
...****************...
"Nona, apa kita langsung pulang atau mau ke mana dulu?" pertanyaan pak Danu menyadarkan lamunan Kanaya yang seraya melihat ke arah bangunan-bangunan yang ada di pinggir jalan.
Kanaya tersadar cepat, tapi dia menggeleng juga sama. Lagian mau kemana jika tidak ada Dirga dia tidak tau daerah sana. Dia juga baru pergi ke beberapa tempat saja itupun dengan Dirga.
"Langsung pulang saja, Pak," jawab Kanaya dengan tersenyum ramah.
Begitu senang pak Danu, memiliki majikan yang sangat baik juga sangat ramah seperti Kanaya. Dia juga sangat senang bekerja dengan Dirga selama ini. Tak pernah ada keluhan dari awal masuk hingga sekarang.
"Baiklah," Pak Danu kembali fokus dengan jalan raya berusaha melajukan mobilnya dengan aman.
Begitu banyak angan-angan Kanaya yang muncul saat melihat bangunan-bangunan megah, apalagi ketika melihat sebuah butik. Membayangkan jika suatu saat dia bisa memiliki butik sendiri dan memiliki beberapa karyawan.
Bisa membuat baju-baju yang bagus dan membuat para pelanggannya puas itu sangat menyenangkan.
Apakah itu hanya akan sebatas angan saja?
Kanaya terkesiap, dia tidak boleh memiliki pemikiran yang terlalu berandai-andai takut akan ada setan yang membuat hatinya menjadi tamak.
"Astaghfirullah hal 'azim," ucapnya tiba-tiba dan membuat pak Danu bingung sendiri.
"Ada apa, Nona. Apa ada masalah?" tanya pak Danu yang keheranan. Bagaimana tidak, tadi Kanaya diam dan tak ada angin tak ada hujan langsung beristighfar kan aneh saja.
"Hem! tidak apa-apa kok, Pak," tak mungkin juga Kanaya akan berbicara dengan jujur apa yang tadi dia pikirkan, bisa-bisa nanti akan sampai pada Dirga.
"Oh," Pak Danu menjawab dengan singkat tapi yang ada di dalam hatinya tidak sesingkat itu.
'Apa yang Nona pikirkan, Apakah ada sesuatu yang dia ingin tapi dia berusaha sembunyikan?' batinnya.
Mata Kanaya melihat toko buah di pinggir jalan kebetulan di rumah juga sama sekali tidak ada buah karena sudah habis.
"Pak, bisa berhenti di depan penjual buah itu sebentar?" Kanaya berniat membeli beberapa buah saja. Siapa tau dia ingin memakannya nanti pas di rumah. Lagian ada Muna juga.
"Baik, Nona," mobil langsung menepi di depan penjual buah yang sangat besar di pinggir jalan itu. Kanaya juga langsung turun setelahnya.
__ADS_1
Beberapa macam buah Kanaya pilih. Jeruk, anggur, apel, jambu dan masih banyak lainnya.
Sebenarnya untuk belanja-belanja seperti ini Kanaya merasa takut meski uang itu sudah Dirga berikan dan dia bisa bebas menggunakannya tapi Kanaya tetap merasa ragu.
Dirga juga bilang itu adalah uang nafkah untuknya, jadi semuanya bebas dia gunakan. Sementara untuk uang belanja bulanan biasanya sudah pak Danu yang memegangnya dan selalu dia yang membelanjakan.
Bukan karena Dirga tidak percaya dengan Kanaya karena tidak menyerahkan uang belanja bulanan pada Kanaya, tapi itu dia lakukan karena tidak mau fokus Kanaya terbagi-bagi.
Dua kantong kresek putih Kanaya bawa masuk ke mobil. Buah-buah segar sudah dia pilih dan kini waktunya untuk pulang.
"Apa masih ada yang ingin di beli lagi Nona?" tanya Pak Danu sebelum menjalankan mobilnya.
"Tidak, Pak. Kita langsung pulang saja," jawab Kanaya. Mobil langsung berjalan setelah Kanaya minta.
...****************...
Begitu sibuk Kanaya sekarang. Hari sudah sore tapi Muna belum juga pulang padahal sebentar lagi mereka harus mengajar anak-anak.
Sembari menunggu Muna Kanaya gunakan waktu untuk mempelajari lagi pelajaran yang tadi dia dapat di tempat dia kursus. Setelah dia juga iseng-iseng gambar-gambar.
Tangannya begitu lincah mencoret-coret kertas kosong yang kemarin sempat dia beli saat bersama Dirga. Meski di tempat kursus semua sudah tersedia tapi di rumah Dirga juga menyiapkan segalanya.
"Assalamu'alaikum, Mbak," ternyata Muna baru pulang.
Wajahnya terlihat sangat lusuh dengan langkah juga sangat pelan seolah tak punya tenaga.
"Wa'alaikumsalam, Mbak. Loh tumben baru pulang?" Kanaya menghentikan aktivitas nya mengamati Muna yang sudah masuk dan Mendekat.
"Iya, ada tugas tambahan. Lagi bikin apa?" Muna mendekat dan melihat hasil karya Kanaya yang terlihat berantakan di meja.
Kertas-kertas yang Kanaya gunakan hanyalah kertas yang hanya satuan dan tidak berbentuk buku jadi akan terlihat berantakan saat di letakan dengan tidak teratur.
"Wow, ini sangat indah-indah Mbak. Ini Mbak sendiri yang bikin?" Muna terlihat sedikit tak percaya melihat semua gambar Kanaya.
Tak bisa di ragunan lagi, hasilnya sangat bagus dan rapi. Bukan seperti gambaran orang yang baru belajar tapi terlihat gambaran orang yang sudah mahir dalam bidang itu.
__ADS_1
"He'em," hanya anggukan kecil juga senyum tipis yang Kanaya keluarkan.
"Ini sangat luar biasa, Mbak. Berarti cocok kalau Mbak ambil kursus menjahit. Setelah Mbak mahir nanti bisa bikin sendiri. Siapa tau kelak bisa buka usaha sendiri," kata Muna.
"Amin," hanya amin yang bisa Kanaya ucapkan. Di hati yang paling terdalam Kanaya juga ingin hal itu. Bisa memiliki butik sendiri.
"Hem, seandainya Mbak bukan seorang penjahit saja ya, Mbak gambar-gambar gini bisa jadi uang. Ini bisa di jual loh, Mbak."
Kanaya terpaku diam, benarkah hanya menggambar sepertinya saat ini bisa mendapatkan uang? benarkah bisa di jual?
Kalau benar pasti dia akan mudah mendapatkan uang, benar begitu kan?
"Entah lah, Mbak. Mungkin akan aku simpan dulu siapa tau kelak bisa di bikin sendiri," jawab Kanaya. Matanya memandangi semua kertas-kertas yang sudah terdapat desain baju yang tadi sempat hinggap di pikirannya dan sekarang sudah berpindah tempat.
"Apapun itu, tetap semangat ya? aku yakin suatu saat bisa kamu wujudin apapun yang mbak ingin."
Kanaya terus terdiam tapi dia terus mendengarkan. Mungkin yang dikatakan Muna benar, semoga kelak dia bisa sukses dengan tangannya sendiri.
Ada sebuah keraguan di hati Kanaya, apakah benar dia bisa melakukan semua itu?
Muna sudah masuk ke kamar mandi sekarang namun Kanaya masih saja terdiam dan berfikir akan semuanya. Apakah itu benar?
Tak berapa lama Muna kembali keluar dan Kanaya masih di tempat yang sama namun sudah bersiap untuk berangkat mengajar anak-anak.
"Mbak masih capek?"'tanya Kanaya. Melihat Muna yang terlihat lemas membuatnya kasihan.
Muna baru saja pulang dan harus berangkat ke masjid untuk mengajar anak-anak pasti itu sangat membuat dia lelah.
"Iya sih, tapi tidak apa-apa. Kita berangkat sekarang anak-anak pasti sudah nunggu," Muna sembari berjalan.
Kanaya juga langsung berdiri meninggalkan semua yang ada di depannya.
...****************...
Bersambung...
__ADS_1