
********
'Akan aku jadikan kebahagiaan mu adalah prioritas ku. Senyummu adalah kebahagiaan ku.'
#Dirga Gantara
...*********...
Begitu lelah Kanaya juga Dirga hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk mencari makan. Semua yang ingin mereka lakukan sudah terlaksana dan kini tinggal makan dan kembali mengisi tenaga.
Tidak Kanaya duga kalau Dirga benar-benar sangat baik padanya. Memberikan apapun yang menjadi mimpinya dan berusaha keras untuk bisa membahagiakannya.
Sekarang Kanaya percaya kalau Cinta Dirga memang begitu besar, bukan cinta sesaat saja dan setelah itu membuangnya.
Makan siang yang tidak begitu mewah di tempat sederhana tapi mampu membuat keduanya semakin dekat dan bertambah dekat.
Perlahan hati Kanaya juga mulai di penuhi oleh Dirga dan Dirga. Semua tentang Yuan seakan hilang dan terganti dengan sangat cepat. Tapi ada kalanya saat Kanaya mengingatnya dan hanya bisa berdiam diri.
"Makan yang banyak, Nay. Kamu harus terus sehat supaya kamu bisa belajar dengan benar satu minggu lagi," Ikan bakar Dirga letakan di atas piring Kanaya tentu itu dengan semangat empat lima.
"Tu_tuan. Ini sudah cukup," Bagaimana tidak, piring Kanaya sudah penuh dengan nasi juga lauk pauk yang Dirga berikan. Sepertinya Kanaya akan semakin gemuk setelah bersama Dirga.
Dirga selalu memanjakan Kanaya dan juga selalu memastikan kalau Kanaya kenyang sebelum dirinya sendiri. Dirga tidak mau kalau sampai Kanaya sakit hanya karena kurang makan.
"Habiskan saja. Sudah setengah hari kamu tidak makan apapun kan? Pasti kamu sangat lapar. Ayo makan," Pinta Dirga.
Dengan perlahan Kanaya memakannya. Menikmati makanan yang belum pernah dia makan sebelumnya.
Makanan yang benar-benar membuat lidah Kanaya terasa di manjakan. Aromanya juga sangat luar biasa masuk ke dalam hidung Kanaya membuatnya semakin tertarik.
Sesekali Dirga juga menyuapi Kanaya. Keduanya benar seperti sepasang kekasih yang sedang berpacaran.
Kanaya begitu senang hingga dia sesekali tertawa dan menghilangkan semuanya gelisahnya.
"Sudah, Tuan. Aya sudah kenyang," Protesnya yang merasa sangat kenyang karena ulah Dirga.
"Sedikit lagi, Nay," Dirga masih saja tak mau berhenti.
Sekali lagi Kanaya menerima suapan dari Dirga hingga sampai habis tak tersisa.
'Teruslah tersenyum juga tertawa seperti ini, Nay. Aku akan selalu berusaha membuatmu seperti ini.' batin Dirga seraya mengamati wajah Kanaya yang terlihat sumringah.
...***********...
Hingga sore Kanaya juga Dirga masih juga belum pulang. Menghabiskan waktu bersama dengan berjalan-jalan menikmati kota Semarang di waktu siang. Kemarin di waktu malam dan sekarang berganti.
Tempat-tempat yang tidak pernah terbayangkan oleh Kanaya akan dia datangi sekarang dia bisa melihat semuanya. Semua begitu indah di pandang mata.
Hamparan tanah bertanam bunga beraneka warna begitu menyejukkan hati Kanaya. Berkali-kali Kanaya di buat tertegun juga sangat terpesona.
__ADS_1
"Apakah kamu menyukai bunga itu?" Tanya Dirga dan tentu Kanaya mengangguk.
Bunga mawar berwarna pink pekat telah mencuri hati Kanaya hingga matanya tak berpaling.
"Hem, itu sangat indah, Tuan." Jawab Kanaya.
"Aku akan membelinya. Kamu bisa merawatnya di rumah," Mata Kanaya seketika membulat.
Kenapa, apapun yang Kanaya ingin dan di sukai langsung di berikan oleh Dirga. Semua yang dulunya tidak pernah mungkin kini selalu menjadi mungkin.
"Tidak usah, Tuan! Aya mohon jangan terlalu memanjakan Aya," Kanaya hanya takut, jika kelak dia akan kehilangan lagi seperti yang sudah-sudah. Dia hanya ingin biasa-biasa saja, tidak terlalu berlebihan asalkan bisa selalu bersama selamanya.
Semua orang yang begitu menyayangi Kanaya satu persatu telah pergi. Ya! Meski setelahnya akan di ganti dengan yang lebih sayang lagi padanya tapi ujungnya akan pergi juga. Hati Kanaya belum bisa melupakan semua itu.
Kejadian setiap kejadian yang terjadi dalam hidupnya masih terekam indah di memori yang akan selalu terkenang.
"Kenapa tidak! Jangankan hanya bunga saja, nyawa ku saja akan aku berikan demi kebahagiaan mu," Jawab Dirga.
"Mbak! Ini bisa di beli kan?" Tanya Dirga.
"Bisa, Mas."
"Tolong bungkus kan," Pinta Dirga.
Kanaya kembali pasrah tak akan lagi dia bisa menolak apapun yang Dirga inginkan.
'Aya takut, Tuan,' batin Kanaya.
Setelah melakukan pembayaran Dirga juga Kanaya kembali berjalan, menikmati lagi keindahan taman. Udara sore terasa sangat nyaman, tidak terlalu panas juga tidak dingin.
Tangan terus menyapa bunga-bunga yang sudah mekar indah. Senyum terus terpancar dari bibirnya.
Tak sadar akan perbuatan Dirga yang tiba-tiba mengambil ponsel disaku dan mengambil beberapa potret wajah indah Kanaya.
"Akk, Tuan!" Kanaya berteriak kala menyadari ada yang mencuri fotonya secara diam-diam. Tak biasa Kanaya berfoto seperti itu.
"Kenapa, ini sangat bagus. Mau lihat nggak?" Dirga menyodorkan ponselnya di perlihatkan wajah imut Kanaya yang tengah mengagumi bunga.
"Itu jelek Tuan. Hapus nggak?!" Mata Kanaya membulat. Mungkin di mata Kanaya sangat jelek tapi tidak di mata Dirga yang terlihat begitu menggemaskan.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Sepertinya tetap tak akan mudah bagi Kanaya.
"Hapus!" Kanaya ingin merebut ponsel Dirga dan menghapusnya tapi Dirga tidak mengizinkannya. Terus menghindar dan Dirga terus berlari dari kejaran Kanaya.
Tawa Dirga teriakan Kanaya saling bersahutan, berebut ruang untuk menguasai hamparan luas yang terlihat sepi dan hanya beberapa orang saja yang terlihat, itupun dengan jarak yang sangat jauh.
"Tuan! Hapus!" Teriak Kanaya, dia terus berlari mengejar Dirga yang juga sama.
Meski lari Dirga hanya seperti main-main saja tapi Kanaya tetap saja tak bisa menangkapnya.
__ADS_1
"Kalau bisa tangkap akan aku pertimbangan, kalau tidak ya berarti tidak akan," Jawab Dirga juga dengan berteriak.
Kanaya menghentikan lajunya, nafasnya sudah sangat ngos-ngosan karena tak mampu mengejar Dirga.
"Oke, berarti tidak di hapus ya," Dirga tersenyum puas penuh kemenangan.
"Akk, harus di hapus!" Kanaya kembali berteriak juga berlari.
Terasa semua beban berat hilang begitu saja seiring dengan langkah kaki yang begitu cepat. Suara tawa juga teriakan menggantikan duka yang sempat hinggap kemarin. Rasanya sangat plong.
"Aww!" Pekik Kanaya. Langkah terhenti lagi karena kakinya terkena anakan ilalang dan berhasil melukainya.
"Nay!" Dirga panik dia berlari tunggang langgang melihat Kanaya yang sudah duduk dengan wajah meringis menahan sakit.
"Kenapa?" Dirga berlutut di hadapan Kanaya melihat darah segar Kanaya keluar dan tembus dari kaus kakinya yang berwarna krem.
"Kena ilalang," Jawab Kanaya semakin meringis.
"Coba lihat," Dirga menoleh ke semua penjuru, tak ada siapapun dan akhirnya Dirga melepaskan kaus kaki milik Kanaya.
"Tuan, kok di lepas!" Kanaya ikut mengedarkan matanya, dia takut ada orang lain di sana.
"Tidak ada orang, tidak apa-apa," Jawab Dirga.
Sapu tangan Dirga ambil dari sakunya, perlahan Dirga menempelkannya dan membersihkan darah yang terus keluar dari kakinya.
Begitu telaten Dirga melakukan itu, dia sangat pelan sampai-sampai Kanaya tak merasakan apapun.
Sapu tangan sudah membelit kaki Kanaya dan Dirga kembali memakaikan kaus kakinya lagi.
"Kita sudahi jalan-jalan kita. Sekarang kita pulang dan obati lukanya di rumah. Sekarang kamu naik punggungku," Pinta Dirga.
"Ta_tapi, Tuan."
"Menurutlah," Kata terakhir Dirga dan Kanaya benar-benar menurut pada Dirga dan naik ke punggungnya.
Tak merasa keberatan sama sekali saat melangkah. Kanaya terlalu ringan bagi Dirga.
"Kamu ringan banget sih, Nay. Aku harus mengatur pola makan mu mulai sekarang supaya berat badan mu bertambah."
"Tidak usah, Tuan. Aya nyaman seperti ini."
"Pokoknya berat badanmu harus tetap bertambah. Kalau tidak nanti Umi dan Abi mengira aku tidak kasih kamu makan."
Obrolan keduanya terus terjalin dengan Langkah Dirga sembari menggendong Kanaya.
"Terserah Tuan saja deh," jawab Kanaya Pasrah.
...**********...
__ADS_1
Bersambung.....