu pedang milik pendekar bertopi jerami, Su Yan terkejut bukan main karena pedang yang dia pakai terpotong menjadi dua dengan begitu mudah.
Potongan pedang yang Su Yan pakai berputar putar di udara, lalu menancap ke lantai kayu dalam waktu sekejap mata.
Woooshhh woosh Cleb
"Eh ... ," ucap Su Yan sambil menatap ke arah lawannya. Dia terkejut dengan betapa rapuhnya pedang yang dia pinjam dari Xiao Tian.
Ketika musuh di hadapannya hampir menebas kepala Su Yan, Xiao Tian menarik kerah bajunya hingga terhindar dari tebasan pedang pendekar itu.
"Hampir saja," ucap Su Yan sambil menghela napas.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Xiao Tian.
"Aku tak apa-apa ketua, hanya saja aku merasa ... , belum sempat Su Yan menyelesaikan ucapannya, dua pendekar yang lain mencoba menebas kepala Su Yan dari arah kanan dan kiri.
Akan tetapi tebasan pedang mereka Xiao Tian tahan dengan teknik tubuh peraknya. Ketika pedang berlapis aura hitam menyentuh tangan keras Xiao Tian, kedua pedang pendekar bertopi jerami tersebut mengalami keretakan.
Melihat pedang mereka mengalami keretakan, kedua pendekar tersebut langsung melompat mundur menjauhi Xiao Tian.
Setelah melihat kekerasan tangan Xiao Tian, para pendekar yang lain mengincar bagian lain dari tubuhnya. Mereka mengincar kaki perut hingga kepala, namun semua usaha mereka sia sia, karena dengan mengkombinasikan teknik tempurung naga dan teknik tubuh perak yang berasal dari kekuatan relik perak.
"Kau ... ," para pendekar bertopi jerami menatap Xiao Tian dengan tatapan kaget.
Mereka terkejut dengan tingkat kekerasan tubuh Xiao Tian yang begitu merata.
Ketika sepuluh orang pendekar bertopi jerami masih larut dalam rasa penasaran, Xiao Tian mengeluarkan gelombang angin yang begitu kencang di sekitar tubuhnya sehingga melontarkan semua musuh yang berada di sekitarnya.
__ADS_1
Sedangkan Su Yan yang saat itu berada di dekat Xiao Tian, terpaksa menancapkan pedang di tangannya untuk dijadikan sebagai pegangan.
Berkat respon cepatnya, Su Yan pun bisa bertahan dari hembusan gelombang angin milik Xiao Tian. Sedangkan para pendekar bertopi jerami yang saat itu berada di jarak serang Xiao Tian, terpental ke atas udara dengan pedang yang terlempar hingga menancap ke atas atap.
Tepat setelah sepuluh pedang milik para pendekar bertopi jerami menancap ke atas atap, salah satu pendekar yang tersisa menebaskan pedangnya ke arah Xiao Tian.
Akan tetapi dengan mudah Xiao Tian menahan semua serangan, bahkan sanggup merebut pedang berlapis aura hitam dari tangan musuhnya.
Ketika memegang pedang tersebut, Xiao Tian merasakan tekanan hawa iblis yang sangat luar biasa. Tangannya gemetaran namun tak sanggup melepaskan pedang tersebut dari genggaman tangannya. Seakan akan telapak tangan Xiao Tian dengan pedang tersebut telah menempel terkena lem perekat.
Aura hitam di pedang itu juga membuat Xiao Tian kesulitan bergerak. Setiap kali dia ingin bergerak, hawa iblis yang keluar dari pedang tersebut malah semakin membesar hingga hampir membuat kewarasan Xiao Tian menghilang.
Resiko di luar kendali sangatlah besar jika dia terus bergerak. Oleh karena itu Xiao Tian berhenti memberontak dan hanya memfokuskan energi qi berelemen cahaya pada tangan kanannya .
Akan tetapi usahanya itu menjadi sia sia. Karena bentroknya qi cahaya dengan aura hitam berlapis hawa iblis, pedang itu semakin mengganas hingga mencoba meracuni tubuh Xiao Tian.
Tangan kanan yang memegang langsung pedang tersebut, mulai menghitam karena telah terkena racun.
Para pendekar pun tersenyum lebar sejak melihat tangan Xiao Tian mulai menghitam.
Namun senyuman mereka berhenti sejak melihat racun hitam berhenti menyebar saat mencapai pundak kanan Xiao Tian. Tak hanya berhenti, bahkan tangannya kembali normal seperti tak pernah terjadi apapun.
"Apa yang terjadi?"
"Kenapa racunnya berhenti menyebar?"
"Siapa kau sebenarnya?"
"Tak hanya bisa menahan hawa iblis, kau bahkan bisa menahan racun pedang hitam. Jangan bilang kalau kau juga merupakan seorang keturunan naga iblis," ucap salah satu pendekar bertopi jerami.
"Anggap saja begitu," jawab Xiao Tian dengan senyum tipis di wajahnya. Dia bertingkah seolah olah tahu alasan dibalik kejadian yang baru saja menimpanya.
Setelah mendengar jawaban Xiao Tian, para pendekar langsung menjatuhkan pedang mereka secara bersamaan.
"Kami bukanlah tandingan seorang keturunan naga iblis, kami menyerah." para pendekar menundukkan kepala mereka sambil mengepalkan kedua tangan.
Melihat para pendekar menyerah, Xiao Tian pun tersenyum lebar.
Dia melirik ke arah Su Yan lalu berkata,
"Ayo kita naik ke tingkat kedua."
"Ta ... tapi ketua, apa kau yakin membiarkan mereka tetap hidup?"
"Bagaimana jika mereka menyerang dari belakang saat kita lengah?" tanya Su Yan.
"Jika itu terjadi, maka akan kuhabisi mereka saat itu juga," jawab Xiao Tian dengan tatapan dinginnya.
Melihat fokus Xiao Tian sedang teralihkan, salah satu pendekar menghentakkan kakinya ke ujung gagang pedang sehingga membuatnya terpental ke atas.
__ADS_1
Saat pedangnya masih berputar-putar sambil terlontar ke atas, pendekar itu langsung mengambil pedangnya dengan gerakan yang begitu cepat. Setelah memegang pedang hitam, pendekar itu langsung menghilang dari tempatnya lalu muncul dihadapan Su Yan.
Namun saat baru muncul di hadapan Su Yan, pendekar itu di tusuk Xiao Tian dari arah belakang.
"Si ... sial,"
Pedang itu menembus hingga ke bagian tengah perutnya. Ketika Xiao Tian mencabut pedang itu keluar, pendekar tersebut langsung berubah menjadi asap hitam dan hanya tersisa pakaiannya saja.
Melihat salah satu teman mereka tewas di tangan Xiao Tian, para pendekar langsung melesat mendekatinya tanpa rasa ragu.
Akan tetapi belum sempat pedang mereka menyentuh tubuhnya, Xiao Tian menghilang dari pandangan mereka lalu menebas perut mereka satu persatu.
Mereka mencoba mengikuti gerakan Xiao Tian, namun tak bisa mendeteksi keberadaannya. Yang bisa mereka lihat hanyalah teman teman mereka yang terbunuh satu oersatu akibat tertebas pedang hitam.
"Sial, kemana dia?" ucap salah satu pendekar bertopi jerami.
"Aku di belakangmu," ucap Xiao Tian sambil menusukkan pedangnya hingga menembus perut salah satu pendekar bertopi jerami.
Terhitung lima menit sejak Xiao Tian mulai serius, para pendekar bertopi jerami yang telah tewas tertebas sudah mencapai tiga belas orang.
Kini hanya tersisa tujuh orang pendekar bertopi jerami yang masih bertahan hidup.
Mereka tak berani maju, karena melihat teman seperguruan mereka tewas dengan begitu mudah.
"Apa-apaan ini, dia terlalu berbahaya."
"Mundur!" ucap salah satu pendekar bertopi jerami.
Para pendekar yang tersisa melompat mundur sambil berpencar untuk menghindari serangan Xiao Tian. Akan tetapi mereka tetap tak bisa lolos dari serangan Xiao Tian karena kecepatan Xiao Tian jauh di atas mereka.
"Lu ... luar biasa," ucap Su Yan dengan mata yang terbelalak.
Setelah semua pendekar telah dihabisi, Xiao Tian berjalan mendekati Su Yan lalu berkata,
"Ayo kita naik ke pagoda tingkat dua."
"Baik, ketua." Su Yan berjalan di belakang Xiao Tian sambil menatap punggungnya dengan rasa kagum.
#####
Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.
Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.
Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.
Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.
Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁
__ADS_1