Romantika Cinta Kanaya

Romantika Cinta Kanaya
Mendaftar Kursus


__ADS_3

'Saling mendukung saling melengkapi, itulah yang harus kita lakukan. Apapun akan aku perjuangkan untuk kebahagiaan mu, istri ku.'


"Dirga Gantara


*************


Begitu lega hati Kanaya setelah melihat Dirga keluar dari ruangan pemeriksaan dokter Rendra dengan waktu yang cukup lama.


Kanaya langsung menghampiri, dia sangat khawatir sedari tadi hingga dia terus tidak tenang dan menanyakan sampai kapan akan berakhir pada Savira.


"Tuan, tuan tidak apa-apa, kan?" Matanya memandangi Dirga dengan penuh penasaran juga khawatir.


Hanya senyum yang Dirga berikan kepada istrinya itu. Kekhawatiran Kanaya padanya membuat Dirga begitu senang karena mendapatkan rasa peduli darinya.


"Alhamdulillah, semua sesuai dengan doa mu. Aku baik-baik saja," Jawab Dirga begitu yakin.


Tiba-tiba saja Kanaya memeluk Dirga saat itu. Bukan karena rasa kasihan melihat apa terjadi pada Dirga tapi di hati Kanaya lebih tepatnya rasa takut yang muncul.


"Eh," Dirga begitu terkejut mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Kanaya seperti sekarang ini. Baru kali ini Kanaya benar-benar tak malu bahkan di depan Savira juga.


"Sudah, jangan sedih. Aku tidak apa-apa kok," Dirga tentu membalas pelukan itu dengan penuh kasih, ternyata Kanaya sudah percaya padanya lebih tepatnya lebih nyaman.


"Beneran kan?" Kanaya melepaskan dan Dirga mengangguk.


"Vir, kami pergi dulu. Beberapa hari lagi aku akan kembali datang," Pamit Dirga seraya merangkul Kanaya.


"Hem, hati-hati di jalan. Semoga kamu benar-benar cocok dengan dokter Rendra," Jawab Savira.


Kanaya juga Dirga benar-benar pergi dari rumah sakit menuju tempat parkir dan mereka pergi ke tempat yang sudah sudah di tuju oleh Dirga selanjutnya.


"Tuan, kita akan pergi ke mana?" Tanya Kanaya penasaran. Pasalnya Dirga tidak mengatakan apapun padanya juga mau pergi kemana.


"Aku punya tiga brosur. Kamu bisa pilih salah satunya." Di dalam mobil yang sudah berjalan Dirga menyodorkan tiga brosur pada Kanaya tentu Kanaya menerimanya tapi dengan heran.


"Ini brosur apa?" Kanaya mulai mengamati tiga lembar yang sudah ada di genggaman tangannya itu.


"Itu brosur tempat kursus. Kamu bisa memilih salah satunya dan kita ke sana hari ini juga."


"Ha_hari ini?" Kanaya begitu terkejut. Tak percaya kalau Dirga akan melakukan semua dengan waktu secepat ini.


"Iya, kita lihat-lihat saja dulu kalau kamu cocok bisa langsung ambil. Kalau kamu belum siap kamu bisa masuk setelah siap yang penting kamu sudah mendapatkan tempat yang cocok," Terang Dirga.

__ADS_1


"Hem, sa_saya ikut Tuan saja. Kalau Tuan cocok dengan tempatnya Aya tidak masalah," Jawab Kanaya.


Kanaya hanya merasa tak bisa memutuskan dia masih ragu dengan semua bayarannya. Meski hanya kursus tapi sangat membutuhkan dana yang besar dan Kanaya tidak punya itu.


"Kamu jangan khawatir dengan urusan yang lain. Semua aku yang tanggung. Yang harus kamu lakukan adalah serius dan fokus supaya kamu cepat bisa," Begitu baik hati Dirga.


Sebenarnya bukan itu saja yang menjadi pikiran Kanaya. Dia sangat menginginkan hal lain yaitu lebih fokus dengan kesembuhan Dirga. Setelahnya dia bisa melakukan apapun. Tapi seperti tidak untuk Dirga, dia menginginkan keduanya jalan bersamaan. Dirga sembuh dan Kanaya juga bisa dengan apa yang dia suka.


"Tu_tuan, bagaimana kalau kita serius dengan kesembuhan tuan lebih dulu," Kanaya tertunduk.


"Aku akan sembuh. Dan saat aku sembuh kamu sudah mahir, bukannya itu adalah hal yang paling membahagiakan?"


"Ta_tapi?"


"Jangan khawatirkan aku. Meski dengan kamu kursus bukan berarti kamu tidak bisa membantu ku. Kamu tetap bisa membantu ku."


Tak ada gunanya berdebat dengan Dirga karena dia tidak akan bisa di bujuk lagi. Kini Kanaya hanya bisa pasrah dan menuruti apa yang Dirga ingin.


"Kita ke tempat ini dulu. Kita lihat-lihat di sana. Nanti kalau kamu suka katakan saja namun juga tidak kamu juga langsung katakan, oke."


"Hem," Kanaya mengangguk saja.


...**************...


Kanaya di buat terperangah melihat tempat itu, tempatnya sangat nyaman juga indah.


"Tuan, beneran Aya bisa belajar di sini?" Tanya Kanaya ragu setelah turun dari mobil.


"Tentu, jangankan di sini di manapun kamu mau akan aku turuti. Bahkan kamu juga bisa belajar sampai Paris."


Dirga menghampiri Kanaya dengan langkah yang penuh percaya diri. Sebisanya Dirga ingin membuat Kanaya bisa senang dan tidak melulu tertekan. Dirga tidak masalah dengan keinginan Kanaya yang menginginkan untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Tapi bagi Dirga, Kanaya juga harus punya keahlian, bahkan dia juga harus punya ijasah. Satu persatu pasti akan Dirga wujudkan.


Menikahi Kanaya bukan hanya untuk memiliki Kanaya saja seutuhnya, tapi Dirga juga ingin Kanaya bisa menjadi orang yang lebih daripada sekarang.


"Kita masuk?" Ajakan Dirga mengejutkan Kanaya yang masih termangu dalam diam.


"Hem," Kanaya mengangguk dan mengikuti Dirga masuk ke bangunan mewah dan sangat nyaman itu.


"Permisi, ini istri saya apakah bisa mengikuti pelajaran di sini?" Tanya Dirga langsung pada orang yang ada di tempat pendaftaran.


"Bisa, silahkan lihat-lihat dulu ini brosurnya," Kembali Dirga menerima brosur juga tertera biayanya.

__ADS_1


"Se_sepuluh juta dalam enam bulan?" Pekik Kanaya. Darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Tidak mungkin kan dia hanya akan berpangku tangan saja dan berharap kasih pada Dirga.


"Apakah kamu menyukai tempat ini?" Tanya Dirga.


"Suka, tapi?" Kanaya masih berpikir.


"Saya ambil, Mbak. Bisa bayar dengan ini?" Dirga menyodorkan kartu ATM pada mbak yang jaga itu. Sekali Kanaya menyukai tempatnya kenapa tidak?


"Bisa, Tuan. Tolong tunggu sebentar," Kartu langsung di terima olehnya.


"Tuan, itu sangat mahal. Ba_bagaimana kalau Aya tidak bisa. Ini hanya akan sia-sia," Kanaya masih saja takut.


"Kamu pasti bisa, Nay. Aku yakin suatu saat nanti kamu bisa sukses. Apa yang kamu ingin bisa kamu wujudkan," Ternyata Dirga yang lebih percaya diri daripada Kanaya sendiri.


"Ini Tuan. Hem, bisa pinjam kartu Identitasnya?" Pintanya.


Dengan ragu Kanaya mengambil kartu Identitas dan dia berikan pada Dirga lalu Dirga yang memberikan.


"Tunggu sebentar," Lagi-lagi keduanya menunggu.


"Tu_tuan..."


"Stts, sudah. Jangan permasalahan lagi semuanya. Yang penting kamu bisa masuk dan bisa belajar di sini."


Kanaya tak bisa berkutik lagi. Dia pasrah. Apakah Dirga terlalu memaksakan kehendak dengan ini? Mungkin iya tapi juga tidak.


Dirga melakukan semua ini karena mau Kanaya lebih semangat lagi dalam hidupnya. Juga bisa menggapai mimpinya yang ingin menjadi seorang desainer dan memiliki butik sederhana. Darimana Dirga tau?


Dirga tau dari sebuah buku kecil Kanaya, bisa di bilang buku harian yang dulu hanya buku iseng-iseng saja. Tidak tau kalau semua akan terwujud dan itu semua berkat Dirga. Tapi bukan berarti Dirga mengharapkan imbalan, Dirga hanya menginginkan kebahagiaan Kanaya saja.


"Ini, Tuan." Kartu Identitas di kembalikan bertanda pendaftaran sudah beres di lakukan.


"Hem, kapan istri saya bisa masuk, Mbak?"


"Minggu depan, Tuan. Pas hari senin," Jawabnya.


"Terima kasih, Mbak. Kalau begitu kami permisi. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," Jawabnya dengan begitu sopan.


...*********...

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2