
'Siapakah aku di sini? hanya seorang gadis yang numpang hidup juga numpang makan tanpa bisa memberikan apapun. Aku juga gak bisa melakukan apapun yang kalian minta. Maafkan aku. Tetapi aku mohon, jangan paksa aku, biarkan aku bahagia dengan jalan yang sudah aku jalani."
#Kanaya Setya Ningrum
...****************...
Langkah kaki Kanaya melambat saat melihat wak Tejo yang menghadangnya.
'Ya Allah, kenapa wak Tejo berwajah seperti itu? apakah dia akan memarahinya Kanaya?' batin Kanaya.
Perlahan namun pasti kakinya tetap melangkah dan semakin dekat dengan wak Tejo.
Terlihat Wak Tejo sangat terkejut saat Kanaya pulang seorang diri tampa di antar oleh Dirga. Tadi dia berangkat bersama pria kaya juga tampan itu dengan mengendarai mobil yang katanya orang Semarang tetapi kenapa sekarang Kanaya pulang sendiri dengan jalan kaki?
Wak Tejo berdiri di depan pintu dengan mata yang sangat tajam melihat Kanaya yang datang dengan wajah yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
"Lah, Aya. Kamu pulang sendiri, dimana Pria itu?" Wak Tejo menelisik ke belakang Kanaya mungkinkah pria itu datang di belakang Kanaya?
Kanaya gemeter, dia tau pertanyaan itulah yang akan keluar dari mulut wak Tejo untuknya. Dan ternyata benar.
"Aya nggak tau, Wak. Tadi Aya pulang dia masih di kebun," jawab Kanaya dengan hati-hati. Benar juga kan? tadi pas Kanaya pulang Dirga masih termangu di sana melihat kepergiannya. Mungkin dia sekarang pulang atau mungkin pergi kemana Kanaya jelas tidak tau.
"Dia tidak ngapa-ngapain kamu toh, Nduk?" kini Wak Ami yang berbicara. Wak Ami baru saja keluar karena mendengar suara Kanaya juga suaminya yang berbincang-bincang di depan pintu, jelas Wak Ami sangat khawatir karena Kanaya belum pernah pergi dengan orang asing, bahkan Wak Ami sendiri juga belum pernah bertemu.
"Tidak kok, Wak."
"Oh iya, Wak! Hani sama Wati udah kesini belum?" imbuh Kanaya seraya bertanya. Meskipun yakin mereka sudah datang untuk mengajak berangkat ke desa Lembayung tapi Kanaya hanya ingin memastikan saja.
__ADS_1
"Sudah, tadi udah wak bilang kamu tidak akan ke sana lagi," ketus Wak Tejo. Setelahnya Wak Tejo langsung pergi masuk begitu saja meninggalkan wak Ami juga Kanaya.
Begitu kaget Kanaya dengan jawaban dari Wak Tejo. Padahal dia sudah tau akan kebiasaan Kanaya setiap hari tetapi kenapa sekarang terkesan melarang Kanaya untuk pergi?
"Kok Wak seperti itu sih, kan emang sudah kebiasaan Kanaya pergi. ke
desa Lembayung," Kanaya melangkah masuk. Mata Kanaya seketika juga sudah mulai berkaca-kaca karena larangan wak Tejo yang secara tidak langsung itu.
"Sudah, mulai sekarang kamu tidak usah ke sana lagi. Emang apa yang bisa kamu dapatkan di sana, nggak ada kan! lebih baik mulai sekarang kamu bantuin wak mu ke kebun. Itu akan lebih berguna untuk meringankan pekerjaan Wak."
Terdengar suara Wak Tejo sangat menegaskan, bahkan dia menoleh ke arah Kanaya dengan mata tajam juga wajahnya yang terlihat memerah dan sangat menakutkan.
Siapa yang tidak akan menangis kalau sudah seperti ini, Kanaya sangat sadar dia siapa, apa posisinya di rumah itu. Dia begitu serba salah, dia ingin terus menimba ilmu di desa Lembayung juga untuk membantu Kyai Achmad. Tetapi di sisi lain, dia di rumah itu hanya numpang dan apapun semua kebutuhannya Wak Tejo juga Wak Ami yang mencukupinya.
Pecah tangis Kanaya tetapi wak Tejo sama sekali tak peduli dan berlalu pergi. Sementara wak Ami begitu baik, dia terus menenangkan Kanaya dengan mengelus punggungnya.
"Sudah, jangan hiraukan omongan nya Wak mu. Sekarang pergilah ke desa Lembayung, Hani juga Wati baru saja berangkat. Mungkin mereka belum jauh," ucap wak Ami begitu lembut begitu penuh dengan kasih sayang.
"Tapi wak Tejo?" Kanaya mendongak, melihat wak Ami yang ternyata tersenyum kepadanya dengan begitu tulus.
"Biar wak yang bicara. Sekarang kamu pergi lah." katanya lagi.
"Terima kasih, Wak," cepat Kanaya menyalami wak Ami, tak lupa dia juga menghapus air matanya, "Assalamu'alaikum, Wak."
"Wa'alaikumsalam," wak Ami terdiam setelahnya, berdiri mengamati Kanaya yang berlarian ke kamar untuk mengambil tas juga kitab-kitabnya.
Muach...
__ADS_1
Tiba-tiba saja Kanaya mencium pipi wak Ami, ada senyum di wajahnya meski mata masih sembab juga pipinya yang masih sedikit basah.
"Assalamu'alaikum, Wak!" Kanaya langsung berlarian keluar. Mungkin dia ingin mengejar kedua sahabatnya jika masih bisa.
"Wa'alaikumsalam... hati-hati, Aya!" teriak Wak Ami sekaligus menggeleng karena tingkah Kanaya yang sering kali membuatnya bisa membuatnya menarik kedua ujung bibir untuk tersenyum.
"Mak! kenapa kamu izinkan pergi. Kalau kamu biarkan ngeluyur begitu terus kapan dia akan punya pemikiran yang dewasa. Kapan dia akan tau susahnya bekerja keras untuk mencari makan!"
Senyum wak Ami pudar karena di kejutkan dengan suara wak Tejo yang begitu melengking memenuhi ruangan. Seketika Wak Ami juga menoleh ke arah suaminya yang masih saja berwajah kesal.
"Jangan terlalu di tekan, Pak. Kanaya masih terlalu muda untuk menjalankan semuanya. Mak lihat dia sudah sangat dewasa, Pak. Dia juga tidak pernah mengeluh juga membangkang setiap bapak suruh," jawab Wak Ami dengan lembut.
"Tapi, Mak!"
"Sudah to, Pak. Mak ngerti, bapak marah karena Kanaya pulang sendiri dan tidak bersama cowok yang tadi to? apa jangan-jangan bapak berniat mau jodohin Kanaya dengan cowok itu?" tebak wak Ami.
"Iyo, emang kenopo. Nggak salah to! Dia tampan, dia juga masih bujang, dia juga menyukai Kanaya. Dan yang paling penting dia orang kaya, Mak. Dia bisa membahagiakan Kanaya. Karena dia itu adalah donatur tetap di pesantren Al Amanah!" terang wak Tejo.
"Bahagia bukan terletak pada harta, Pak. Meski cowok itu punya segalanya tapi kalau Kanaya tidak menyukainya tidak mungkin dia akan bahagia, Pak. Wes, masalah jodoh biar Kanaya sendiri yang tentukan," pungkas wak Ami.
"Orak, pokoknya Kanaya harus nikah karo cowok iku," wak Tejo juga lebih menegaskan. Tak ada kata lagi yang keluar darinya karena dia langsung pergi begitu saja dari hadapan istrinya.
"Astaghfirullah hal 'azim, Pak!"
Wak Tejo tetap tak menyahuti panggilan wak Ami. Dia terus melaju keluar dan semakin jauh. Mungkin dia akan pergi ke kebun dimana Dirga berada.
"Ya Allah, saya mohon takdir terbaik buat Kanaya. Berikan dia jodoh terbaik yang benar-benar bisa membuatnya bahagia," gumam wak Ami begitu memohon.
__ADS_1
...****************...
Bersambung....