
**********
Menikmati hari-hari yang sangat menyenangkan kalau menikmati hari-hari awal kehamilan yang sudah ditunggu-tunggu setelah.
Tak ada rasa lelah juga mengeluh semua benar-benar di nikmati oleh Kanaya yang didampingi oleh sang suami tercinta Dirga.
Semua terasa semakin lengkap dengan masalah-masalah yang dialami di trimester pertama. Kanaya sering meminta sesuatu kepada Dirga tapi yang dia minta juga bukan makanan yang susah dicari semua mudah dicari hanya mungkin waktunya saja yang berbeda-beda.
Dirga juga begitu semangat dan begitu antusias mencarikan dan selalu memberi apa yang diminta oleh Kanaya semua benar-benar dia pastikan tidak ada yang terlewatkan.
Meski terkadang rasa lelah begitu dirasakan tetapi ketika Kanaya meminta sesuatu seakan lelah itu hilang dan menjadi semangat untuk bisa mencari apa yang diminta.
Wak Ami juga selalu memastikan bahwa Kanaya tidak akan melakukan pekerjaan yang berat bahkan untuk menjahit Kanaya begitu dibatasi.
Begitu juga dengan kedua orang tua Dirga yang begitu bahagia dan selalu menjenguk Kanaya di rumah dengan membawakan makanan yang menjadi kesukaan Kanaya.
Kanaya begitu dimanjakan oleh semua orang karena mereka menginginkan kebaikan untuk Kanaya juga untuk calon anak Dirga yang masih dalam kandungannya.
Sekarang Dirga juga lebih sering berada di rumah untuk menemani Kanaya dan selalu memastikan dia dalam keadaan baik-baik saja dan ketika dia menginginkan sesuatu Dirga bisa langsung mencarikannya.
Saat ini kedua orang tua Dirga datang berkunjung ke rumah mereka dan tentunya dengan membawa beberapa buah tangan yang menjadi kesukaan Kanaya.
Namun kali ini Dirga yang tidak ada di rumah karena dia yang mengundang kedua orang tuanya karena dia sendiri harus berangkat ke kantor dan sepertinya akan pulang terlambat maka dari itu dia meminta orang tuanya menemani Kanaya meski sebenarnya di rumah juga sudah ada wak Ami.
Wak Ami memang bisa diandalkan untuk menjaga Kanaya tetapi tidak bisa mencarikan apa yang mungkin Kanaya minta.
"Kamu harus makan yang banyak sayang supaya kamu dan Anakmu sehat terus yang terpenting perkembangannya bisa lebih baik."
Seperti anak kecil Kanaya tengah disuapin oleh umi Uswah, dia begitu antusias untuk membuat menantunya itu merasa kenyang.
"Sudah Umi, Naya sudah kenyang," kata Kanaya yang tidak lagi ingin menerima suapan lagi sebenarnya. Tapi Kanaya tidak mau membuat umi Uswah kecewa.
"Sedikit lagi habis, Nay. Ayo akk lagi..." begitu semangat umi Uswah menyuapi Kanaya bahkan sampai suapan terakhir.
"Alhamdulillah," lega dan senang rasanya bisa melihat Kanaya menghabiskan makanannya yang umi siapkan sendiri dari awal.
__ADS_1
Abi juga wak Ami hanya bisa tersenyum melihat apa yang terjadi. Begitu besar rasa syukur di hati wak Ami bisa melihat keponakannya itu mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari Dirga ataupun kedua orang tuanya. Kanaya sangat beruntung.
"Nanti mau makan apa lagi?" tanya Umi uswah. Duduk diam dengan menunggu jawaban Kanaya yang ada di depannya.
Sungguh, Kanaya benar-benar di perlakukan seperti anak kecil. Tidak boleh ini itu dan mau makan pun tinggal pilih dan semua akan tersedia.
Begitu besar Kanaya memanen buah dari kesabarannya selama ini. Ternyata benar, Allah akan selalu bersama orang yang sabar dan tak akan pernah meninggalkannya.
"Tidak usah repot-repot umi. Biar Naya bikin sendiri, nanti Umi capek."
"Eits... Kan udah di bilang kamu tidak boleh melakukan apapun. Kamu hanya tinggal bilang saja dan semuanya akan kamu dapatkan. Kamu harus menjaga dirimu baik-baik, Sayang."
Di belai lembut pipi Kanaya dan kini hanya pasrah yang bisa Kanaya lakukan. Dia tak akan bisa menjawab lagi karena akhirnya juga pasti akan tetap sama. Tak akan mendapatkan izin dari umi Uswah atau atau dari siapapun.
**********
Tak melihat sehari saja rasa rindu begitu besar dan terasa menggebu-gebu tak sabar, saat jauh ingin secepatnya bertemu dan setelah bertemu ingin selalu nempel terus. Itulah Dirga.
Seharian dia kerja di kantor dia begitu merindukan istrinya, hingga setelah semua pekerjaan selesai dia langsung meluncur dan pulang. Entah sedang apa istrinya sekarang.
Akhirnya, sebentar lagi Dirga akan kembali melihat istrinya, bertemu dengan sang pemilik hati yang setia menunggu di rumah.
Mobil berhenti di depan rumah dia langsung keluar dan berlari dengan membawa semuanya. Dia sudah sangat tidak sabar.
"Sayang, Nay!" teriak Dirga.
"Assalamu'alaikum, Ga..." Umi Uswah yang menyapa lebih dulu.
"Hehe, wa'alaikumsalam, Umi," Dirga meringis dia menghentikan langkah karena merasa malu. Bukankah seharusnya dia yang mengucapkan salam, iya kan?
"Kebiasaan kamu ya," umi Uswah menggeleng kasar karena kelakuan anaknya itu. Selalu saja seperti itu kalau dia sedang buru-buru.
"Maaf, Umi. Oh iya Umi, Naya ada di mana?" mata Dirga menggetar segala penjuru namun tidak dia lihat keberadaan Kanaya di sana.
"Istrimu lagi istirahat jangan diganggu," ucap Umi.
__ADS_1
"Bukan di ganggu Umi, hanya mau ketemu," Dirga langsung berlari menuju ke arah kamar di mana Kanaya berada dan tengah istirahat dia benar-benar sudah tidak sabar untuk melihat istrinya, tidak masalah Dia sedang istirahat karena sebatas melihatnya maka terbayar_lah kerinduannya.
"Jangan di ganggu loh, Ga!" suara Umi Uswah terdengar sedikit melengking supaya bisa didengar oleh Dirga namun yang Dirga lakukan Dia hanya menoleh dan tersenyum.
"Dasar Dirga," gumam Umi.
Sementara Dirga dia kembali berlari dan masuk ke dalam kamar. Membuka pintu dan terlihatlah sang istri yang tidur pulas di atas ranjang. Entah apa yang Umi berikan kepada Kanaya dan bisa membuatnya tidur begitu saja karena biasanya dia tidak akan mudah untuk tidur kalau tidak ada Dirga bersamanya.
Dirga tersenyum lalu berjalan menghampiri dan duduk di sebelah Kanaya dilihatnya begitu damai tidurnya dan terlihat sangat lelap sekali.
"Maaf ya mas tidak bisa menemanimu seharian ini semoga kamu tetap bahagia dan selalu cukup dalam hal apapun meskipun tidak bersama Mas," gumam Dirga.
Dikecupnya kening Kanaya dengan begitu lembut, ditarik selimut untuk semakin menyelimuti Kanaya supaya tidak merasa dingin dan setelah itu baru Dirga kembali beranjak untuk pergi ke kamar mandi dan bersih-bersih.
Tidak lama Dirga kembali dan kini sudah terlihat segar dan juga sudah berganti pakaian rumah. Rasa lelah yang Dirga alami membuat dia bergegas menyusul sang istri naik ke ranjang dan tidur di sebelahnya juga langsung memeluknya dan tidak lama Dirga ikut memejamkan mata.
*********
Hampir tengah malam Kanaya terbangun dia merasa lapar karena seperti biasa setelah dia hamil setiap malam dia pasti terbangun dan lapar meski sekedar susu atau kue harus dia dapatkan sebagai pengganjal.
Tidak tahu jam berapa suaminya pulang dan sekarang sudah ada di sebelahnya dan tidur pulas dengan memeluknya.
"Mas, Naya lapar," sebenarnya tidak tega untuk membangunkan Dirga yang terlihat sangat lelah tetapi Kanaya juga tidak berani pergi sendiri ke dapur.
"Hem, kamu mau makan apa?" tanya Dirga, matanya masih setia menutup tetapi dia sudah berbicara.
"Nggak tau, tapi Naya lapar," katanya lagi.
"Ya sudah, mau ikut ke dapur atau menunggu di kamar saja?" kini Dirga sudah membuka mata dan juga perlahan duduk.
"Naya pengen ikut," Kanaya juga menyusul duduk. Kanaya memang selalu manja kepada Dirga namun itu tidak membuat masalah karena Dirga malah senang jika Kanaya melakukan itu.
Dirga begitu menikmati masa-masa di mana istrinya hamil dia tidak bisa merasakan apa yang Kanaya rasakan sehingga dia hanya bisa selalu menemani dan memberikan apa yang dia mau, Hanya itu yang bisa dia lakukan.
*********
__ADS_1
Bersambung...