
Dewa Petir muncul secara tiba tiba di hadapan Xiao Tian yang sedang melamunkan banyak hal.
Karena kemunculannya yang begitu tiba tiba, Xiao Tian pun terjingkut mundur dan langsung berteriak, "Ya tuhan, bisakah kau berhenti mengejutkanku!"
Bukannya meminta maaf karena mengagetkan Xiao Tian, Dewa petir malah memasang tampang datarnya yang begitu menyebalkan.
Dewa Petir bertingkah seakan akan bahwa dia tak melakukan kesalahan apapun. Melihat tingiah Dewa petir yang cukup menyebalkan, Xiao Tian pun semakin kesal. Kedua tangan yang dia kepalkan sejak awal munculnya Dewa Petir terkepal semakin kencang karena mencoba menutupi kekesalannya terhadap Dewa Petir.
Ketika Xiao Tian sedang mencoba menahan diri agar tak marah, Dewa petir memasang tampang datar yang cukup menyebalkan sambil berkata,
"Kenapa kau terkejut?"
Mendengar pertanyaan konyol Dewa Petir, Xiao Tian pun menjadi semakin kesal. Bibirnya berkedut dan kedua tangannya terkepal begitu kencang karena ingin memukul Dewa Petir. Namun karena memiliki banyak hal yang ingin dia tanyakan kepada Dewa Petir, dia pun terpaksa menahan emosinya.
Demi menghilangkan rasa kesalnya, dia menarik napas begitu dalam, lalu menahannya selama beberapa detik. Di menutupi kekesalannya, dia pun tersenyum tipis sambil menatap Dewa Petir.
Ketika Xiao Tian sudah mulai tenang, emosinya kembali terpancing karena Dewa Petir menatapnya sambil berkata, "Apa kau sudah gila?"
"Maksudmu?" tanya Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Kenapa kau menatapku sambil tersenyum tidak jelas?"
"Meski telah menjadi seorang Dewa, aku tetaplah seorang pria normal. Melihatmu tersenyum padaku membuatku merasa jijik dan agak merinding," jelas Dewa Petir dengan tampang datarnya.
"Jijik katamu?" ucap Xiao Tian sambil mengepalkan tangannya.
"Kau pikir aku ini pria macam apa!"
bentak Xiao Tian dengan kesal.
"Iya iya maaf aku cuman bercanda," sambung Dewa Petir dengan wajah santainya.
"Sudahlah aku tak ingin membahasnya lagi," ucap Xiao Tian sambil menghela napas.
Melihat Xiao Tian menghela napas begitu panjang, Dewa Petir pun menyadari kesalahannya. Dengan tampang bodohnya dia pun berkata,
"Hehehe."
"Maaf ya aku tak bermaksud mengagetkanmu."
"Aku tak tahu kalau kau sedang melamun tadi, lagi pula apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Dewa Petir sambil menatap Xiao Tian.
"Bukan hal yang penting, lupakan saja," jawab Xiao Tian sambil melirik ke arah kiri.
"Kau yakin?" tanya Dewa Petir dengan tampang serius.
"Aku sangat yakin, sudahlah berhenti membahas hal yang tak penting," balas Xiao Tian sambil melirik ke arah kiri.
"Setidaknya tatap mataku saat sedang berbicara," ucap Dewa Petir dengan nada serius.
"Sudah kubilang, tak ada hal yang penting," balas Xiao Tian sambil menatap mata Dewa Petir.
"Syukurlah kalau begitu, kupikir kau merahasiakan sesuatu dariku," ucap Dewa Petir sambil menatap Xiao Tian.
"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan guruku?" tanya Xiao Tian untuk mengalihkan pembicaraan.
"Gurumu?" tanya Dewa Petir sambil mengerutkan dahinya.
"Ya, guruku," ucap Xiao Tian sambil menatap Dewa Petir.
"Tenanglah, aku masih baik baik saja." jawab Dewa Petir dengan santainya.
"Siapa juga yang bertanya soal keadaanmu!" bentak Xiao Tian dengan kesal.
"Aku kan gurumu saat ini, memangmya ada guru yang lain?" tanya Dewa Petir sambil menatap Xiao Tian.
"Kau memang guruku juga, tapi kau bukan satu satunya guruku di dunia ini. Yang kumaksud adalah Dewa Obat yang kau bawa waktu itu. Apa kau sudah lupa?" tanya Xiao Tian dengan tampang kesal.
"Oh, Dewa Obat pertama?"
"Tenang saja, rohnya hanya tersegel sesuatu. Kaisar langit sedang mengurusinya. Tidak lama lagi kau akan bisa bertemu dengannya," jelas Dewa Petir.
"Dewa obat pertama?"
"Kenapa kau menyebutnya dengan sebutan itu?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahinya.
"Karena kau akan menjadi yang kedua," jawab Dewa Petir dengan tampang seriusnya.
"Maksudmu?" tanya Xiao Tian dengan tampang heran.
"Sudahlah lupakan saja, aku asal bicara tadi," jawab Dewa Petir sambil melirik ke arah kiri.
"Setidaknya tatap mataku saat sedang berbicara denganku," sambung Xiao Tian dengan kesal.
"Maaf, aku hanya ingin menirumu tadi," ucap Dewa Petir sambil menatap Xiao Tian.
Ketika menatap mata Xiao Tian begitu lama, Dewa petir langsung mengerutkan dahinya dengan tatapan bingung.
Sambil menyipitkan mata dia berkata,
"Ehmm ... "
Risih karena Dewa Petir menatapnya begitu lama, Xiao Tian pun berkata,
"Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Sejak kapan kau menjadi seorang Dewa Petarung?" tanya Dewa Petir.
"Berhenti bercanda, mana mungkin aku menjadi seorang Dewa Petarung. Sudah lama aku tak berkultivasi. Lagi pula aku tak merasakan proses peningkatan kultivasi sejak waktu itu," jawab Xiao Tian dengan tatapan kesalnya.
"Aneh sekali, tapi aku merasakan sedikit energi Dewa dari dalam tubuhmu. Kau sudah mencapai tingkat Dewa Petarung, aku tidak mungkin salah." Dewa Petir meraba wajah Xiao Tian dengan wajah seriusnya.
Karena merasa kesal dengan kelakuan Dewa Petir yang meraba wajahnya, Xiao Tian pun menjadi semakin kesal. Dia masih tak percaya kalau Dewa Petir mengatakan hal yang sebenarnya, dan tidak sedang mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Dengan nada kesal dia pun berkata,
"Bisakah kau berhenti mencoba mengalihkan pembicaraan?"
Setelah meraba kepala Xiao Tian begitu lama, Dewa petir menganggukkan kepalanya sambil berkata, "Ohhh, ternyata ada yang sedang bermain petak umpet di dalam tubuhmu."
"Petak umpet?" tanya Xiao Tian dengan tatapan heran.
Dewa Petir melepaskan kedua tangannya dari wajah Xiao Tian, lalu memusatkan qi berwarna putih terang di kedua telapak tanganya.
Bingung dengan maksud Dewa Petir yang sedang memusatkan kekuatan qi di kedua telapak tangannya, Xiao Tian pun berkata, " Apa yang ingin kau lakukan?"
"Mengeluarkan kadal nakal yang berpura-pura tertidur," jawab Dewa petir sambil menatap Xiao Tian.
"Maksudmu?" belum sempat Xiao Tian menyelesaikan kalimatmya, Dewa Petir mendorong kedua telapak tangannya hingga menempel ke dada Xiao Tian.
Sejak telapak tangan Dewa Petir bersentuhan dengan pakaian Xiao Tian, sinar putih di kedua telapak tangan Dewa Petir terus merambat hingga menyebar ke seluruh tubuh Xiao Tian.
Tak lama setelah itu, roh Sunlong versi kadal terlempar keluar dari punggung Xiao Tian.
Dia terlempar begitu kencang. Namun karena masih diselimuti oleh sinar putih Dewa Petir, rohnya tak bisa menembus tembok. Alhasil Sunlong pun menabrak tembok dan merasakan rasa sakit yang lumayan menyiksanya. Semua itu karena Dewa Petir mendorong roh Sunlong begitu keras menggunakan tekanan qi miliknya tanpa mengaturnya terlebih dahulu.
Brukk
Karena dipaksa keluar oleh Dewa Petir, Sunlong pun menatap ke arah Dewa Petir dengan tatapan kesal. Dengan nada tinggi dia pun berkata,
"Dewa sialan, tak bisa kah kau mengeluarkanku lebih lembut lagi!"
Mendengar suara Sunlong dari belakangnya, Xiao Tian pun langsung berbalik melihat ke belakang. Dia terkejut bukan main setelah melihat Sunlong dalam versi kadal kecilnya berada tepat dihadapannya.
Dia mengucek ngucek matanya karena masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Tanpa dia sadari, air mata yang tak bisa terbendung mulai menetes keluar hingga membasahi pipinya.
Sambil menatap Sunlong dengan berlinang air mata, Xiao Tian pun berkata,
"Sun ... long?"
"Kau kah itu?" ucap Xiao Tian sambil mencoba menghapus air matanya.
"Kalau iya kenapa?" tanya Sunlong dengan ketus.
Setelah mendengar jawaban Sunlong, Xiao Tian langsung memeluk Sunlong begitu erat
tanpa pikir panjang.
"Syukurlah kau bisa kembali, kupikir aku tak akan pernah bisa melihatmu lagi. Kumohon jangan tinggalkan aku seperti waktu itu."
"Oi lepaskan aku, tubuhku masih rapuh karena baru saja bangkit." Sunlong mencoba melepaskan diri dari pelukan Xiao Tian.
"Kumohon biarkan aku memelukmu lebih lama lagi," ucap Xiao Tian sambil memeluk Sunlong begitu erat.
"Baiklah, tapi tolong jangan terlalu kencang. Pelukanmu yang sekarang benar benar membuatku merasa sakit," ucap Sunlong dengan pipi yang memerah. Dia merasa senang sekaligus tak percaya ternyata ada yang menunggu kedatangannya.
Meski sudah memiliki sedikit rasa percaya kepada Xiao Tian, Sunlong masih tak mau mengakuinya dan terus mencoba bersikap acuh tak acuh.
Xiao Tian pun berkata,
"Oh iya, kenapa aku bisa memelukmu ya?"
"Bukankah kau hanyalah sebuah roh?"
"Kupikir aku hanya bisa menyentuh Dewa Petir saja. Apakah sekarang aku bisa menyentuh semua roh?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahinya.
"Cih, kau baru menjadi seorang Dewa Petarung. Mana mungkin bisa menyentuh sembarang roh. Kau bisa menyentuhku karena aku adalah roh beladirimu," Jelas Sunlong dengan nada ketus.
"Tunggu dulu, bahkan kau juga mengatakan kalau aku telah menjadi Dewa Petarung. Lalu kenapa aku tak merasakan perubahan sedikitpun pada tubuhku?" tanya Xiao Tian dengan heran.
"Tanyakan saja pada Dewamu," sambung Sunlong.
Xiao Tian menatap ke arah Dewa Petir. Mendadak ekspresinya menjadi serius. Xiao Tian menatapnya dengan harapan mendapatkan sebuah jawaban yang memuaskannya, akan tetapi yang dijawab oleh Dewa Petir adalah hal yang sebaliknya.
Dengan wajah seriusnya dia berkata,
"Tidak Tahu."
Setelah mendengar jawaban Dewa Petir yang cukup melantur, Sunlong dan Xiao Tian pun langsung menepuk dahi dengan telapak tangan kanan mereka.
"Jawaban macam apa itu," ucap Xiao Tian sambil menepuk dahi.
"Aku menyesal karena menyuruh Xiao Tian bertanya kepadamu," ucap Sunlong sambil menepuk dahinya.
"Tunggu, aku mengingat sesuatu." Dewa Petir mengangkat telunjuknya."
"Apa?" tanya Xiao Tian.
"Aku harus pergi menemui istriku, dia sudah lama berada di dunia manusia dan tak kunjung kembali karena tak dapat menemukanku. Berdasarkan penjelasan dari Kaisar langit, sekarang dia sedang berada di kerajaan petir. Aku akan pergi kesana lebih dulu, kalau begitu sampai jumpa!" Dewa Petir menghilang dari hadapan Sunlong dan Xiao Tian.
"Kalau ingin pergi lagi, untuk apa dia datang kemari." Xiao Tian menepuk wajahnya karena bingung dengan tingkah Dewa Petir.
"Dasar Dewa tak berguna, ingin kabur dari pertanyaan dengan mengalihkan pembicaraan, kenapa tak bilang saja kalau dia memang tak tahu jawabannya." Sunlong menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dewa Petir sudah pergi, bisakah kau jelaskan semuanya?" tanya Xiao Tian.
"Baiklah, akan kujelaskan."
"Sebenarnya kultivasimu sudah lama meningkat sejak matamu bertatapan langsung dengan mata Dewa Obat" jelas Sunlong.
"Tunggu, bukankah waktu itu kau masih tertidur?"
"Bagaimana bisa kau mengetahui soal itu?"
"Aku bahkan belum menyinggung soal Dewa Obat sejak tadi," ucap Xiao Tian dengan heran.
"Ehm." Sunlong memalingkan tatapannya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau sembunyikan?" tanya Xiao Tian.
"Sebelum ku jawab semua pertanyaanmu, tolong lepaskan tanganmu dari tubuhku." Sunlong berkata sambil melirik ke arah kanan.
"Baiklah." Xiao Tian melepaskan pegangannya.
"Sekarang aku sudah melapaskanmu, bisakah kau jelaskan semuanya?" tanya Xiao Tian sambil menatap Sunlong.
Ketika sedang bertanya pada Sunlong, Su Yan terbangun dari tidurnya lalu berkata,
"Kau sedang bicara dengan siapa, Ketua?"
Xiao Tian melirik ke arah Su Yan yang saat itu berada di samping kirinya.
"Ah, maaf aku hanya sedang melindur tadi," jawab Xiao Tian sambil menatap Su Yan.
"Kalau begitu, tidurlah. Jangan sampai pas giliranmu berjaga, kau malah merasa mengantuk." Su Yan kembali menutup matanya, lalu mimiringkan badannya ke arah kanan menghadap ke si Gendut yang sedang tertidur pulas.
Ketika Xiao Tian melirik kembali ke arah Sunlong, dia kehilangan jejaknya.
"Eh ... , Kemana dia pergi?"
#Diluar rumah buatan Xiao Tian.
Sunlong telah kabur tanpa pengetahuan Xiao Tian. Dia kabur karena merasa sudah mendapatkan kebebasannya kembali.
Akan tetapi semua rencananya untuk melarikan diri menjadi sirna karena ketika baru berjarak 20 meter dari Xiao Tian, sebuah rantai perak tiba tiba saja muncul tepat di lehernya.
Rantai tersebut terus memanjang hingga menempel ke telapak tangan kanan Xiao Tian. Akibat rantai yang mendadak muncul melingkari lehernya, Sunlong pun terjatuh saat masih berlari. Karena rantai perak melingkar di lehernya, Sunlong tak bisa melangkah lebih jauh.
"Sial, rantai apa ini!" ucap Sunlong dengan kesal.
Dia mencoba berbagai cara untuk melepaskan rantai tersebut, dari menggigit hingga mencoba menarik rantai tersebut.
Akan tetapi bukannya terbebas dari rantai tersebut, dia malah tersetrum oleh listrik yang merambat dari ujung rantai perak.
"Sial listrik apa ini?"
Belum selesai dia mengungkapkan rasa kesalnya, rantai tersebut terus menariknya mundur hingga menembus tembok rumah buatan Xiao Tian.
"Sunlong?" ucap Xiao Tian sambil menarik rantai perak yang terhubung dengan telapak tangannya.
#3 menit sebelum Sunlong tersetrum listrik
#Di dalam rumah buatan Xiao Tian.
Xiao Tian kebingungan saat melihat rantai perak yang menembus tembok hingga menyatu dengan telapak tangannya. Dia pun menyetrum rantai tersebut dengan maksud mengenai sumber dari rantai perak itu.
Setelah menyetrum rantai perak, Xiao Tian menarik rantai tersebut tanpa ragu. Setelah menarik rantai cukup lama, dia terkejut melihat roh Sunlong yang menembus tembok dengan rantai perak yang melingkar di leher kecilnya.
Setelah mengetahui kalau rantai perak itu terhubung dengan leher Sunlong, Xiao Tian langsung menatapnya dengan tatapan kesal. Dia langsung menarik rantai perak dengan semakin kencang. Setelah sudah tepat berada di hadapannya, dia langsung berkata,
"Apa kau mencoba kabur dariku?"
Xiao Tian menatap Sunlong, sambil mengaktifkan teknik pengendali elemen petir di tangan kirinya. Seketika raut muka Sunlong mendadak pucat. Dia tak bisa mengelak dari pertanyaan Xiao Tian, karena takut terkena setruman listrik lagi.
"A ... ampun, aku tak bermaksud begitu. Aku hanya ingin berjalan-jalan keluar. Aku kan sudah lama tidak merasakan dunia luar," jelas Sunlong.
"Aku tak butuh alasanmu, yang penting jawab pertanyaanku yang tadi." Xiao Tian menatap dengan tatapan mengancam.
"Pe ... pertanyaan yang mana?" tanya Sunlong dengan terbata bata. Dia menoleh ke arah lain sambil mencoba mengelak dari pertanyaan Xiao Tian. Akan tetapi usahanya itu sia sia. Karena saat ini Xiao Tian lebih berkuasa dari sebelumnya. Hanya perlu setruman kecil saja, bisa membuat Sunlong merasa ketakutan bukan main.
Karena Sunlong tak buka mulut juga, akhirnya Xiao Tian pun mengaktifkan teknik elemen listrik di sekitar tangan kirinya.
Wajah Sunpong membiru sejak melihat Xiao Tian mengaktifkan jurusnya. Dalam benakjya dia berkata, "Sial, aku merasakan firasat yang buruk. Sepertinya sebentar lagi dia akan mengancamku."
"Aku harus mencari cara agar lepas dari rantai ini, jika ini terus terjadi aku akan selalu ditindas oleh manusia ini."
"Ingin mencoba mengelak dari pertanyaanku lagi?" tanya Xiao Tian dengan tatapan mengancam. Listrik di tangan kirinya semakin tebal dan membesar.
Awalnya Sunlong mencoba bersikap sok kuat dengan mengabaikan ancaman Xiao Tian. Namun dia tak bisa menutupi rasa takutnya setelah Xiqo Tian mulai mendekatkan tangan berlapis listriknya ke rantai perak yang terhubung dengan Sunlong.
Saat tangan berlapis petir milik Xiao Tian benar benar hampir menyentuh rantai perak, Sunlong pun tak bisa menahan diri lagi.
Dengan tampang paniknya dia berkata,
"Tu ... tunggu!"
"Aku sudah ingat, aku sudah ingat!"
"Kau yakin?" Tanya Xiao Tian sambil menggeser sedikit tangannya ke rantai perak.
"Bocah ini ... ," pikir Sunlong dengan kesal.
"Maaf aku tak mendengar jawabanmu, sepertinya kau belum mengingatnya dengan baik. Biar kubantu untuk memulihkan ingatanmu," ucap Xiao Tian sambil memperbesar lapisan listrik di tangannya.
"sialan," pikir Sunlong dengan kesal.
" Iya aku ingat, aku akan menjelaskannya. Tapi tolong hilangkan listrik di tangan kirimu itu terlebih dulu!"" ucap Sunlong sambil gemetar ketakutan.
"Sial, kalau saja tubuhku tidak berubah kembali menjadi seekor kadal. Aku tak perlu takut dengan listrik lemah seperti itu," ucap Sunlong di dalam hati.
Maaf lama, lagi ada kesibukan.😁😁
Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.
Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.
Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.
Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.
Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁
__ADS_1