Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Berbahagialah


__ADS_3

'Selamat berbahagia, Wati. Gapailah surgamu dalam mahligai rumah tangga yang akan selalu menuntun dalam kebaikan. Dan akan selalu membuat kalian dalam kebahagiaan.'


#Kanaya Setya Ningrum


#Hani Sakina


...****************...


Bukan hanya Kanaya yang tersenyum bahagia, tetapi Yuan juga sama. Dia lebih bahagia karena akhirnya bisa kembali melihat gadisnya yang sangat dia rindukan.


Bahkan saat ini Kanaya terlihat begitu cantik hingga akhirnya membuat dua pasang mata terpana dengan bersamaan. Ada Dirga di depan sementara Yuan ada di belakang.


Kedua laki-laki itu sama-sama tersenyum saat melihat Kanaya tersenyum, sama-sama berpikir gadis itu tersenyum kepada mereka.


Dirga berhenti saat sampai di hadapan Kanaya dan Yuan juga berjalan semakin cepat hingga akhirnya berhenti tepat di sebelah Dirga.


Hati Dirga berdesir panas saat menyadari ternyata Kanaya tersenyum bukan kepadanya melainkan pada laki-laki yang ada di sebelahnya.


Tangannya mengepal dengan jantung menggebu penuh kekesalan. Matanya membuka tak suka namun itu hanya sebentar karena dia tidak mau sampai sikapnya yang cemburu berat itu di ketahui oleh orang lain. Bahkan, Dirga belum pantas untuk memiliki rasa itu.


"Assalamu'alaikum, Aya," sapa Yuan di hiasi dengan senyum yang selalu membuat Kanaya merindukannya.


"Wa'alaikumsalam, Kang," jawab Kanaya malu-malu.


"Ya elah, mentang-mentang temu kangen satunya di lupain. Mana nggak di sapa juga, mirisnya hanya menjadi nyamuk di siang bolong," gerutu Hani.


"Assalamu'alaikum, Han," akhirnya Yuan menyapa juga karena sudah di singgung oleh Hani lebih dulu. Sungguh, Hani seolah gak terlihat kalau di depan matanya sudah ada Kanaya.


"Wa'alaikumsalam, Kak. Pa kabar nih. Hani tau, kabarnya pasti tidak baik, iya kan?"


"Tidak baik?" Kanaya juga Yuan mengernyit bersamaan.

__ADS_1


"Iya, tidak baik! Bagaimana akan baik kan separuh hatinya selalu tertinggal di rumah. Pergi kemana-mana hanya membawa separuh hatinya saja bagaimana mungkin akan baik-baik saja," Hani melirik kearah Dirga. Sepertinya niat banget di Hani membuat hati Dirga semakin panas.


"Kamu bisa saja," jawab Yuan.


Sementara Kanaya sudah menunduk malu. Semua ini gara-gara temannya itu yang selalu saja berbicara yang aneh-aneh.


Puas rasa hati Hant saat melihat Dirga terlihat semakin kesal dan melangkah pergi dengan membawa sejuta kekesalan.


'Anda pikir akan mudah mendapatkan hati Kanaya, Tuan? jangan terlalu bermimpi karena di dalam hati Kanaya sudah ada penghuni tetap yang tak akan perbedaan bisa di usir meski dengan cara apapun,' batin Hani seraya melihat kepergian Dirga.


Semakin jauh Dirga dari sana, dia terlihat mengejar ustadz Achmad yang sudah masuk lebih dulu. Sebenarnya Dirga tidak mendapatkan undangan, tetapi dia di ajak oleh ustadz Achmad.


"Saya ke sana dulu, Aya. Nanti kita ngobrol lagi," pamit Yuan. Tak enak juga kalau dia terus ada di sana karena tamu yang berdatangan juga semakin banyak.


"Iya, Kang," Kanaya mengangguk patuh.


Yuan bergegas masuk, namun langkah Yuan membuat Kanaya ketar-ketir karena terlihat jelas kalau Yuan akan duduk berdekatan dengan Dirga. Dan ternyata benar, Yuan duduk berdampingan dengan Dirga yang sudah lebih dulu duduk.


"Tenang, biarpun Tuan Dirga begitu terobsesi padamu tetapi dia kan juga orang terpelajar juga terhormat. Tidak akan mungkin dia akan berbicara yang akan membuat harga dirinya di pertaruhkan," jawab Hani mantap.


Sementara di depan saja Yuan juga Dirga sudah duduk bersebelahan. Bahkan Dirga yang berinisiatif memperkenalkan diri lebih dulu kepada Yuan.


"Saya Dirga," tangan Dirga terulur dan langsung di sambut oleh tangan Yuan yang sembari tersenyum.


"Yuan," jawab Yuan.


Tak ada tatapan persaingan pada keduanya, keduanya begitu formal bahkan berbicara dengan serius. Tak ada candaan sedikit saja. Mungkin karena mereka juga baru kenal jadi masih sama-sama dingin.


"Hem, apakah anda kekasihnya Naya?" tanya Dirga tanpa basa-basi. Ingin sekali mengulik sedikit kebenaran meski akan terasa sangat menyakitkan.


"Maksud anda Kanaya?" tanya balik Yuan.

__ADS_1


"Iya, Kanaya Naya," Dirga menegaskan.


"Menurut anda?" tak mengakui bagaimana sebenarnya hubungan Yuan pada Kanaya. Karena baginya tak perlu orang tau bagaimana mereka berdua.


Dirga mengangguk meski kecewa. Jawaban yang dia ingin dengar tidak dia dapatkan dari Yuan.


Dirga menyungging sinis seperti apapun hubungan Yuan juga Kanaya dia sangat yakin akan bisa mendapatkan Kanaya seutuhnya.


Tak lama acara di mulai. Kedua mempelai sudah duduk di tempat yang sudah di sediakan. Para tamu, saksi, wali, juga penghulu juga sama. Sudah bersiap di tempat masing-masing.


Suasana yang penuh dengan haru juga penuh bahagia. Bercampur aduk di iringi dengan nyanyian-nyanyian syahdu yang membuat suasana menjadi semakin menguasai.


'Saya terima nikahnya, Wati Novia binti Hasan dengan seperangkat alat sholat dan mahar tersebut di bayar, Tunai!"


Ikrar suci telah lancar di ucapkan oleh Ardi sang mempelai pria. Begitu lancar hingga hanya terdengar sekali tarikan nafas saja dan kini Wati sudah berganti status menjadi seorang istri.


"Bagaimana para saksi, Sah!" ucap pak penghulu.


"Sah!" seru semua orang.


Air mata haru juga bahagia mengalir di mata Hani juga Kanaya sebagai sahabat Wati. Kini satu sahabat telah berganti status dan setelah ini kebersamaan mereka pastilah akan semakin singkat. Tak bisa selalu bersama seperti kemarin lagi dan mungkin akan lama untuk bisa bertemu.


Hani juga Kanaya yang ada di belakang dan jauh dari tempat ijab qobul hanya bisa berangkulan dengan sesenggukan dan mengeluarkan air mata mereka.


Sebenarnya uji adalah haru bahagia, tetapi di haru bahagia itu terdapat sebuah kesedihan yang sangat dalam.


"Semoga benar, meski kita tak lagi berada dalam satu desa tetapi, semoga saja tetap bisa menjadi sahabat yang sejati," gumam Kanaya sedih.


...****************...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2