
'Kenapa aku begitu mencintainya. Kenapa Ya Allah! Sampai-sampai aku tak bisa menghilangkan semua kenangan bersamanya meski kini aku sudah menjadi milik orang lain. Maafkan aku yang begitu mencintainya dan tentu menyakiti hatimu, maaf.'
#Kanaya Setya Ningrum
***********
Memang tidak benar cara Kanaya. Demi keinginan bisa bertemu dengan Yuan di telah berbohong pada Dirga bahwa dia mau ke makam kedua orang tuanya sebentar. Bahkan Dirga yang berniat untuk ikut saja Kanaya tak memperbolehkan.
Dengan langkah buru-buru Kanaya begitu bergegas untuk ke kebun. Dia tak sendiri, karena ada Hani yang menemaninya.
"Aya, kamu yakin tuan Dirga itu tidak akan marah?" Tanya Hani yang begitu khawatir. Hani belum tau kepribadian Dirga yang sebenarnya, Kanaya pun juga belum. Dia hanya terlalu takut kalau Dirga akan marah besar jika mengetahui Kanaya telah membohonginya.
"Aku tidak tau, Han! Maka dari itu kita harus cepat. Kita harus segera sampai di sana sebelum tuan Dirga menyadarinya," Jawab Kanaya yang begitu bergegas.
Sebenarnya dia juga takut, tapi ini adalah pilihan terakhir. Dia tidak yakin Dirga akan memberikan izin jika alasannya untuk bertemu dengan Yuan.
"Tapi aku sangat takut, Aya," Dengan nafas yang tak teratur karena terus berlari Hani masih menyempatkan untuk berbicara, begitu juga dengan Kanaya.
"Sama, Han! Sebenarnya aku juga sangat takut," Jawab Kanaya tanpa menoleh. Membayangkan saja Kanaya sudah sangat takut, bagaimana jika dia benar-benar sampai ketahuan oleh Dirga. Entah apa yang akan terjadi padanya.
Hingga sampailah keduanya di kebun yang menjadi tujuan mereka. Kanaya ataupun Hani langsung bergegas ke ujung kebun, di sana akan sang jelas rumah Yuan berada bahkan semua pergerakan orang-orang juga sangat jelas.
Kanaya begitu was-was menunggu, dia sudah tak sabar menunggu kedatangan Yuan padahal dia sendiri tidak yakin akan kehadirannya. Tapi, semoga saja Yuan akan datang.
"Kok nggak datang ya, apakah Kang Yuan tidak pulang? Han, kamu bilang sama Kang Yuan kan tentang pernikahan ku?" Kanaya menoleh.
Hani terus menautkan kedua tangannya, dia menunduk karena dia sadar sama sekali tidak pernah menghubungi Yuan dan menceritakan segalanya. Semua itu terjadi karena ponselnya di sita oleh Arifin sebelum dia berhasil menghubungi Yuan.
"Han?" Kanaya mendekat, dia mengetahui kegelisahan Hani, "ada apa, kamu menghubungi kang Yuan kan?"
"Ma_maaf, Aya. A_aku tidak bisa menghubunginya." Jawab Hani lemas.
Sama lemasnya seperti Hani Kanaya pun juga sama. Dia mantap sekali datang ke kebun karena dia pikir Hani sudah memberitahukannya dan pastinya Yuan akan datang. Tapi ternyata?
Kanaya salah karena tak bertanya lebih dulu pada Hani. Mungkin dia begitu semangat ingin melihat Yuan, tapi kenyataannya semua tak seindah apa yang dia ingin.
__ADS_1
"Be_berarti kang Yuan tidak akan datang dong?" Tatapan Kanaya begitu fokus membulat ke arah Hani. Hatinya terasa sangat tersayat-sayat sekarang hingga akhirnya dia menangis begitu saja.
"Ma_maaf, Aya. Semua ini bukan kemauan ku. Tapi Mas Arifin yang mengancam ku. Bahkan sampai sekarang ponsel ku juga belum di kembalikan."
Begitu jujur Hani pada Kanaya, memang dari dulu tidak pernah ada yang di tutup-tutupi jika dengan Kanaya ataupun Wati.
Kanaya membalikkan badannya lemas, melihat rumah Yuan yang begitu kokoh berdiri seperti melambai-lambai menginginkan Kanaya datang. Tapi itu tidak mungkin. Semua orang akan mencemoohnya jika Kanaya pergi ke rumah Yuan setelah dia dah menjadi istrinya Dirga.
"Kang Yuan, maafkan Kanaya," Ucapnya dengan terus tersedu-sedu.
Hani terdiam dalam rasa bersalah. Dia tak bisa membantu sahabatnya, tak bisa membantu apapun bahkan sampai Kanaya mejadi milik orang lain yang dia tau bukan orang yang Kanaya harapkan.
Kanaya terduduk lemas. Tapi untung saja Kanaya menulis Kata-kata dalam selembar kertas.
"Han, tolong berikan ini pada Kang Yuan saat dia kembali ya. Tolong sampaikan maaf ku juga karena aku tak bisa menunggunya. Tapi yakinlah, tak akan yang bisa menggantikan posisi Kang Yuan di hati Kanaya," Kanaya menyodorkan amplop berwarna putih kecil. Terlihat hanya amplop biasa saja tapi sebenarnya itu adalah curahan hati seorang Kanaya Setya Ningrum.
************
Setelah kepergian Kanaya Dirga begitu tak tenang, dia merasa sangat penasaran dengan Kanaya yang mengatakan ingin pergi ke makam orang tuanya. Tidak mungkin dia ke sana namun tidak mengizinkan dirinya ikut.
Rasa penasaran itu membuat Dirga mengikuti Kanaya diam-diam tentu di temani oleh Arifin yang lebih tau seluk beluk daerah itu.
"Atau mungkin dia?" Ucap Arifin yang membuat Dirga bingung karena Arifin tak menjelaskan dengan benar.
"Mungkin?" Dirga mengulang perkataan Arifin dengan wajah yang mengernyit bingung.
"Ikut aku!" Arifin berlari dan saat itu juga Dirga berlari mengikutinya.
Memang, jaraknya sangat jauh jika dengan berjalan saja, tapi akan sangat cepat jika dengan mengendarai mobil dan mereka mengendarai mobil saat itu.
Tak berapa lama sampailah di kebun yang menjadi tempat keberadaan Kanaya juga Hani sekarang. Dirga ataupun Arifin sama-sama bergegas untuk cepat memastikan entah ada atau tidaknya Kanaya di sana.
Ternyata mereka berdua dapat melihat dia gadis yang duduk di ujung kebun dengan menghadap ke arah desa Ambung. Terdengar satunya terus menghibur sementara satunya terus menangis.
"Maafkan Aya, Kang. Aya bersalah karena tak bisa menepati janji." Ucap Kanaya.
__ADS_1
"Han, kenapa takdirku jadi seperti ini," Begitu besar rasa sakit hati Kanaya. Dia begitu mencintai Yuan tapi kenapa kini dia malah menikah dengan Dirga dan sudah terikat begitu kuat dan taj mudah untuk lepas.
Bahkan Kanaya sendiri tidak tau, awalnya dia sangat menjauhi Dirga tapi sekarang bahkan dia tak bisa menjauh darinya. Dalam hatinya juga sudah ada Dirga. Entah itu cinta, atau mungkin hanya karena pengaruh dari mahabbah yang tidak di mengerti oleh Kanaya.
"Aku mencintai kang Yuan, Han. Tapi aku tidak mengerti kenapa aku bisa menerimanya," Lepas sudah kata-kata itu dari bibir Kanaya. Yang mana dengan perkataan itu menumbuhkan sebuah kemarahan Dirga.
"Kanaya!!" Teriak Dirga begitu lantang. Mengejutkan Kanaya, Hani bahkan Arifin yang ada di sebelahnya juga sangat terkejut.
Kanaya menoleh dengan takut, tubuhnya seketika gemetar dengan sangat hebat.
"Tu_tuan Dirga?" Kanaya berdiri dengan tubuh gemeter juga mata yang tak berani melihat Dirga. Bagaimana wajah penuh amarah Dirga, juga bagaimana matanya yang sudah memerah Kanaya tidak tau semua itu.
"Apakah pantas kamu menikah dengan ku tapi kamu mencintai orang lain, Naya!" Seru Dirga dengan langkah yang begitu cepat menghampiri Kanaya.
"Ti..." Belum juga Kanaya menyelesaikan kata-katanya Dirga sudah menarik paksa tangannya.
"Ikut!!" Dirga menyeret Kanaya tanpa ampun, menarik dengan kasar dan tak memperdulikan Kanaya yang melangkah dengan kesusahan juga tangannya yang kesakitan karena di cengkram oleh Dirga dengan kasar.
"Tuan, jangan paksa Kanaya!" Teriak Hani, dia ingin mengejar tapi di hadang oleh Arifin.
"Sahabat macam apa kau ini. Semua ini gara-gara kamu. Kalau kamu tidak mengompori Kanaya suaminya tidak akan marah padanya. Sekarang kamu puas! Apakah ini memang tujuanmu untuk menghancurkan pernikahan mereka!" Tuduh Arut sadis.
"Tidak, Mas. Hani tidak berniat melakukan itu!" Hani berusaha berani menghadapi Arifin.
"Jangan ikut campur lagi dengan urusan mereka. Sampai pernikahan mereka retak maka kamu yang akan menanggung hukumannya!" Jari telunjuk Arifin berdiri di depan wajah Hani bertanda dia tidak main-main dengan ucapannya.
Arifin pergi begitu saja dengan membawa amarah juga. Dia takut daja kalau pernikahan Kanaya juga Dirga sampai berantakan.
Hani terduduk lemas di atas rumput di kebun itu, menatap punggung Arifin yang semakin jauh. Bahkan Dirga juga Kanaya sudah tak terlihat lagi sekarang.
"Ya Allah, jagalah Kanaya. Jangan sampai tuan Dirga melakukan hal buruk padanya," Harap Hani.
"Han, kamu di sini? Di mana Kanaya?" Suara orang yang di tunggu-tunggu kedatangannya kini Hani dengar. Yuan datang setelah Kanaya pergi.
Sungguh, takdir pun tak berpihak untuk mereka berdua bisa bertemu.
__ADS_1
********
Bersambung.....