
********
Rasa sakit seolah menghilang ketika melihat senyum bahagia dari istri tercinta. Bahkan rasa lelah pun juga seakan luntur dengan kebahagiaan kecil yang bisa diwujudkan untuk sang istri.
Setiap senyum menjadi sebuah kekuatan dan mengalirkan energi-energi positif yang membuat pertahanan untuk imun semakin kuat.
Doa di barengi dengan usaha untuk mencari obat. Memenuhi syarat sebagai seorang hamba, jika sakit harus mencari obat dan juga berdoa masalah kesembuhan semua diserahkan kepada Tuhan sang pencipta yang memberikan rasa sakit dan yang akan mengangkat penyakitnya.
Meski dengan menyembunyikan penyakit yang Dirga tidak menyerah dan terus melakukan pengobatan kepada dokter yang memang sudah ahli dalam bidang penyakit itu.
Alhamdulillah meskipun penyakitnya penyakit yang berbahaya tapi kemungkinan masih bisa disembuhkan karena masih di tahap awal. Semoga saja apa yang dikatakan oleh dokter akan menjadi nyata dan Dirga bisa sembuh juga menjalani hidup bahagia dengan anak dan istrinya kelak.
Tidak pernah ada yang mendampingi ketika Dirga melakukan check up di rumah sakit dia selalu sendiri namun dia tidak pernah merasa sendiri karena doa sang istri selalu bersamanya.
Semua harus disembunyikan dengan begitu rapi oleh Dirga bahkan sekedar meminum obat saja dia selalu sembunyi dari Kanaya juga dia yang menyimpannya dan itu Kanaya tidak mengetahui.
Meski Kanaya selalu khawatir ketika Dirga mengalami pusing tetapi Dirga selalu bisa meyakinkan kalau dia hanya mengalami pusing saja dan tidak ada yang serius, dan Dirga selalu mengatakan semua itu karena dia kelelahan dan hanya kurang istirahat.
Setiap selesai makan pasti Dirga akan selalu pergi ke ruang kerja dan mengambil obat di sana dan tentu langsung meminumnya di sana semua bener-bener disembunyikan dari Kanaya.
Namun akhir-akhir ini Kanaya merasa curiga kenapa Dirga selalu pergi ke ruang kerja setelah selesai makan, meski alasannya selalu tentang pekerjaan tetapi tidak masuk akal karena setiap selesai makan. Bukankah itu ada hal yang aneh.
Tanpa sepengetahuan dari Dirga Kanaya mengikutinya dengan sangat pelan. Dia tidak ingin sampai Dirga mengetahui akan yang mengikutinya.
Namun sayang ketika sampai di depan pintu ruang kerja Kanaya tidak bisa masuk karena ternyata pintunya dikunci dari dalam, tentu hal ini semakin membuat kamu sangat penasaran sebenarnya apa yang Dirga sembunyikan.
"Kenapa pintunya di kunci?" gumam Kanaya.
Tangannya baru saja menekan gagang pintu untuk bisa membukanya tetapi nihil dia sama sekali tidak bisa.
"Apa yang kamu sembunyikan dari Naya, Mas?" Tentu tanda tanya itu akan selalu muncul dibenak Kanaya. Semakin hari Dirga juga semakin aneh dia seolah menjauh darinya meski secara perlahan.
Di usia kehamilan yang semakin bertambah tetapi Dirga seolah perlahan mulai menjauh, entah kenapa tetapi Kanaya sangat merasakan hal itu.
__ADS_1
Sedih, itu pasti Kanaya rasakan. Padahal dia juga merasa tidak memiliki kesalahan apapun dan dia juga selalu melakukan apa yang diinginkan oleh Dirga tetapi entahlah Kanaya sendiri tidak mengerti.
Kini Kanaya kembali ke kamar dengan rasa kecewa karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari rasa penasaran ya sudah berhari-hari dia rasakan.
Dengan Dirga yang seperti ini Kanaya menjadi merasa dirinya yang memiliki kesalahan. Bahkan Kanaya juga merasa kalau Dirga tidak lagi sama seperti kemarin yang begitu dekat dan selalu ingin melihatnya bahagia.
Kanaya terduduk di kursi depan jendela melihat tetesan hujan yang perlahan turun membasahi kaca yang begitu bening. Rasa dingin terasa menyeruak masuk ke dalam hati karena mungkin juga karena kesepian yang perlahan mulai dia dapatkan.
Biasanya di setiap malam saat selesai makan malam dia akan menghabiskan waktu bersama Dirga mempelajari hal-hal yang belum dia ketahui tentang agama atau tentang dunia bisnis tetapi malam ini dia tidak datang.
"Kenapa, Mas? Kenapa kamu terasa sangat jauh sekarang, apa kesalahan ku?"
Kanaya yang memang selalu saja lebih sensitif kini hanya perlahan meneteskan air mata dengan menghadap ke pekarangan malam di tengah-tengah rintik air hujan yang bersamaan dengan keluarnya air mata.
Tangannya mengelus perutnya yang mulai membuncit wajahnya menunduk dan seolah ingin menceritakan semua keluh kesah kepada anaknya.
"Kamu yang sabar ya, Nak. Kita berdoa bersama-sama semoga saja Abi cepat kembali kepada kita seperti dulu lagi."
Air mata terus saja mengalir jadi terasa hatinya sakit karena merasa dicampakkan oleh Dirga.
Apakah mungkin ada perempuan lain, sehingga Dirga menjadi seperti ini sekarang?
Meski berusaha untuk memejamkan mata tapi nyatanya Kanaya sama sekali tak kunjung berhasil. Hatinya benar-benar sangat gelisah juga merasa sangat takut.
Hingga akhirnya setelah jam 10.00 malam Kanaya mendengar pintu kamar perlahan terbuka dan langkah kaki perlahan mulai mendekat hingga terasa ada seorang yang menyusul berbaring di sebelahnya. Pastilah itu adalah Dirga. Kanaya sama sekali tidak melihatnya karena dia tidur memunggungi tempat yang sekarang sudah terisi.
Kanaya juga masih sepenuhnya saudara karena dia sama sekali belum bisa tidur. Dia ingin bicara bertanya kepada Dirga Apa yang sebenarnya terjadi tapi dia seolah tidak memiliki keberanian untuk itu.
Hingga akhirnya keduanya saling diam dengan pikirannya masing-masing dan sama-sama tidak bisa tidur.
Dirga terus memandang langit-langit memikirkan akan semua yang dia lakukan saat ini. Dia sekali menoleh ke arah Kanaya dan dia merasa sangat menyesal karena telah berusaha menjauhi tanahnya.
'Maafkan Mas, Nay. Mas tidak berniat untuk menjauhi kamu tetapi setiap Mas dekat Mas merasa tidak sanggup meski sebenarnya Mas benar-benar butuh kamu.' batin Dirga.
__ADS_1
Dirga sangat merindukan Kanaya, sangat. Meski dia sangat dekat tapi rasanya dia juga sangat jauh. Dirga juga sangat merasa menderita kenapa lagi-lagi harus seperti ini.
Dulu Kanaya selalu bersabar setelah tau akan kelainannya, apakah dia harus bersabar lagi setelah mengetahui penyakitnya?
Dirga mengganti posisinya, dia miring ke arah Kanaya lalu memeluknya. Berkali-kali dia kecup kepala Kanaya yang dia pikir sudah tidur padahal sebenarnya belum sama sekali.
Hubungan yang begitu sangat erat melebihi hubungan pernikahan, yaitu hubungan cinta di bawah ridho sang Illahi. Tak ada kata apapun dalam keduanya tapi dalam tubuh yang saling bersentuhan begitu cepat menghadirkan rasa nyaman hingga rasa kantuk datang dan itu perlahan mata mereka terpejam dengan bersamaan.
********
Di atas sajadah masing-masing, di dalam satu doa yang satu Kanaya juga Dirga berada. Menghadap Sang Illahi di pagi hari yang begitu indah.
Doa seperti biasa yang di minta oleh Dirga tapi di hati Kanaya, terselip doa yang khusus dan benar-benar dia minta. Yaitu Dirga kembali seperti sedia kala tanpa ada jarak apapun.
Dalam diam Dirga membalik dan mengulurkan tangan tentu langsung di sambut oleh Kanaya. Kanaya terdiam seraya menyambut uluran tangan.
Kanaya berharap kali ini Dirga akan berbicara dan akan mengatakan semuanya. Bukankah dia sendiri yang selalu meminta Kanaya untuk selalu jujur dalam hal apapun?
Tapi, ternyata Dirga masih diam dia malah beranjak meski dia juga memberikan kecupan di kening Kanaya. Kenapa hanya tindakan saja, tak ada kata-kata manis, kata-kata yang penuh nasehat juga penuh dengan harapan.
Dirga mulai melangkah sembari melipat sajadahnya tentu saja masih dalam diam.
Rasa hati Kanaya semakin sakit, dia semakin bingung. Apa sebenarnya kesalahannya?
"Mas, marahi aku, tegur aku katakan apapun jika aku punya salah. Jangan terus diamkan aku seperti ini, aku tidak akan pernah sanggup, Mas."
Kanaya tertunduk dalam tangis bibirnya mulai berucap karena dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Dirga yang berubah terlalu jauh.
"Apa salah ku, Mas. Apa! Apakah Naya memang tak ada artinya lagi bagi, Mas. Apakah mungkin... Apakah mungkin ada perempuan lain yang lebih baik dari Naya? Kalau memang ada yang lebih baik dan Naya memang tidak lagi pantas maka bawa saja perempuan itu pulang. Dan kenalkan dengan Naya dan biarkan Naya lihat perempuan yang lebih baik itu."
Pikiran buruk tentu ada dan jelas akan selalu membayangi Kanaya.
*******
__ADS_1
Bersambung....