
...****************...
Masih juga pagi-pagi sekali, bahkan Dirga belum berangkat ke kantor tapi ada nomor yang tidak di kenal menghubungi nomor Kanaya dan kebetulan ponsel Kanaya tengah beradaptasi di hadapan Dirga sementara Kanaya_nya tengah di dapur untuk membuat kopi untuk Dirga.
Dirga mengernyit karena tak tau itu nomor siapa, Dirga sangat ragu untuk mengangkatnya dia sangat menghargai Kanaya.
Memang itu hak dia juga untuk tau dengan siapa saja Kanaya berhubungan tapi Dirga juga tidak berhak ikut campur terlalu dalam. Bagaimana kalau nantinya malah akan terjadi masalah pada keduanya.
Dirga tidak mengangkatnya dan dia akan mengatakan pada Kanaya nanti kalau ada yang menelfon dirinya. Lagian saat Dirga akan mengambil ponsel telfonnya telah berakhir.
Dirga kembali menunggu Kanaya dan lagi-lagi ponselnya berbunyi.
"Nay, Nay! ada telfon!" Dirga sedikit berteriak untuk memanggil Kanaya.
"Tolong angkat dulu, Mas!" jawab Kanaya juga dengan berteriak. Kanaya belum selesai di dapur tapi hampir selasa.
Karena sudah mendapatkan izin Dirga langsung mengangkatnya dan ternyata suaranya adalah seorang perempuan.
"Assalamu'alaikum, apakah benar ini dengan bu Kanaya?"
"Wa'alaikumsalam, saya suaminya. Maaf, istri saya sedang di belakang, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Dirga.
"Oh, ini Tuan Dirga?"
"Iya, ini dengan siapa?" begitu formal Dirga berbicara, apalagi yang berbicara adalah seorang perempuan Dirga tidak mau kalau sampai ada masalah.
"Siapa, Mas?" dan Kanaya datang dengan membawa cangkir berisi kopi panas untuk Dirga.
"Nggak tau," Dirga menjawab namun dengan menutup bagian depan ponsel supaya suaranya tidak terdengar.
Dirga langsung memberikan ponsel itu kepada Kanaya setelah dia duduk di sebelah Dirga dan sudah menaruh cangkirnya di meja.
"Assalamu'alaikum, ini dengan Kanaya. Ini dengan siapa ya?" tanya Kanaya.
"Wa'alaikumsalam... perkenalkan, Bu. Saya Ketterina saya adalah asisten dari pak Ibu Susan."
"Begini, Bu. Bu Susan sangat menyukai desain ibu Kanaya. Dan beliau berniat untuk membeli beberapa desain ibu dan mengajak ibu kerja sama. Kalau ibu berkenan ibu bisa menghubungi kami lagi untuk menandatangani surat kesepakatannya."
__ADS_1
"Dan setelah itu, ibu akan kerja selama dua tahun. Ibu juga bisa mendapatkan imbalan yang pantas untuk kerja keras ibu Kanaya," ucapnya lagi.
Seketika Kanaya ragu, menjual semua desainnya?
Itu adalah Desain yang Kanaya khusus gambar sendiri setiap malam. Dia tidak berniat menjualnya karena dia ingin menggunakannya sendiri. Kanaya punya mimpi untuk membangun butik sendiri jadi semua itu memang sengaja dia gambar supaya kelak dia bisa mengisi butiknya dengan desainnya sendiri.
"Maaf, Bu. Tapi saya tidak bisa."
Bukan karena desainnya saja yang ingin Kanaya pertahankan, tapi jika dia terima makan dia akan bekerja dengan orang lain selama dua tahun, itu artinya dia tak akan bisa setenang seperti sekarang.
Tentu, Kanaya juga tidak akan bisa melakukan program hamil jika dia menerimanya karena dia akan semakin sibuk.
"Tolong pikirkan lagi, Bu. Ini adalah kesempatan besar untuk bu Kanaya. Hasil karya ibu akan di kenal banyak orang. Bukankah itu adalah hal yang di inginkan oleh setiap desainer?" sepertinya bu Ketterina begitu menginginkan Kanaya, dia begitu kekeuh membujuk Kanaya untuk menerima tawarannya.
Mungkin benar hasil karyanya akan di kenal banyak orang, tapi sama saja kan karena itu bukan berlogo dirinya sendiri. Pasti setelah jadi maka akan terdapat logo dari pihak sana.
"Maaf, Bu. Sepertinya saya tidak bisa. Sekali lagi saya minta maaf," Kanaya begitu menyesal karena gak bisa menerima tawaran itu tapi dia juga sangat tidak menginginkannya.
"Baik, Bu. Sekali lagi pikirkan baik-baik. Jika ibu berubah pikiran silahkan hubungi saya, Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
"Ada apa?" tanya Dirga seraya menoleh ke arah Kanaya setelah dia menyeruput kopi yang dibuat oleh Kanaya untuknya.
"Mereka ingin Naya menjual hasil desain Naya kepada mereka Mas. Atau kalau tidak mereka menginginkan Kanaya bekerja sama dengan mereka selama dua tahun."
"Kenapa tidak kamu terima?" jelas itu sangat membuat Dirga penasaran karena sebenarnya itu adalah kesempatan yang sangat bagus untuk Kanaya yang baru saja lulus dari kursusnya.
Baru hitungan hari saja Kanaya sudah mendapatkan telepon dari beberapa pihak perusahaan yang ingin bekerja sama dengannya tetapi Kanaya selalu menolaknya dengan alasan ingin memproduksi desain tersebut sendiri kelak kemudian hari.
Dirga sangat memahami itu karena Kanaya benar ingin memiliki usaha sendiri.
"Alasannya masih tetap sama mas, dan yang paling penting Kanaya tidak ingin terikat dengan pekerjaan pada orang lain di waktu dekat ini bukankah kita harus menjalani program hamil? Kanaya tidak mau waktu Naya habis untuk bekerja Naya ingin fokus," ucap Kanaya menjelaskan.
"Kamu benar, kalau kamu terikat dengan orang lain niat kita pasti akan tertunda lagi. Tapi apapun itu, mas hanya terserah kamu saja. Kalau kamu mau ya kamu bisa ambil kalau tidak, mas masih bisa mencukupi mu. Rezeki mas rezeki kamu juga," Dirga tersenyum simpul setelah mengatakan itu.
Apapun terserah Kanaya kalau bagi Dirga. Dia tak pernah memaksa Kanaya untuk melakukan ini itu, dia hanya selalu memberikan saran kalau Kanaya ambil alhamdulillah kalau tidak dia juga tidak masalah.
__ADS_1
"Hem, kenapa mas terdiam?" begitu heran Kanaya karena tiba-tiba saja Dirga diam namun terlihat begitu banyak pikiran.
"Nay, seandainya kamu sukses kamu tetap akan seperti ini kan? Seandainya, suatu saat nanti kamu lebih sukses daripada mas kamu akan tetap menjadi Naya yang seperti ini kan?"
Terbesit ketakutan jika kelak Kanaya akan lupa diri kalau sukses. Semua tak ada yang tau bahkan Dirga atupun Kanaya sendiri.
"Doakan Naya untuk bisa selalu istiqomah, Mas. Istiqomah seperti ini dan selalu istiqomah mencintai mas selamanya," jawab Kanaya.
"Allah yang maha membolak-balikan hati manusia, tapi Naya akan selalu berdoa semoga Allah tidak akan pernah membalikkan hati Kanaya menjadi buruk. Cukup seperti ini."
"Naya bisa sampai sini karena kamu kan, Mas. bagaimana mungkin Naya akan melupakan itu semuanya."
Keduanya terdiam dalam angan mereka masing-masing. Saling berada dalam angan untuk kebaikan dalam kedepannya.
Kanaya hanya terus berharap doa akan selalu istiqomah menjadi istri yang baik untuk Dirga dan akan selalu menjadi kebanggaannya.
Sementara Dirga berada dalam angan Allah tidak akan mengubah hati mereka berdua ataupun menjauhkan mereka.
...****************...
"Zein, kamu sudah yakin dengan keputusanmu? kamu benar-benar yakin dengan gadis itu? Mama sih senang, dia anak yang baik. Mama hanya tidak mau kalau sampai kamu hanya ingin menyakitinya," ucap Bu Annisa.
Keduanya tengah berbicara di ruang tengah rumah mereka. Zein tengah minta izin pada Bu Annisa kalau dia ingin melamar Muna.
Jelas, Bu Annisa sangat ragu karena dia tau bagaimana anaknya itu. Dia selalu saja gonta-ganti pacar dan dia tidak mau ini hanya permainan saja.
"Ya Allah, Ma. Mungkin memang Zein bukan pria baik. Tapi untuk kali ini Zein sangat yakin. Ini beneran, Ma. Bukan sekedar main-main. Zein menyukainya dan ingin menikah dengannya."
"Kamu benar-benar mencintainya kan, bukan menjadikan dia sebagai pelarian saja?"
"Tidak lah, Ma. Zein benar-benar menyukainya. Tidak ada istilah pelarian saja, Ma."
Sepertinya Zein benar-benar sudah sangat yakin akan perasaannya, dia sangat tidak suka kalau di bilang hanya pelarian saja.
"Saya benar-benar menyukainya, Ma. Ma, lamarin Zein ya ma," Zein begitu memohon pada bu Annisa.
"Baiklah, kalau kamu memang sangat yakin dan tidak hanya untuk memainkan saja mama akan setuju. Mama sangat dukung kamu karena dia juga anak yang baik. Tapi ingat ya, Zein. Kalau sampai kamu hanya mau menyakitinya mama tidak akan pernah memaafkan mu. Ingat itu baik-baik," ucap Bu Annisa.
__ADS_1
...****************...
Bersambung....