
*********
Hubungan antara Hani dan Yuan benar-benar sudah dipastikan oleh kedua orang tua mereka masing-masing. Meski tanpa sepengetahuan keduanya tetapi kedua orang tua mereka sudah memastikan kalau mereka kelak akan menikah.
Yuan juga tidak tahu kalau hubungan itu benar-benar sudah dipastikan. Meski ibunya sudah pernah menyinggung masalah itu tetapi Yuan sama sekali tidak menganggapnya serius, karena dia ingin fokus dengan kuliahnya dan juga kelak ingin mencari pekerjaan lebih dulu baru akan memutuskan untuk memikirkan pernikahan.
Bukan kah hal itu yang diminta oleh ayahnya bahwa Yuan harus sukses lebih dulu dan baru memikirkan masalah perempuan? Dan sekarang Yuan benar-benar melakukan apa yang diinginkan oleh ayahnya.
Tetapi di saat Iwan ingin fokus dengan apa yang menjadi Keinginan mereka, mereka malah memastikan pernikahan Yuan dengan Hani tanpa sepengetahuannya.
Seandainya Yuan tahu entah Perjodohan itu akan benar-benar terlaksana atau tidak atau mungkin akan dibatalkan oleh pihak Yuan, maka dari itu kedua orang tuanya tidak mengatakan dan terus menyembunyikan sampai Yuan benar-benar akan menerima perjodohannya dengan Hani.
Yuan terus sibuk dengan kuliahnya tentu dengan masa depannya sementara Hani dia juga sibuk dengan membantu kedua orang tuanya dan juga membantu Kyai Ahmad untuk mengajari anak-anak di TPA.
Meski keduanya terus sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing tetapi mereka sesekali akan bertemu ketika di tempat Kyai Ahmad ada acara.
Sesekali mereka akan saling bertutur sapa dan tetap berteman baik. Mungkin itu yang menjadikan kedua orang tua mereka untuk menjodohkan karena mereka, mereka pikir Hani dan Yuan sudah saling dekat atau bahkan mereka memiliki hubungan yang tidak dikatakan kepada orang tua mereka masing-masing.
Ladang yang saling berdekatan bahkan hanya di atas dan bawah membuat ayah Hani juga Yuan selalu menghabiskan waktu ketika istirahat dalam mengerjakan pekerjaan di ladang. Bahkan, kadang mereka akan saling menikmati bakal satu sama lain.
Mereka benar-benar sudah seperti besan yang yang anak-anaknya sudah menikah dan sudah berkeluarga. Mereka begitu akrab.
Seperti saat ini mereka berdua tengah menikmati bekal yang dibawa oleh ayahnya Yuan, bukan makanan yang mewah melainkan hanya singkong rebus juga teh hangat itu pun hanya teh tawar.
Sesekali mereka tertawa dan terus berbincang-bincang mengenai pertanian namun setelah beberapa saat mereka membicarakan tentang kelangsungan hubungan antara Hani dan Yuan.
"Apa tidak terlalu lama Mas kalau harus menunggu sampai Yuan lulus kuliah? Tidak ada orang yang tahu tentang hubungan mereka bagaimana kalau sampai ada orang yang datang dan meminang Hani?"
Ayahnya Hani begitu was-was, tentu dia sangat khawatir kalau sampai yang dikatakan itu benar dan ada orang yang datang untuk meminang hati, alasan apa yang akan dia katakan.
Tentu ayahnya Hani tidak mau sampai ada orang yang mengatakan kalau mereka terlalu pilih-pilih. Mereka selalu mempercayai kalau menolak orang yang datang untuk melamar itu tidaklah baik meski sebuah hubungan harus dipastikan dengan jelas.
"Tenang lah, Mas. Saya akan bicarakan dengan Yuan jika dia kembali lagi. Yang terpenting Mas jangan sampai menerima kalau ada orang yang datang."
"Iya deh, jika beneran ada orang yang datang untuk meminang Hani biar saya cari alasan yang tepat."
__ADS_1
"Secepatnya kita pasti akan jadi besan, Mas. Saya yang akan pastikan itu."
Ayahnya Iwan begitu sangat yakin akan apa yang sudah dia kehendaki itu. Yuan adalah anak yang sangat berbakti kepadanya dia selalu menurut apa yang dia inginkan dan dia yakin untuk kali ini pun dia juga akan menurutinya.
Semua kehidupan yang dijalani Yuan seolah benar-benar ayahnya yang mengendalikan. Setiap langkah Yuan pasti ada campur tangan dari ayahnya dan begitu banyak keinginan Yuan yang telah dikorbankan demi orang tua.
Bahkan satu keinginan saja yang benar-benar dia inginkan dan yang menjadi mimpinya sejak kecil tidak terwujud sama sekali karena ayahnya yang tidak mengizinkan. Yaitu menjadikan Kanaya sebagai pendamping hidupnya, dan kini dia malah memilih Hani yang akan menjadi pendamping hidupnya. Sahabat Kanaya sendiri.
"Semoga Sang Gusti mengabulkan semua yang menjadi harapan kita ya Mas." ucap ayahnya Hani.
"Pasti pasti," sama sekali tidak ada keraguan lagi dari ayahnya Yuan Dia sangat percaya dengan semua yang dia inginkan.
*********
Dirga pikir rasa pusing yang selalu dia alami hanya semata-mata karena dia ikut merasakan hormon yang terjadi kepada Kanaya, tetapi ternyata tidak! Pusingnya sama sekali tidak berkurang bahkan semakin hari rasanya semakin parah.
Dulu ketika dia masih selalu meminum obat rasa pusing itu jarang dia rasakan tetapi setelah lama dia tidak minum obat lagi rasa pusing itu kembali datang kepadanya.
Karena itulah rasa penasaran Dirga begitu besar sebenarnya apa yang terjadi kepada dirinya. Kenapa semakin lama sakitnya semakin luar biasa bahkan Dirga sampai ingin pingsan ketika rasa pusing itu datang.
Mungkin sebenarnya hasil dari semua pemeriksaan ada di hasil yang diberikan oleh dokter yang belum sempat dia baca waktu itu bahkan sampai sekarang hasilnya itu masih berada di dalam tas dan selalu Dirga abaikan.
"Sebenarnya apa hasilnya?"
Perlahan Dirga membuka dia sama sekali tidak merasa gelisah dan terus santai ketika amplop putih itu terbuka dan dia membuka lebar lembaran yang berisi laporan medis dari laboratorium.
Satu persatu Dirga baca dari bagian atas tidak ada yang mencurigakan namun ketika mulai dari tengah-tengah tubuh Dirga mulai gemetar mata pun mulai berkaca-kaca.
"Ka_kangker otak? Aku positif kangker?"
Penyakit yang begitu mengerikan bagi siapapun yang mengalami masalah itu bagaimana mungkin Dirga tidak merasa gemetar dan juga begitu sok.
Dirga berusaha menahan air mata supaya tidak keluar dari matanya. Tangannya menyibak rambutnya sendiri dengan kasar.
Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi kepadanya?
__ADS_1
Padahal dari dulu Dirga sangat memperhatikan akan kesehatan bahkan makanan yang akan masuk ke dalam perutnya juga selalu dia pertimbangkan apakah benar-benar baik atau tidak untuk kesehatan. Tapi kenapa bisa terjadi seperti ini apa yang menyebabkan kanker itu datang kepadanya bahkan tepat di dalam kepalanya?
Untung saja kali ini dia berada di kantornya kalau sampai dia berada di rumah pasti Kanaya akan tahu apa yang terjadi dan dia bisa saja sedih karena mendengar berita buruk ini.
Saat ini Kanaya sedang dalam bahagia di saat menikmati momen-momen kehamilan yang bahkan Dirga pun juga ikut bahagia ikut menjalani masa-masa itu.
"Astaghfirullah hal adzim... cobaan apa lagi ini ya Allah."
Baru beberapa saat Dirga merasakan bahagia terbebas dari masalah yang begitu besar menimpanya dan setelah masalah itu hilang kini datang lagi masalah yang lebih besar sama-sama memberikan efek yang sangat. Bahkan akibat terburuknya adalah kematian.
Kenapa ada-ada saja cobaan yang datang kepada dirimu dan mengguncangkan kekuatan mentalnya. Apakah dia akan kuat lagi seperti kemarin dan bisa melewati segalanya?
Jika Dirga tidak bisa dan Allah menghendaki takdir yang lain lalu bagaimana dengan nasib anak dan istrinya?
Akhirnya Dirga tidak mampu menahan air matanya hingga akhirnya lolos begitu saja.
Dirga mulai bingung dengan apa yang harus dilakukan. Apakah dia harus mengatakan semuanya kepada Kanaya dan menghapus kebahagiaannya saat ini?
Tetapi tidak mungkin juga dia akan menyembunyikan apa yang terjadi pada dirinya dari Kanaya jika suatu saat dia tahu dari orang lain pasti dia akan sangat kecewa.
"Ya Allah, ali harus bagaimana?" kebingungan begitu besar pada Dirga. Dia begitu bimbang antara memberitahu atau sebaliknya, membunyikan.
Tok tok tok...
Dirga buru-buru menghapus air matanya ketika ada orang yang mengetuk pintu ruangannya. Jelas, dia tidak mau sampai ada orang yang tau. Dia tidak mau dia terlihat lemah.
"Pak, sebentar lagi meeting akan di mulai." ucap orang yang masuk.
"Baik, kamu siapkan segalanya sebentar lagi aku akan menyusul."
Ucapan Dirga adalah sebuah perintah bagi orang itu. Orang itu keluar dan langsung melakukan apa yang Dirga minta.
Dirga mengambil nafas begitu panjang dan menghembuskan dengan sangat perlahan berusaha untuk bisa lebih tenang hingga meeting yang sudah direncanakan akan berjalan dengan lancar.
Dirga berdiri dan membenahi jas yang sedikit berantakan setelah semua kembali rapi baru Dirga melangkah untuk pergi ke tempat meeting.
__ADS_1
*********
Bersambung.....