Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Kecewa tak mengubah takdir


__ADS_3

...********...


''Na_Nay...'' mata Dirga langsung tertuju pada Kanaya yang tiba-tiba masuk dengan membawa cangkir berisi teh yang akan dia berikan pada Dirga.


Kanaya masih tidak curiga tapi dia sangat terkejut melihat Dirga yang tak lagi mempunyai rambut.


''Ma_Mas, potong rambut?'' Kanaya masih berpikiran positif meski sebenarnya hatinya sudah berdebar dengan rasa takut.


Meski dia berpikiran positif tapi melihat perubahan Dirga saat ini membuat Kanaya sangat takut. Tapi Kanaya masih saja menolak akan ketakutannya itu.


Apalagi mengingat Dirga yang sekarang lebih sering di rumah untuk menghabiskan waktu dengannya dan terus memaksa Kanaya untuk bisa secepatnya mendalami hal tentang dunia bisnis itu pastilah pikiran negatif akan muncul di hati Kanaya.


''Mas, mas kok tidak menjawab. Ma-mas hanya potong saja kan? Ma_mas tidak menyembunyikan sesuatu dari Kanaya kan?''


Suara Kanaya sudah bergetar hebat dengan seiring kata yang keluar dengan kaki yang melangkah dan berhenti di hadapan Dirga.


Rambut palsu yang masih teronggok di lantai terlihat sangat jelas pada Kanaya dan seketika dia membungkuk untuk mengambilnya.


''Ja_jadi selama ini mas?'' mata Kanaya membulat memandangi Dirga yang diam membatu penuh arti.


Wajah Dirga berubah semakin pucat karena rasa takutnya dan khawatirnya yang datang dengan bersamaan.


''Mas, katakan sesuatu pada Kanaya. Sebenarnya ada apa? Mas tidak menyembunyikan sesuatu kan?''


Mata Kanaya sudah mulai memerah dan menghasilkan genangan besar yang sudah sangat siap untuk meluncur dengan deras tapi Kanaya masih bisa mampu untuk menahannya.


''Mas, jangan diam saja! katakan pada Kanaya.'' suara Kanaya sudah berubah menjadi semakin tinggi, matanya juga semakin membulat hingga akhirnya ketakutan yang sangat besar tak mampu membuat Kanaya menahan air matanya.


Diamnya Dirga jelas sudah menjelaskan kalau ada sesuatu yang dia sembunyikan tapi dia sangat takut untuk mengatakannya.


Bukan hanya Kanaya saja yang akhirnya meneteskan air mata tapi duka yang sangat besar itu juga terjadi pada Dirga. Dirga kembali menangis tak mampu untuk mengatakan apapun pada Kanaya.


''Mas, Naya mohon katakan sesuatu, apa yang sebenarnya terjadi pada mas,'' Kanaya berusaha untuk menahan perasaannya, menata hati hingga sekarang ucapannya yang keluar sudah lebih pelan dari sebelumnya tapi tetap saja tak mampu menghentikan air mata yan sudah kadung terus keluar.


Kanaya bersusah payah untuk berlutut di hadapan Dirga setelah berhasil dia genggam tangannya dan di elus bahkan dia kecup hingga berkali-kali.

__ADS_1


''Mas, bukankah Naya adalah istrimu, apakan Naya sudah tidak berarti bahkan tidak bisa berbuat apapun lagi sehingga mas tidak mau berbicara pada Naya?''


''Mas sendiri kan yang selalu mengatakan kalau kita tak boleh menyembunyikan apapun, tapi kenapa sekarang Mas menyembunyikan sesuatu dari Naya, apa salah Naya, Mas. Naya mohon katakan pada Naya jangan buat Naya takut,'' ucap Kanaya.


Ya! siapa yang tidak akan takut jika berada di dalam posisi Kanaya sekarang ini. Melihat semua perubahan tak lazim pada suaminya tentu membuat siapapun akan takut.


Tangan Dirga perlahan bergerak dan berhasil sampai di wajah Kanaya dan dia gerakkan untuk menghapus air matanya.


''Nay, Mas minta. Apapun yang mas akan katakan tidak akan mengubah perasaanmu pada Mas. Jangan pernah kamu membenci Mas ya. Mas mungkin bisa pergi dengan menanggung apapun tapi mas tidak akan sanggup pergi dengan menanggung kebencian dari mu.''


''Jika kelak Mas pergi, kamu harus tetap bahagia. Kamu lanjutkan hidup kamu dan mas titip anak kita.''


''Katakan padanya kalau abinya sangat sayang padanya. Dan jangan pernah biarkan dia merasa kekurangan kasih sayang.''


Setiap perkataan yang keluar membuat Kanaya semakin terisak. Wajahnya terus menggeleng tentu tidak mau mendengar akan hal itu dari Dirga.


''Apasih yang as katakan! memangnya Masa mau pergi kemana!?'' Kanaya langsung melepaskan tangannya dengan kasar dari Dirga, tentu dia sangat marah karena semua perkataan Dirga.


Dengan wajah dan suara yang terlihat begitu marah Kanaya berusaha untuk beranjak tapi Dirga masih menahannya.


''Tidak, Nay tidak mau. Mas harus tetap hidup untuk Naya dan anak kita.''


Air mata Kanaya semakin pecah bagaimana mungkin dia akan sanggup melakukan itu.


Kata-kata Dirga semakin sembarangan menurut Kanaya bagaimana mungkin dia akan bisa.


''Nay, janji pada Mas. Mas tidak ada akan meminta apapun.''


''Tidak!'' bagaimana mungkin Kanaya tidak akan menangis menjadi-jadi jika perkataan Dirga seperti ini seolah dia akan segera pergi menghadap Sang Robbi.


Tapi Dirga sendiri memang sudah sudah merasa bahwa hidupnya memang tak akan lama lagi. Bukan dia ingin mendahului kehendak Allah tapi perasaannya yang begitu kuat membuat dia sangat percaya.


''Nay, sebenarnya mas mengidap penyakit kangker otak dan sekarang sudah di stadium akhir.''


Puncak dari kesedihannya Kanaya ambruk terduduk di lantai dengan lemas dan juga tatapan yang kosong namun air matanya tak mau berhenti.

__ADS_1


''Maafkan Mas telah menyembunyikan semua ini padamu.''


Dengan tangis yang juga sangat pecah Dirga ikut luruh dan terduduk tak berdaya di hadapan Kanaya.


Sedih, kecewa, marah semua menyatu menyerang hati Kanaya hingga membuat dia akhirnya tak mampu berkata-kata lagi.


Kanaya merasa menjadi istri paling bodoh karena tak bisa melihat penderitaan Dirga. Bukan merasa paling bodoh tapi dia juga merasa sangat bersalah dan tak berguna sebagi istri dari seorang Dirga yang sangat sempurna dan selalu memberikan kebahagiaan dan selalu berusaha mewujudkan mimpi-mimpinya.


''Mas jahat, mas tega dengan Nay,'' hanya kata itu yang keluar dari Kanaya.


''Mas minta maaf, Nay,'' Dirga sangat menyesal. Tangannya ingin menyentuh Kanaya namun di tampik olehnya.


''Jangan sentuh Kanaya! mas membuat Naya seperti istri yang tidak berguna sama sekali. Mas jahat!''


''Nay. Mas minta maaf,'' Dirga terus mengejar Kanaya untuk bisa menyentuhnya. Rasa sedih yang Dirga rasakan mampu membuat semakin pucat bahkan kepalanya seakan ingin pecah karena rasa sakitnya.


Tetapi, demi bisa membuat Kanaya memaafkannya dia menahan semua itu hingga akhirnya hidung Dirga juga mengeluarkan darah, dia mimisan.


Tangan yang berusaha menghapus air matanya sendiri kini bercampur darah yang keluar dari hidungnya.


''Nay, mas mohon maafkan ma...''


Brukk....


''Mas, mas mas!,'' Kanaya begitu panik dia terus berusaha membangunkan Dirga tapi tak ada respon sama sekali.


''Wak, Umi, Abi!'' semua Kanaya panggil dengan dia yang panik dan terus menangis dengan rasa takut.


Brakk...


Pintu terbuka dengan cepat, mereka berpikir kalau Kanaya berteriak karena dia mengalami kontraksi karena mau melahirkan tapi setelah sampai?


''Dirga!''


******

__ADS_1


Bersambung,,,,


__ADS_2