Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Dia lagi dia lagi


__ADS_3

...****************...


Kanaya tetap melangkah dengan acuh meski dia melihat Zein yang terus mengamatinya. Dia tak akan mempedulikan laki-laki itu yang terus saja mengganggu kenyamanannya.


"Hem, hanya seperti itu saja yang bisa di lakukan suamimu?" tanya Zein dengan begitu sinisnya.


Kanaya menghembuskan nafasnya dengan jengah karena perilaku Zein ini. Kenapa sih dia tidak ada habis-habisnya mengganggu ketenangannya. Apa kesalahan Kanaya coba.


"Kalau saja dengan ku, pasti aku bisa lebih dari itu," imbuhnya lagi.


Apakah Kanaya harus menanggapinya atau sebaliknya? pergi dan mengabaikannya. Itu mungkin pilihan yang terbaik dan Kanaya melakukannya.


Tak mau menggubris apapun Kanaya akan tetap menjauhi Zein. Kalau dia ingin jadi teman baik-baik tidak mungkin dia akan selalu seperti ini dan sekarang tambah merendahkan suami Kanaya seperti ini.


Teman yang baik akan selalu mendukung kan? dan akan selalu menjadi penyemangat temannya bukan malah seperti ini.


"Astaga, nih cewek terbuat dari apa sih! susah banget di deketin!" kesal sendiri kan akhirnya Zein karena Kanaya tak menggubrisnya dan berlalu pergi begitu saja.


Itu adalah pilihan paling tepat yang harus Kanaya ambil, kalau dia menjawab apapun yang Zein katakan bisa jadi nanti tidak akan kelar urusannya.


Karena tidak di gubris membuat Zein melangkah untuk mengejar Kanaya, Zein begitu penasaran, kenapa begitu susah untuk mendekati Kanaya padahal biasanya wanita seperti apapun dia akan selalu tunduk padanya, tapi ini?


"Ah, kau buat aku semakin penasaran padamu, Naye." gumamnya dengan kaki yang terus melangkah.


Sampai Kanaya pada ruang dimana dia akan belajar seperti biasanya. Beberapa teman sudah datang dan sudah mulai sibuk mengulang untuk memahami semua yang sudah bu Annisa berikan begitu juga dengan Kanaya yang juga melakukan hal yang sama.


"Naye, kamu kenapa sih?" Zein duduk di bangku depan Kanaya. Sepertinya dia akan kembali mengganggunya.


Kanaya tetap diam, dia terus fokus dengan catatan yang ada di bukunya.


Semakin kesal Zein sekarang hingga akhirnya dia merebut buku Kanaya membuat sang pemilik langsung melotot tajam ke arahnya.


"Mas! apa-apaan sih?" jelas Kanaya sangat kesal karena kembali mendapatkan perlakuan seperti ini dari Zein.


"Kamu yang apa-apaan! aku terus mengajak kamu bicara tapi kamu terus saja diam. Bukankah kamu tidak bisu kan?" rupanya Zein benar-benar tak suka dengan cara Kanaya. Dia ingin bisa ngobrol dengan Kanaya tapi rupanya itu tidak terjadi.

__ADS_1


"Aku hanya ingin kamu menjadi teman ku. aku ingin mengobrol dengan mu. Kenapa kamu terus saja diam?"


"Teman? apakah ada teman yang kerjaannya hanya menjadi pengganggu untuk temannya? tidak kan!" Ternyata Kanaya tak punya rasa takut, entah mendapatkan keberanian dari mana Kanaya yang seperti ini.


"Kalau Mas memang mau jadi teman Aya harusnya jangan seperti ini. Hargai Aya, Aya di sini bukan hanya untuk ngobrol tapi untuk belajar."


Begitu tegas Kanaya berkata dia bahkan juga sudah berdiri berniat untuk pindah saja. Semoga saja Zein tidak akan mengikuti kali ini.


'Aku bukan orang yang mudah menyerah, Naye. Jika kamu meminta aku untuk menjauh maka sebaliknya aku akan mendekat. Aku tidak pernah menerima kekalahan, Naye,' Batin Zein yang tetap tak akan menjauh dari Kanaya tapi malah akan sebaliknya.


Teriakan Kanaya jelas membuat semua teman-teman yang ada di sana menoleh dan tentu membuat mereka semua menggeleng. Pasti Zein lagi yang mereka lihat.


Melihat itu membuat Zein pergi, Sebenarnya dia tidak ingin pergi tapi semua tatapan mata itu membuatnya sangat tidak nyaman.


"Sabar ya, Mbak Nay," kata salah satu dari mereka menguatkan Kanaya.


"Hem," Kanaya mengangguk dan tersenyum ramah.


Alhamdulillah akhirnya dia pergi meski Kanaya tau Zein akan terus mengganggunya lagi tapi setidaknya saat ini dia bisa tenang.


...****************...


"Sudah mau menjemputnya?" bukan Kanaya yang di ganggu sekarang malah Dirga yang di datangin oleh Zein.


"Ya, apa ada masalah?" tanya Dirga seraya menoleh cepat dan tentu melihat Zein yang menyungging tak suka. Bahkan itu sangat jelas di matanya.


"Tidak, tapi sepertinya sedikit sih. Hem, apakah anda begitu mencintainya?" tanyanya.


Pertanyaan apa ini? jelas Dirga mencintainya bahkan sangat mencintainya. Lalu apa urusannya, iya kan?


"Kenapa, bukankah sewajarnya kalau seorang suami mencintai istrinya? apakah kamu ada masalah dengan itu?" Dirga benar-benar tak habis pikir.


"Tapi, sepertinya tidak dengan istri anda. Sepertinya dia mencintai pria lain?"


"Cinta dan tidaknya istri saya seharusnya bukan menjadi masalah untuk anda. Lagian, tak ada yang lebih mengetahui istri saya di banding saya suaminya," Dirga mulai menegaskan.

__ADS_1


Dirga tau, ada sesuatu yang di inginkan oleh pria yang ada di hadapannya sekarang ini. Jelas dia sangat menginginkan istrinya tapi tidak akan dia biarkan.


Apapun akan Dirga perjuangkan dan dia juga sangat yakin dengan istrinya. Buat apa percaya dengan pria yang seperti ini. Ada dan tidak adanya cinta di hati Kanaya Dirga tidak akan melepaskan karena Kanaya sendiri yang sudah memilih untuk bertahan.


"Hem, lebih baik anda melepaskannya jika Anda tak bisa membahagiakannya," kata Zein.


Benar-benar nih pria, berani mengibarkan bendera perang pada Dirga. Berani sekali dia secara terang-terangan meminta Dirga untuk melepaskan Kanaya.


"Sepertinya anda terlalu berminat pada istri orang lain, Tuan. Kenapa? apakah anda sudah tidak yakin untuk mendekati seorang gadis sampai Anda mendekati istri orang lain?" Tutur kata Dirga begitu lembut tapi terkesan ada meremehkan Zein.


Jelas, kalau dia punya kemampuan untuk mendapatkan gadis yang belum menjadi milik orang lain kenapa harus mengejar yang sudah menjadi milik orang lain?


"Saya kasih wejangan untuk anda hay anak muda. Di luar sana masih banyak yang baik-baik bahkan masih gadis. Kamu juga sangat tampan aku yakin tidak akan susah mendapatkan yang lebih baik dari istri saya."


"Jangan merusak citra dan nama baik sendiri dengan menjadi perusak hubungan orang lain. Kalau kamu mau, aku yakin itu tidak akan susah. Kamu bisa mendapatkan dalam waktu dekat."


"Bagaimana kalau saya tetap menginginkan istri anda," rupanya tak mau menyerah nih Zein. Bahkan dia terang-terangan begitu menginginkan Kanaya dari Dirga.


"Maka Anda akan berhadapan dengan saya," jawab Dirga dengan serius.


Pastilah Dirga akan melawan apalagi yang Zein lakukan dan dia akan menjadi benteng untuk Kanaya supaya tidak bisa di ganggu apalagi di ambil oleh orang lain.


Jika saja Allah tidak melarang kekerasan dalam menyelesaikan masalah maka Zein pasti sudah mendapatkan beberapa bogeman darinya. Tapi tidak! Dirga tidak akan melakukan kekerasan itu.


"Mas, ada apa?" tiba-tiba Kanaya datang dia sudah sangat takut kalau Dirga dan Zein akan bertengkar apalagi terlihat ada aura permusuhan pada mereka.


"Tidak kok, Sayang. Dia hanya menyapa saja, kita hanya berkenalan. Bagaimana sudah siap?" tanya Dirga dan langsung menghampiri Kanaya.


"Sudah, kita bisa pergi sekarang?" tanya Kanaya begitu tidak sabaran.


"Jelas bisa dong. Yuk!" dengan sengaja Dirga merangkul pinggang Kanaya, Dia ingin Zein tau kalau Kanaya hanyalah miliknya. Miliknya!


...****************...


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2